Friday, March 31, 2006

antara jakarta-canberra

Lagi2 kita marahan sama negara tetangga, australia. Ngambek2an... Kita menarik pulang Duta Besar RI untuk Australia dan banyak pihak mendesak pemutusan hubungan diplomatik. Wax....
Harga diri kita sebagai negara yg berwibawa terusik... merasa diremehkan, dipandang sebelah mata oleh tetangga, bahkan ada yg mengusulkan untuk perang.

Waduw... ini nih... kalo dipikir2 jalan pikiran kita emang patriarkhis sekali yak. Ironis, kalo menurutku... selama ini kita terus mengkritik patriarkhi, tetapi yang terus menerus kita temukan dan lakukan adalah cara2 patriarkhis. Harga diri adalah yg paling utama, dan sekali hal itu terusik, kita harus melawan dengan sekuat tenaga, mengerahkan segala bentuk emosi dan perlawanan untuk menunjukkan eksistensi sebenernya. Ya gag c? Konsep maskulin yg egosentris. Menempatkan diri sendiri sebagai center dari segala center, dan beranggapan semua perhatian tertuju pada kita. Padahal, kalo sikap ini gag dimanage dengan baik bisa2 berakibat pada sifat paranoid. Menganggap segala sesuatu merupakan bagian dari rencana untuk menjatuhkan kita.

Kita musti bisa melihat kasus ini dengan jernih. Pemerintah Australia emang salah, karena memberikan visa sementara tanpa konsultasi terlebih dahulu dengan pemerintah RI. Ini merupakan pelanggaran kode etik hubungan diplomatik, tapi yg perlu dipahami adalah bahwa hal ini bukan merupakan pelanggaran hukum internasional. Maka dari itu, pemutusan hubungan diplomatik ato perang jelas2 tidak bisa dibenarkan. Buang2 waktu n tenaga ajah.

Australia lewat Duta Besarnya di Jakarta mengajukan pembelaan dengan menyebutkan 2 alasan kenapa visa atas 43 orang Papua itu bisa dikeluarkan. Pertama karena telah sesuai dengan hukum nasional Australia, dan kedua telah didasarkan pada hukum internasional yaitu Konvensi PBB th 1951 ttg Status Pengungsi dan Protokal PBB. Yang dialami Australia memang dilematis, karena menurut Konvensi PBB tersebut Australia wajib memberikan pertolongan kemanusiaan sekaligus mencegah status seseorang untuk tidak memiliki kewarganegaraan (stateless). Maka dari itu, Australia memberikan visa sementara atas dasar kemanusiaan .

Yang patut kita pertanyakan adalah mengapa alasan kemanusiaan yg dikemukakan oleh australia? Apakah situasi di Papua sedemikian buruknya sehingga menyebabkan orang2 untuk lari menjadi pengungsi internasional?
Abepura memang bergolak kemaren. Banyak korban berjatuhan gara2 insiden Freeport ituh. Mungkin itu yg dijadikan pijakan bagi pemerintah Australia dalam memberikan visa tinggal sementara. Dan mungkin juga, emang warga Papua yg merasa tidak nyaman tinggal di tanahnya sendiri kemudian meminta suaka di australia.... it could be. Tapi tetep aja, seharusnya pemerintah Australia berkonsultasi dulu sama duta besar indonesia di canberra tentang pemberian visa ituh.

Yang jelas, sekarang semuanya masih dalam penyelidikan. Tapi apapun hasil penyelidikan ituh, aku pribadi berharap semoga masing2 pihak bisa berpikiran dingin, gag mengambil keputusan gegabah mopun perkataan2 yg bisa membuat situasi tambah buruk. Pemutusan hubungan diplomatik dan apalagi perang moga2 jadi alternatif pemecahan yang paling akhir..
All we need now is peace..
Bukan konfrontasi... ya gag c?

penjajahan ekonomi? ngeriiii.... ^^

4 simpul hubungan internasional dialami Indonesia dalam waktu hampir bersamaan. Penyerahan pengelolaan Blok Cepu kepada Exxon Mobil, kunjungan Menlu AS Condoleeza Rice, kasus pemberian visa oleh pemerintah Australia kepada 43 warga Papua, trus yg paling gress adalah kunjungan PM Inggris, Tony Blair.

Whazzup huh? Nuthin... it's just... keempat simpul itu sedikit banyak menuai friksi juga. Penyerahan pengelolaan Blok Cepu, misalna. Oleh beberapa pihak dipandang sebagai bentuk penjajahan ekonomi oleh AS terhadap rakyat Indonesia. Benarkah begitu? Xexexe, kalo ada yg pernah baca buku sensasionalnya John Perkins: Confession of Economical Hit Man pasti uda mahfum sama idiom penjajahan ekonomi yg katanya dilakukan AS terhadap negara2 berkembang. Aku gag tau seberapa jauh kebenaran2 dalam buku itu diceritakan. Konon kabarnya bantuan luar negeri itu ditawarkan negara2 maju (DC - Developed Countries) untuk membantu mengurangi kemiskinan dan kesengsaraan di negara2 terbelakang (LDC - Less Developed Countries).

Dengan apa? Dengan memasukkan perusahaan2 konstruksi, pertambangan yg berkedok membantu membangun pembangkit tenaga listrik, bandar udara serta kawasan industri yang bertujuan meningkatkan taraf hidup masyarakat LDC. Tapi konon kabarnya pula, pinjaman bantuan luar negeri itu justru memastikan bahwa anak2 hari ini dan cucu2nya dijadikan sandera. Berutang selamanya kepada korporasi , membiarkan korporasi terus menjarah sumber daya alam dan buntutnya harus mengorbankan pendidikan, kesehatan dan layanan sosial lain hanya untuk membayar korporasi tersebut.


Proyek2 pembangunan itu bisa masuk ke LDC dengan leluasa karena perjanjian khusus antara DC dengan pimpinan LDC. Modus operandinya adalah biasanya corporatocracy (dlm hal ini diwakili perusahaan2 AS) menawarkan perjanjian agar mereka mendapatkan lebih banyak proyek dari negara2 LDC dan biasanya proyek tersebut diberikan oleh pimpinan2 LDC dengan iming2 penggembungan ukuran proyek (jalan raya yg lebih lebar, pembangkit tenaga listrik yg lebih besar, pelabuhan laut yg lebih besar, ato usaha pertambangan yg lebih canggih) dan menjadikan pimpinan LDC serta pucuk2 pemerintahan lebih kaya dari penggembungan tadi, di lain pihak membelenggu rakyat/negara dengan utang. Permainan itu ada sehingga LDC selamanya berkewajiban membayar utang yg besar dan kapitalisme semakin menjadi2.

Spooky spooky gimana gituw... ^^p.
Oui, tp itu juga belom tentu benar toh. Ada baiknya kalo kita gag menelan bulet2 semua yg dinyatakan 'kebenaran' oleh orang lain, trus kemudian menyatakan antipati berlebihan terhadap AS dan kroni2nya. Karena IMO kalo pun permainan itu benar2 ada dan AS ada di balik semuanya, gag bisa sepenuhnya kita menyalahkan AS sebagai pihak yang arogan dan jahat luar biasa. Arogan, mungkin.. licik, perhaps.. ato tega, bisa ajah. Tapi yg gag bole kita lupa adalah bahwa sebenernya kita pun turut ambil bagian dalam menjadikan diri kita sendiri sebagai korban. Iya toh? Kalo emang kita menyetujui untuk menyodorkan leher kita di pisau guilottine, kenapa kt hrs berteriak2 marah ketika algojo menjatuhkan pisau itu?

IMO, kita selalu punya pilihan untuk berkata 'tidak' pun 'ya'.

Yang kutangkap dari separuh isi buku yg blom juga selese kubaca itu adalah bahwa bolelah ada pihak2 adikuasa yg merencanakan penjajahan ekonomi tah kapitalisme tah bantuan luar negeri ato corporatocracy yg berdampak buruk bagi negara2 berkembang, tapi semuanya hanya akan jadi rencana belaka jika negara yg dijadikan sasaran punya keberanian dan visi untuk menolaknya dari awal.

Malaysia, misalnya. Petronas jadi sebesar ini sekarang dan mampu memberikan kontribusi luar biasa bagi pemasukan negaranya gara2 keputusannya untuk menguasai sendiri semua aset2 minyak yg ada di negaranya untuk digunakan buat kepentingan warga. Mereka mengembangkan teknologi sendiri, berusaha sendiri, mandiri tanpa perlu mengemis bantuan dari luar negeri.

Ato Panama. Omar Torrijos sebagai kepala negara Panama dikabarkan sebagai pimpinan favorit yang tidak pernah mau masuk ke dalam rencana corporactocracy dengan bulat2. Memang tidak seperti Petronas yang benar2 mandiri, Panama masih mau menerima bantuan luar negeri untuk membangun dasar ekonomi yang lebih kuat, tapi bener2 digunakan untuk mensubsidi rakyat miskin. Tanpa penggembungan ukuran proyek. Kuncinya adalah pembuatan rencana proyek yang bener2 jujur dan untuk kepentingan rakyat. Torrijos tau ada permainan yang bisa menjadikan dirinya kaya, sekaligus membelenggu negaranya dengan utang, tetapi ia tidak mengambilnya... tidak menelannya mentah2.
Hal itu, sebenernya yang bisa dijadikan contoh oleh pimpinan LDC lainnya.

Bagaimanapun, dalam kasus Exxon semuanya uda terjadi. Kalopun banyak pihak bilang bahwa hal ini adalah salah satu bentuk dari penjajahan ekonomi, ya kita gag bisa sepenuhnya menyalahkan AS ato Exxon karenanya. Toh kita sendiri yg menandatangani perjanjian kontrak karya dan keputusan untuk menyerahkan pengelolaan itu kepada mereka.
Kita selalu punya pilihan... bukankah dulu uda banyak yang memperingatkan agar Pertamina tidak gegabah dalam memperpanjang kontrak karya itu ato agar Pertamina berusaha mengelola sendiri aset2 minyak Indonesia demi kepentingan rakyat?
But... since we've agreed to share all those assets, ya seharusna gag ada alasan untuk marah karena kita merasa pihak luar uda menjajah kita lagi di depan idung kita. xexexexe. Kita semua harus terima konsekuensi dari keputusan kita di masa lampau. N sebaiknya c.. belajar dari pengalaman masa lalu biar gag terjatuh di lobang yg sama lagih..

euh, ngomong c gampang jenx! xixixixi...

satu waktu

masih tentang rasa yang menjadi misteri
masih tentang kenangan terindah yang tak mungkin terlupa

my conscience keeps come and go
it says that i must leave it all behind
but there's some part of me won't agree with that

i need him.. dat's the truth
all those sentimental feelings
that kinda hurt sumtimes
but i felt it..
oblivious so insensitive

this is not right, i knew it
and i don't wanna make any other desperate choice
not anymore...

so many choices to be make
so little time to decide
so many guilt involved in it

won't u come and eased this feeling, dear?
just once?


satu waktu di balik jendela bis jakarta-jogja
with the rain pourin down
and all i can think is u, again and again... ^_^

Saturday, March 25, 2006

math loverzz....


Hasil exam ALK Recasting uda dibagi... aku dah deg2an ajah, abis kemaren pas ngerjain analisa-nya gag maksimal gituw. Gag pake dipikir dalem2... lha gara2nya sebelomna hasil recasting laporan keuangannya gag balance. Hiyaaa....

Tapi ternyata hasilna lumayan, kalo gag mau dibilang bagus ^0^. narsis, bole dunk. Ocha nyeletuk di sebelahku waktu kita ngintip2 hasil exam rame2. "Wah, anak ini... kalo itung2an pasti tinggi dah."

Dzigg...

Iya tah? Baru nyadar. Akuntansi dasar kemaren.. hmm iya juga ya.. huahahaha.
They say I'm good at numeric. They say I'm logic. What else? Aku jeblok di apalan.. menurutku. Aku gag teliti. Sifat2 yg kata mama c androgynus sekali. Between man and woman, dengan kecenderungan ke arah man... lho..!!

Anyway, tapi dari dulu aku emang bener2 ngerasa fund of number. Ada sesuatu di balik angka2 itu yg membuatku tertarik, penasaran pengen ngulik what's behind 'em. Seneng ajah gituw kl dah berurusan sama angka2. Kenapa? Karena angka itu pasti. Matematika itu pasti dan menyenangkan. Segitiga itu ya tiga sudut dengan sudut berjumlah 180derajad. 2+2 itu pasti 4. Apalagi kalo uda memadukan analisa dan angka. Wah, uda de... betah njabaninnya. ^^ Misalna kita nemu suatu data angka statistik... kita selalu bisa nanya, dari mana datangnya angka itu? Ke mana kecenderungannya? Kok bisa dapet angka sekian?
Merunut benang merah dengan logika. Memahami masa lalu dan memprediksikan masa depan, tidakkah itu asik? xixixi.

Seorang Rene Descartes berpendapat bahwa dengan matematika kita bisa menjernihkan kebingungan dan ketidakpastian serta otomatis menghasilkan kejelasan dan kepastian.
How come?

In my first opinion, matematika emang pasti (dan buatku sekaligus entertaining) tp gag absolut n gag mutlak... dalam artian gag semua problem riil di dunia bisa selese dengan matematika. Kasus Raju misalna.... matematika gag bisa menjelaskan jurigenic effect ato efek kontraproduktif yg diderita Raju. Ato delusionisme akut yg diderita para nabi2 dadakan ituh... ^0^

Matematika justru bisa jadi njlumprungke (kalo orang jawa bilang) kalo digunakan secara terlalu harfiah seperti di peristiwa import beras. Ketika harga beras naik mencapai angka sekian... pemerintah yang panik (ato pura2 panik) kemudian berasumsi bahwa kenaikan harga beras disebabkan karena stok kita menipis... n then dengan suksesna mengimpor beras untuk menutupi kekurangan tadi.

Inilah salah satu contoh penggunaan hitungan matematika harfiah yang digunakan pemerintah untuk menyelesaikan problem 'kekurangan beras' sekaligus dapet fee (kl bener). Harga beras naik sekian %.... dibaca stok beras berkurang sekian % pula.... untuk itu perlu menambah stok impor sebesar kekurangan ituh.

Logis dan pasti, iya... tapi kan ada aspek2 lain yang perlu diperhatikan, seperti.. asumsi bahwa langkanya jumlah beras gara2nya pedagang emang menahan stok beras untuk mengantisipasi HPP gabah yang waktu itu naik dari 1300-an jadi 1700-an.
Atokah pemerintah melihat bahwa untuk bisa mengimport 1 ton beras, pihak2 yg berwenang berhak dapet fee 20-30 US$? Jadi kalo import 110 ton beras, merka bisa dapet untung 20-30 M??
ups..

Kalo ini bener, kan ya namanya hitungan yg njlumprungke... ^0^. Jadi matematika itu perlu, tapi juga kudu harus wajib merhatiin aspek2 lain, kalo enggak bakalan jadi pemecahan yg salah arah.

Makanya, pertamanya aku sedikit mengerutkan kening juga dengan pendapat Descartes bahwa matematika bisa menjernihkan kebingungan dan ketidakpastian. Masa c? Matematika jadi keyakinan absolut yg bisa menjelaskan segala sesuatu? Sempet ada kecurigaan juga atas obyektivitas Descartes sebagai filsuf... jgn2 dia juga delusionis fanatik terhadap matematika tanpa bisa berpikir rasional... huehehe.

But and then, kemaren baca sekilas ulasan salah satu buku Descartes "Rules for the Direction of the Mind". And I've got it there.. the answer. Bahwa ternyata justru aku yg salah mengartikan matematika Descartes secara harfiah 'hitungan matematika' sebagai solusi pemecahan masalah.

Ternyata, setelah dipahami bener2, yang dimaksud Descartes adalah 'metode-na'. Metode yang ada pada matematika dan angka yang kemudian diadopsi ke permasalahan lain. D'ya see the different?? Of course. Ini yg aku pahami c, tell me if I'm wrong...

See... matematika yg dimaksud Descartes di sini adalah penggunaan dua pengoperasian mental di mana pengetahuan sejati bisa dicapai. Operasi mental tsb adalah intuisi dan deduksi...

Intuisi
Maksudna pemahaman atas prinsip aksioma seperti aksioma geometri. Misal, kita melihat garis, kita tau garis itu adalah garis lurus, tanpa perlu mencari tau bagaimana/mengapa garis itu bisa dikatakan lurus. Penjelasannya tentang bgm kita tau grs itu lurus bisa diketahui dr operasi selanjutna... deduksi. Intina, dlm intuisi gag perlu ada pikiran rasional yg meragukan suatu fakta.

Deduksi
Pemikiran/kesimpulan dari aksioma yg ada, yg menyusun semua fakta2 yg diindera oleh pemikiran dalam urutan pasti untuk kemudian menjadi sebuah sistem deduktif yang logis. Fakta di balik garis lurus adalah 2 titik dan garis. Dengan pengukuran2 yg dibakukan dalam matematika kita akhirna bisa menjelaskan bahwa garis lurus adalah jarak terdekat antara 2 titik.

Gituw?

Oke, tarolah itu bener. Trus gimana bisa menjernihkan dan menjelaskan ketidakpastian? All I can think right now is, seperti yg kubilang di awal tadih.. bahwa matematika adalah logika. Dan dari Descartes aku memahami bahwa matematika tidak melulu logika. Tapi ada intuisi, rule of thumb yg otomatis ada dalam diri kita. Penggabungan 2 hal itu, intuisi dan logika, maybe that's the key. Dan bisa diaplikasikan dalam segala kekeruhan.

Ketika kita menghadapi sesuatu... naluri kita bisa membimbing kita untuk melakukan apa yg biasa dan harus kita lakukan. We know all the best for ourselves. Itu satu. Tapi alangkah lebih baiknya jika hal tersebut dipadukan dengan pemahaman holistik mengenai apa yg kita hadapi. Menganalisa fakta yg ada.. memahami masa lalu dan memprediksikan masa depan.

Halah...
^^

Jadi laper... eh, pengumuman...
Berat badanku naek 5 kiloooooooo horeeeeeeeeeeeeeeeee

written in tiny

losing you....

sumtimes only in times like these
u finally realized that u need him so

hanya dengan kehilangan seseorang
kau benar2 mengetahui arti dirinya bagimu

it's been a month...

It's been a month in my nu world.
How do I feel? Masih terlalu dini tentuna kalo bilang aku belongs to or not di tempat ini, di bidang ini. Banyak hal baru yang bisa dipelajari, tentu itu yang paling menyenangkan. Meski seingatku blom pernah otakku jadi sepanas ini... hosh hosh hosh... hehehe. Bener2 kelimpungan juga ngejar banyak hal yg belom pernah kuutik2 selama ini.
Semua ni barang baru buatku. Dan apa yang membuatnya jadi begitu berat adalah ketika kita memulai sesuatu yang baru tapi uda dikasi tuntutan untuk mengerjakan sesuatu yang besar.
I mean, sekali waktu... ketika semuanya terasa mentok di sana sini kadang kepikiran juga..
"Sanggupkah aku melewati semuanya ini?"
Ato ketika imajinasiku yang terlalu berlebih memikirkan sesuatu yang terlalu jaoh ke depan trus tiba2 jadi panik.. "Gimana ntar kalo gini... kalo gitu....???!!"
Streeesssss...
Xexexe, katanya c stress tu gag banget deh buat seorang ajenx. Katanya.. Kemaren waktu ngeluh ke seorang temen dia dengan tegasnya menyangkal.. "Kamu? Stress? Gag mungkin banget lah! Ajeng gitu lohh.."
Wax.. gag tau c itu pujian ato sindiran ^^p, tapi yg jelas kucing juga manusiyaa.. yang sering (banget) merasakan kekhawatiran yg kadang gag beralasan. How not.. gimana enggak. Di kasusku kali ini, lulusan arsitek masuk bank.. itu ya, nyambungnya di mana yak? *garukgarukkepala*
Tapi ya, the show mas gogon... bagaimanapun pertama-tama aku tetep berpegang bahwa rencana Tuhan pastilah yang terbaik buatku. Tuhan tau tempat terbaik untukku, I have no doubt bout that. Siapapun yang memutuskan untuk menerima seorang arsitek yang biasa2 saja ini untuk bekerja di sebuah lembaga keuangan yg gag ada hubungannya sama sekali pasti punya pertimbangan sendiri kenapa ia memilihku... xexexe. Lagian sanggup apa gag itu kan masalah kemauan, dan hanya bisa diketahui dengan menjalaninya dengan sebaik-baiknya, bukan begitu benar?
Therefore, gag ada lain toh selain mencoba untuk menyukai tempat ini...
Love you do, do you love.. 'n you'll get what you must
have
Not what you want, but what you must have...

Saturday, March 18, 2006

truth in advance

Pagi ini sempet baca satu artikel profil Prof Dr. Taufik Abdullah, seorang peneliti senior dari LIPI. He said sumtin' particularly like this. Menarik banget, kl menurutku...
Problem kita yang terlupakan adalah: melihat masa sekarang sebagai masa sekarang. Padahal yang sekarang itu bersifat transisi, yang sekarang itu sebagai peralihan ke masa depan. Kalau kita menyelesaikan masalah sekarang dengan berpikir hanya sekarang, besar kemungkinan kita bisa mengulang kejadian masa lalu dan memperdalam dendam, serta melupakan ke mana arah ke depan. Padahal pada saat yang sama kita tidak bisa memegang kebenaran milik kita sendiri. Sebab kebenaran kita bisa berbeda dengan kebenarang orang lain.


Huehehe...
Dat's right, bukan?
Bagaimanapun kebenaran itu relatif, gag mutlak. Semua orang bisa merasa benar. Dan jika semua orang berpegang bahwa yang benar itu versi saya, gag akan ada titik temu.. n menurut Profesor Taufik malah lebih ekstrim lagi, bisa memperdalam dendam..
Yah... so what's the point on truth? Apa gunanya kebenaran kalo gitu?
Aku juga gag tau... :D

Apa ya?
Xexexe...
IMO, kebenaran jelas masih tetap dibutuhkan dan masih harus dicari. Tapi ada beberapa point lagi yg juga harus dipunyai. Wisdom, salah satuna.. n akal sehat. Kebenaran tanpa wisdom dan akal sehat gag akan bermanfaat banyak.
Tidak perlu tahu siapa yang paling benar , tapi yang perlu diketahui adalah kalau dari sikap/tindakan masing2 yg merasa benar itu berimplikasi baik atau buruk, bagi diri sendiri pun orang lain..

Begitu?
Kalo belom bisa jadi bijaksana, jgn merasa paling benar... Tapi biasanya, kalo orang bijak jarang yg merasa paling benar c..



Friday, March 17, 2006

about character.... is it???

Kita bicara tentang karakter... tentang bagaimana karakter seseorang mempengaruhi jalan hidupnya. Siapa yang bilang hidup diatur oleh takdir/suratan? begitu katamu selalu.. Life's in ur hand, baybeh. Karaktermu yang menentukan ke mana langkahmu pergi. Jalan hidup yang berliku tidak akan dialami oleh orang berkarakter lemah/cengeng. Begitu juga jalan hidup yang mudah dan lurus bak jalan tol jarang dialami orang bermental baja. Kalopun ada orang yg berkarakter lemah mengalami jalan hidup yang berliku itu hanya di pikirannya ajah...

Benarkah begitu?

Dunno, pertanyaan yg muncul adalah... duluan mana ayam sm telor? Duluan mana karakter dan jalan hidup?
Xexexe.... Hercule Poirot selalu berkata, "Semua berawal dari satu sel abu-abu"
Dan dalam bayangan si kucing itu berarti bahwa setiap helaan nafas atau gerakan ototmu detik ini berpengaruh pada apa yang kau alami selanjutna.
It doesn't matter then, whether you're a planner, or actioner, or structural, or relationship-basic person. Keempat karakter itu hanyalah cara/metode seseorang untuk mencapai sesuatu, ato dalam mengerjakan sesuatu.
Pada akhirna yang paling menentukan bukanlah bagaimana kita mencapai/mengerjakannya... tapi apakah kita mencapaina ato tidak.... ato kita mengerjakannya ato tidak...

Ini.. bukan paradigma result oriented yg menihilkan proses.
Ini bukan tentang ability to do sumtin'
Tapi ini tentang willingness... kemauan untuk menentukan apa yang akan dilakukan, apa yg akan dicapai dan ke mana arah selanjutnya. Nhaa kalo uda sampe sini, bahkan karakter apapun yg kita punya pun tak lagi menentukan. Seseorang yg berkarakter lemah, terlalu hati-hati, pesimistis dan rendah diri pun jika menyadari kelemahannya dan mau keluar dari kubangan inferiornya juga pasti bisa meraih sesuatu. Demikian sebalikna

Kemauan.... willingness plus keberanian untuk menangkap kesempatan yg ada di depannya. That's the key.
Pernah dengan kisah dewa Kouros?

Alkisah ada 4 dewa yang menggawangi masalah waktu. Dewa Himerna yang bertanggung jawab pada waktu sehari-hari, detik menit jam hari minggu bulan tahun. Dewa Kronos yang bertanggung jawab pada waktu yg berulang. Dewa Aion yang bertanggung jawab pada waktu yang tak terduga. Dan terakhir, Dewa Kouros yang bertanggung jawab akan kesempatan.
Dewa Kouros ini dewa yang paling aneh penampilannya. Kepalanya botak di belakang, tapi ada sejumput rambut menjuntai seperti ekor kuda di dahinya. Jika seseorang berpapasan dengan dewa ini, itu berarti ia menemukan kesempatan besar dan ia harus segera menggenggam rambut sang dewa, sehingga kebahagiaan akan ia peroleh.

Kemudian diceritakan ada 3 manusia yang berpapasan dengan sang dewa. Ketiga orang itu adalah si bodoh, si bebal dan si bijak.
Si bodoh berpapasan dengan sang dewa pertama kali dan ia hanya terbahak2 melihat penampilan aneh sang dewa, sehingga sang dewa pun berlalu tanpa si bodoh menyadari bahwa ia melewatkan kesempatan emas.
Kemudian si bebal berpapasan juga dengan sang dewa. Dari jauh ia melihat penampilan sang dewa dan juga tertawa. Tapi ketika di dekatnya, si bebal mulai menyadari bahwa itu adalah dewa Kouros yang berarti kesempatan emas. Si bebal ragu2, takut untuk meraih rambut sang dewa hingga pada detik terakhir ia mencoba meraihnya, tapi terlambat... rambut sang dewa tak teraih.. dan menyisakan kekecewaan yg luar biasa.
Giliran si bijak yang berpapasan dengan sang dewa. Dari jauh ia telah melihat bahwa itu adalah dewa Kouros dan berarti kesempatan emas. Ia mempersiapkan diri hingga pada waktunya berhasil menangkap kesempatan emas tersebut.

Gitu... dari kisah di atas terlihat 3 elemen utama yg diperlukan dalam meraih sesuatu.
Wawasan ... Willingness... Courage...

3 hal ini, IMO, bisa diusahakan dan dipupuk tanpa ada kata terlambat untuk ituh.
Jalan hidup, kesempatan, kebahagiaan bisa diperoleh dengan membangun wawasan yg cukup untuk menyadari bentuk kesempatan/jalan hidup/kebahagiaan ituh. Setelah tau... perlu kemauan yg kuat untuk meraihnya... n then gag lupa, keberanian untuk mulai melangkah.
Xexexe...

dedicated for 'dia'... go grab ur chance, h'ni... ^^
if she's de one... i'm so happy for u.
.

Saturday, March 04, 2006

oleh-oleh dari ciloto puncak...

"Kalian adalah calon-calon pemimpin kami..."
"Kalian dipersiapkan di sini, di kawah candradimuko ini untuk mencetak kalian jadi pemimpin handal yang bisa membawa nama perusahaan menjadi lebih baik... dan kalian pasti bisa!!"


hwahahaaa.... doktrin yang terus menerus kudengar minggu2 terakhir ini. Di satu sisi doktrin itu emang overwhelming banget... tapi di sisi lain... pressure yang dibebankan di pundak ni juga gag kalah besar.

Menjadi pemimpin, pimpinan, kepala, manager, bos... jelas bukan ambisiku sejak dulu (hey.. mana pernah c si kucing ni berambisi? ^^p) Go with the flow, as long as it organized n well-planned, or at least prepare for all changes... is enough for me for life, without any further desire to reach the top. Buat apa c? Seorang Bima Ardhitya dulu yang paling sering menanyakan pertanyaan ini... Buat apa kita terus berambisi naik ke puncak, jika selalu ada yg lebih tinggi dan manusia sendiri diciptakan untuk tidak pernah puas..? xixixixi.
Satisfied with what we have n where we are... setuju c, tapi buatku, kalo jalan hidup ternyata memberiku kesempatan untuk meraih posisi puncak, ya shall it be. Yang penting nyaman n gag terpenjara oleh ambisi... xixixi. Oportunis sejati lah.

Eniwe, dari program penggodhogan yang baru jalan 2 minggu dari total program 8 bulan ini aku coba menguraikan beberapa pemahaman yg kudapat (terus terang c.. ini barang baru buatku)

Kepemimpinan
Menurut Ordway Tead... kepemimpinan adalah bagaimana kita mempengaruhi anggota agar mencapai tujuan.
Sementara George R. Terry menyebutkan bahwa kepemimpinan sebagai aktivitas dalam mempengaruhi anggota untuk berinisiatif dan berusaha mencapai tujuan.
Prof. Dr. H. Arifin A. Rahman menyebutkan kepemimpinan sebagai profesi/wewenang dalam memimpin dan membuat perencanaan tertentu.

mempengaruhi ... perencanaan ... inisiatif ... tujuan ...

Jadi, kalo bisa aku simpulkan, kepemimpinan itu berkait dengan 2 hal: persuasif dan manajerial.
Persuasif termasuk usaha mempengaruhi, memotivasi, dan inisiatif. Sementara manajerial termasuk usaha mengorganisir, planning, dan sistem. Dan kesemuanya demi mencapai tujuan akhir.

Kemampuan manajerial masih bisa diasah, tentunya musti dimulai dari diri sendiri dulu. Pikiran yang terstruktur rapi dan adaptif adalah modal kuat untuk mencapai kemampuan manajerial yg baik. Makanya, gag salah kalo paham puritan berkata bahwa posisi manajer lebih baik jika diisi oleh lelaki dibanding perempuan. Struktur otak lelaki yang tersekat-sekat memungkinkan mereka berpikir lebih terstruktur dan sistematis dibanding perempuan.
Hehehe... tapi tentunya itu gag bisa digeneralisir. Perempuan juga punya kekuatan lebih, seperti ketelitian dan kemampuan merunutkan sesuatu.
Sementara persuasif... i don't know... kinda hard to get by learning n process, it seems (khusus buat aku c). Persuasifku gag gitu bagus, kuakui... Tapi ya, kalo itu memang dibutuhkan untuk menjalani hidupku yang sekarang ya... pasti bisa dimunculkan. xexexexe. (niat gag c?)


Teamwork...
Meski manusia dunia dah berkembang jadi individualis dgn ego tinggi, tapi teamwork tetep perlu diperhatikan dalam manajemen perusahaan. Visi misi project/perusahaan harus dicapai dengan bekerjasama, karena tanpa kerjasama bisa menimbulkan friksi2 internal.
Riset 150 CEO perusahaan paling terkemuka di dunia menyebutkan skill2 yang harus dikembangkan dalam manajemen adalah:
  • 47% team building
  • 44% strategic thinking
  • 40% leadership
  • 34% kemampuan memotivasi
U can see there, that team building leads all. Dan justru bukan kepemimpinan itu sendiri. Kepimimpinan cuma menduduki urutan ketiga dari semuanya. Percuma pimpinannya cerdas bukan main dan menguasai bidang kerjanya kalo gag bisa membentuk teamwork yg solid n satu visi.
Gimana caranya? undaztanding... menurutku itu yg utama. Memahami psikologi bawahan maupun atasan about what they want actually, dan juga apa yg dimaui perusahaan untuk kemudian dirumuskan ato diintegrasikan dalam sebuah kebijakan tak tertulis yang disampaikan tidak secara otoriter.... n that.. really need extra strength.

Berikutnya yang diperlukan... std lah.. kedisiplinan, profesionalisme, proporsional, jiwa karsa, loyalitas, ksatria, berperilaku baik (multitafsir juga neh), ramah, tidak mementingkan diri sendiri.. blablabla...
hweheheee..... ngomong c gampang euy.


Gaya kepemimpinan
Ada beberapa gaya kepemimpinan.. otoriter, demokratis, paternalistik, kontinum, situasional... (hehe... ada lagi gag ya?)
Pakem yang berlaku adlah pemimpin itu lelaki. Lelaki itu pemimpin. Ini yang memicu menjamurnya mode kepemimpinan paternalistik. Sisi bagus dari kepemimpinan paternalistik adalah munculnya sifat kebapakan, melindungi, mengayomi dan menolong.
Tapi IMO paternalistik ini punya juga ada sisi negatifna.. seperti ikatan primordial yg terlalu kuat, termasuk adat istiadat dan family system yang kuat... makanya dalam kepemimpinan seperti ini rawan penyelewengan kekuasaan.

Dari beberapa gaya kepemimpinan, menurutku yg kurasa baik adalah bukan otoriter, paternalistik ato bahkan demokratis, tapi justru kepemimpinan kontinum sekaligus situasional.
Kontinum dalam artian, kita harus punya kerangka ato big frame yg melandasi segala aktivitas, jd segalanya harus punya arah dan tujuan yang jelas, sehingga bisa menjamin keberlangsungan project/kegiatan. Dan ini tugas dari seorang pimpinan untuk bisa menentukan arah dan rencana kerja bagi timnya. Pimpinan harus punya proksi yg jelas pula mengenai hambatan dan tantangan yg bakal ditemui nantinya, menyiapkan semua plan A, B, C hingga segalanya tetap pada jalurna.
Dan kenapa situasional? situasional digunakan pada saat2 tertentu yang tidak terduga sama sekali. Kemampuan untuk mengambil keputusan di saat2 urgent dan unpredictable yg membutuhkan sikap taktis.
Gitu kan? Ada lagi? Pasti masih banyak c...
Tapi ya, kurasa setiap orang punya gaya kepemimpinan sendiri2...

One thing we should remember is..
we're all the leader of ourself