Saturday, April 22, 2006

pecahkan...

Kinanti... itu namanya.
Kinan... biasa ia dipanggil.
Entah mana sebab dan mana akibat. Tapi Kinan merasa hidupnya memang sebagian besar dihabiskan untuk menanti. Menanti dan menerima apapun yg diberikan sang hidup padanya.
Tapi satu yang ia yakin tak pernah ia nantikan... yaitu... cinta. Kinan tak pernah mau menantikan cinta, itu pendiriannya sejak dulu. Karena baginya.. penantian akan cinta hanya kan membuat cinta itu subyektif dan tendensius. Hehehe... gag murni lagi, katanya.

Tapi malam ini ia mulai ragu akan pendiriannya.
Kabut keraguan mulai menyelimuti Kinan pada detik dia yang di hadapannya menggenggam tangannya...
... pada detik dia yang di hadapannya berkata, "Jangan pergi..."
Tidakkah ia selalu menantikan saat2 seperti ini sepanjang hidupnya, tanpa Kinan sadari?
Mungkin....

Lama keduanya berpegangan tangan. Kinan bisa melihat di dalam matanya ada ketakutan yang diujikan cinta sejati pada keduanya. Kinan bisa melihat ingatannya akan luka2nya di masa lalu.

Kinan bisa melihat di matanya, ribuan kali khayalan benaknya tentang saat ini berikut adegan2nnya yang telah dibayangkan. Ia ingin katakan, ya.... Kinan ingin katakan betapa besar cinta yang ia temukan pada diri sang dia, dan betapa Kinan menginginkannya saat ini.

Tetapi Kinan tetap diam. Menyaksikan.. bagaikan sebuah mimpi, pergulatan batin dia yg ada di hadapannya. Kinan melihat betapa dia sedang meragu kalau2 Kinan menolaknya, sedang memikirkan tembok besar yang ada di hadapan mereka berdua saat ini... dan tentang segala konsekuensi menakutkan yg mengiringi kebersamaan keduanya. Menakutkan? hhh....

Kinan menghela nafas... Dia yang ada di hadapannya masih membisu, berkata2 dengan matanya yang dalam, menyiratkan pergulatan yang berat.
Kinan menarik satu tangannya dari genggaman dan memindahkan gelas minumannya ke tepi meja.
"Jatuh loh!" dia berkata
"Biarin... aku pengen kamu dorong gelas ini dari ujung meja" Kinan berucap lugas.
"Mecahin gelas?"
Yapp, h'ni.. mecahin gelas. Laku sederhana yg membawa rasa takut yg gag bisa dimengerti. Apa salahnya memecahkan gelas yang tak mahal milik pemilik warung?
"Tapi... kenapa?"
" Yah... i'll tell u then. Tapi sebenernya, pecahkan saja!" jawab Kinan.
"Kau ingin aku melakukannya untukmu? Membuktikan sesuatu?"
"Buktiin sesuatu... maybe... tapi jelas bukan untukku"
Dia memandang gelas di ujung meja, khawatir gelas itu akan jatuh.

Ini adalah ritus perjalanan hidup.. Kinan membatin dalam hati. Sesuatu yang terlarang. Gelas tidak dipecahkan dengan sengaja. Di restoran atau di rumah, kita sangat berhati2 tidak meletakkan gelas di ujung meja. Semesta tidak memperbolehkan gelas jatuh ke lantai. Tidak dengan sengaja. Dan ini adalah perbuatan simbolis. Usaikan pertarungan dalam dirimu.. dan pecahkan gelas itu.

Kinan mengguncang meja sedikit.
"Hati-hati! " refleks dia berseru.
"Pecahkan gelasnya!" Kinan bersikeras.
Pecahkan gelas itu kumohon.. dan bebaskan kita dari semua peraturan terkutuk itu. Dari kebutuhan menemukan penjelasan atas segala hal dan melakukan apa2 yang disetujui orang lain.
Pecahkan... kumohon. Kinan menatap lurus ke dalam matanya, dan dilihatnya secarik pemahaman dari wajah dia yang ada di hadapannya.
Perlahan... dia meluncurkan tangannya ke ujung meja. Dan dengan gerakan tiba2 dia memegang gelas dan masih dengan perlahan memindahkan gelas tersebut ke tengah meja... sambil terus menatap mata Kinan.

Kinan tersenyum...
She's got the answer...


inspired by.. di tepi sungai piedra, aku duduk dan tersedu
dedicated for.. 'dia'