Friday, February 24, 2006

push to the limit

Push to the limit... n u'll find that u got inner strength u'll never know.
Mungkin itu intisari dari pelatihan kedisiplinan yg kuikuti seminggu ini di bogor.
3 hari pertama di sebuah camp pendidikan militer, tentu aja dengan beberapa penyesuaian kl yg ditangani orang sipil. Tapi tetep aja... gaya2 militer yg keras, fisik, disiplin n imperatif terasa kental di setiap program pelatihan yg kuikuti.

Pembinaan fisik 4 kali sehari... sistem reward n punishment ato stick and carrot yg lebih bertendensi ke punishment. Rewardna.... ada c, tp gag terlalu dominan. Yang ada, jika berbuat salah, pasti ada sanksi... tapi kalo mencapai prestasi, jarang dapet reward, selain dalam bentuk verbal (kata2 "bagus!" rupanya sudah dianggap sebagai reward...)

Yg bisa dipetik adalah, bahwa konsep kedisiplinan yg dianut oleh orang2 pada umumnya (termasuk militer) adalah disiplin yg dipaksa masuk, yg diperoleh dari pembiasaan terus menerus. Padahal.... apa c yg bisa didapet dari pemaksaan? Ada c.. tapi menurutku kok malah gag optimal. Mungkin bisa berhasil kalo diaplikasikan ke orang2 yg berpendidikan rendah, ato yg bertipe follower. Tapi buat orang2 yg punya sifat leadership yg kuat jelas gag berhasil. Mungkin lebih optimal lagi kalo pemaksaan itu dibarengi dengan transfer concept yg jelas... Kenapa misalnya jam 3 pagi kami semua dibangunin n disuruh tiarap di kebon misalnya...
Ato kenapa jam 11 malem kami satu persatu disuruh berjalan sendiri2 memasuki hutan, dengan diganggu beberapa pocong, 1 gendruwo dan bau2 menyan? xexexe...

Yah... apapun itu, aku ngerasa pelatihan ini sedikit banyak bermanfaat juga. Toh, buatku waktu seminggu itu kuanggap merupakan miniatur perjalanan hidup, yang gag selalu mulus... penuh tempaan... Bahwa hidup itu pembelajaran, setiap detik dan setiap menit adalah pembelajaran yang harus bisa dipetik hikmahnya... Antara otak dan fisik harus bisa berjalan beriringan.

huhuhuhu....
blogging rada tersendat ni kayanya....
mo nulis kok gag ada ide....
ngapain ya?






Monday, February 13, 2006

tidak mudah.. sungguh..

aku yang lemah tanpamu
aku yang rentan karena
cinta yang tlah hilang darimu
yang mampu menyanjungku

selama mata terbuka
sampai jantung tak berdetak
selama itu pun
aku mampu tuk mengenangmu

darimu, kutemukan hidupku
bagiku, kau lah cinta sejati

bila yang tertulis untukku
adalah yang terbaik untukmu
kan kujadikan kau kenangan
yang terindah dalam hidupku
namun takkan mudah bagiku
meninggalkan jejak hidupku
yang telah terukir abadi
sebagai kenangan yang terindah
kenangan terindah_samsons


kinan tak mengerti, sekali lagi...
perasaan ini datang lagi, setelah sekian lama.. dengan cara yang aneh dan salah. nuraninya berkata ini tidak benar. Tidak pada waktu, tempat dan obyek yang tepat.
but she felt it, undeniably...

"aku pergi... " kinan berkata dengan ceria, berusaha menekan perasaan kehilangan yg terpancar dari sorot redup matanya.

"ke mana?? kapan?? kenapa??" tanyanya dengan sedikit gelagapan

"hmmm.... ke mana kakiku seharusnya melangkah, ke suatu waktu di mana aku harusnya berada sejak dulu, dan karena semua orang bilang di situlah aku seharusnya berada.." kinan menjawab, berusaha menatap lurus ke dalam matanya... terlalu lurus...

"aku... ah.... this is too soon... tidak, jangan pergi... kamu tidak boleh pergi!" katanya dengan sedikit meninggi.

"i wish i could... " bisik kinan, masih berusaha menyembunyikan kekalutannya sendiri, berusaha mencegah dirinya menggenggam tangan lelaki di depannya, mencari kekuatan di sana.

she wish she could..
she wish she have that courage to stand against all this.
tidakkah kau tau? aku pergi karena aku tak ingin melihat punggungmu saat kau pergi... apalagi aku tau kau akan pergi tanpa aku sempat mengatakan apapun padamu... itu lebih menyakitkan buatku... jerit kinan dalam hati.

well, ada saatnya untuk menjadi egois, bukan?


persembahan untuk seorang teman yg berniat menuntut ilmu di negeri seberang...
yang mana darinya, kembali kutemukan hidupku, cintaku, hasratku... aneh bukan? hihiihi
gud lak, my fren.. ^^

Saturday, February 11, 2006

dagelan yang gag lucu

Waktu jaman SMA ato kuliah dulu, acara dagelan yang dianggep sukses adalah dagelan yg satir ato yang menyindir kejadian2 yg populer terjadi di endonesa (termasuk politik juga). Semakin berbahaya dan semakin menyerempet.. semakin disukai. Makanya, pelawak2 kaya bagito grup yg rajin apdet berita2 terkini dan cepat reaksina terhadap issu nasional jadi grup lawak paling sukses kala ituh, n menobatkan bang mi'ing sebagai salah satu pelawak tercerdas dan terpedas (ya jelas aja, waktu itu pesaing2na pelawak yg bermodalkan slapstick n komedi2 sitkom yg mengandalkan fisik) hehehe.

Begitulah, lain dulu lain pula sekarang... Kalo dulu issu2 nasional dijadiin bahan untuk lawakan pelawak di atas panggung.. sekarang, issu nasional justru menjadi dagelan di mata publik. Dagelan yg ironis, dengan pelawak2 tak lain adalah para pengambil kebijakan untuk publik. Sebagai regulator dan pengayom masyarakat, pemerintah banyak menerapkan kebijakan dan reaksi yang 'aneh' dalam menyikapi sebuah issu. Harga minyak dunia naik.. langsung panik menaikkan harga BBM... Issu stok beras menipis, langsung buru2 buka keran impor tanpa mikir panjang, sebenernya ke mana semua persediaan beras kita kok tiba2 menghilang dari peredaran... Kasus operasi izin beribadah oleh beberapa oknum, yg menghasilkan sebuah surat keputusan bersama yg rawan penyelewengan birokrasi... Perancangan RUU bahasa yang konon kabarnya guna mempertahankan identitas bahasa endonesa yg mulai luntur... BBM naik, biaya produksi listrik dr 30% pembangkit migas menghabiskan 70% biaya naik, menyebabkan TDL pun harus naik segera... n then yg terakhir.. rencana penerbitan Playboy Indonesia yg serta merta memicu perumusan RUU AntiPornografi dan Pornoaksi (RUU APP).



Banyak pro dan kontra, itu wajar... dan kadang emang jauh lebih mudah untuk berbicara dan mengkritik daripada menjalaninya... xixixi. Aku juga ngerti c, tapi kritik kan juga perlu, karena siapa tahu orang lain bisa membantu kita dari kritiknya, membantu kita melihat sisi lain dari semua tindakan kita..?

Well, anyway... bagiku.. (entah bagi orang lain), RUU APP ini tak lebih dari dagelan semata, yg gag lucu tentu aja. Lagi2 pemerintah menunjukkan 'kepeduliannya' pada satu masalah yg mendera bangsa, bersamaan dengan itu menyingkirkan empati terhadap masalah2 lain yg lebih urgent.. kaya SUTET, kenaikan TDL, bencana yg langsung menyentuh lapisan masyarakat terbawah, dan ya... sekali lagi menerapkan manajemen reaktif yg salah arah. Ya maap aja, kalo aku berpendapat kaya gini. Bukannya menganggap pornografi dan pornoaksi gag penting, tapi hey... yah.... didn't u have sumtin' else to do? Kenapa justru ketika rakyat miskin semakin terhimpit beban hidup kita malah mengobok2 moral n hak asasi masyarakat?

Pertama2 yg perlu ditanyakan adalah... apa sebenernya definisi pornografi dan pornoaksi? Di mana batasannya? Berbagai lapisan masyarakat terlihat berhati2 dengan mengajukan pertanyaan utama ini. ...kalo emang uda jelas n diakui semua lapisan... ya okelah, kami setuju... " xexexe.

Seorang Andrea Dworkin dan Catherine MacKinnon dalam Feminis Thought menawarkan definisi pornografi sebagai grafis yg secara seksual eksplisit menyubordinasi perempuan melalui gambar atau kata2 yg mendehumanisasi perempuan sebagai obyek seksual, benda, atau komoditas serta melakukan hal2 yg menyebabkan kondisi seseorang bersifat seksual. Sementara pornoaksi dalam RUU APP kita ini didenifisikan sebagai tindakan melakukan gerakan mirip masturbasi dan atau persetubuhan...
Nha, pertanyaan selanjutnya adalah: di mana batasan gerakan mirip masturbasi tadi?

Dulu di era Megawati sepertina pernah dibahas juga tentang perumusan definisi pornografi ini, tp ya berhubung sampe pada batas waktuna gag ditemukan apa sebenernya definisi pornografi... akhirna draft itu tertunda, terlupakan... Sekarang? Seorang peneliti dan pengajar Fisip UI, Nur Imam Subono berpendapat bahwa gelagatnya bakal hanya jadi sebuah isu yg terblow out sementara untuk mengalihkan perhatian orang dari beban/masalah nasional yg lebih besar. bahwa RUU APP ini dapat dilihat sebagai upaya mengalihkan perhatian... persis kaya di jaman Victoria, Ketika banyak persoalan publik gag bisa diselesaikan, bahkan disangkali, yg muncul ke permukaan adalah judgement moralitas, yang dipersempit menjadi moralitas dan seksualitas perempuan.

I do think so, in fact... sebenernya kenapa aku anggep hadirnya RUU APP ini salah arah adalah karena aku ngerasa justru RUU ini kalo jadi disahkan nantina bakal melenceng jauh dari tujuan semula. RUU ini tidak melindungi perempuan dan anak2 sebagai korban kekerasan seksual, tapi justru malah menempatkan perempuan sebagai kriminil, secar bersamaan lebih mengutamakan moralitas masyarakat yg tentu sifatnya paradoksial. Kalo aku runtut dari awal, hadirnya RUU ini dipicu dari maraknya kasus2 kekerasan yg menimpa perempuan dan anak kecil. Kenapa banyak perkosaan? Karena banyak pelaku mengaku tindakan biadabnya dipicu oleh gambar2 dan video2 porno yg banyak beredar di pasaran. Jadi... bapak2 dan ibu2 yg pintar2 di senayan sana menyimpulkan, untuk mengeliminir kasus perkosaan... perlu dibuat RUU untuk mengatur cara berpakaian perempuan (di media) dan menghukum aksi porno yg dapat menimbulkan syahwat para calon2 pemerkosa ituh.
Berawal dari perempuan, untuk melindungi perempuan... tapi sayangnya justru point at woman itself. Cek salah satu pasal dalam draft RUU APP ini:
Pasal 25 melarang orang dewasa untuk mempertontonkan bagian tubuh tertentu yang sensual antara lain alat kelamin, paha, pinggul, pantat, pusar dan payudara perempuan sebagian maupun seluruhnya, mengkriminalkan perempuan.

Sik ta... pasal 25 ini kan ya untuk media toh? Bukan untuk diterapkan di kehidupan sehari2? Kalo untuk diterapkan di kehidupan sehari2... ya.... *garukgaruk kepala*
Maap.. kalo saya bertanya.. apa ini berarti isyarat bahwa sudah saatnya endonesa melupakan akar tradisi n kebudayaannya sendiri? Kalo RUU ini uda disahkan... kebaya2 Jawa yg berpotongan dada rendah dan sangat memperlihatkan lekuk perempuan itu trus dilarang dunk? Trus... gimana nasib saudara2 kita di suku pedalaman Irian sana yg kadang malah topless dan hanya bercawat ria? Trus... gimana nasib bule2 yg berjemur di pantai-pantai indah bali? Trus gimana nasib gadis2 desa yg biasa mandi di kali dengen kemben? Trus gimana nasib peragaan2 busana musim panas? Nasib desainer2 yg jago mendesain tanktop, ato pakaian renang? Mbuh.... jawab aja sendiri... xixixi.

Yang jelas terlihat hanyalah eksploitasi perempuan. Kalo emang anti pornografi emang untuk melindungi perempuan dan anak kecil dari kasus perkosaan, kenapa gag dibuat RUU untuk mengatur libido lelaki untuk tidak memperkosa? Kenapa harus mempersulit perempuan? Pasal itu di mataku hanya menuding perempuan sebagai biang keladi dari pemerkosaan. Aku sering denger beberapa orang bilang, "Ya salah sendiri perempuan Y disuit2 ato digodain ato bahkan diperkosa... abis.. dia kalo pake baju seksi2..."

Hasyah, otaknya tu di mana ya? Kok malah jadi nyalahin perempuannya c? Kenapa musti ngatur2 baju orang lain kalo sampeyan harusna yang ngatur libido sampeyan sendiri? Mbok yao dirinya sendiri tu dibenahi dulu sebelom sibuk membenahi orang laen..
hff... kok jadi emosi gini, si ibuk satu ni? xexexe.

Oui, menarik apa yg dibilang dokter boyke tentang RUU ini yaitu belio menyebutkan dua hal yang tidak mungkin diatur dengan UU sekalipun, yakni seksualitas dan erotika. Seksualitas, kata Boyke, adalah sesuatu yang secara alami dimiliki dan melekat pada setiap orang sehingga tidak mungkin bisa dilarang. Adapun erotika adalah perasaan tertarik kepada lawan jenis, yang juga tidak mungkin dapat dibatasi oleh pihak lain. Karena itu, menurut Boyke, seksualitas maupun
erotika tidak patut dipersalahkan. Dan karenanya RUU yang mengatur pornografi serta pornoaksi ini sifatnya benar2 paradoks dan tidak perlu.

Di lain pihak, salah satu anggota DPR Komisi VIII, Latifah menyebutkan bahwa RUU ini mengacu pada tayangan televisi yg kian memprihatinkan. Bahwa memang harus ada aturan yang dapat mengurangi tindakan eksploitasi seks (Kompas, Sabtu 4 Februari 2006).
Iya, tapi bukankah kalo acuannya dari media yg semakin tidak terkontrol, sudah ada dan diatur dalam KUHP tentang "melanggar kesopanan di muka umum"...? Ato berpegangan pada UU tentang Pers nomor 40 tahun 1999 dan Peraturan Komisi Penyiaran Nomor 009 tahun 2004? Kita sudah punya semua itu... dan tidakkah menjadi satu pemborosan anggaran dan tenaga besar2an jika DPR masih mengurusi sebuah undang2 pornografi yang sifatnya blur dan paradoksial?

Pemberantasan pornografi bisa dilakukan dengan baik oleh polisi, kejaksaan, dan hakim... kalo UU yang sudah ada tadi dipergunakan bener2... gag perlu lagi membentuk Badan2 baru macam Badan Antipornografi dan Pornoaksi Nasional (BAPPN) misalna. Bab VI dalam RUU APP menyebutkan perluna dibentuk BAPN dimana para anggotanya terdiri atas unsur perwakilan badan keagamaan; pakar komunikasi; pakar teknologi informasi dan komunikasi; pakar seni dan budaya; pakar hukum pidana; dan pakar sosiologi. Bayangin ajah... sebuah badan yg bakal diisi oleh polisi2 moral yg bakal menentukan setiap orang bermoral atau tidak... diketuai oleh om Roy Suryo, misalnya? xixixi...
Tentu aja... BAPN ini bakal menyedot APBN juga.. well... ya.... *garuk2kepalalagi*

IMO... solusi yg mungkin lebih cespleng daripada penyusunan RUU APP dalam menghadapi kasus kekerasan seksual dan penerbitan PI adalah pengoptimalan potensi yang sudah kita punya sebelomnya. Pertama-tama, mulai dari diri sendiri dulu, kenali hasrat yg ada dalam diri, tanyakan pada diri sendiri efektifkah sebuah pelarangan sementara apa yang menjadi persoalan justru ada dalam diri manusia itu sendiri. Pelarangan hanya menangguhkan hasrat untuk kemudian membuatnya mengambil bentuk lain sebagai manifestasi pemuasannya. Ada atau tidaknya majalah Playboy bukanlah masalah sesungguhnya, karena di televisi, di kios-kios majalah, dan banyak hal di sekitar manusia terdapat substitusi dari majalah Playboy; justru masalah pengendalian hasratlah yang semestinya diberi perhatian lebih ketimbang pelarangan ini-itu. Menyadari hasrat yang ada dalam diri manusialah yang sebenarnya penting, karena dengan menyadari keberadaannya, maka manusia bisa mewaspadainya.

Masalah moralitas biarlah dijaga oleh agama, keyakinan, keluarga dan lingkungan masyarakat, bukan oleh negara. Tingkatkan iman dan agama (bagi yg bersandar padanya), perbanyak pendidikan seks yang sehat.

Yang berkaitan dengan media massa, lebih baik optimalkan UU Press dan UU Penyebaran Informasi yg mengatur titik peredarannya misalnya.. misal lebih mengutamakan pengiriman langsung ke para pelanggan, menjualnya dengan dibungkus rapat oleh plastik, tidak dijual di lapak-lapak terbuka dan asongan.
Tayangan2 televisi yg dipandang rawan pornoaksi diatur jam tayangnya.. apa gunanya badan sensor kalo kek gitu? Trus... penjual video2 porno ditertibkan... kalo niat mo berantas pornografi bener2 c..
Tapi kalo RUU ini punya tujuan lain ya... ntahlah... ^^p

Friday, February 10, 2006

protesss

And so it is just like you said it would be
Life goes easy on me
most of the time
And so it is the shorter story
No love, no glory
No hero in her sky

I can't take my eyes off of you

And so it is just like you said it should be
We'll both forget the breeze
Most of the time
And so it is the colder water
The Blower's Daughter
The pupil in denial

I can't take my eyes off of you

Did I say that I loathe you?
Did I say that I want to
Leave it all behind?

I can't take my mind off of you
'Til I find somebody new


dari dulu memang...
tampilan blog kesayanganku ini gag berobah. Bukan apa-apa, selain gag s4 ngapa2in, aku juga kan orangnya setia (bo'ong banget). hehehe
Banyak yang protes pastina..
kenapa tulisannya kecil2?
kenapa artikelna panjang2?
kenapa berat banget... kontras banget putih sama item?
kenapa yang dibahas topikna berat banget c?

hohoho... yang kalo pas lagi bete or sensi pasti kujawab dengan ketus (dalam hati)... "ya, kalo gitu gag usah baca, beres kan?"
xixixixi.
Tapi gag kok... aku paham, sama seperti ketika seorang ro menulis panjang lebar dalam blogna tentang ini, bahwa... gag bisa seperti itu... keputusan untuk membuat blog itu berarti harus siap publish, dibaca banyak orang.. kalo gag bikin aja diary pribadi di rumah, ato nulis hal2 yg aman dan sesuai keinginan publik!

xexexe... ya gitu deh.

eniwe, tp aku teteb bertahan dengan design blogku yg satu ini, n aku juga (moga2) teteb bertahan dengan gaya penulisanku selama ini (kurasa gag terlalu sarkartis2 amat ah...).
i really love any stuff performed in black background with white little thing on it. (menjelaskan komposisi warna yg kuakui terasa agak berat di mata)
i'm an ac milan tifosi... (meski ini bukan alasan utama kenapa warnanya item merah,c)
i don't have much spare time.. (menjelaskan kenapa sejak 'berdirinya' blog ini belom pernah ganti design)
aku berpikiran... siapapun yg yg membaca artikelku sampe tuntas, berarti kan bener2 tertarik dengan topik/ocehan yg aku angkat... sampe bela2in baca tulisan yg kuecil2 n melelahkan mata itu.... hihihihi (alasan yang aneh)

tapi ya, gitu deh.. seorang jason wade (vokalis lifehouse) dulu pada awal kemunculan lifehouse sering dikritik kenapa dia kalo nyanyi pronouncingna selalu gag jelas. Hanya seperti gumaman dan gerundelan gag jelas, kata pendengarnya yg penasaran mati2an sama isi lirik dari lagu lifehouse kala ituh (karena bahkan si jason ini gag pernah memuat isi lirik baik di sampul album mopun di website.
Apa pasal? Waktu itu dia berpendapat bahwa semua isi lagunya adalah curahan hatinya yang paling dalam (euh) yang seharusnya jadi milik pribadinya, dan dia malu membeberkannya di publik..
Hihihi, alasan yg aneh bukan? Lha kalo gag mau kehidupan pribadina tersebar, ya jangan dibikin lagu dunk (apalagi aliran musikna mainstream). Ato bikin lagu, tp temanya pemandangan, ato anjingnya yang lucu... ato apalah yang gag nyerempet kehidupan pribadinya.

Xxexexe, suatu alasan yang aneh di mata logika. Tapi ya... begitulah, dan alasanku berkaitan dengan kekurangan blog ini pun... sort of dat lah... xexexe
*gag jelas*

Friday, February 03, 2006

kucing vs poligami...

Seorang momon dan seorang tika membahas hal yg sama pada waktu yg hampir bersamaan pula dalam blogna, yaitu tentang... eng ing eng... poligami. Gag tau juga kenapa fenomena itu ngetop lagi recently.. banyak yg rame2 membahas, mengutarakan pro dan kontra masing-masing. xexexe, made me kinda gatel juga pengen comment.

Aku gag suka poligami, dan aku gag mau dipoligami.

Dari dulu sikapku gag berubah terhadap fenomena ini, dan aku harap c gag berubah. xixixi. Well, of course aku tetep harus menghormati n menghargai para pelaku2 poligami.. karena prinsip individualistikku bilang terserah, orang mo jungkir balik kek gimana, asal gag melukai ato menyakiti ku dan orang2 yang kusayangi. Nh
a, pertanyaannya sekarang, gimana kalo orang kusayangi yang jungkir balik menurut interpretasiku? ngghh.... ya, yang jelas... kl org itu deket denganku, pasti sedikit banyak aku tau duduk permasalahannya gimana, n dari situ bisa diambil tindakan yg paling tepat untuk mengatasinya. Basicnya, c harus tetep bisa menghargai pendapat org lain meskio itu beda. Karena toh, mungkin juga tindakan dia yg jungkir balik itu cuma interpretasi kita, sementara dianya sendiri merasa lurus2 ajah, baik2 ajah?

Back to poligami...
Kenapa fenomena poligami bisa muncul?
Karena diperbolehkan a
gama... itu alasan yg paling sering muncul (n I do respect this, folks... will say no more dah! xexexe)

Karena rasio perempuan-lalaki di dunia ini 4 berbanding 1. Yeah? emang aku pernah denger ada perbandingan ini c, tapi kabarnya pula.. rasio ini ha
nya berlaku pada manusia di usia lanjut. Jadi.. lansia perempuan lebih banyak 4 kali dibanding lansia lelaki. Gitu kabarnya (sayang, aku lupa di mana pernah baca ini).. but obviously, this data shows us kalo wanita generally lebih berumur panjang dibanding lelaki. Well, ya... kalo based on this reason, seenggaknya poligami yg bertujuan 'mengambil' ato menolong janda2 tua yang tidak berpenghasilan ditinggal mati suaminya mungkin bisa sedikit dimaafkan (catet: sedikit!) xixixi. Meski tetep terasa aneh bin ajaib juga, c... kok ya bisa ada legitimasi dalam menduakan cinta? xexexe.

Ada lagi alasan yg melegitimasi poligami ini, bahwa poligami merupakan alat pencegahan efektif perzinahan. Karena berzinah, ato berselingkuh, adalah dosa. Hyoo.... IMO, secara bodoh bisa disimpulkan bahwa poligami tidak lain merupakan formalitas atau peresmian daripada perzinahan... iya gag c? xexexe.
Trus yang berkaitan dengan itu juga.. pendapat yg menyatakan bahwa poligami sah dan justru menguntungkan bagi lelaki2 yang mobile dan sering bepergian, untuk 'menanam' dan 'menyimpan' istri2 sah di masing2 daerah di mana dia sering bepergian, agar terhindar dari perbuatan zina.

Owww.... sebagai perempuan, alasan ini jelas2 gag termaafkan. Itu cuma salah satu bentuk pemuasan ego lelaki. Dan sebagai manusia yg memiliki kodrat untuk berpikir, alasan ini hanyalah sebuah kamuflase untuk menutupi satu hal penting yg terabaikan... bahwa manusia adalah makhluk yg berhasrat. Dan sayangnya, kebanyakan dari kita gag menyadarinya... ato menyadarinya, tapi justru menerapkan reaksi yg aneh di mataku untuk mengatasinya.

Hasrat.. passion... nafsu.. jelas ada dalam di dalam diri kita masing-masing. Dan diakui, hasrat memang bisa menjadi air bah yang tak terbendung dan menghanyutkan manusia tanpa manusia bisa melawannya. Tapi kebanyakan dari kita hanya memahami fenomena hasrat ini pada titik ini, dan seakan memandang hasrat hanya sebagai stimulus di luar tubuh, sebentuk benda jahat yang bukan berasal dari dalam tubuh dan harus dibasmi. Ato mungkin memang memahami bahwa nafsu ada dalam diri kita, tapi menganggapnya sebagai suatu zat/naluri yg jahat yg harus dipendam dan dijauhkan dan bahkan tidak diakui. Paham mendiskreditkan nafsu ini sudah dimulai sejak filsuf pertama mulai berpikir... dari socrates yang meminggirkan nafsu dari medan kemanusiaan, aristoteles yg menyebut nafsu sebagai komponen rendah dari jiwa manusia yang harus dikendalikan oleh rasio, sampe descartes dengan adagium cogito ergo sum-nya yg membabtis manusia sebagai subyek cartesian yg sadar penuh, rasional, berjarak, dan senantiasa kritis atas kultur yg bersandar pada ilusi, mitos, dan imajinasi hiperbolis...

Baru ketika Freud muncul dengan teori seksnya, mata kita agak terbuka sedikit akan hadirnya hasrat/passion ini.. Freud menyebutkan bahwa kita semua telah mempunyai nafsu libidinal sejak bayi. semua itu ada dalam pikiran bawah sadar kita, dan hasrat ini akan (istilahnya) kalah oleh kekuatan ego kita sebagai manusia berpikir.. sebuah teori yang kemudian dibalikkan oleh Jacques Lacan yg menyatakan bahwa hasrat memiliki potensi subversi atas ego. Lacan justru melihat kerapuhan ego yang selama ini diagung-agungkan para penganut psikologi ego, dan menunjukkan ketergantungan ego pada hasrat-hasrat yang menginfiltrasinya dari medan sosial.
Bagaimanapun beragamnya para filsuf itu berpendapat, setidaknya mereka sepakat satu hal.. bahwa ego dan kemampuan berpikir adalah solusi yang optimal dalam merepressed hasrat/nafsu itu sendiri, atau justru sebalikna, hasrat-lah yg menjadi kontrol dari ego. Saling berkesinambungan lah, menurutku. Karena IMO hidup itu tak lebih dari menjaga keseimbangan dan harmoni dalam inner maupun outer diri kita.

Oke, what I'm tryin' to s
ay is.. kesinambungan harmoni hasrat dan ego (baca: logika dan rasionalitas) itu tidak ada dalam alasan terakhir legitimasi poligami tadi. Oke kita bernafsu... oke keadaan kita menuntut kita tidak bisa stay di satu tempat (yang memungkinkan kita melampiaskan nafsu secara sah).. trus gimana? Poligami dunk... biar sah.

Lha, kalo di mataku, fenomena poligami 'hanyalah' sebuah legitimasi dari manusia sendiri untuk memuaskan kebutuhan ragawinya. Memang ada rasio di situ, logis jika kita berpikir supaya tidak x, maka kita tetapkan aturan y yg membuat x menjadi 'benar'
Lucu gag c? bukannya yang penting itu menyadari hasrat kita dan mengendalikannya? Kok malah diterusin... disahkan. Siapa yg bisa jamin kalo setelah istri keempat hasratnya telah terpenuhi dengan sempurna? Kenapa kita tidak mengendalikan x tadi?

Dalam bayanganku, masalah hasrat/nafsu yg berlebih itu bisa diatasi dengen pemecahan/solusi yg mungkin berbeda arah dengan rasionalitas x --> y tadi, bahwa masalah pengendalian hasratlah yang semestinya diberi perha
tian lebih ketimbang kemudian melegalkan tindakan sampai pada batas tertentu. Sudah semestinyalah pemikiran kita lebih diarahkan pada kesadaran bahwa refleksi atas keberadaan hasrat itu sendiri lebih penting ketimbang segala aturan yang (kadang) tak konsisten itu. Apalagi kalo banyak pihak (baca:perempuan) yang merasa dirugikan akan keadaan ini.


Kalo gag merasa dirugikan? Ya terserah c... Kalo aku pribadi, uda pernah merasakan betapa sakitnya ketika seorang kekasih berselingkuh/menjalin cinta dengan perempuan lain.. apalagi kalo uda nikah nantinya... xixixi...

*hanya sebuah sudut pandang dari seorang perempuan*

Wednesday, February 01, 2006

rocket ride...

Back to music... back to epic rock, or should i say.. speed metal? xexexe. Whatever it is, lately my eyes have been widely opened by this kind of music. Gara-gara Edguy! euh, band asal jerman ini bener2 rockin' my world dah... xixixi.
Album barunya Rocket Ride yang baru liris awal 2006 ini terdengar pas n enak di kupingku. Pertamanya c emang rada skeptis juga dengernya, abis.. hello??? Speed metal ala helloween ato iron maiden di taon 2006? apa gag terlalu out of date tuh? xexexe. Tapi ternyata, instead of putting it in a box, aku malah jadi in love abis sm Edguy ni. Padahal lagi... seumur2 aku jadi fans Helloween, Iron Maiden n Dream Theatre belom pernah sekalipun denger ada grup band bernama Edguy. Lha, ternyata mereka uda berkiprah di blantika musik dunia sejak 1995 dengan album Savage Poetry. Dan ternyata mereka aktif juga!! Hampir tiap taon ngeluarin satu album... hmmm... weird isn't it, since I haven't heard of them?

Anyway, sepintas lalu musik Edguy emang gag bisa dibedain sama band2 speed metal laen, (yang mungkin lebih populer ^^p) macam Helloween ato Iron Maiden. Tarikan suara Tobias Sammet di vokal yg khas epic band, tinggi melengking powerful n full vibrasi. Duo gitar Dirk Sauer n Jens Ludwig yg jadi roh musik ini... distorsi rhythm yang mendominasi bercampur dengan sayatan lead guitar yg arrggghhhh energik n bersemangat! Cabikan bas dari Tobias Exxel yg lincah menulangi tiap aransemen lagu... n gag lupa gebukan drum n cymbal plus dentuman double pedal bass dram dari Felix Bohnke yang memompa jantung.... Semuanya dikemas dalam satu aransemen penuh musik yg rapi n entertaining. Yummy... ^^p

Enak didengerin waktu semangat lagi nglokro or pas lagi ngerasa sentimentil yg tidak pada tempatnya... xexexe. Karena buatku Edguy khususna Rocket Ride ini bisa numbuhin semangat, menjernihkan pikiran or sumtimes put me back on my line, back on my logic. xixixi..


Seluruh track dalam Rocket Ride ini recommended to be on ur playlist. Tapi ada 2 track yg the most highly recommended, yaitu Return To The Tribe sama The Asylum. Return To The Tribe perlu diberi credit khusus karena di sinilah kekuatan Edguy bener2 terlihat. sebuah track yg 'speed metal' banged lah, pokoke. Deruman high speed sound yang menerus bagaikan mesin terdengar mencolok setelah track2 sebelomna yg bertempo middle. dan satu lagi yang bikin Returt To The Tribe jadi special adalah duet vokal n lead gitar di interlude... gileeee.... keren bangeeeddd! Aneh c dengernya, tapi asik.. xexexe.


En then, The Asylum.. dengerin track yg satu ini pasti bakal keinget sama Before The Dawn-nya Judas Priest, ato Fear of The Dark-na Iron Maiden, ato Sanitarium-na Metallica... ato Endless Sacrifice-na Dream Theatre. Wufff... what can I say? Jenis2 track yang dangerous, perlahan tapi pasti..., dramatis, menggerus hati (bikin meleleh dah dengernya), bagaikan sebuah requiem. The Asylum sekali lagi membuktikan bahwa band2 heavy metal emang paling piawai menciptakan lagu/nada2 yg mellow n romantis tanpa terkesan cengeng. xexexe, I like it a lot!
Di antara semua pop melodic punk yg cengeng... or musik2 sekarang yg hingar bingar tanpa harmoni n gag nyantol di otak..., Edguy.. bisa jadi oase yg menyegarkan buat seorang kucing bernama ajenx di sinih. Way to go... speed metal! (biar lu kate gw konvensional ato ketinggalan jaman... ya so be it lah... xexexexexe)

... thx a lot buat didit n rio yg uda kasih album ni.. ^^p