Saturday, April 01, 2006

dikotomic relationship created by identity

Setelah Menlu AS Condoleeza Rice yg berkunjung ke Indonesia dengan membawa bendera propaganda warning atas kekuatan raksasa RCC, gantian PM Inggris Tony Blair yg berkunjung ke Indonesia.. tapi kali ini ia mengusung isu dialog agama. Acara utamanya adalah bertemu Presiden SBY dan 4 tokoh agama yg kebetulan semuanya muslim. Din Syamsudin, rektor UIN, guru besar UIN dan A'a Gym.

Simak beberapa pernyataan yg dikeluarkan Blair:
"Yang lebih perlu dilakukan bersama adalah menciptakan pemahaman yang lebih luas untuk perdamaian berdasarkan keadilan. Keadilan bukan hal yang melulu seperti apa yang kita pikirkan, tetapi juga berdasarkan apa yang orang lain pikirkan..."
Kemudian :
"Saya katakan kepada para tokoh dalam pertemuan itu, masalahnya adalah Barat dan Islam berjalan dan berbicara tentang mereka, bukan berbicara dengan mereka. Kita harus memastikan bahwa dialog dapat menjadikan kita dapat berbicara satu sama lain"
Sementara Din Syamsudin mengemukakan seperti ini:
"... tentang adanya kesalahpahaman antara Islam dan Barat. Selama ini Islam memandang keliru Barat, begitu juga Barat keliru memandang Islam..."

Dari ketiga statement di atas jelas terbaca pengkultusan identitas diri yg mendorong terbentuknya dikotomi. Blair dan kelima tokoh agama dan mungkin jutaan masyarakat lain menyadari sepenuhnya bahwa permasalahannya terletak pada perbedaan pendapat yg berawal dari kesalahpahaman dua kubu yg muncul di masyarakat global, yg berawal dari kebanggaan atas identitas diri. Identitas gampang digunakan untuk 'melainkan' orang lain dan menciptakan dikotomi2. Apalagi kalo identitas itu uda dikultuskan, chauvinis, merasa yg paling benar dan paling baik. Barat dan Timur, Islam dan Kristen, kapitalis dan sosialis... Sejarah mencatat friksi2 berdarah yg menyertai clash antara kedua kubu.

Clash antara berbagai kepentingan dalam satu wadah aja mungkin terjadi... apalagi dalam 2 wadah yg berbeda visi dan kepentingan. Alih2 menjembatani perbedaan antara keduanya, biasanya kita justru semakin mempertegas dan menginternalisasikannya.. Timur berteriak anti Barat... padahal sebenernya apa c Barat ituh? Suatu kelompok? Sebuah cara pandang? Atokah gaya hidup? Ato batas geografis? Islam menuduh Kristen berusaha membasmi islam dengan dalih politisnya bla bla bla...Kapitalis menganggap sosialis sebagai ancaman terbesar bagi rencana manifest destiny-nya..

Seorang ilmuwan yg bernama Edward Said menyatakan bahwa Barat-Timur sebenernya hanyalah imajinasi kita yg terjebak pada oposisi biner sehingga yg terus menerus ditemukan adalah yg menjajah dan yg terjajah.

Dikotomi2 terus menerus mengemuka akhir2 ini. Dan fenomena dikotomi ini terus terang meresahkan juga kalo dipikir2... Begitu banyak gesekan2 yg bakal terjadi jika kita semua terus berkeras untuk mengkotak2kan segala sesuatu, termasuk menggolong2kan diri sendiri. Hubungan dikotomis adalah hubungan yg saling mengalahkan. Padahal "yang lain" tu sebenernya kl disikapi secara bijak dan kepala dingin bisa menjadi tantangan untuk mengukur seberapa baik kita dapat menemukan makna dari perbedaan dan mencari kesamaan2 sebagai manusia dengan hati nurani.

Bukannya menihilkan arti identitas diri. Bukannya mencegah kecenderungan chauvinisme... tapi hanya mencari cara bagaimana bisa hidup berdampingan secara harmonis dengan berbagai jenis perbedaan di sekitar kita, tanpa harus melenyapkan perbedaan itu sendiri. Apalagi berkaitan dengan yg namanya agama, keyakinan paling pribadi dalam diri seseorang.

Tidakkah keberagaman itu diciptakan untuk saling melengkapi, teman?