Saturday, March 18, 2006

truth in advance

Pagi ini sempet baca satu artikel profil Prof Dr. Taufik Abdullah, seorang peneliti senior dari LIPI. He said sumtin' particularly like this. Menarik banget, kl menurutku...
Problem kita yang terlupakan adalah: melihat masa sekarang sebagai masa sekarang. Padahal yang sekarang itu bersifat transisi, yang sekarang itu sebagai peralihan ke masa depan. Kalau kita menyelesaikan masalah sekarang dengan berpikir hanya sekarang, besar kemungkinan kita bisa mengulang kejadian masa lalu dan memperdalam dendam, serta melupakan ke mana arah ke depan. Padahal pada saat yang sama kita tidak bisa memegang kebenaran milik kita sendiri. Sebab kebenaran kita bisa berbeda dengan kebenarang orang lain.


Huehehe...
Dat's right, bukan?
Bagaimanapun kebenaran itu relatif, gag mutlak. Semua orang bisa merasa benar. Dan jika semua orang berpegang bahwa yang benar itu versi saya, gag akan ada titik temu.. n menurut Profesor Taufik malah lebih ekstrim lagi, bisa memperdalam dendam..
Yah... so what's the point on truth? Apa gunanya kebenaran kalo gitu?
Aku juga gag tau... :D

Apa ya?
Xexexe...
IMO, kebenaran jelas masih tetap dibutuhkan dan masih harus dicari. Tapi ada beberapa point lagi yg juga harus dipunyai. Wisdom, salah satuna.. n akal sehat. Kebenaran tanpa wisdom dan akal sehat gag akan bermanfaat banyak.
Tidak perlu tahu siapa yang paling benar , tapi yang perlu diketahui adalah kalau dari sikap/tindakan masing2 yg merasa benar itu berimplikasi baik atau buruk, bagi diri sendiri pun orang lain..

Begitu?
Kalo belom bisa jadi bijaksana, jgn merasa paling benar... Tapi biasanya, kalo orang bijak jarang yg merasa paling benar c..