Monday, December 11, 2006

ke mana...?

A scene taken from a movie titled: Mozart and The Whale ;
An autist lady.. : I don't know what to do, Mozart.. In fact, I don't know where to go after this...

An autist guy : Well.. we can go to the park..??!

Autist lady : .... (speechless).. gyaaa ha ha haaaahahaaaa... yess.. absolutely, we can go to the park.. gya haa haa haaaa....

Ke mana kita akan melangkah setelah ini? Mau dibawa ke mana semua ini?
Pertanyaan yang hampir selalu Kinanti dengar, dan ia jawab serupa dengan jawaban si pria autist.. as simple as... melangkah ke depan.. dan mau dibawa ke satu tempat... Ke taman yang penuh kedamaian kek.. ato dibawa ke mana angin membawanya.. ^^
Kalau memang suatu saat pasti berakhir..kenapa sekarang masih dilanjutkan?

Ntahlah... saat ini, seorang Kinanti hanya bisa memindai bahwa.. kadang, waktu yang sesungguhnya beringas, bisa mendadak jadi beku. Waktu psikis bisa melampaui waktu kosmologis. Itulah yang terjadi kala dua hati yang terajut dan berkelindan dalam satu cinta, terpisahkan. Ntah oleh jarak, oleh kondisi, ntah oleh perbedaan2.. yang jelas terpisahkan.

Jarak, kondisi, dan atau perbedaan kerap dijadikan demarkasi dalam bercinta. Menciptakan kondisi 'terpisahkan' yang sebenarnya bisa dijadikan penanda, penguji bagaimana cinta bisa menghadapinya. Ibarat angin atau air, ketika dihadang, ia akan mencari celah lain untuk bisa melewati suatu halangan. Dan lambat laun.. akan berhasil juga menembus demarkasi yang tercipta atau diciptakan. Dats what Kinan used 2 think, though... Sifat air dan angin-lah yang mengamini bahwa demarkasi tidak selalu harus menjadi penyebab berakhirnya sebuah percintaan. Celah lain kan selalu ada, tergantung kreativitas dan sudut pandang seseorang.

Percintaan yang berakhir dengan menuduhkan demarkasi sebagai biang keladi hanya dialami oleh orang2 yang lemah.. orang2 yang akhirnya menyerah, putus asa, dan tak punya kekuatan untuk memperjuangkan apa yang seharusnya bisa menjadi sumber kebahagiaannya. Atau... dialami oleh orang2 yang akhirnya tunduk pada kekuatan 'liyan-perception' yang terus menerus merongrong, menciptakan sebuah paradigma benar dan salah menurut 'mereka', dan bukan menurut 'aku'. Bahwa apa yang benar adalah 'sama', atau yang benar adalah 'dekat'.

Kenyataannya, Kinan sadar, 'sama' atau 'dekat' bukanlah suatu keharusan, tapi merupakan satu kebutuhan, prasyarat untuk mendapatkan sebentuk cinta yang utuh. Dan cinta yang utuh bertaut secara fisik serta ditandai dengan penyatuan masing2 pribadi, baik secara lahir maupun secara batin sehingga tercapai kenikmatan yang paling maksimal.

Apa yang terjadi dengan para pecinta yang 'tidak sama' dan 'tidak dekat'? Akankah cinta serta merta hilang dan berakhir karena adanya kedua demarkasi ciptaan liyan-perception tadi?

Tidak.
Dua kemungkinan yang akan terjadi:
First possibility : Cinta yang beringas, dengan kekuatannya akan merobek berbagai keangkuhan selain dirinya. Ia akan membuat segalanya mungkin. Termasuk penghabluran diri pecinta yang memilikinya untuk membuat cinta tetap eksis sebagai cinta yang utuh.. dengan membuat sebuah 'tidak sama' jadi 'sama'.. dan sebuah 'tidak dekat' menjadi 'dekat'. It's painful, though.

Second possibility: cinta yang kompromis. Yang memaklumi adanya warna2 dan jarak. Yang terus dibiarkan tumbuh dan berkembang tapi sekaligus juga tidak memaksakan diri untuk merobohkan pagar atau demarkasi apapun yang berdiri di antara pemiliknya. Platonis. Tumbuh dalam imajinasi. Puas dan nikmat tanpa penyatuan fisik. Jenis cinta yang akan bersenyawa dengan keabadian dan tidak mudah bertekuk lutut di hadapan benda2 yang lekang oleh waktu. Pecinta platonis memperlihatkan kebertahanan yang luar biasa pada kesunyian dan pada kesendirian.. tapi sekaligus mempertontonkan kepengecutannya untuk meraih realita.

Well.. Idealnya adalah.. memadukan 2 kemungkinan tadi tatkala menemui demarkasi yang terlalu menekan, yaitu... berjuang dengan mendompleng kekuatan cinta yang membuat segalanya mungkin, dengan tetap mempertahankan kemandirian cinta platonis.

Kalau begini.. tak akan pernah ada kata 'akhir' bagi Kinan. Karena cinta, akan selalu bisa menemui bentuknya yang lain. Bagai air, ia akan selalu bisa menyublim menjadi es, atau uap.. dan kembali ke air lagi yang kan terus mengalir menuju ke dia.

Eniwe, after all..
Kinan hanya ingin
dirinya dan dia.. satu
That's all


inspired by: Gemintang [andien]
gemintang awali indahnya cerita, melantunkan rasa. nyanyikan denting nada dan senyuman, menghadirkan cinta. resahku menepi, indahku bersemi, mengingat utuh bayangmu...
hatiku... mengucap kata merindukanmu. laksana nyata manis nuansa. dan jika gemintang tiada lagi melagu, kisahku yang mencinta dirimu kan slalu abadi...
rembulan temani indah malam ini, menyatukan asa. lukiskan dekap hangat yang kau beri, mengartikan kita. resahku menepi, indahku bersemi, mengingat utuh bayangmu...

Labels: