Thursday, September 21, 2006

luther...


"Luther...."
A film that stuck in my head for a quite long time. Yah, setelah berbulan-bulan 'kering' nonton film2 yang gag bermutu... *oh, ada satu ding, yang lumayan nyanthol...
jreng jreng jreng..."The Ant Bully..!"
(ziing??) ^0^ hohohoho....

ehm.. eniwe, back to Luther, film semi biografi-na Martin Luther, seorang pastor revolusioner yang berani membelot dari ajaran Katholik Roma kala ituh.. dan akhirna kabarna mendirikan aliran Kristen sendiri.

Ah ya... dan hampir2 sama kaya Da Vinci Code, di Luther ini juga mengungkap 'bobroknya' kepemimpinan Paus dan Vatikan kala ituh, yang dianggap mempergunakan dogma agama demi kepentingan umat tetapi tanpa disadari malah menyengsarakan rakyat. Ketika keselamatan dalam bentuk indulgensia diwajibkan untuk dibeli. Konsep 'stick and carrot' dikedepankan, dengan wortel berupa 'keselamatan/surga', dan tongkat pemukul berapa 'api neraka'. Yang kemudian memunculkan Martin Luther, sebagai seorang teolog terpelajar, dengan pemikiran2 dan ide2 yang ... I must say... gw bangedd gituw... xixixi. A common thought nowadays buat seseorang yg rational-minded, but definitely not at that time, ketika rasio dipinggirkan oleh dogma agama.

Thought macam apa c? Uhm... terus terang.. ragu2 juga ngomongin secara terbuka n detil. Cuz.. yah.. ada beberapa pemikiran yang mungkin bakal menyudutkan pihak2 tertentu, termasuk sang pemikir sendiri... (hohoho...). Dan dari film ini pulalah aku mendapat justifikasi why few things better left unsaid, dan gimana belajar tentang kebijaksanaan (scr bertahap, tentuna)... belajar memiliki wisdom untuk tidak secara outloud menyuarakan pemikiran2 kitah.

Kenapa selama ini ada beberapa pemikiran yang kusimpan sendiri, dan kenapa aku sedikit menyalahkan Luther atas pergolakan berdarah yang terjadi kala ituw.. IMO karena wisdom untuk memilah2 apa yang harus dilakukan/dikatakan memang bener2 diperlukan. Baik itu wisdom untuk mengatur kata2 yang akan dikeluarkan, mopun wisdom untuk memutuskan apakah akan diam ato bicara. Banyak hal yang harus dipertimbangkan, such as.. timing, tujuan, dan sasaran. Dengan catatan, sebelomna kita harus siap dan yakin bahwa pemikiran kita emang bener2 bisa memperbaiki kondisi yang ada. Bahwa kita telah menawarkan sesuatu yang baik untuk sesama kita.

Di Luther.. timing mungkin uda pas. Tapi sasaran.. tujuan dan cara penyampaiannya sedikit meleset. Luther tidak mempertimbangkan kesiapan para audiense yang mendengarkan pemikirannya, pun tidak memikirkan tingkat kecerdasan orang2 yang menerima 'provokasi-na' dan yang paling penting... tidak memikirkan side-effect ketika ada segelintir orang yang menginterpretasikan pemikirannya secara ekstrim dan salah kaprah. Dan kemudian diperparah dengan kondisi ketika dia menghilang, tanpa sempat meluruskan interpretasi yang salah kaprah itu tadi.. dan terjadilah... pergolakan berdarah ituw.

Sapa yang salah?
I dunno... Meskipun pernyataan2 dan provokasina menyulut pergolakan, i think basically Luther got the point. Luther menentang penjualan indulgensia, atau kepemilikan benda2 ritual agama yang cenderung dikultuskan, dikomersilkan... sementara kemiskinan meluas. Dia memperjuangkan agar Bijbel diterjemahkan dan dibahasakan dalam bahasa masing2 sehingga umat bisa lebih dekat dengan sabda Tuhan itu sendiri. Tidak ada yang salah dengan ituh, IMO.
Dan Vatikan.. sebagai suatu lembaga raksasa yang mempunyai otorita mutlak pun tidak terlalu salah karena mungkin meneruskan langgam lama yang telah diyakini bertahun2. Kekurangannya mungkin ketidaksensitifan terhadap persoalan sosial rakyat bawah.
Everybody's got their own point of view.

Setiap orang punya, dan emang harus punya keyakinan pribadi dan mungkin interpretasi terhadap segala sesuatu, aku yakin ituh. Tidak harus sama seratus persen dengan keyakinan dan interpretasi umum. Ketidaksamaan interpretasi inilah yang mungkin memunculkan fenomena nabi2 (kalo konteksna agama), ato sang pembaharu (kl konteks pengetahuan) ato sang pejuang revolusi (konteks politik) yang menawarkan dan bahkan kadang memaksa-masukkan hukum baru sesuai dengan interpretasinya; sesuai dengan kebenarannya.

Buwatku pribadi... hal macam ini selalu akan memunculkan pertanyaan, "kebenaran milik siapa?" Kalo kita sebagai individu yag ditanya pastina bakal menjawab, "kebenaranku lah yang paling benar!" Dan ketika kita ditanya antara Luther 'n Vatikan, mana yang paling benar, mungkin masing2 dari kita bisa menjawab mana yang benar, but then once again... the answer depends on us, depends on our own perspective. Therefore.. I'll call it a subjective matters ; yang mana tidak bisa dikukuhkan sebagai kebenaran yang mutlak.

Some might say bahwa kebenaran ada di pundak kekuasaan. It's true.. I think. Siapapun yang ada di puncak kekuasaan pasti bisa memaksa-masukkan kebenaran-nya untuk diamini orang2 di bawahnya sebagai kebenaran milik mereka sendiri. Dan ini legal, bagus juga sebenernya kalo aja siapa2 yang ada di puncak ituw adalah the right man in the right place. ^^. Yang dikhawatirkan kan kalo yang ada di atas ituw otoriter yang tidak memahami kepentingan rakyat banyak.. (at this point sepertina aku mendukung sistem demokrasi.. hehehe).

So? To the contrary, I'm beginning to ask myself... dan apakah menurutmu dunia akan jadi lebih baik jika kita membiarkan orang2 berjalan dengan arah pikirnya masing2.. bebas sebebas2nya menginterpretasi segala sesuatu dengan batas imajiner bahwa kita memegang kebenaran kita masing2?
Tidak juga... kalo kata BEBAS didenotasikan sebagai bebas sebebas2na tanpa ikatan.
Tapi mungkin.. jika kita menganut BEBAS secara CERDAS. Bebas yang bukan berarti tanpa ikatan. Karena IMO, seorang baru bener2 bisa dibilang bebas kalo dia bisa memilih antara terikat atau tidak. Hehehe. Dan bebas secara cerdik. Tau gimana cara menikmati kebebasannya dan bisa menempatkan diri. ^^ Bahwa dalam suatu area selalu akan ada hukum kebenaran yang berlaku, yang memaksa kita semua untuk tunduk padanya. Dan seorang yang bijaksana adalah orang yang tau gimana menempatkan diri sehingga bisa menyelaraskan antara kebenaran publik dan kebenarannya sendiri. Sulit c, apalagi kalo kita tau benar bahwa kebenaran dan hukum yang berlaku tidak memihak kita.. inilah yang memunculkan fenomena revolusi tadi.. dan revolusi, bagaimanapun bentuknya, selalu menuntut korban...

Plz name one.. a revolution without sacrifice.. (???)
Dan bahkan mahatma gandhi yg mengusung bendera anti kekerasan pun mengundang kematian bagi dirina sendiri dalam perjuangan pembaharuannyah...

...menyedihkan....
tapi filmna bagus... i like it... -_-