Friday, April 07, 2006

mencari suaka itu konstutisional

I have a confession to be made.... hihihi...
Kuakui.. waktu aku ngoceh tentang antara jakarta-canberra kemaren jumat 31 maret ituh bener2 penuh kehati2an n mungkin gag merepresentasikan pandanganku sebenernya. Kenapa hati2? Karena aku liat n denger komentar2 dari hampir semua orang itu seragam. Opini publik yang terbentuk adalah bahwa kita sebagai warga negara Indonesia yang baik haruslah mengutuk Australia yg dianggap menikam dari belakang

Yaa... dan kemudian aku trus jadi tersugesti untuk berpendapat demikian pula... hhohohoho.... damned Aussie!!!! (ups)
Padahuaallll.... seorang kucing ini kali itu berpikir gini...
"lho, kenapa tah kita marah? Kalo emang orang2 Papua itu merasa gag aman or apalah dianaktirikan sama bangsanya sendiri trus cari kehidupan yang lebih baek, kenapa tidak???"

"lho.... kenapa Aussie disalahkan? Toh mereka juga menjalankan apa yg harus mereka lakukan, kl ada warga negara yg minta perlindungan apa yo mo dibiarin ajah?
Kalo semua kejadian itu masih membuat kita kalang kabut trus buntut2nya nuduh bahwa itu merupakan bagian konspirasi untuk menjatuhkan Indonesia.. (wolooh)... ya naif banget dunk!
Grown up, plzz!! ^^

Tp pertanyaan2 itu kusimpen dalam hati.... aku sendiri masih ragu2 n jadi wondering, aku gag nasionalis banget yak? xixixixi. And then, kemaren baca Kompas di kolom opini ada artikel yang bagaikan air menyiram api.. (halah) so relieving, gitu dee... Judulna sama spt judul posting kali ini: "Mencari Suaka Itu Konstitusional", ditulis oleh seorang Rachland Nashidik; Direktur Eksekutif Imparsial, The Indonesian Human Rights Monitor.

Paragraf pertama-lah yang menarik perhatianku:
"Kegusaran Ina pada Aussie harus diletakkan dalam cara berekspresi yg cerdas dan benar. Jika tidak, kita akan dikenang sebagai bangsa yang senang mempermalukan diri sendiri. Hak mencari suaku politik adalah hak individu. Pikiran dan tubuh manusia bukan yuridikasi negara. Pemerintah tidak boleh merasa memiliki pikiran dan tubuh warganya meski atas nama kedaulatan negara"


Yak yak.... just like what I thought before (hohoho). Ada 3 poin utama dalam uraian Pak Rachland. Pertama tentang UUD 45 dan beberapa ratifikasi Indonesia terhadap hukum2 internasional yg menyatakan tentang Perlindungan Pelarian Politik. KKita punya itu semua dan kita mo marahin negara lain karena menjalankannya pula? wew...

Poin 2: bahwa pemberian visa sementara itu sebenernya juga bukan akhir bahagia buat para refugee itu. Gag dapet fasilitas, terkurung.... dan cuma berlaku 3 taon. Abis itu? kudu minta lagi. Padahal di Aussie berlaku hanya 1 refugee untuk setiap 1.583 warga Australia.

Poin 3: waktu 3 taon tadi harusna dijadiin Ina untuk memperbaiki kondisi Papua, kalo kita masih berniat untuk menarik ke 43 warga Papua td balik ke Indonesia.

Make sense, huh? IMO, nasi uda jadi bubur. Gag ada kesalahan prosedur dari pemerintah Aussie, n temporary visa uda turun. So, now what? Yaa... daripada teriak2 mengutuk ato menggedor parlemen Aussie, ato manggil Dubes mereka... mempermaluakan diri sendiri, kan mending memperbaiki inti masalahna.

Apa inti masalahna?
Masalah kemanusiaan.... Papua yg diwakili 43 org refugee td selama ini banyak mengalami kecemasan dan ketidakadilan. Lha... eksplorasi (kalo gag mo dibilang eksploitasi) alam oleh Freeport, bagaimana selama ini mereka menyebut alam sebagai ibu... tp ketika memungut remah2 sisa penambangan FI ajah diburu, dikejar2, ditembaki... Semua kondisi itu adalah informasi yg mengondisikan keputusan pejabat imigrasi Aussie kemaren, sekarang, pun besok.

Kenapa gag kita coba benahi aja apa yg ada di sana? I mean, instead of menuding2 tetangga sebagai biang kerok disintegrasi yg notabene terjadi di tubuh kita sendiri?

Seorang Armada Riyanto menyebutkan fenomena yg tjd di Indonesia kini sebagai fenomena reductio. Ketika kita memandang secara eksistensial nyata kehadiran 43 orang yg adalah manusia dengan segala keunikan pengalaman personal dengan mereduksi, menisbikan mereka dalam nama kedaulatan, martabat bangsa dan keutuhan wilayah.

Hiyaaa.... dan katanya juga, kita itu sering membutakan diri. Kita gag peduli toh sama ratusan warga kita yg terlunta2 di hutan tetangga, misalna... Kenapa? Karena mereka gag masuk koran! Sementara ke 43 orang itu jadi sorotan dunia... dianggap mempermalukan citra bangsa...
Citra!! Once again.... CITRA!!!!
tsk tsk tsk.... ^^