Friday, February 03, 2006

kucing vs poligami...

Seorang momon dan seorang tika membahas hal yg sama pada waktu yg hampir bersamaan pula dalam blogna, yaitu tentang... eng ing eng... poligami. Gag tau juga kenapa fenomena itu ngetop lagi recently.. banyak yg rame2 membahas, mengutarakan pro dan kontra masing-masing. xexexe, made me kinda gatel juga pengen comment.

Aku gag suka poligami, dan aku gag mau dipoligami.

Dari dulu sikapku gag berubah terhadap fenomena ini, dan aku harap c gag berubah. xixixi. Well, of course aku tetep harus menghormati n menghargai para pelaku2 poligami.. karena prinsip individualistikku bilang terserah, orang mo jungkir balik kek gimana, asal gag melukai ato menyakiti ku dan orang2 yang kusayangi. Nh
a, pertanyaannya sekarang, gimana kalo orang kusayangi yang jungkir balik menurut interpretasiku? ngghh.... ya, yang jelas... kl org itu deket denganku, pasti sedikit banyak aku tau duduk permasalahannya gimana, n dari situ bisa diambil tindakan yg paling tepat untuk mengatasinya. Basicnya, c harus tetep bisa menghargai pendapat org lain meskio itu beda. Karena toh, mungkin juga tindakan dia yg jungkir balik itu cuma interpretasi kita, sementara dianya sendiri merasa lurus2 ajah, baik2 ajah?

Back to poligami...
Kenapa fenomena poligami bisa muncul?
Karena diperbolehkan a
gama... itu alasan yg paling sering muncul (n I do respect this, folks... will say no more dah! xexexe)

Karena rasio perempuan-lalaki di dunia ini 4 berbanding 1. Yeah? emang aku pernah denger ada perbandingan ini c, tapi kabarnya pula.. rasio ini ha
nya berlaku pada manusia di usia lanjut. Jadi.. lansia perempuan lebih banyak 4 kali dibanding lansia lelaki. Gitu kabarnya (sayang, aku lupa di mana pernah baca ini).. but obviously, this data shows us kalo wanita generally lebih berumur panjang dibanding lelaki. Well, ya... kalo based on this reason, seenggaknya poligami yg bertujuan 'mengambil' ato menolong janda2 tua yang tidak berpenghasilan ditinggal mati suaminya mungkin bisa sedikit dimaafkan (catet: sedikit!) xixixi. Meski tetep terasa aneh bin ajaib juga, c... kok ya bisa ada legitimasi dalam menduakan cinta? xexexe.

Ada lagi alasan yg melegitimasi poligami ini, bahwa poligami merupakan alat pencegahan efektif perzinahan. Karena berzinah, ato berselingkuh, adalah dosa. Hyoo.... IMO, secara bodoh bisa disimpulkan bahwa poligami tidak lain merupakan formalitas atau peresmian daripada perzinahan... iya gag c? xexexe.
Trus yang berkaitan dengan itu juga.. pendapat yg menyatakan bahwa poligami sah dan justru menguntungkan bagi lelaki2 yang mobile dan sering bepergian, untuk 'menanam' dan 'menyimpan' istri2 sah di masing2 daerah di mana dia sering bepergian, agar terhindar dari perbuatan zina.

Owww.... sebagai perempuan, alasan ini jelas2 gag termaafkan. Itu cuma salah satu bentuk pemuasan ego lelaki. Dan sebagai manusia yg memiliki kodrat untuk berpikir, alasan ini hanyalah sebuah kamuflase untuk menutupi satu hal penting yg terabaikan... bahwa manusia adalah makhluk yg berhasrat. Dan sayangnya, kebanyakan dari kita gag menyadarinya... ato menyadarinya, tapi justru menerapkan reaksi yg aneh di mataku untuk mengatasinya.

Hasrat.. passion... nafsu.. jelas ada dalam di dalam diri kita masing-masing. Dan diakui, hasrat memang bisa menjadi air bah yang tak terbendung dan menghanyutkan manusia tanpa manusia bisa melawannya. Tapi kebanyakan dari kita hanya memahami fenomena hasrat ini pada titik ini, dan seakan memandang hasrat hanya sebagai stimulus di luar tubuh, sebentuk benda jahat yang bukan berasal dari dalam tubuh dan harus dibasmi. Ato mungkin memang memahami bahwa nafsu ada dalam diri kita, tapi menganggapnya sebagai suatu zat/naluri yg jahat yg harus dipendam dan dijauhkan dan bahkan tidak diakui. Paham mendiskreditkan nafsu ini sudah dimulai sejak filsuf pertama mulai berpikir... dari socrates yang meminggirkan nafsu dari medan kemanusiaan, aristoteles yg menyebut nafsu sebagai komponen rendah dari jiwa manusia yang harus dikendalikan oleh rasio, sampe descartes dengan adagium cogito ergo sum-nya yg membabtis manusia sebagai subyek cartesian yg sadar penuh, rasional, berjarak, dan senantiasa kritis atas kultur yg bersandar pada ilusi, mitos, dan imajinasi hiperbolis...

Baru ketika Freud muncul dengan teori seksnya, mata kita agak terbuka sedikit akan hadirnya hasrat/passion ini.. Freud menyebutkan bahwa kita semua telah mempunyai nafsu libidinal sejak bayi. semua itu ada dalam pikiran bawah sadar kita, dan hasrat ini akan (istilahnya) kalah oleh kekuatan ego kita sebagai manusia berpikir.. sebuah teori yang kemudian dibalikkan oleh Jacques Lacan yg menyatakan bahwa hasrat memiliki potensi subversi atas ego. Lacan justru melihat kerapuhan ego yang selama ini diagung-agungkan para penganut psikologi ego, dan menunjukkan ketergantungan ego pada hasrat-hasrat yang menginfiltrasinya dari medan sosial.
Bagaimanapun beragamnya para filsuf itu berpendapat, setidaknya mereka sepakat satu hal.. bahwa ego dan kemampuan berpikir adalah solusi yang optimal dalam merepressed hasrat/nafsu itu sendiri, atau justru sebalikna, hasrat-lah yg menjadi kontrol dari ego. Saling berkesinambungan lah, menurutku. Karena IMO hidup itu tak lebih dari menjaga keseimbangan dan harmoni dalam inner maupun outer diri kita.

Oke, what I'm tryin' to s
ay is.. kesinambungan harmoni hasrat dan ego (baca: logika dan rasionalitas) itu tidak ada dalam alasan terakhir legitimasi poligami tadi. Oke kita bernafsu... oke keadaan kita menuntut kita tidak bisa stay di satu tempat (yang memungkinkan kita melampiaskan nafsu secara sah).. trus gimana? Poligami dunk... biar sah.

Lha, kalo di mataku, fenomena poligami 'hanyalah' sebuah legitimasi dari manusia sendiri untuk memuaskan kebutuhan ragawinya. Memang ada rasio di situ, logis jika kita berpikir supaya tidak x, maka kita tetapkan aturan y yg membuat x menjadi 'benar'
Lucu gag c? bukannya yang penting itu menyadari hasrat kita dan mengendalikannya? Kok malah diterusin... disahkan. Siapa yg bisa jamin kalo setelah istri keempat hasratnya telah terpenuhi dengan sempurna? Kenapa kita tidak mengendalikan x tadi?

Dalam bayanganku, masalah hasrat/nafsu yg berlebih itu bisa diatasi dengen pemecahan/solusi yg mungkin berbeda arah dengan rasionalitas x --> y tadi, bahwa masalah pengendalian hasratlah yang semestinya diberi perha
tian lebih ketimbang kemudian melegalkan tindakan sampai pada batas tertentu. Sudah semestinyalah pemikiran kita lebih diarahkan pada kesadaran bahwa refleksi atas keberadaan hasrat itu sendiri lebih penting ketimbang segala aturan yang (kadang) tak konsisten itu. Apalagi kalo banyak pihak (baca:perempuan) yang merasa dirugikan akan keadaan ini.


Kalo gag merasa dirugikan? Ya terserah c... Kalo aku pribadi, uda pernah merasakan betapa sakitnya ketika seorang kekasih berselingkuh/menjalin cinta dengan perempuan lain.. apalagi kalo uda nikah nantinya... xixixi...

*hanya sebuah sudut pandang dari seorang perempuan*