Monday, January 02, 2006

edisi doewa ^^

Postingan terakhirku di taon 2005 berkaitan dgn kasus Komunitas Eden yg menarik n menghebohkan ituh. Di situ terungkap suara pemikiranku based on my first impression of this case. Yang kuakui sedikit tendensius, c.. xixixixi. Maksudna tendensius adalah, bukannya aku mendukung kegiatan2 aliran semacam itu, tp yg lebih kusayangkan adalah perlakuan orang2 terhadak komunitas2 semacam itu, yg kuliat sama sekali gag mencerminkan semangat menghargai hak2 asasi n keyakinan orang lain. Beragama, apapun itu merupakan hak asasi orang2, dan negara wajib menjamin kebebasan beragama ini. Tp apa yg terjadi? Justru sebaliknya. Negara ini jadi terlalu jauh mencampuri kehidupan beragama, menetapkan batasan2 ini itu tanpa memikirkan ke-pluralitas-an yang kita punya.

Sebenernya pluralitas ini sangatlah wajar ada dalam kehidupan bermasyarakat. Karena dari situlah agama2 yg berlainan jenis dan cara bermunculan. Tidak hanya itu, bahkan pluralitas dalam intern agama pun mungkin2 aja terjadi, dan itu merupakan cerminan kebebasan, selama hal itu masih wajar n gag menyimpang. Katolik sendiri dulu merupakan ‘perpecahan’ dari Kristen yang kemudian memunculkan Kristen Protestan dan Kristen Katolik Roma. Memang di dalam Katolik belom pernah terdengar ada aliran2 lain baik itu aliran garis keras ato garis lembut (^^), mungkin ada yg namanya persekutuan Kharismatik, tapi inipun tidak berbeda jauh, lain dengan Children of God dalam Kristen yg bisa dibilang garis keras Kristen itu. Kristen Protestan sendiri merupakan salah satu contoh agama plural, karena banyak terbagi dari beberapa aliran, ada Kristen Jawa, Kristen Batak, dll.

Dalam Budha pun dikenal 7 mazhab yang berbeda2, yg sebenarnya punya ajaran yg sama tetapi cara pendekatannya kepada Budha berbeda. Di Indonesia mazhab yg terbesar adalah mazhab Budhayana, yg paling solid. Tapi mazhab2 lainnya juga masih bergerak wajar dan tidak menunjukkan adanya gejala separatis. Kebanyakan dari mereka masih bisa hidup berdampingan dengan damai.

Sementara dalam Hindu emang sepertina gag ada sempalan ato jenis aliran2 yg lain, setauku.

Dan Islam, agama dengan jumlah umat terbesar Indonesia ini sejauh ini mempunyai beberapa catatan ‘penyimpangan’ menurut versi Islam... nabi Ahmadiyah di sulawesi, alirah sholat dwibahasa di jawatimur, n terakhir.. ‘penjelmaan’ malaikat Jibril di Jl. Mahoni 30 Senen, Jakarta Pusat.

Aliran yang terakhir ini emang menuai kontroversi, karena dia dianggap menyimpang, bertentangan dengan apa yang diyakini selama ini, bahwa tidak akan ada lagi nabi turun setelah Muhammad, dan tentang ajaran untuk tidak melakukan sholat...en so’on. N therefore, dianggap telah menodai kesucian agama dan meresahkan masyarakat, dan menyebabkan pemimpinnya, Lia Aminuddin, aliyaz sang ‘malaikat jibril’ itu sendiri dipenjara akhirna...

Terus terang, aku pribadi tidak menyalahkan ibu Lia dan apa yg telah diyakininya.. karena, yah... bagiku, sah2 aja jika orang lain mempunyai keyakinan sedemikian rupa, bahwa dia malaikat, ato dia utusan ato dia Tuhan sekalipun. Itu hak dia toh... siapa tahu dia memang mendapat pencerahan, sapa tau dia memang percaya mendapatkan keselamatan dan kebahagiaan yg hakiki dengan berlaku demikian. Selama dia tidak menggangguku, there’s nuthin’ to do with me, gag masalah.. Paling2 sebagai manusia yg punya keyakinan pribadi, yg cukup percaya dengan kekuatan pemikirannya sendiri hanya akan membatin, “what are you freak or sumtin, madame?” xexexe... ato mbatin, “ini uwong gendeng po pie yo? Ngaku2 malaikat... mana buktina?” that’s enough, n gag perlu diperpanjang lg.

Xexexe... mungkin ada yang pernah buka situs lia-eden ini kah? Ada 2 situs yang dikelola komunitas ini, satu liaeden.org, dan satu lagi mahoni30.org. (sepertina sekarang yg bakal kita temui di sana hanyalah tulisan under-construction). Tapi.. kemaren aku berhasil buka salah satu situsna yang mahoni30.org... cukup menarik isinya, ada halaman inspirasi, cerita, dan renungan2 yang.... ahem, gimana ya ngomongna? Bukan renungan yang terlalu cerdas, c kalo aku bilang... tapi ya lumayan bagus, n wajar, gag kuliat ajaran yg menyimpang dari sana. Kebanyakan isinya tentang ajakan2 untuk lebih mendekatkan diri secara rohani terhadap Tuhan, anjuran2 tentang mengarungi hidup sehari2 yang dikemas dalam berbagai cerita renungan yang meski gag terlalu cerdas, tp menarik. Untuk segmen pembaca dan jemaat eden kelas menengah ya lumayanlah... ^^

Tapi ada satu segmen lagi dalam situs tersebut yg cukup membuatku tertawa geli ketika membacanya... (maap, niy, buat komunitas Eden) yang menampilkan draft surat2 ato edaran2 yang komunitas tersebut pernah keluarkan selama ini. Ada banyak surat yang rata2 puanjang dan ditujukan kepada berbagai macam elemen, ada yang diperuntukkan kepada Presiden SBY (agar mengakui keberadaan komunitas eden sekaligus mengundang SBY untuk mengunjungi ‘kerajaan’ mereka), kepada MUI (untuk tidak memusuhi mereka), kaum muslim (untuk tidak memusuhi dan mengingatkan tentang macam2 tulah dan ayat2 Quran), Metro TV (mengecam penayangan Uncovered Cases yg mendiskreditkan Komunitas Eden), tetangga di sekitar Mahoni 30 (agar tidak perlu takut terhadap eksistensi Komunitas Eden).... dan masih banyak lagi (banyak yg gag bisa dibuka juga c... ^^p). Ada juga surat maklumat yang menyatakan berdirinya Kerajaan yg mereka sebut Kerajaan Tuhan di Jl. Mahoni 30 Jakarta tersebut, lengkap dengan jalan penobatan Lia Aminuddin sebagai Malaikat jibril, Bunda Maria dan anak Lia sebagai Nabi Isa (^^) plus ilustrasi Lia duduk di tahtanya:


Intina, kalo mo diliat dalam kacamata positip c mereka tidak melakukan hal2 yg merugikan. Mereka jelas menegaskan konsep perdamaian dan mengutuk kekerasan. Mengutuk para pelaku bom bali dan pelaku tindak penggerebekan ato pembantaian baik itu yg mengatasnamakan agama maupun anonim. Pengikut Lia Eden ini juga mencantumkan agar para tetangga di sekitar tidak mencemaskan keberadaan mereka karena mereka tidak akan pernah menyakiti orang lain (meski kebanyakan para tetangga itu pasti takut justru jika ada sekelompok org/lebih yg tidak suka dan menggerebek rumah itu, shg mereka kena imbasna... ^^). Mereka juga menyerukan agar kita semua bertobat dan melakukan refleksi melihat kehancuran yg ada di depan mata kita semua, bahwa sudah saatnya kita semua memperbaiki diri dan bertobat.

Isn’t that good ya? Xexexexe.....

Tapi.... sayangnya di sisi lain, justru bukan ajaran2 kebaikan itu yang mengemuka dalam surat2 dan edaran mereka, melainkan kesombongan, arogansi, serta ancaman2 yg terasa mengintimidasi. Yapp.... hal2 tersebut kental sekali menguar di udara. Mungkin emang itu ciri sebuah keyakinan baru yah? Fatalistik, dan intimidatif, dengan tujuan langsung merasuk ke dalam jiwa psikologis seseorang dan menetap di sana. Banyak sekali kata2 Aku adalah.... berhati2lah terhadapku... aku bisa menimpakan azab terhadap kalian semua.... Aku berkuasa untuk... bla bla bla... Kalian tahu kasus bom bali? Bagaimana ketiga kepala pelaku bisa tetap utuh, itu tak lain karena campur tanganku...

Xexexe... dan banyak contoh kasus lain yang ‘diaku’ sebagai campur tangannya sebagai malaikat.

Aku jadi inget gimana reaksiku tiap kali ngeliat seorang ibu menakut2i anaknya untuk gag melakukan hal2 yang dilarang, misalna. Kebanyakan para ibu tersebut menerapkan pola pengasuhan yg menimbulkan rasa takut, dan banyak mengucapkan ancaman2 seperti,”Awas, jangan main tanah, tar dimarahi papa loh...” ato, “jangan main jauh2, tar kamu ketemu monster loh... lhaik kowe. Lhaikk kuwi pocong... pocong...” dsb.. xaxaxaxa> Pola pengasuhan yang bagiku merupakan pembodohan besar2an ini mungkin cocok ya buat masyarakat kelas bawah yg gag mengenyam pendidikan, tp.. jelas tidak akan efektif kl dihadapkan pada lapisan masyarakat yg cerdas dan berpendidikan tinggi.

Back to eden, euh, bagiku yang selalu skeptis akan kata “Aku adalah Ter...” pengakuan2 yg diucapkan komunitas eden tsb hanya akan jadi salah satu bukti bahwa dia bukanlah orang yg besar, bijaksana dan cerdas xexexe. Karena aku percaya kerendahan hati adalah ciri khas kebijaksanaan.

Maka cukuplah ditanggapi dengan manggut2 dan kata “oh ya? Baguslah kalo gituh... “ xixixi

Gag perlulah pake menghimpun massa menggerebek, bertindak anarkis, ato malah memenjarakan sang pemimpinnya. Tindakan2 itu justru menunjukkan bahwa kita sendiri gag menghargai diri dan keyakinan kita sendiri, dan menunjukkan betapa lemahnya benteng hati kita, bisa dengan mudahnya dibuat emosi oleh tindakan orang lain. Don’t let anybody interrupt you that easily lah... xixixixi.

Kalo memang aliran itu dianggap sesat, harusna pihak2 yg merasa berwenang justru mengadakan dialog, berbicara dari hati ke hati, kalo perlu menegur, ato ya biarkan sajah... bukannya memenjarakan.. Karena aku pribadi berpendapat toh, biarkan aliran ini teruji oleh realitas yang ada. Kalo memang benar dia penjelmaan jibril, so be it. Dan kalo memang cuma omong kosong belaka, mereka akan berlalu dengan sendirinya.

MUI dan lembaga2 keagamaan lainnya justru harus lebih memperhatikan umatnya, mungkin dengan mengadakan dialog bersama dan sharing untuk membangun umat yg lebih cerdas menyikapi hal2 semacam ini, sehingga masyarakat bisa memutuskan sendiri mana yang benar dan salah.

Keh keh keh....