Saturday, July 22, 2006

true perfection

"True perfection has to be imperfect..."
Oasis - Little By Little

Dunno what it means exactly, but it keep stuck in my mind recently. Gag tau apa maksud si Noel gallagher waktu menulis kalimat itu, but for me, the cojunction word even still confuses me. Whether is it 'has' or 'have'...
Apakah kesempurnaan sejati 'harus' dan 'akan' menjadi ketidaksempurnaan?...
atokah kesempurnaan sejati 'memang/mengandung' ketidaksempurnaan?..
atokah kesempurnaan sejati berasal dari sebuah ketidaksempurnaan?...
Past ... present ... future...

Maknanya sebenernya akan tergantung pada di mana kita meletakkan frase 'ketidaksempurnaan'. Dan terlepas dari makna yg dimaksud si Noel, di mana kita meletakkan 'ketidaksempurnaan' tentu tergantung pada keyakinan masing2.
Ideologi yg umum terjadi adalah menempatkan ketidaksempurnaan sebagai asal/awal mula dari kesempurnaan. Cause that's what we're all about. We're all climb to be perfect. Meskipun teori roda pasti akan berbicara juga nantina. Dari imperfect to perfect n then back again to imperfect. But the point is.. we start from imperfect n become perfect. We shall seek for a perfection.

Padahal... apakah sebenernya kesempurnaan ituh? Adakah sebenernya kesempurnaan itu? Dogma berkata bahwa kesempurnaan hanya milik Tuhan. Ini sah2 ajah. Meskipun hanya merupakan sebuah epistem metafisik yg jadi andalan tatkala manusia sampe pada tahap dia gag mampu merasionalkan sesuatu. ^_^ (hayoo... pasti banyak yg bakal gag setuju...)
Well, eniwe.. jika kesempurnaan (sejati) only belongs to God, gimana kita bisa menjelaskan istilah 'sempurna' yg kita pake sehari2?

"hidupku benar2 sempurna. Anak cerdas istri cantik dan setia, materi berkecukupan, kerja gag perlu ngoyo.."
"Lelaki itu benar2 sempurna. Tampan, kaya, cerdas, setia..."

Xexexe... hal pertama yg terbersit di anganku jika ada yg berkata seperti itu adalah..
Duniawi!
Biasaaa...!
'n a lita bit shallow.. hohohoho.
Kenapa 'shallow' ?? Yaa... karena berjuta2 orang di dunia (termasuk sayah sepertina.. ^0^..) mengamini konsep sempurna seperti itu. Lha kok bisa?? Yaa.. tak lain karena sebenernya kalo dipikir2, 'sempurna' yg kita gunakan sehari2 adalah tak lain merupakan buah dari culture dan mindset yg terbentuk secara bawah sadar manusia. Culture ato ikatan primordial sangat berperan penting dalam pembentukan konsep hidup satu individu. Ada satu teori massa/komunitas yg menyebutkan bahwa ciri khas dari massa adalah setiap individu kehilangan daya berpikir. Setiap individu digerakkan oleh kemauan dan juga keharusan mengikuti kumpulan. Dan individu2 ini segera menjelma jadi kumpulan yg gag berpikir. Kalo dalam pembahasan ini, tentu ajah mematikan keunikan2 dan ciri khas masing2 individu. Kita semua jadi tergiring dalam satu konsep paradigma yg satu. Kalo ada yg melenceng dikit, pasti dianggap aneh dan dikucilkan.

Me myself, consider that perfection is nuthin but relativity. Sempurna itu relatif. Sama perlakuannya dengan sebuah 'benar'. Sempurna dan benar itu relatif. Meski dalam 'sempurna' kerelatifannya gag berdampak sefatal seperti di 'benar'. Sebuah 'Tidak sempurna' tentu masih bisa lebih dimaafkan jika dibanding dengan sebuah 'tidak benar'. Tapi tetep mirip.

Though I'm quite sure.. teori relatifku ini pasti bakal berbenturan dengan teori yg berkembang di masyarakat. Gimana enggak, dalam satu komunitas/kumpulan pasti akan selalu ada kesatuan persepsi mengenai 'sempurna' secara umum. Ada batas2 imaginer yg melingkupi makna 'sempurna' yg juga mengikat pemikiran orang2 untuk mengamini batas2 itu sebagai batas makna kesempurnaan, sehingga sesuatu di luar batas itu adalah 'tidak sempurna'...

padahal, aku c percayanya bahwa kita semua punya bibit2 keunikan dari diri kita sendiri yg kudunya dipelihara, dimanage.. dan bukannya dimatikan sedemikian rupa. Tuhan menciptakan manusia tidak sama, katanya. It means, we're unique.. Uniknya di mana? Bukan hanya unik di bentuk mata/letak tahi lalat semata, tentuna. Unik kita itu di pemikiran, paradigma, wawasan.. bagaimana kita memandang hidup, solve our problem, unik di konsep hidup secara umum, dan konsep 'sempurna' khususna.

Tentu ajah... kalo kebetulan punya konsep/big frame yg sama yo gag masalah. Yg jadi masalah adalah kalo kita uda mulai maksain diri harus ikut konsep 'sempurna' menurut orang lain. U won't get anything, but uncomfortable n unsatisfaction. Kalo emang sempurnanya bukan sempurnamu kenapa harus dipaksa masuk? Meski sebenernya nantina dalam kurun waktu tertentu, doktrin sempurna-nya bisa aja lama2 melebur jadi konsep sempurna kita tanpa kita sadari, tanpa kita sempat mencegahnya..

Contoh.. pernah ada satu fase dalam hidupku ketika aku berangan2 pengen karir di bidang arsitek secara mandiri. Kerja di rumah, punya studio pribadi.. semau gw. Trus suaminya juga kerja di rumah.. programmin' sumtin or apalah jd web desainer.. jadi bisa punya banyak waktu buat anak2nya.. ato siang2 bisa bercinta di meja dapur.. lho! (angan2 ini -minus aktivitas yg di meja dapur- muncul ketika masih berkekasihan dengan seorang programmer yg juga IT-holic.... hohoho ^0^..wazzup bigbro?)
Ato pernah juga berangan2 jadi peneliti/ilmuwan khusus meneliti macan (^0^... dasar kucing gila) yang mungkin berminggu2 blusukan di belantara afrika.. bersama satu tim kecil yg solid, yg salah satu di antaranya adalah pacar/suamiku.. (muncul gara2 suka ngeliat acara tipi: wild life tah animal instinct..) Manteb banget gag tuh? hohohoho...

Tapi ya... once again.. cuma mimpi.. Bumi tidak memperbolehkan seorang kucing punya angan2 gila macam ituh. Konsep hidup sempurnaku kala ituh dengan segera dilecehkan dan diinjak2 oleh konsep sempurna menurut awam. And then... little by little... angan gila yg menarik dan menggairahkan tadi tersubversi oleh gerusan realita dan konsep 'sempurna' yg uda seakan jadi dogma di masyarakat.

Lulus kuliah.. kerja kantoran 8to5, gaji 3 juta, kawin umur 27, suami kantoran pula, punya 2 anak cowo' cewe', karir naik, tapi anak suami tetep terurus.. xexexe
Duh... membosankan sekaliii.... (lho!) ^_^

Eniwe,the truth is, the word 'perfect' a lita bit scares me. Dunno why. Mungkin karena aku gag pengen terjebak pada konsep kesempurnaan yg terlalu dipaksakan. Tidak ingin terpaku pada konsep 'sempurna'nya (karena aku tau pasti bukanlah aku 'sempurna'nya).. dan tak ingin dia memaksakan diri memahami konsep 'sempurna'ku pula. (karena aku tak pernah menginginkan sebuah 'sempurna', sebenarnya). Yg kuinginkan hanyalah sebuah 'apa adanya'. That's all.

Seorang manager senior di kantorku pernah bilang gini..
"Di dunia ini gag ada yg sempurna, jenx. Kalo emang uda sempurna.. ya gag usah hidup aja..."
Yapp... in other way.. hidup kan untuk melengkapi.. dan hidup katanya sebenernya adalah untuk mencari. Lha, kalo uda nemu kesempurnaan, buat apa hidup? xexexexe

Mungkin akan lebih baik jika kita tidak berjuang mencapai sempurna kita, hun.. Tapi berjuang untuk melakukan yg terbaik yg bisa kita lakukan. Do all the best we can do, instead of reaching our perfection yg kadang2 masih terasa kabur... Benarkah yg kita perjuangkan itu 'sempurna' kita?

*inspired by:
a perfectionist guy that i accidentally love.. ^_^