Wednesday, May 03, 2006

Hay Point Method

Rapat harian in my nu office pagi ituw diwarnai satu pertanyaan menarik yg dilemparkan oleh si bos ke forum. Aku rada lupa2 inget juga c persisna gimana.. tp temanya tentang manajemen. Tentang gimana kompetensi atau prestasi kerja seseorang itu bisa dinilai.

Iya juga c.. Kalo seseorang itu bekerja di bidang produksi yg memproduksi barang emang lebih mudah diliat, dari produk yg dia hasilkan. Ato kalo yang paling jelas terlihat c, seseorang bergerak di bidang marketing misalna.. biasanya tolok ukur yg dipake adalah target. Is he/she be able to fulfill his/her target? Itu yg dijadikan patokan seseorang berprestasi ato gag.

Tapi gimana dengan orang2 yg bergerak di bidang jasa? Yang hampir gag ada embel2 target? Gimana dengan pekerja yg bekerja dengan menjalankan sistem yg baku? Gimana kita bisa menilai kinerja mereka?

Jadi inget sekilas debat kusir antara aku n Rhevi Indrastoro di kelas kala ituh, ketika kami sama2 membahas tentang analisa kualitatif n kuantitatif sebuah pekerjaan jasa. Kala itu Rhevi bersikukuh bahwa perbuatan jasa itu tidak bisa dinilai secara kuantitatif. Karena kuantitatif itu pasti obyektif, countable, sementara dia berpendapat bahwa penilaian atas perbuatan jasa itu selalu sarat dengan unsur subyektivitas, berkaitan dengan perasaan.
hohohoho...

I don't think so. In fact, sebagai salah seorang yg mengaku pemuja numerik dan matematik, aku pasti bakal membantah pernyataan yg gag mengakui numerik/matematik sebagai problem solving paling joss.. hehehe. Menurutku, bahkan sebuah perbuatan jasa pasti bisa dihitung secara kuantitatif... di luar dari permasalahan apakah orang yg mengindera (baca:menikmati) jasa itu punya selera dan kebutuhan yg berbeda2. Parameter yg digunakan untuk menghitung bisa berupa waktu, dan dimensi lainnya.
Jasa pengiriman barang, misalnya... Kenapa dia bisa disebut berkualitas? Karena dia bisa mengantarkan barang secepat kilat dalam waktu sehari dibanding pesaingnya.
Ato teller bank.. kaitannya dengan ini aku pernah ngeliat aksi seorang penilik yg menghitung kecepatan teller melayani nasabah dengan stopwatch di tangan... hehehe seru juga.

Therefore, aku teteup berpendapat kalo perbuatan jasa pun bisa dinilai secara obyektif n seharusna emang ada tolok ukur yg bisa diacu. Penilaiannya pasti obyektif, hanya penginderaannya yg bisa subyektif. Iya gag c?

Kaitannya dengan penilaian kinerja ini, kemaren sempet baca2 dokumen tentang kompetensi di sela2 pekerjaan kantor, n I found sumtin bout Hay Point Method. Ada yg pernah denger? Aku c belom.. huehehe. Sistem Angka Hay ini digunakan untuk mengukur elemen dan sub elemen yg ada pada tiap2 pemegang jabatan dalam perusahaan dan kemudian digunakan untuk menilai kinerja seseorang. Di dalam HPM terdapat 3 parameter: input, proses dan output. Bahwa kinerja bisa diitung dari 3 parameter ini.

Input [Know How]
Ato faktor "Know How" yg meliputi pengetahuan, keahlian, pengalaman, kemampuan, komunikasi, tingkatan manajerial dalam memerankan tanggung jawab suatu jabatan secara utuh n kompeten. Poin2 yg bisa dinilai adalah
  • Technical Know How (keterampilan dan prosedur praktis)
  • Managerial Breadth (perencanaan, pengawasan n pengorganisasian)
  • Human Relation Skills (keterampilan dlm bekerja sama dan berhubungan dgn orang lain)

Proses__ [Problem Solving]
mrp tingkat kompleksitas yg dihadapi seseorang ketika mengantisipasi n memecahkan masalah yg terjadi di bawah teritorina. Di sini gag cuma diukur apa dia berhasil ato gag, tp jg diukur seberapa besar lingkup dan tantangan berpikir yg diperlukan untuk analisa, identifikasi, mengukur, n kemudian memecahkan masalah yg ada sehingga bisa memerankan tanggung jawab secara utuh n kompeten. Poin yg dinilai adalah:
  • Thinking Environmental (batasan pemikiran dilihat dari prosedur, peraturan, n pedoman kerja yg dia pake)
  • Thinking Challenge (sejauh mana bisa mencari jawab atas masalah yg dihadapi)

Output_ [Accountability]
Merupakan besarna kontribusi/nilai tambah yg bisa diberikan sesuai kewenangan dia, besarnya dimensi dari jabatan tersebut dan sejauh mana pengaruhna bagi perusahaan. Poin yg dinnilai"
  • Freedom to Act
  • Magnitude (skala finansial yg bisa dikonttrol/dihasilkan berdasarkan indeks tertentu)
  • Impact (dampak yg dihasilkan bagi perusahaan)


Begicu... dalam tahap input n proses emang lebih terasa kental nafas kualitatipna. Nuansa kuantitatif baru terasa di output. Tapi semuanya kan tetep countable, yatoh?