Friday, October 27, 2006

Terminal Bawen, 09.00 WIB

Puanaasss... sumpek... ramee.... sit and do nothing... suasana yang actually bener2 gag ajenx banged dah. Sebagian besar isi bis ekonomi jurusan jogja itu uda terkantuk2 di kursi masing2. Ada yang kipas2.. ada yang ngerokok.. ada yang gelisah.. Pengamen n penjaja asongan hilir mudik menambah riuh suasana. N I spent my time.. memperhatikan kondisi di luar. Bertanya2.. menduga2.. membayangkan....

Sepasang muda mudi tanggung berdiri di pintu bis.. lelakinya memeluk pundak sang gadis seakan tak ingin melepas gadis di sampingnya, yang terus menerus tersenyum padanya.. (oohhh... so swiiitttttt ^^)

“Preman-preman” berseragam biru muda sibuk hilir mudik mengatur jalur bis dan penumpang2 yang kebingungan. Badan gedhe, item.. bertato.. kumis lebat.. gondrong... berkacak pinggang.. (wonder how do they solve their daily problems.. euh... dengan tinju, umpatan... ato senyum? ^^ do they have problems? Seperti apa istri2 mereka ya? Are they happy with their job? ... Apakah pekerjaan yg membentuk fisik mereka ato fisik yang membuat mereka bekerja sedemikian rupa?) Ya.. mungkin saling berkesinambungan kali yah... Gag bisa bayangin dengan badan segedhe n profil sengeri mereka, jadi guru TK misale...ato model iklan parfum... hohohoho...

Pengamen2 muda berkostum ala ‘punk’ berkumpul di sebuah sudut. Bergaya.. n tampak amat menikmati hidup. Tertawa2.. minum2... saling dorong.. saling cela.. beberapa berusaha main mata denganku.. hiih.. genit! Wonder, are they clean enough? Berapa hari sekali mereka mandi? Berapa periode sekali mereka keramas? *Yang pasti gag berbau wangi gatsby ya.. ^^ Do they wanna get out from a life like that?)

Seorang bapak2 kecil n kurus yang mukanya memelas berdiri di depan warung. Kemeja kotak2 flanel biru dimasukkin, celana ijo yang gag matching blas, sama sepatu kets putih. (hwaduh ^^). Sumtin’s interesting bout that guy, i don’t know what. Mungkin karena bibirnya yang selalu tersenyum? Mungkin karena aku gag bisa nebak sama sekali what he’s doing there.. Nunggu bis? Gag juga kekna.. njemput orang.. gag juga. Penguasa daerah situ? Gag tampang... Entahlah...pertanyaan2 terus terpikirkan olehku.. what did he do for living? Did his wife n kids know he spend a lot of time standing in that place? How did he solve his problems? Gimana pola pikirnya?

Sepasang paruh baya turun dari bis antar kota dengan barang2 yang besar2 n tak terkira banyaknya. Celingak celinguk.. si kakek tua berkata sesuatu pada istrinya n meninggalkan sang istri sendirian di tengah keriuhan bersama kotak2 kardus berserakan. Sang kakek kembali.. dan berdua mereka mulai satu persatu memindahkan barang2 mereka ke tepi. Repot.. n nobody helps... (neither do I.. ^^) *lha.. bisku da mo jalan je .. *justifikasi diri...

Bertanya2 n wondering gag jelas gituw somehow make me realized.. Mereka semua.. adalah ‘they’ buatkuw. Orang2 yang kuanggap ada di luar duniaku. Stranger. Yang harusna tidak kuperhatikan. Yang bahkan gag bisa disebut sebagai orang yang ‘mengisi hidupku’.. Ato bahkan.. tanpa kusadari, aku telah menempatkan mereka ada di ‘bawahku’, if u know what i mean... Mungkin gag kaya di sinetron2 ato telenovela di mana tingkatan kasta, kelas sosial bener2 jd isu utama. Tp secara gag sadar mungkin aku sering menempatkan diriku dan hidupku sekelas atau beberapa kelas di atas ‘mereka’... Padahal... kan belom tentu juga...

So what?

I dunno.. Biasanya kata2 ‘asing’ ato ‘stranger’ yang kita sematkan pada sesuatu akan menumpulkan empati kita terhadap sesuatu tersebut, dan menumbuhkan ketidakpedulian kita padanya.

Lah.. trus kenapa emang kalo empatinya tumpul? Kenapa emangnya kl kita jadi tidak peduli?

Well... I must say that ketidakpedulian adalah bibit dari tirani, kausal dari memburuknya kehidupan secara umum. Ketika pribadi2 jadi individual dan egois.. cari untungnya sendiri.. tahu benarnya sendiri.. hidup dalam dunia dan perspektifna sendiri. N farewell, so long then,... for freedom, peace n wisdom.. hehehe.

Kalo seseorang uda dianggap sebagai yang ‘asing’ n ‘gag penting’ ... gag akan ada kepedulian terhadapnya. Dan gag ada kepedulian, berarti gag ada kasih. It become so wrong ketika dihadapkan pada patron religi yg kuyakini, yang mengajarkan keutamaan kasih.... ^^ Eniwe, realita di luar sana yang terjadi adalah kita hanya peduli pada orang yg kita kasihi. Padahal.. tak bisakah kita peduli pada orang yang ‘gag penting’?

Peduli bukan berarti lembek.. gag tegaan.. ato bahkan iba, ato harus bagiin nasi bungkus di tiap perempatan tiap hari. Ato seperti kata2 emosional ibu Nia Ramadhani yang menyatakan gag keberatan anaknya kawin sama tukang becak sekalipun... ^^ (monggo, para bapak2 tukang becak kl mo ngajuin lamaran ke Nia... ^^), gag harus seperti itu kan.. Kadang.. peduli cukup dengan memposisikan dia ada sejajar dengan kita. Memandangnya sebagai seseorang, yang patut dihargai.. dan punya hak2 dasar yang sama, serta (catet) punya perbedaan yang harus dihormati.. Punya problems yang mungkin lebih kompleks.. blablabla..

We care.. n we’ll make this world a whole much better place for living...

*what am i talkin’ about, eniwe?

Dan bukankah substansi perhatian seseorang itu terletak pada kesanggupan “menyediakan waktu”?

Yah.. dan akhirna jadi begitu menghargai seseorang di ujung sana, yg hampir selalu bisa menyediakan waktu everytime I ask him beside me... Dan salahkah.. jika kemudian kesanggupan menyediakan waktu itu diterjemahkan menjadi.. cinta? Jadi salah satu bentuk nyata pengungkapan... cinta?

Well, eniwe... Thx 4 my h’ni.. 4 the time he always spent.. apapun artina itu ^^