Sunday, October 15, 2006

dare to take challenge?

Waktu itu, setelah si bos menghembuskan wacana tentang beberapa perubahan yang bakal terjadi di kantor, termasuk perubahan struktur n posisi karyawan, plus satu ide ekspansi yang cukup radikal; aku menyempatkan diri mengamati tanggapan orang2 kantor.. ^_^

Sebelumna, perubahan macam apa c yang dikemukakan pimpinanku? Pertama, rencana mutasi dan pertukaran posisi beberapa karyawan antar divisi. Kemudian, penghilangan beberapa jabatan struktural yang dipandang gag efektif, n gag ketinggalan, rekrutmen tenaga2 baru yang lebih fresh..
Kedua, ide si bos untuk melakukan ekspansi besar2an. Bukan untuk menciptakan pasar baru, tapi meluaskan pasar yang uda dibentuk sebelomna. Konsekuensina contohna, buat divisi tempatku kerja, kalo biasanya sehari2 aku ngerjain 2-3 paket analisis sederhana.. dengan adanya PKS baru ini, kami bisa ngerjain 65 paket sehari, ato kurang lebih 2000 paket sebulan! (wahahaha... mbonjrot gag tuww...)
Positifna c, laba perusahaan naek, bonus karyawan juga naek dunk ^^

Tapi itu kan baru ide.. wacana.. dan kurasa si bos juuga cukup bijaksana dengan melemparkan isu ini n minta pendapat karyawan2 yang bersangkutan instead of langsung memutuskan sendiri.
'n how do they react eniwe?

Menarik.. (langsung kuhubungin sama teori yang baru aja kubaca..). Bab 1 buku Adversity Quotient, by Paul G.Stoltz, PhD. Dengan mudah kita bisa membuktikan bahwa emang dalam 1 perusahaan ato komunitas pasti akan ada 3 tipe pekerja:
1. Quiters (yang bener2 resisten terhadap segala bentuk perubahan n seakan gag ingin beranjak dari kedudukannya sekarang)
2. Campers (orang yang menerima perubahan2 n tantangan sampai pada batas tertentu sampe akhirna puas pada satu kedudukan dan berhenti pada posisi tersebut)
3. Climbers (sosok yang begitu dipuja2 sang penulis sebagai sosok pekerja ideal, yang terus menerus bergerak, berkembang, mendaki sampek titik yang tak terbatas, take all chances, changes, n challenges sebagai jalan untuk mencapai kesuksesan)

Tiga tipe pekerja yang hampir selalu ada dalam tiap tempat kerja n bener2 harus diperhitungkan oleh manajer manapun setiap kali ia memutuskan ato menelurkan strategi..

Dan emang.. beberapa orang yang kutandai diem2 sebagai quiters (yang sayangnya, didominasi oleh kaumku.. the ladies, 'n a few old guys yang terutama ada di posisi admin) langsung menunjukkan sikap resisten 'n cemas, n mengemukakan banyak alasan cerdas negatif seperti, perubahan tanpa disertai SDM memadai apa ya bakal berhasil? salah2 malah gagal ntar...

Para campers.. golongan orang2 yang uda mapan dengan posisi 'n pencapaiannya berada antara setuju ato tidak. Untuk wacana perubahan struktural jabatan, mereka berpendapat "coba ajah dulu, sapa tau berhasil" n untuk wacana ekspansi mereka berkata, "tidakkan sebaiknya kita liat dulu kondisina.. sepertina kita gag akan mampu.. dan kalo dengan gini kita dapat apa yg kita mau, knp kita musti cari yang lebih sih?"

'n the climbers.. dominated by youngsters n higher educated person keluar ruang rapat dgn mata bersinar2, ambil pensil, kalkulator, n SE ketentuan2, corat coret... n says... "we can, 'n we should"

Hehehe... it's amazing 2 see dat what is written in book is truly happened

So, what should we do then.. facing those contradiction in decision-making? Seorang CEO/manajer harusna emang mendengarkan suara anak buah, tp gimanapun stakeholder rules all... Dan transformasi/ekspansi ato apapun namanya, dengan perhitungan yang cermat emang seharusna jadi bagian strategi perusahaan2 yang pengen eksis dalam kompetisi.

Indosat di taon 2002 contohna, mengalami privatisasi (kepemilikan saham oleh pihak asing), sekaligus transformasi bisnis dari SLI ke operator selular bersama IM3. Sebagian karyawan gag setuju, n apa yg terjadi? Direksi melakukan assesment, simulasi tentang kira2 apa yg bakal terjadi n menerapkan konsep manajemen standard: POAC (Plan, Organize, Actuate, Control). Setelah sebelomna menyisir karyawan yang mendukung langkah direksi.

Seorang CEO perusahaan jasa di Jakarta terpaksa memutasi beberapa karyawan n bahkan mem-PHK karyawan yang resisten terhadap usul pemilik perusahaan untuk melakukan ekspansi internasional.

Haa... perusahaan2 swasta mungkin mudah aja menyingkirkan karyawan2 yg gag efektif or yg gag kooperatif thd kebijakan perusahaan. Gimana dengan BUMN kaya kantorku? Dgn budaya ewuh pakewuh n kemapanan yang melekat kuat, agaknya ckp susah untuk memasukkan ide2 baru yang revolusioner n (sebenernya) positip tanpa ada komentar negatif n penolakan2.

But then again.. dat's life, i guess... Begitu banyak perbedaan di dunia ini yang gag bisa disatukan 100%. Tak ada tim yg sempurna, n di situlah menariknya. Mencapai kemenangan dari ketidaksempurnaan. Menerima kekalahan tanpa menyalahkan ketidaksempurnaan. Sempurna / tak sempurna kan cuma persepsi kita, yatoh?

Dan mengikuti irama, tanpa kehilangan jati diri. A climber stuck in a conservative place.. or a quiter trapped in a fast moving place. Kenapa harus merasa stuck n trapped?
Wanna make a change?
Begin with urself.. dat's what I used to think...
xexexexe

fiuh.. capek ^^