Monday, December 04, 2006

unveiled the mind

Artikel Persona di Kompas minggu ini mengupas tentang seorang tokoh yang jujur ajah, baru kudengar sekarang keberadaannya. Seorang perempuan, dokter merangkap psikiater asal Mesir dengan paradigma n sepak terjang yg bisa dibilang luar biasa.. kalo yg diutarakan di artikel itu benar.

Nawal el Saadawi.

She's got this amazing thought about fear... tentang selubung pikiran yang kerap menutupi akal sehat kita n menciptakan ketakutan2 yang berujung pada kepatuhan. Kepatuhan yang bersumber pada ketakutan, stick, tongkat.. tidakkah itu itu hanya kan menciptakan suatu kepatuhan yang temporer??? (kl yg ini my thought c.. xexexexe). Selubung pikiran itu , kata Nawal, dirajut dengan amat canggih melalui media, politik fundamentalis dalam agama, sistem pendidikan, dsb.

Meski perbudakan oleh selubung pikiran bisa terjadi pada perempuan dan laki2, tapi perempuan-lah yang paling terkena dampaknya.. membuat mereka menerima nasib yang tak beruntung sebagai takdir untuk kemudian membuat mereka berhenti bertanya.

Dan ini.. yg pertama kali terpikirkan olehku waktu nonton acara jumpa persna a'a gym n teh nining (eh, nining pa ninih c?). Ketika si teteh dengan suara bergetar memohon doa pada audiens n semua yg nonton agar diberi kekuatan untuk menjalankan apa yang dia kira telah jadi takdir n jalan hidup ato patron yang harus dia jalani.

Trenyuh... sumpah, aku trenyuh...
Bukan semata karena patah hati gara2 si a'a yang selama ini kuidolakan karena pemikirannya yg dalam, progresif n gw banget itu turnin' into a common guy dengan nilai minus yang luar biasa besar. Tp ketika melihat kerapuhan yg terpancar jelas dari sosok perempuan yang berusaha tampak tegar dan bahagia.
hih.. geregetan.

Kalo uda nyangkut soal agama.. n apa yang diinterpretasikan dari Kitab Suci emang uda pasti bakal membuat seseorang terbungkam, diam seribu bahasa. Patuh. Tak lagi bertanya, apalagi melogika. Bahkan tak lagi menimbang.. untung rugi, apalagi perasaan, emosi, yang cenderung dinafikan karena dianggap sebagai produk duniawi semata.

Sama seperti dalam tingkat yang lebih rendah : kita bisa merasa nyaman, karena orang lain berkata bahwa kita akan merasa nyaman dengan sesuatu hal.

Damn.... its anotha 'liyan-perception' ... i guess.
Ato tidak kah?
Speechless abis...
gila... jadi ragu...

Labels: