Saturday, March 25, 2006

math loverzz....


Hasil exam ALK Recasting uda dibagi... aku dah deg2an ajah, abis kemaren pas ngerjain analisa-nya gag maksimal gituw. Gag pake dipikir dalem2... lha gara2nya sebelomna hasil recasting laporan keuangannya gag balance. Hiyaaa....

Tapi ternyata hasilna lumayan, kalo gag mau dibilang bagus ^0^. narsis, bole dunk. Ocha nyeletuk di sebelahku waktu kita ngintip2 hasil exam rame2. "Wah, anak ini... kalo itung2an pasti tinggi dah."

Dzigg...

Iya tah? Baru nyadar. Akuntansi dasar kemaren.. hmm iya juga ya.. huahahaha.
They say I'm good at numeric. They say I'm logic. What else? Aku jeblok di apalan.. menurutku. Aku gag teliti. Sifat2 yg kata mama c androgynus sekali. Between man and woman, dengan kecenderungan ke arah man... lho..!!

Anyway, tapi dari dulu aku emang bener2 ngerasa fund of number. Ada sesuatu di balik angka2 itu yg membuatku tertarik, penasaran pengen ngulik what's behind 'em. Seneng ajah gituw kl dah berurusan sama angka2. Kenapa? Karena angka itu pasti. Matematika itu pasti dan menyenangkan. Segitiga itu ya tiga sudut dengan sudut berjumlah 180derajad. 2+2 itu pasti 4. Apalagi kalo uda memadukan analisa dan angka. Wah, uda de... betah njabaninnya. ^^ Misalna kita nemu suatu data angka statistik... kita selalu bisa nanya, dari mana datangnya angka itu? Ke mana kecenderungannya? Kok bisa dapet angka sekian?
Merunut benang merah dengan logika. Memahami masa lalu dan memprediksikan masa depan, tidakkah itu asik? xixixi.

Seorang Rene Descartes berpendapat bahwa dengan matematika kita bisa menjernihkan kebingungan dan ketidakpastian serta otomatis menghasilkan kejelasan dan kepastian.
How come?

In my first opinion, matematika emang pasti (dan buatku sekaligus entertaining) tp gag absolut n gag mutlak... dalam artian gag semua problem riil di dunia bisa selese dengan matematika. Kasus Raju misalna.... matematika gag bisa menjelaskan jurigenic effect ato efek kontraproduktif yg diderita Raju. Ato delusionisme akut yg diderita para nabi2 dadakan ituh... ^0^

Matematika justru bisa jadi njlumprungke (kalo orang jawa bilang) kalo digunakan secara terlalu harfiah seperti di peristiwa import beras. Ketika harga beras naik mencapai angka sekian... pemerintah yang panik (ato pura2 panik) kemudian berasumsi bahwa kenaikan harga beras disebabkan karena stok kita menipis... n then dengan suksesna mengimpor beras untuk menutupi kekurangan tadi.

Inilah salah satu contoh penggunaan hitungan matematika harfiah yang digunakan pemerintah untuk menyelesaikan problem 'kekurangan beras' sekaligus dapet fee (kl bener). Harga beras naik sekian %.... dibaca stok beras berkurang sekian % pula.... untuk itu perlu menambah stok impor sebesar kekurangan ituh.

Logis dan pasti, iya... tapi kan ada aspek2 lain yang perlu diperhatikan, seperti.. asumsi bahwa langkanya jumlah beras gara2nya pedagang emang menahan stok beras untuk mengantisipasi HPP gabah yang waktu itu naik dari 1300-an jadi 1700-an.
Atokah pemerintah melihat bahwa untuk bisa mengimport 1 ton beras, pihak2 yg berwenang berhak dapet fee 20-30 US$? Jadi kalo import 110 ton beras, merka bisa dapet untung 20-30 M??
ups..

Kalo ini bener, kan ya namanya hitungan yg njlumprungke... ^0^. Jadi matematika itu perlu, tapi juga kudu harus wajib merhatiin aspek2 lain, kalo enggak bakalan jadi pemecahan yg salah arah.

Makanya, pertamanya aku sedikit mengerutkan kening juga dengan pendapat Descartes bahwa matematika bisa menjernihkan kebingungan dan ketidakpastian. Masa c? Matematika jadi keyakinan absolut yg bisa menjelaskan segala sesuatu? Sempet ada kecurigaan juga atas obyektivitas Descartes sebagai filsuf... jgn2 dia juga delusionis fanatik terhadap matematika tanpa bisa berpikir rasional... huehehe.

But and then, kemaren baca sekilas ulasan salah satu buku Descartes "Rules for the Direction of the Mind". And I've got it there.. the answer. Bahwa ternyata justru aku yg salah mengartikan matematika Descartes secara harfiah 'hitungan matematika' sebagai solusi pemecahan masalah.

Ternyata, setelah dipahami bener2, yang dimaksud Descartes adalah 'metode-na'. Metode yang ada pada matematika dan angka yang kemudian diadopsi ke permasalahan lain. D'ya see the different?? Of course. Ini yg aku pahami c, tell me if I'm wrong...

See... matematika yg dimaksud Descartes di sini adalah penggunaan dua pengoperasian mental di mana pengetahuan sejati bisa dicapai. Operasi mental tsb adalah intuisi dan deduksi...

Intuisi
Maksudna pemahaman atas prinsip aksioma seperti aksioma geometri. Misal, kita melihat garis, kita tau garis itu adalah garis lurus, tanpa perlu mencari tau bagaimana/mengapa garis itu bisa dikatakan lurus. Penjelasannya tentang bgm kita tau grs itu lurus bisa diketahui dr operasi selanjutna... deduksi. Intina, dlm intuisi gag perlu ada pikiran rasional yg meragukan suatu fakta.

Deduksi
Pemikiran/kesimpulan dari aksioma yg ada, yg menyusun semua fakta2 yg diindera oleh pemikiran dalam urutan pasti untuk kemudian menjadi sebuah sistem deduktif yang logis. Fakta di balik garis lurus adalah 2 titik dan garis. Dengan pengukuran2 yg dibakukan dalam matematika kita akhirna bisa menjelaskan bahwa garis lurus adalah jarak terdekat antara 2 titik.

Gituw?

Oke, tarolah itu bener. Trus gimana bisa menjernihkan dan menjelaskan ketidakpastian? All I can think right now is, seperti yg kubilang di awal tadih.. bahwa matematika adalah logika. Dan dari Descartes aku memahami bahwa matematika tidak melulu logika. Tapi ada intuisi, rule of thumb yg otomatis ada dalam diri kita. Penggabungan 2 hal itu, intuisi dan logika, maybe that's the key. Dan bisa diaplikasikan dalam segala kekeruhan.

Ketika kita menghadapi sesuatu... naluri kita bisa membimbing kita untuk melakukan apa yg biasa dan harus kita lakukan. We know all the best for ourselves. Itu satu. Tapi alangkah lebih baiknya jika hal tersebut dipadukan dengan pemahaman holistik mengenai apa yg kita hadapi. Menganalisa fakta yg ada.. memahami masa lalu dan memprediksikan masa depan.

Halah...
^^

Jadi laper... eh, pengumuman...
Berat badanku naek 5 kiloooooooo horeeeeeeeeeeeeeeeee