Saturday, January 21, 2006

narasi lama yang terabaikan...

Kompas Rabu, 18 Januari lalu memuat artikel yang berjudul:
"Pertamina Optimalkan Blok di Luar Negeri"...

*manggut manggut*

Ironis gag c? Somehow, diriku yang awam dan biasa2 sajah ini ngerasa sedikit miris menangkap ironi besar dari berita yang (sebenernya) bernuansa positip n overwhelming ituh. Menurut data yang beredar, produksi minyak mentah kita sangatlah minim, dan demand kita terhadap minyak itu jauh lebih besar dibanding dengan produksi... makanya dalam upaya mencapai target peningkatan produksi minyak mentah, Pertamina (yang diwakili PT Pertamina EP) mengoptimalkan hasil produksi dari blok migas di luar negeri, based on perjanjian tripartit antara Pertamina, Petronas, n Petrovietnam. Therefore, blok minyak yang segera dioptimalkan produksina itu yang di Malaysia n Vietnam.

Dari 3 blok minyak kerjasama (Malaysia, Vietnam n Randugunting di endonesa) itu, kita akan mendapatkan keuntungan berupa tambahan 7.500 barrel minyak mentah per hari (30%) dari sumur Malaysia, dari Vietnam belom terdata, n dari Randugunting bahkan blom ada penandatanganan kontrak kerja sama.

Overwhelming,emang...

Tapi di lain pihak, IMO berita ini terasa sangatlah ironis karena sebelomna aku pernah terima salah satu 'email gelap' dari seorang kawan (hohoho) yang antara lain menyatakan bahwa.. 60 tahun endonesa merdeka, ternyata cuma mampu menggarap minyaknya sendiri sekitar 8 persen. Can u believe it? Aku c percaya2 ajah, soale email itu meski gelap tapi dari sumber2 yang amat sangat reliable ^^p. Kalo cuma tergarap sekitar 8 persen, ke mana yang 92 persen laennya yah? Tidakkah itu berarti bahwa sesungguhna ibu pertiwi kita ini punya kandungan minyak yang jauh lebih besar dibanding demand masyarakatna?

Dan ternyata sepertina memang narasi konvensional yang didengung2kan itu benar adanya, bahwa sesungguhnya endonesa itu kaya akan hasil buminya, terutama minyak. Tapi apa yang terjadi... kekayaan itu justru disalahgunakan oleh orang2 yang mengaku dirinya pembuat keputusan untuk publik, tapi akhirna malah menjerumuskan bangsa ini ke titik krisis... woof xexexe.

92% dari produksi minyak milik kita itu diserahkan kepada eksplorasi dan ekspoitasi perusahaan2 asing, that's the answer. And this is what i called so ironically. Kenapa kita harus mengoptimalkan blok2 minyak di luar negeri, kalo sebenernya kita bisa memaksimalkan sendiri 92% dari hasil bumi kita sendiri?

Lagi-lagi kebijakan pemerintah disoroti di sini. Salah satuna ya keputusan pemerintah untuk memperpanjang kontrak kerja sama dengan perusahaan2 asing macam Exxon Mobil untuk blok Cepu. Kontrak Exxon diperpanjang selama 20 tahun, yang tadinya habis tahun 2010, skrg Exxon berkuasa di Cepu sampai tahun 2030. Padahal, konon katanya ladang minyak di blok Cepu cadangannya berkisar 600 juta barrell... (ini masih angka kisaran yang didapat pada waktu awal Exxon ambil lisensi untuk eksplorasi minyak dari satu sumur Cepu yang kecil), nha, kabarna sekarang cadangan di blok Cepu ini mencapai 2 miliar barrell dan semuanya ituh... diserahkan ke Exxon. xexexe

Hmmm.... bukan main bukan? (halah)
Sebenernya ada apa c di balik keputusan untuk memperpanjang kontrak ituh? Apakah memang sang pengambil keputusan begitu tergiurnya dengan angka2 jangka pendek yang ditawarkan pihak Exxon? Dan melupakan alasan n logika sederhana, bahwasanya sudah semestina bangsa yang 60 taon merdeka mengerjakan sendiri eksplorasi n eksploitasi minyaknya? N jikalo Exxon hengkang 2010, tidakkah semua laba yang tadinya jatuh ke Exxon bakal jatuh ke tangan endonesa sendiri?

Pertanyaan2 bernada suspicious n menyelidik itu simpang siur di benakku, somehow. Ah,, tapi masa c bapak2 ibu2 yang pintar2 di sana gag mikirin logika sederhana jangka panjang ituh? xixixi....Ato ya, ada banyak pertimbangan laen yg gag terpikirkan olehku, mungkin ajah. ^^p

Tapi IMO, kontrak kerja sama itu bener2 sebuah blunder besar dari pihak pemerintah sebagai regulator.... apalagi kalo kontraknya berbentuk kontrak karya yang sering disebut2 di media massa. Metode kontrak karya ini katanya c cuma ada di endonesa ajah. Jujur aku gag tau secara persis kontrak karya ini yang kek gimana, all I know is, dengan adanya kontrak karya ini bargaining posisi endonesa jadi lemah jika berhadapan dengan perusahaan2 multinasional maupun asing yg mengeksploitasi sda-na. Buktina selama ini, kita seakan gag punya mekanisme dan daya tekan dlm mengawasi kegiatan perusahaan pertambangan. Padahal, pertambangan jelas bisa jadi usaha yang destruktif, n yang jelas bisa mengekstrasi SDA sehingga habis pada titik tertentu.

Belom lagi kalo muncul kasus2 pencemaran macam kasus Newton di Minahasa sono ituh (otonomic science, Thursday, May 19, 2005). Ketika muncul kesulitan waktu ada persoalan lingkungan yg melibatkan masyarakat lokal, pengadilan kita gag akan bisa menyelesaikannya, masalah itu kudu dibawa ke arbitrase internasional. N that's kinda... unrecommended dah xixixixi.

Dengan menyerahkan pengelolaan SDA (dalam hal ini tambang) ke perusahaan asing, selain kita gag bisa belajar untuk berdiri sendiri, mencoba jadi perusahaan minyak dunia misalna, ada lagi nilai kurangna, yaitu karena kita menyerahkan (mengekspor) barang dalam bentuk mentah, maka penyerapan tenaga kerja massal di tingkat lokal pun sangat rendah.

hiyaa... Apapun itu, yang jelas semua uda terjadi. N yang bisa dilakukan sekarang ya cuma... nggg optimasi blok2 yang ada (termasuk yg di luar negeri juga bole.. xexexe). Ato kalo masih memungkinkan c, kalo bisa.. pemerintah gag mengeluarkan izin baru ato memperbarui kontrak kerja dgn perusahaan2 multinasional ituh. Uda saatnya lah, kita lepasin mental inlander kita, sedikit memupuk keberanian untuk belajar berdiri sendiri, n membenahi, mengoptimalkan apa yg kita punya, pelan2.... ^^ Bukankah kita adalah negara yang kaya raya, anak-anak?
hohohohoho...