Friday, March 31, 2006

penjajahan ekonomi? ngeriiii.... ^^

4 simpul hubungan internasional dialami Indonesia dalam waktu hampir bersamaan. Penyerahan pengelolaan Blok Cepu kepada Exxon Mobil, kunjungan Menlu AS Condoleeza Rice, kasus pemberian visa oleh pemerintah Australia kepada 43 warga Papua, trus yg paling gress adalah kunjungan PM Inggris, Tony Blair.

Whazzup huh? Nuthin... it's just... keempat simpul itu sedikit banyak menuai friksi juga. Penyerahan pengelolaan Blok Cepu, misalna. Oleh beberapa pihak dipandang sebagai bentuk penjajahan ekonomi oleh AS terhadap rakyat Indonesia. Benarkah begitu? Xexexe, kalo ada yg pernah baca buku sensasionalnya John Perkins: Confession of Economical Hit Man pasti uda mahfum sama idiom penjajahan ekonomi yg katanya dilakukan AS terhadap negara2 berkembang. Aku gag tau seberapa jauh kebenaran2 dalam buku itu diceritakan. Konon kabarnya bantuan luar negeri itu ditawarkan negara2 maju (DC - Developed Countries) untuk membantu mengurangi kemiskinan dan kesengsaraan di negara2 terbelakang (LDC - Less Developed Countries).

Dengan apa? Dengan memasukkan perusahaan2 konstruksi, pertambangan yg berkedok membantu membangun pembangkit tenaga listrik, bandar udara serta kawasan industri yang bertujuan meningkatkan taraf hidup masyarakat LDC. Tapi konon kabarnya pula, pinjaman bantuan luar negeri itu justru memastikan bahwa anak2 hari ini dan cucu2nya dijadikan sandera. Berutang selamanya kepada korporasi , membiarkan korporasi terus menjarah sumber daya alam dan buntutnya harus mengorbankan pendidikan, kesehatan dan layanan sosial lain hanya untuk membayar korporasi tersebut.


Proyek2 pembangunan itu bisa masuk ke LDC dengan leluasa karena perjanjian khusus antara DC dengan pimpinan LDC. Modus operandinya adalah biasanya corporatocracy (dlm hal ini diwakili perusahaan2 AS) menawarkan perjanjian agar mereka mendapatkan lebih banyak proyek dari negara2 LDC dan biasanya proyek tersebut diberikan oleh pimpinan2 LDC dengan iming2 penggembungan ukuran proyek (jalan raya yg lebih lebar, pembangkit tenaga listrik yg lebih besar, pelabuhan laut yg lebih besar, ato usaha pertambangan yg lebih canggih) dan menjadikan pimpinan LDC serta pucuk2 pemerintahan lebih kaya dari penggembungan tadi, di lain pihak membelenggu rakyat/negara dengan utang. Permainan itu ada sehingga LDC selamanya berkewajiban membayar utang yg besar dan kapitalisme semakin menjadi2.

Spooky spooky gimana gituw... ^^p.
Oui, tp itu juga belom tentu benar toh. Ada baiknya kalo kita gag menelan bulet2 semua yg dinyatakan 'kebenaran' oleh orang lain, trus kemudian menyatakan antipati berlebihan terhadap AS dan kroni2nya. Karena IMO kalo pun permainan itu benar2 ada dan AS ada di balik semuanya, gag bisa sepenuhnya kita menyalahkan AS sebagai pihak yang arogan dan jahat luar biasa. Arogan, mungkin.. licik, perhaps.. ato tega, bisa ajah. Tapi yg gag bole kita lupa adalah bahwa sebenernya kita pun turut ambil bagian dalam menjadikan diri kita sendiri sebagai korban. Iya toh? Kalo emang kita menyetujui untuk menyodorkan leher kita di pisau guilottine, kenapa kt hrs berteriak2 marah ketika algojo menjatuhkan pisau itu?

IMO, kita selalu punya pilihan untuk berkata 'tidak' pun 'ya'.

Yang kutangkap dari separuh isi buku yg blom juga selese kubaca itu adalah bahwa bolelah ada pihak2 adikuasa yg merencanakan penjajahan ekonomi tah kapitalisme tah bantuan luar negeri ato corporatocracy yg berdampak buruk bagi negara2 berkembang, tapi semuanya hanya akan jadi rencana belaka jika negara yg dijadikan sasaran punya keberanian dan visi untuk menolaknya dari awal.

Malaysia, misalnya. Petronas jadi sebesar ini sekarang dan mampu memberikan kontribusi luar biasa bagi pemasukan negaranya gara2 keputusannya untuk menguasai sendiri semua aset2 minyak yg ada di negaranya untuk digunakan buat kepentingan warga. Mereka mengembangkan teknologi sendiri, berusaha sendiri, mandiri tanpa perlu mengemis bantuan dari luar negeri.

Ato Panama. Omar Torrijos sebagai kepala negara Panama dikabarkan sebagai pimpinan favorit yang tidak pernah mau masuk ke dalam rencana corporactocracy dengan bulat2. Memang tidak seperti Petronas yang benar2 mandiri, Panama masih mau menerima bantuan luar negeri untuk membangun dasar ekonomi yang lebih kuat, tapi bener2 digunakan untuk mensubsidi rakyat miskin. Tanpa penggembungan ukuran proyek. Kuncinya adalah pembuatan rencana proyek yang bener2 jujur dan untuk kepentingan rakyat. Torrijos tau ada permainan yang bisa menjadikan dirinya kaya, sekaligus membelenggu negaranya dengan utang, tetapi ia tidak mengambilnya... tidak menelannya mentah2.
Hal itu, sebenernya yang bisa dijadikan contoh oleh pimpinan LDC lainnya.

Bagaimanapun, dalam kasus Exxon semuanya uda terjadi. Kalopun banyak pihak bilang bahwa hal ini adalah salah satu bentuk dari penjajahan ekonomi, ya kita gag bisa sepenuhnya menyalahkan AS ato Exxon karenanya. Toh kita sendiri yg menandatangani perjanjian kontrak karya dan keputusan untuk menyerahkan pengelolaan itu kepada mereka.
Kita selalu punya pilihan... bukankah dulu uda banyak yang memperingatkan agar Pertamina tidak gegabah dalam memperpanjang kontrak karya itu ato agar Pertamina berusaha mengelola sendiri aset2 minyak Indonesia demi kepentingan rakyat?
But... since we've agreed to share all those assets, ya seharusna gag ada alasan untuk marah karena kita merasa pihak luar uda menjajah kita lagi di depan idung kita. xexexexe. Kita semua harus terima konsekuensi dari keputusan kita di masa lampau. N sebaiknya c.. belajar dari pengalaman masa lalu biar gag terjatuh di lobang yg sama lagih..

euh, ngomong c gampang jenx! xixixixi...