Saturday, January 14, 2006

ambisius...

Someone i’ve secretly admire once say unparticularly like this:
perempuan ambisius selalu bisa menarik perhatianku, entah kenapa...
Nah lho... bold underlined for the word “ambitious”... xexexe
Honestly, that statement kinda dropped me out a lita bit ^_^, made my name widely red crossed on his list, i suppose...

Hell, “ambitious” and “ajenx” will never ever get along together. Entah dari sononya ato emang sejak get along with one of my prince charming with initial B.A. aku berubah jadi seseorang yang hampir tanpa ambisi, dunno. Xexexe. (kok malah jadi nyalahin orang, c..?^_^). Tapi emang dari dulu sejak kecil aku merasa bukanlah karena ambisi aku bisa masuk di hampir semua sekolah favorit di jokja ini.. smp8, sma3 n finally teknik ugm. Buktinya prestasiku di tahun2 yang aku jalani di masing2 sekolah fave itu ya standard2 ajah, biasa2 ajah, (in fact, sumtimes underachievement c) xixixixi.

Jadi, aku sama sekali tidak pernah merasa sebagai seorang perempuan yang ambisius, meski salah seorang mantan bosku pernah menilaiku sebagai orang yang selalu ingin mencapai puncak, (dan kebetulan aku selalu bisa mencapainya ^^p). hmm... itu sebabnya ia hampir selalu menaruhku di ‘posisi bawah’, karena katanya ia tahu aku akan selalu berusaha crawling ke atas, n made it in the end.

Wah, kalo diliat dari sudut pandang mantan bos itu ya... aku bisa jadi punya bibit2 ambisi dalam diriku, tp benarkah? Mungkin orang luar melihatnya seperti itu, tapi buatku pribadi, I’m just running on my line. Aku melakukan apa yang uda ada dalam skripku, doin’ my best, untuk terus maju n berkembang tanpa terdistorsi adanya ambisi. Itu menurutku c..

Please note, that ambitious is much different with ‘desire’. Well, of course I desire sumtin, karena apalah manusia tanpa hasrat dan keinginan? Ambisi adalah sesuatu yang lain, buatku. Mungkin dalam hal2 tertentu ambisi bisa dianggep sebagai perkembangan dari desire, tapi, kalo desire aja uda cukup, kenapa harus punya ambisi c?

Kata “ambisi’ sounds like a must-do situation, or a must-do task, n who can guarantee that on the way doing it we did everything in proper, dan tidak menghalalkan segala cara? Karena kurasa banyak banget contoh orang2 yang gag bisa mempertahankan fighting spirit untuk mencapai ambisi berada dalam level in proper ato secukupna. This fighting spirit seems to be used for unnecessary purposes. As a result, necessary issues like the ambition itself are not taken care of.

Boleh2 aja c sebenerna berparadigma result oriented, fulfilling our ambition, tapi kalo tanpa diimbangi good in proper process ya sama aja bo’ong. Inget2 pesen mama, jeng, bahwa moral yang baik adalah ketika kita mencapai tujuan yang baik dengan jalan yang baik pula... (kalo mau nanya yang baik itu yang gimana, baca postinganku 6 November 2004 lalu, yg judulna “analitis kata” ^^)

Therefore, I prefer to stand far away from “ambition” and be proud to be part of unambitious people. Xexexe.
Tanpa ambisi, kita masih bisa idup kan? Toh kita masih punya desire, masih punya need, masih punya will yang bisa menjadi lecutan ringan untuk meningkatkan taraf hidup kita kalo kita mau. Ambisi hanya akan memenjarakan kita dalam strict target yang bahkan mungkin beyond our reach. Masih mending kalo kita ber-ambisi dengan melihat kemampuan dan kapabilitas yang kita punya. Lha... kalo asal berambisi? Gawat ituh ^_^.

Xexexe, tapi mungkin emang dasar kucing yang satu ni emang sifatna gini... sudah cukup puas dengan hidup yang bagi sementara orang mungkin belom apa2, menikmati hidup dalam kondisi apapun, as long as organized n flowing, just like water....
Seperti quote Heraklius (pra-socratik filsuf 500SM) yang terkenal itu, yang stuck in my head lately, bahwa segala sesuatu dalam realitas berada dalam proses, berfluktuasi dan berubah. Tidak ada orang yang bisa menginjakkan kakina pada aliran sungai yg sama, karena aliran itu tak berhenti mengalir, berubah dan berpindah oleh air yang baru.
This is why, ambitious could never take part in my life. Karena ketika aku berambisi untuk menginjakkan kakiku di aliran sungai tertentu misalna, itu mungkin akan bisa membawa kematian bagiku... karena aku bisa terseret arus. Fighting spirit yg kugunakan untuk mencapai aliran sungai itu mungkin bisa melemahkan inderaku yang laen, seperti koordinasi dan keseimbangan tubuh. Akan lebih baik jika kita memfokuskan energi untuk mempelajari aliran sungai tersebut, watch our step, calculate where we can safely put our feet on.

Karena bagi si kucing, hidup selalu punya 1001 cara untuk bisa jungkir balik gag keruan kaya badut sirkus, n the best way to deal with it is... yah, flowing, try to adapte in every changes, organize everything below our reach, enjoy as much as we can, and particularly no ambition involved at all... xexexe.

Meskipun dengan menjadi ‘perempuan-tanpa-ambisi” aku harus terima resiko untuk tidak bisa menarik perhatiannya, yah.... peduli apa c? Xexexe. Moga2 di luar sana masih ada good guy yg tertarik pada perempuan yang biasa2 saja dan tanpa ambisi ini... xaxaxa.
Overal, I just want a man who’ll found n accept me exactly the way I am, that’s all... (lho, arahnya kok kesitu :p)

Insipred by: one of prince charming candidate on my list .... waxaxaxa... ssttt