Saturday, March 04, 2006

oleh-oleh dari ciloto puncak...

"Kalian adalah calon-calon pemimpin kami..."
"Kalian dipersiapkan di sini, di kawah candradimuko ini untuk mencetak kalian jadi pemimpin handal yang bisa membawa nama perusahaan menjadi lebih baik... dan kalian pasti bisa!!"


hwahahaaa.... doktrin yang terus menerus kudengar minggu2 terakhir ini. Di satu sisi doktrin itu emang overwhelming banget... tapi di sisi lain... pressure yang dibebankan di pundak ni juga gag kalah besar.

Menjadi pemimpin, pimpinan, kepala, manager, bos... jelas bukan ambisiku sejak dulu (hey.. mana pernah c si kucing ni berambisi? ^^p) Go with the flow, as long as it organized n well-planned, or at least prepare for all changes... is enough for me for life, without any further desire to reach the top. Buat apa c? Seorang Bima Ardhitya dulu yang paling sering menanyakan pertanyaan ini... Buat apa kita terus berambisi naik ke puncak, jika selalu ada yg lebih tinggi dan manusia sendiri diciptakan untuk tidak pernah puas..? xixixixi.
Satisfied with what we have n where we are... setuju c, tapi buatku, kalo jalan hidup ternyata memberiku kesempatan untuk meraih posisi puncak, ya shall it be. Yang penting nyaman n gag terpenjara oleh ambisi... xixixi. Oportunis sejati lah.

Eniwe, dari program penggodhogan yang baru jalan 2 minggu dari total program 8 bulan ini aku coba menguraikan beberapa pemahaman yg kudapat (terus terang c.. ini barang baru buatku)

Kepemimpinan
Menurut Ordway Tead... kepemimpinan adalah bagaimana kita mempengaruhi anggota agar mencapai tujuan.
Sementara George R. Terry menyebutkan bahwa kepemimpinan sebagai aktivitas dalam mempengaruhi anggota untuk berinisiatif dan berusaha mencapai tujuan.
Prof. Dr. H. Arifin A. Rahman menyebutkan kepemimpinan sebagai profesi/wewenang dalam memimpin dan membuat perencanaan tertentu.

mempengaruhi ... perencanaan ... inisiatif ... tujuan ...

Jadi, kalo bisa aku simpulkan, kepemimpinan itu berkait dengan 2 hal: persuasif dan manajerial.
Persuasif termasuk usaha mempengaruhi, memotivasi, dan inisiatif. Sementara manajerial termasuk usaha mengorganisir, planning, dan sistem. Dan kesemuanya demi mencapai tujuan akhir.

Kemampuan manajerial masih bisa diasah, tentunya musti dimulai dari diri sendiri dulu. Pikiran yang terstruktur rapi dan adaptif adalah modal kuat untuk mencapai kemampuan manajerial yg baik. Makanya, gag salah kalo paham puritan berkata bahwa posisi manajer lebih baik jika diisi oleh lelaki dibanding perempuan. Struktur otak lelaki yang tersekat-sekat memungkinkan mereka berpikir lebih terstruktur dan sistematis dibanding perempuan.
Hehehe... tapi tentunya itu gag bisa digeneralisir. Perempuan juga punya kekuatan lebih, seperti ketelitian dan kemampuan merunutkan sesuatu.
Sementara persuasif... i don't know... kinda hard to get by learning n process, it seems (khusus buat aku c). Persuasifku gag gitu bagus, kuakui... Tapi ya, kalo itu memang dibutuhkan untuk menjalani hidupku yang sekarang ya... pasti bisa dimunculkan. xexexexe. (niat gag c?)


Teamwork...
Meski manusia dunia dah berkembang jadi individualis dgn ego tinggi, tapi teamwork tetep perlu diperhatikan dalam manajemen perusahaan. Visi misi project/perusahaan harus dicapai dengan bekerjasama, karena tanpa kerjasama bisa menimbulkan friksi2 internal.
Riset 150 CEO perusahaan paling terkemuka di dunia menyebutkan skill2 yang harus dikembangkan dalam manajemen adalah:
  • 47% team building
  • 44% strategic thinking
  • 40% leadership
  • 34% kemampuan memotivasi
U can see there, that team building leads all. Dan justru bukan kepemimpinan itu sendiri. Kepimimpinan cuma menduduki urutan ketiga dari semuanya. Percuma pimpinannya cerdas bukan main dan menguasai bidang kerjanya kalo gag bisa membentuk teamwork yg solid n satu visi.
Gimana caranya? undaztanding... menurutku itu yg utama. Memahami psikologi bawahan maupun atasan about what they want actually, dan juga apa yg dimaui perusahaan untuk kemudian dirumuskan ato diintegrasikan dalam sebuah kebijakan tak tertulis yang disampaikan tidak secara otoriter.... n that.. really need extra strength.

Berikutnya yang diperlukan... std lah.. kedisiplinan, profesionalisme, proporsional, jiwa karsa, loyalitas, ksatria, berperilaku baik (multitafsir juga neh), ramah, tidak mementingkan diri sendiri.. blablabla...
hweheheee..... ngomong c gampang euy.


Gaya kepemimpinan
Ada beberapa gaya kepemimpinan.. otoriter, demokratis, paternalistik, kontinum, situasional... (hehe... ada lagi gag ya?)
Pakem yang berlaku adlah pemimpin itu lelaki. Lelaki itu pemimpin. Ini yang memicu menjamurnya mode kepemimpinan paternalistik. Sisi bagus dari kepemimpinan paternalistik adalah munculnya sifat kebapakan, melindungi, mengayomi dan menolong.
Tapi IMO paternalistik ini punya juga ada sisi negatifna.. seperti ikatan primordial yg terlalu kuat, termasuk adat istiadat dan family system yang kuat... makanya dalam kepemimpinan seperti ini rawan penyelewengan kekuasaan.

Dari beberapa gaya kepemimpinan, menurutku yg kurasa baik adalah bukan otoriter, paternalistik ato bahkan demokratis, tapi justru kepemimpinan kontinum sekaligus situasional.
Kontinum dalam artian, kita harus punya kerangka ato big frame yg melandasi segala aktivitas, jd segalanya harus punya arah dan tujuan yang jelas, sehingga bisa menjamin keberlangsungan project/kegiatan. Dan ini tugas dari seorang pimpinan untuk bisa menentukan arah dan rencana kerja bagi timnya. Pimpinan harus punya proksi yg jelas pula mengenai hambatan dan tantangan yg bakal ditemui nantinya, menyiapkan semua plan A, B, C hingga segalanya tetap pada jalurna.
Dan kenapa situasional? situasional digunakan pada saat2 tertentu yang tidak terduga sama sekali. Kemampuan untuk mengambil keputusan di saat2 urgent dan unpredictable yg membutuhkan sikap taktis.
Gitu kan? Ada lagi? Pasti masih banyak c...
Tapi ya, kurasa setiap orang punya gaya kepemimpinan sendiri2...

One thing we should remember is..
we're all the leader of ourself