Friday, January 20, 2006

just about motha moose...

Belakangan ini rajin nongkrongin inbox e-mailkuh, tidak laen dan tidak bukan karena... ada yg ditunggu di sana, apa lagi?
xexexe. Milis Mayapadaprana yang uda kuikuti selama kurang lebih 3/4 taon belakangan ini tiba2 jadi rame. Milis yang aslina membahas masalah spiritualitas, such as praktek2 reiki, kundalini, yoga, meditasi, tarot n so'on (dulu acuh tak acuh soale ngikutina xixixi) tiba2 akhir2 ini jadi ruamee, panasss, n debatable, xexe. Gag laen n gag bukan karena munculna 1 member baru, Ny. Muslim Muskitawati, aliyaz the-so-called Mother Moose yang terkenal ituh.

Kalo yang gabung di milis2 agamis, ato spiritualitas macam Mayapadaprana ato milis universal macem Apakabar pastina bakal familiar banget sama Nyonya Muskitawati inih. Bukan maen, hanya dengan 1 posting beliona ini uda bikin jungkir balik seluruh jagad raya. Dan semakin lama postingannya bikin hampir semua anggota bak kebakaran jenggot. xexexe.

Apa pasal? Yah, FYI buat yang belum kenal sosok Nyonya Muskitawati, Nyonya Hajjah Muskitawati binti Muslim, dia selalu mengaku, ato Bu Mus, ato Mother Moose (xexexe), ngaku tinggal di California AS sebagai pengajar. Sepak terjangnya banyak dikenal di milis2 terutama yang berkaitan dengan isu agama. Opininya tentang agama n penerapannya sangatlah kritis, kalo gag mau dibilang pedes buangeedd.

Terlepas dari bener enggaknya apa yg dia tulis, yang jelas pemikirannya tentang agama n pernak-pernik kehidupan emang full kontroversi. Gag sedikit yang buenci padanya, tapi ya ada juga yang cinta.

Karena meski ngaku sebagai muslimah sejati yang berasal dari keluarga pesantren, Bu Mus ini selalu 'menyerang' agama Islam dan Al Quran. Kenapa aku taro kata 'menyerang' dalam tanda kutip, karena Bu Mus sendiri tidak pernah merasa bahwa ia menghina ataupun menyerang. Menurutnya, ia hanya membeberkan FAKTA dan kenyataan yang ia peroleh dari riset resmi selama bertahun2. Apapun itu, jelas setiap tulisannya telah membuat banyak kalangan panas n bergejolak (terutama emang umat muslim).

Tapi meskipun semua jenis sumpah serapah telah dialamatkan padanya, Mother Moose tetap bergeming, n tetep maju mengobarkan bara api emosi dalam benak orang2 yang merasa diserang... xexexe. Dan segala sebutan binatang pun ancaman tetap deras mengalir menuju ke beliaunya pula.

Well, di sini, yang jelas aku gag akan mengkopipes perdebatan demi perdebatan ato cuplikan2 tulisan dari Bu Mus yang kontroversial ituh (salah2 malah aku yg kena sasaran golok tar ^^p). Yang lebih pengen aku ketengahkan di sini adalah fenomena di balik debat kusir ituh. Tentang gimana sebenernya konsep berpikir Bu Mus yang dianggap menyerang dan menghina, n yang penting adalah, gimana ketika orang2 bereaksi tatkala dalam benaknya ia merasa diserang. Apakah akan defensif, balik menyerang, ato netral? Dan jika balik menyerang, metode penyerangan apakah yang bakal dipilihnya?
hmm...

Of course this opinion based on my perspective loh ya, yang tentu aja subyektif dan jelas terdistorsi oleh keyakinanku... xaxaxa.

Oke, kesan pertamaku dalam menikmati debat kusir paling panas yang pernah kualami adalah... bahwa Mother Moose ini bener2 jempolan! Brilian, sistematis, ruar biasa cerdas... dan yang pasti licin bagai belut. Di luar apakah yang dia tulis benar ato salah lo yah, IMO everybody's got their own belief regarding with faith or religion. Nha, kebetulan pendapat Motha Moose ini bertentangan (sangat) dengan dogma yang uda dipercaya berjuta2 orang selama beratus2 abad. Jadi, wajar aja kalo orang2 jadi sangat reaksioner (bahkan cenderung berlebihan) menanggapi tulisannya.

Tapi buatku, sebagai pihak yang netral dalam pokok bahasan yang diangkat Bu Mus, pendapat dan apa yang ditulisna sensible n acceptable. Logis, bisa dibilang... tapi ini pun wajar2 ajah terjadi, kkarena aku selalu percaya bahwa segala sesuatu di dunia ini punya seribu wajah. Tergantung dari sisi mana kita memandangnya.

Dan mungkin karena sebenernya sensible dan acceptable, reaksi penentangnya pun seragam. Hampir sama semuanya... yaitu sangat marah, mengecam dan mengutuk dengan berbagai macam bahasa tapi intina satu... mereka semua berdiri di balik religious prejudice, yang ashamedly tidak terlihat cerdas dan reaksioner semata. Semua berondongan fakta dan pemikiran Bu Mus dijawab hanya dengan kalimat.. "Anda memang jerapah! kutu!kuda! kucing!" (ya.. saya? ^^p) dan deretan penghuni kebon binatang laen. Ato dijawab dengan mengutuk.. menyebut si Motha Moose ini sebagai perempuan yang brutal. Tak tahu diri. Dangkal. Lelaki yang menyamar jadi perempuan. Kafir. Misionaris Kristen yang menyamar sebagai muslimah.Penganut Islam liberal yang keblinger, dan sebagainya.

Mungkin emang, si Motha Moose ini psikopat yang menderita delusi akut untuk masalah religi, ato dia hanya sekedar orang yang terlalu cerdas yang keblinger, dunno. Tapi satu yang harus diakui, dia bener2 membuat hampir semua orang speechless menghadapi berondongan tulisannya. Gag ada satupun yang bisa mengcounter fakta2 yang ia ajukan. Gag ada satupun selama ini yang bisa mengajukan argumentasi yang cukup cerdas untuk mementahkan pendapatnya, selain hanya dengan mengatai2 ato jadi emosi.

Seperti halnya jika suatu saat ada seseorang yang mengataimu sebagai pembohong besar. Yang dikatai pembohong biasanya akan bereaksi marah, dan balas mengata2i seseorang sebagai orang jahat, iblis dsb dsb... seperti yang dilakukan oleh para penentang Bu Mus. Padahal, sebenernya, jika kita bisa menguasai kemarahan, kita bsa mengajukan argumentasi sesuai keyakinan kita toh, bahwa kita bukan pembohong?
check again how emotion should've been controled as far as we can.

Kalo dalam kasus Motha Moose ini, sebenernya aku mengharapkan adanya pihak2 yang cukup berkepala dingin yang bisa mengajukan argumentasi yang cukup cerdas dan acceptable yg bisa menandingi pamer logika dari Motha Moose. Bukan untuk mengetahui argumen siapa yang akan menang nantinya, tapi untuk mendapatkan jawaban bahwa orang2 kita, orang2 endonesa mampu mengekspresikan keyakinannya dalam bentuk kata2 yang bisa membentuk argumentasi kokoh dalam memberi pertanggung jawaban atas tindakan2nya. Jadi... bukan sekedar berdasar religious prejudice yang sering dibawa2 ituh. Lha... kalo tiap orang jawabna "Aku bertindak karena Tuhan" yaa.... selesailah sudah. xixixi. undebatable

Maksudku bukannya mendiskreditkan sebuah religius prejudice yah, tapi.. kebanyakan orang endonesa cuma bisa bertindak tanpa mampu mempertahankan ato mempertanggungjawabkan tindakannya dengan argumentasi yang tepat... dan kalo ada yg meremehkan argumentasi semacam ini, i'm gonna telling y'all.. bahwa itu akan jadi kesalahan yg besar! Dari kemampuan menampilkan argumentasi, bisa dinilai moralitas dalam cara berpikir, mengambil keputusan dan mempertimbangkan dan memilih yang terbaik bagi mereka.

Orang2 yang melakukan bom bunuh diri tentu bisa mengajukan argumentasi yang wahid kenapa mereka melakukan perbuatan semacam itu, tapi yang perlu dicatet adalah bahwa argumen mereka semata religius prejudice, dan ituh... memang sukar dibantah, n therefore... susah dibenarkan pula, karena gag bisa dipertanggungjawabkan secara universal.
Jadi... seseorang yang bisa mempertanggungjawabkan tindakan dengan argumentasi based on logic n rational, itu baru bisa dinamakan baik dan benar secara moril universal.

back to Motha Moose... para penentang yang menanggapi opini Motha Moose memang tidak mengajukan argumen yang memuaskan. Mereka menentang dan mengutuk, tahu dengan pasti bahwa Bu Mus salah besar dan harus diluruskan (menurut versi mereka) tapi gag bisa memaparkan secara sistematis, hanya menghujat dengan emosi. Lah, kalo masalah emosi, Bu Mus melakukannya dengan jauh lebih baik, that's for sure. Tulisannya selalu meledak2 dan menekan... tapi tetap dilakukan dengan cerdas. xexexexe.

Kalo memang kita menganggap orang lain salah dan kita benar... dan kita merasa gatel untuk meluruskan dia... ya, do it.. dengan cerdas. Ajukan argumen yg masuk akal, sistematis. Jika sampai pada akhir argumentasi ternyata opini kita tak berubah..., selamad... berarti keyakinan kita akan semakin terkukuhkan. Tapi kalo pada akhirna kita merasa goyah dengan keyakinan kita... yah, mungkin saatnya kita mereview semuanya... ^^p

Opsi terakhir tadi mungkin yang paling menakutkan kita semua, maka kita berusaha menghindari argumentasi maupun konfrontasi dalam bentuk apapun. Bersembunyi di balik tameng kemarahan dan emosi...lebih untuk meyakinkan diri sendiri bahwa kita benar... tapi, tidakkah itu berarti kita bersembunyi dari diri kita sendiri? tidak jujur terhadap diri sendiri?

Entahlah..... just a small thought with no pretention at all... ^^