Sunday, June 04, 2006

what can we do..

Masih tentang pertanyaan..
"gimana kita bisa memitigasi bencana?"

Apa yg bisa kita lakukan dalam kerangka mencegah dan mengeliminir dampak yang dihasilkan oleh bencana (terutama gempa?). Terlalu banyak korban uda berjatohan karena fenomena alam.. dan alangkah naifnya kalo kita semua berdiam diri menyikapinya. Kalo untuk solidaritas serta tindakan2 tanggap bencana c aku percaya kita semua uda berusaha semaksimal mungkin.. Salut buat semua pihak yang uda berusaha sekuat tenaga untuk membantu sesama yg membutuhkan.

Kalo emang uda terjadi.. ya apa lagi yg bisa dilakukan selaen berusaha memperbaiki kerusakan yg ditimbulkan. Tapi alangkah lebih baiknya kalo diikuti dengan usaha2 untuk mencegah akibat serupa terjadi lagi kelak. Mungkin bukan dalam kerangka pikiran untuk menghentikan ya.. hey, who the hell are we yah berani mendahului kehendak Yang Dia Atas? Tapi IMO.. sebagai manusia yg punya keterbatasan kita juga punya kelebihan untuk berpikir.. dalam hal ini untuk memprediksi datangnya bencana hingga bisa mengeliminir dampak yg dihasilkan nantina.

Gempa di Jogja kemaren sedikit berbeda dengan gempa di Aceh dan Nias, yg terjadi karena tumbukan antara 2 lempeng. Memang.. awalnya adalah karena ada proses subduksi.. masuknya kerak samudra ke bawah kerak benua (di jogja kemaren antara lempeng indoaustralia yang bergerak 7cm per taon ke arah utara bertumbukan dengan lempeng eurasia). Bedanya... daerah gempa tidak terjadi di pertemuan kedua lempeng ini, melainkan timbul pada patahan2 kecil yg bersifat lokal yg dinamakan Sesar Opak.. yang diam2 aktif karena pergerakan 2 lempeng tadih. Sesar Opak ini memanjang dari pantai selatan pundong bantul, berbah sampek klaten. No wonder..kerusakan di daerah2 itulah yg paling parah. Tipe gempana adalah tipe gempa sesar datar (strikeslip)

Seismolog dan geolog kita emang terlambat menyadari pergerakan sesar opak ini karena emang keberadaannya gag terdeteksi. Baru setelah gempa terjadi dan diadakan penelitian ditengarai adanya sesar yang memanjang di daratan jogja... itupun gag bisa secara tepat dipetakan, hanya bisa dideteksi dari bentuk kontur dataran di sekitar lokasi perkiraan sesar tersebut.

Susah ya.. padahal apa yg diperlukan dalam sebuah prediksi bencana gempa adalah mempelajari struktur batuan di lokasi ituh. Gimana caranya? Umumnya kita bisa memprediksi dengan mempelajari sejarah gempa besar di daerah yg bersangkutan dan juga mengamati laju penumpukan energi di lokasi tersebut. Tapi kalo batuannya, patahannya, sesarnya.. maupun lempengna aja gag terdeteksi, gimana kita bisa mempelajari??

Di Cina dulu pernah terjadi cerita sukses peramalan gempa ini. Waktu itu lembaga seismologi setempat sukses meramal gempa sebesar 7,3 SR (bayangpunn) di Haicheng dengan mengamati perubahan permukaan air tanah, perilaku binatang, gerakan air tanah dan gempa2 awal... sehingga penduduk setempat diungsikan 1 hari sebelom hari-H.

Memprediksi gempa juga bisa dilakukan dengan mengamati sinyal elektromagnetik yg muncul akibat gempa. ato seperti yg dilakukan Jamstec (sebuah techno center asal Jepun sono). Mereka sedang mengusahakan sebuah proyek prestisius untuk mempelajari gempa. Yaitu dengan cara mengebor daerah2 seismogenik di laut sampe 7000an meter gituw, n dipasangi alat untuk mengukur pada tekanan berapa gempa terpicu di batuan ituh. Dari berbagai pengukuran kemudian bisa didapet konstanta tekanan yg kemudian bisa digunakan sebagai tolok ukur perhitungan pada struktur batuan yang sama (!) untuk memprediksikan kedatangan gempa... Masih struktur batuan yg sama... berarti belom bisa diterapkan ke jenis batuan laen.

Yah... banyak cara uda ditempuh manusia2 pandai di luar sanah untuk mencapai pengetahuan yg lebih, yg IMO juga merupakan salah satu bentuk self defense terhadap kekuatan dan misteri alam. Banyak yg sukses.. banyak yg gagal. Tapi kurasa itu uda lebih dari cukup.

Well.. kurasa usaha pengamatan dan pemantauan peristiwa gempa serta pencarian teknologi prediksi gempa bisa kita percayakan pada ahli2 di luar sono ya.. In the mean time, what can we do then? Dats the questions I keep asking to myself lately.

Pertama2 kurasa kita perlu sadar sepenuhnya bahwa daerah yg kita tempati emang bener2 rawan gempa. Penelitian menunjukkan bahwa Indonesia sebenarnya merupakan negara dengan variasi intensitas gempa menengah sampai tinggi. Dan kalo uda gini, tidak bisa tidak.. semua lapisan harus bahu membahu untuk menyiapkan diri dalam menghadapi keadaan yg terburuk.
Pemantauan peristiwa gempa, usaha prediksi, dan pemetaan sesar/lempengan aktif yg dilakukan ahli2 seismolog maupun geolog2 kita bisa di-follow up-i dengan mengestimasi besarnya magnitudo gempa. Dengan mengetahui panjang segmen sesar.. seorang ahli tata ruang kota bisa merancang sebuah struktur tata ruang kota yg relatif lebih aman. Jadi, pada lokasi2 yg ditengarai merupakan lokasi sesar yg aktif pergerakannya sebisa mungkin tidak dipadati oleh pemukiman, misalna.
Ini secara global..

Apa yg bisa dilakukan oleh masing2 masyarakat? Yang paling disoroti dalam sebuah bencana gempa adalah.. bahwa sebenernya bukan gempa itu sendiri yang menyebabkan kematian.. tapi banyak korban jiwa disebabkan karena tertimpa reruntuhan bangunan. Untuk itu, masuk akal rasanya kalo bangunan gedung di Indonesia sekarang harusna dirancang dengan kaidah-kaidah teknik kegempaan yang sangat ketat. Ini emang kerjaan lebih buat para ahli bangunan.. (duh, jadi kangen masa2 jadi calon arsitek ^^). Kita liat Jepang... yang selalu jadi percontohan negara gempa dalam hal treatment bangunan. Di sono rumah2 kebanyakan dibuat dari kayu dan kertas. Furnitur kaya meja dibuat sangat rendah sampe mendekati lantai. Lemari dibikir menyatu dengan dinding dll. Pokokna bahan bangunan dan furnitur dibikin sedemikian rupa shingga gag mencederai penghuni.

Kita mulai dengan pondasi..
Sebenernya Indonesia uda punya SNI tentang Peraturan Bangunan Tahan Gempa ini, c.. tapi ya mungkin sosialisasina kurang kali yee.. Masih belom populer. Lagian orang kita kan bandel.. kalo belom kena musibah aja.. ngeyel ^^. Kalo di pondasi yg ditakutkan adalah bahaya likuifaksi (mekanisme kehilangan daya dukung tanah/ambles waktu gempa). Makanya.. pondasi teteup harus diperhatikan ukurannya. Di tanah sekitarnya juga harus dilakukan teknik pemadatan yg memadai.

Ahli Struktur dan Teknologi Gempa Dep. PU, Suwandojo Sidiq mengutarakan 2 cara membuat bangunan tahan gempa:
  1. Membuat struktur dan komponen bangunan kuat dan tahan gempa
  2. Meredam getaran gempa dari tanah biar gag masuk/menjalar ke struktur bangunan bagian atas.

Untuk meredam getaran gempa digunakan rubber bearing atau base isolation, yaitu bantalan yang terbuat dari susunan lembar-lembar karet dan pelat baja. Kedua bahan itu, direkatkan selang-seling sehingga membentuk bantalan berbentuk silinder yang mampu menahan beban tekan sampai 500 ton per unit. Bantalan karet ini dipasang di bawah bangunan, terletak di antara sisi atas fondasi dan sisi bawah balok fondasi. Bantalan karet, mampu meredam getaran gempa sebesar 75 persen sehingga getaran gempa sisanya hanya 25 persen yang diteruskan ke struktur bangunan bagian atas. Bantalan ini uda digunakan waktu gempa kuat yg menghancurkan Kobe, Januari 95 kemaren.. dan bangunan yg pake bantalan karet di sana gag rusak sama sekali.

Rumah di Pulau Jawa umumnya menggunakan bahan dinding yang terdiri dari pasangan bata atau conblock ditambah adukan semen dan pasir sebagai pengikatnya. Padahal konon kabarnya, bata polos merupakan bahan bangunan yang sangat buruk daya tahannya terhadap beban gempa. Bata itu masif dan berat tapi regas dan gampang roboh, makanya gag cocok sebenerna untuk bangunan di daerah rawan gempa. Laen ceritanya kalo diperkuat baja tulangan dengan cara yang benar atau dengan tiang balok pengekang.

Banyak teknologi2 laen.. yg meski rumit, tapi apalah artina kalo dibanding dengan usaha mencegah kehilangan yg lebih besar lagi? Orang kita lebih menganggap rumah tembok lebih megah.. lebih mahal n prestisius.. Padahal.. struktur kayu daya tahannya lebih baik untuk menahan guncangan gempa karena bahannya lebih ringan. Aku sendiri.. lebih suka rumah kayu, c.. Dari dulu pengen punya rumah yg naturalis.. kayu.. batu alam.. (lho, kalo batu alam kan berat yoo? ^^) pohon2.. taneman.. item putih. Lha.. hehehe

Eniwe, a lot of things can be done.
It's just.. up to all of us, whether we're gonna change our perspective or not.
Yang pasti.. bangkitlah Jogjaku!!