Thursday, January 12, 2006

apa kabar hatimu hari ini?

“Hati” hanyalah sebuah metafora..
Demikianlah kesimpulan yang kudapatkan dari perbincangan dengan seorang teman sore ini. sebuah konklusi yang hampir tidak pernah terpikirkan sebelomna (olehku). Well, mungkin pernah dan sebenernya uda tersimpan jauh di benakku, tapi hanya sepintas lalu dan hampir2 tidak disadari.

Euh, mungkin buatmu... dan buat orang2 romantis di luar sana, perasaan bersumber dari hati. Is it? Kenapa pada suatu sore yang cerah tiba-tiba kamu jadi tidak mood, gloomy, dan muram? Tak lain karena hati.. Kenapa kamu menangis sewaktu kucingmu mati suatu pagi? Karena sedih, yang kaurasakan dalam hati. Blame it to the heart, then, fur all uncontrol emotion u felt inside u... xexexe.

Ya, kalo memang benar hati yang jadi biang keladi semua perasaan dan emosi (baik itu positip maupun negatip) yang kita rasakan, di mana letak kontrolnya? Pertanyaan ini muncul seketika, sehubungan dengan pendirianku bahwa manusia sebenernya seharusna mempunyai kontrol penuh terhadap tubuh dan pikiran nya sendiri, bahkan untuk perasaan/emosi yang paling liar sekalipun. Maka sebenernya kalo ada pengakuan bahwa seseorang tidak mampu mengontrol libido-nya misalna.. itu omong kosong. Ato seseorang yang lepas kontrol gag bisa menahan kemarahannya, itu juga bullshit. Gag bisa ato gag mau, itu aja c pertanyaanya ^_^. Tanpa bisa menjawab di mana letak proses kontrol dalam organ hati kurasa kita harus menerima bahwa rationably, hati tidak bisa diterima jadi sumber dari perasaan itu sendiri.

Way to go... hati ‘hanyalah’ sebuah metafora...
Dan dari manakah sumber perasaan/emosi itu sebenernya? Bagaimana dia bisa keluar dan muncul sewaktu2 tanpa kita minta dan (kadang) tanpa setahu kita? Perasaan/emosi adalah merupakan suatu keadaan dalam diri seseorang, ato organisme, ato individu pada suatu waktu. Senang, sedih, terharu dan sebagainya apabila melihat sesuatu, mendengar sesuatu, mencium bau, dsb.

Therefore, perasaan disifatkan sebagai keadaan jiwa sebagai akibat adanya peristiwa2 yang datang dari luar, yg biasa disebut stimulus, ato impuls. Stimulus ini mengenai saraf sensorik pada masing2 individu, terolah di otak yang akhirna menggerakkan saraf motorik yang menjadi penanda munculna perasaan ituh. Kenapa melibatkan saraf motorik? Karena IMO, setiap perasaan yg muncul dalam diri individu pasti memunculkan tanda2 yang secara jasmani terlihat.
Seorang Ro yg baru putus dengan cewenya pasti akan terlihat berbeda dengan Ro biasanya. Ada langkah gontai, dan terutama terlihat beberapa otot kesedihan yang tertarik di wajahnya. Ato jika seorang Yu Tin memecahkan vas antik majikan dan ketakutan, mukanya akan menjadi pucat, keringat dingin keluar, dan jantungna berdebar2 kencang. Ato jika seorang Lintang yang hari ini berulang tahun dan sedang merasa bahagia, di wajahnya otot zygoma major yg ada di sekitar mulut akan tertarik sehingga menimbulkan senyum setiap saat. Itulah, perubahan2 jasmani sebagai rangkaian dari emosi/perasaan yang dialami individu yang bersangkutan.

That’s why they could created Lie Detector, dengan memasang alat2 elektronis di bagian dada untuk mencatat perubahan pernapasan, di tangan untuk mencatat perubahan peredaran darah/denyut jantung, dan pada jari untuk melihat perubahan pada kulit.

Hippokrates, seorang filsuf Yunani di jaman 400SM menyatakan bahwa dari otak timbul perasaan gembira, bahagia, sedih, sakit hati, dan tertekan. Otak adalah alat yang mengadakan interpretasi terhadap dunia luar bila manusia berada dalam keadaan sadar. Tp IMO, selain mengadakan interpretasi, otak (dalam hal ini pemikiran) juga berkuasa untuk menentukan sejauh mana perasaan/emosi itu muncul. Di otak kita telah ada mekanisme pertahanan diri yang menentukan besar kecil dan muncul tidaknya emosi tersebut. Dan mekanisme ini, selain bergantung pada stimulus dari pihak luar juga bergantung pada 3 hal intrinsik:
1. Keadaan jasmani individu. Seseorang yang gag sehat bisa lebih terpengaruh perasaannya. Jadi lebih perasa, misalna.
2. Sifat dasar individu. Ada yang emang dari sononya pemarah, ada yang biasa aja. Struktur pribadi yang bawaan dari lahir ini akan menentukan mudah tidaknya seseorang mengalami suatu perasaan
3. Keadaan individu suatu waktu (di luar jasmani) Misalna, seorang yang sedang kalut ato dikejar dedlen, biasanya mudah terkena perasaan tertentu dibanding ketika ia berada dalam keadaan normal.

Ketiga keadaan inilah yang menimbulkan kadar perasaan/emosi yang berbeda2 di tiap2 orang. Ada orang yang merasa sangat sedih seakan dunia runtuh ketika kucing kesayangannya mati, ada yang biasa aja, malah ada yang bersorak sorai (lho)... basically karena ketiga elemen inilah. Jadi, even stimulusna sama, tapi perasaan yang ditimbulkan stimulus tsb bisa berlainan.

Tapi gimana bisa membuktikan bahwa otak-lah yang berperan penuh mengolah kemunculan perasaan/emosi ini? Adakah pembuktian empiris yang bisa menjelaskan fenomena munculna perasaan/emosi ini selain dari penjelasan deduktif tentang munculnya tanda2 jasmaniah tadi?

Dunno, yg bisa kupikirkan sekarang adalah pernyataan yang keluar dari pemikiran seorang lelaki kecil bungkuk berambut pasir yang mungkin bisa sedikit banyak menjelaskan. Bahwa tubuh, hanyalah kumpulan bahan kimia, jaringan dan impuls saraf. Pikiran, tak lebih dari gelombang listrik dalam otak. Rangsangan seksual, tak lebih dari aliran kimia pada ujung saraf tertentu. Kesedihan, tak lebih dari asam yang menusuk otak kecil. Dan itulah... fenomena perasaan/emosi menurut versi Albert Einstein. Sensible, huh? ^^p

Obviously, the conclusion is... betapa perasaan sesungguhna bersumber pada otak, n therefore, perasaan/emosi seharusna bisa kita kontrol sepenuhnya, once we figure out the source. Kita semua bisa dan harus mengontrol emosi yang kita keluarkan. Or at least menyalurkannya ke tempat2 yang tepat.

Dan hati... sekali lagi... hanyalah sebuah metafora. So, bagaimana dengan nurani? Di manakah letaknya?

inspired by: conversation with goeh_z