Saturday, January 28, 2006

who's de bad guy?

Kemaren pas lagi blogwalking aku baca di blogna ardho, ada footnote... (eh, ato apa ya istilahna) pokokna quote di kaki halaman itu loo yg bunyinya:
Manusia Terbaik di Indonesia adalah Seorang Penjahat

xixi.... trus jadi inget sama puisi yg pernah dibikin 'seseorang' dari balik terali penjara, yang kurang lebih temanya kek gitu. Puisina kek gini bunyinya... euh, tp sebelom dibaca i must warning y'all that u need parental advisory to read it. Khusus dewasa dan yg berpikiran dewasa!, gitu disclaimerna mustina xexexe.

Andai Kutahu

Saat ku tak melihat bulan
Atau pun matahari
Seperti di lorong yang penuh debu
Ada maling di sekitarku
Juga koruptor KPU

Sayang, aku di sini sendiri
Tak ada tempat untuk menangis
Setitik air mata tak kuperoleh
Entah kenapa aku tersenyum
Melihat nyamuk-nyamuk yang tak menggigitku
Padahal aku takut terserang DBD selagi di tahanan ini
Rasanya tak seperti di Surga lagi

Ketika para tahanan lain tersenyum ramah kepadaku
Saatnya aku melihat keberingasan ulama
Tak sama dengan keramahan para tahanan di sini
Telah terbalikkah dunia?
Kaum kriminal jadi ramah, ulama dan aktivis masjid jadi pemberang

Aku tersenyum kala melihat langit sekejap
Aku menjemur kesetku di ruang tengah
Kulihat Hercules menatapku ramah
Oh, dia yang namanya Hercules?
Aku ingat dia yang menyerang kantor Indo Pos
Para penyerang masuk tahanan
Tapi penyerangku bahkan menuntutku dan aku yang ditahan

Apalagi ini? Dunia benar-benar terbalik
Ah, aku melamunkan dunia yang sedang terbalik
Keyakinan dan kejahatan disamakan
Sama-sama dibui

He, he, he… Aku dibui karena keyakinanku
Jati diriku sebagai utusan Tuhan yang tak dipercaya
Harus dibasuh melalui tekanan
Lebih-lebih lagi Surgaku dan Kerajaanku
Jangan memicingkan mata,
sebelum aku selesai mengajarimu menilai Neraka dan Surga

He, he, he… Surgaku kini di Polda Metro Jaya
Ada AC di sana, polisinya pun ramah
Barangkali supaya Jibril melihat mereka ramah padaku,
Atau entahlah…

Pokoknya mereka semua ramah kepadaku
Andai kutahu, polisi-polisi itu ternyata santun
Ramah dan tak minta apa-apa padaku
Tentu aku tak perlu takut kepada polisi
Tak satu pun yang mencoba memerasku
pungli untuk jam bezuk pun juga tak mengenaiku
Syukurlah… aku sungguh bersyukur
Keteraniayaanku hanya seperti aromanya saja
Di dalam sini penuh senyum
Aku bahagia di sisi Tuhanku yang tercinta
Aku bahagia, Jibril mengajariku menyanyi

Kini aku menyanyi lagu lama sekali
Katanya itu lagu Vogues 1968

Ini lagunya:
My Special Angel
You are my special angel,
Sent up from above
The Lord smiled down on me
And sent an angel to love
You are my special angel
Right from paradise
I know that you're an angel
Heaven is in your eyes
A smile from your lips
Brings the summer sunshine
The tears from your eyes
Brings the rain
I feel your touch
Your warm embrace
And I'm in heaven again
You are my special Angel
Through eternity
I'll have my special angel
Here to watch over me
You are my special Angel
Through eternity
I'll have my special angel
Here to watch over me
Here to watch over me
angel, angel, angel…

Terima kasih Tuhan,
ada lagu lama yang menghibur hatiku

Thank's God

Jakarta, 11 Januari 2006

Rumah Tahanan Polda Metro Jaya


xexexe... figure out already who's the writer of that simple poem? Yapp.... Madame Lia Aminuddin si 'Malaikat Jibril' itu tuh.
fiuhh... tanpa kata2 yang bersayap, madame lia seakan ingin menunjukkan kepada dunia gimana sebenernya pandangannya terhadap lingkungan sekitarnya. Dan ya... IMO, kita harus menghormati visinya bahwa ternyata dunia itu seperti itu... uda kebalik2,yg keliatannya baik n bermoral ternyata seorang bad guy, ato sebalikna...
Ada seseorang yg menulis gini tentang puisi Madame Lia ini, n i like how it sounds:
pabila raga terpenjara dalam batasan tembok
sebuah keyakinan tetap membebaskan rasa ke cakrawala tak berbatas
karena dia yang tidak lagi berdiri di atas jejak benar salah tahu,
sesungguhnya fanatisme persepsi adalah penjara yang paling menakutkan

Agreee!! damned I agree!!! ^^p

i'm craving... only want what i can't have

My mom once said to me that I have tendency of wanting something beyond my reach: Aku punya kecenderungan untuk mengingini sesuatu yang tidak bisa/susah kudapat.
xexexexe...
The truth is, aku hampir2 tidak menyadarinya. All I know, hidup memang tidak terlalu murah hati memberikan apa yg aku inginkan selama ini. Memang banyak sekali keberuntungan dan kebahagiaan yg kudapat, tetapi semuanya pun gag kudapatkan gratis dan tersedia gitu ajah. Meskipun begitu, I really thank God for all difficulties nor blessed that He put on my shoulders.

Aku merasa tidak pernah menetapkan target untuk mengingini sesuatu beyond my reach, kalo itu yg dimaksud ibuku, tapi entah... somehow, mungkin memang desire itu muncul dengan sendirinya, n kebetulan selalu jatoh pada hal2 yang susah kudapat. Yeah, siapa c yang bisa mencegah perasaan suka/keinginan yg tiba2 muncul? Memang ada kontrol diri, tapi bukankah self control itu bisa digunakan ketika keinginan/perasaan itu telah muncul?
Seperti halnya, kita semua punya bibit perasaan marah dalam diri kita. Makanya, kita gag bisa mencegah perasaan marah itu tiba2 muncul pada waktu tertentu toh? Yang bisa kita lakukan adalah manajemen emosi setelah itu... apakah membiarkannya keluar tak terkontrol, ato membunuhnya, ato memendamnya... ato menyalurkannya.

Sama seperti keinginan. Mengingini sesuatu yang susah didapat itu wajar adanya, as long we know how to deal with it. Asal kita bisa cukup bijaksana dengan tidak jatoh ke dalam usaha pengkultusan 'sesuatu' tersebut. N kalo uda dapet apa yg diinginkan? It'll be a great achievement for us.. ^^p Kalo gag dapet2 juga, ya... namanya juga susah didapet? yo nothing to lose aja toh. xexexe.
Mencintai orang yang salah (which is always happened to me, hiks :(), mengincar pekerjaan yang terlalu besar, Bermimpi meningkatkan taraf hidup terlalu tinggi n contoh2 laennya yang tentunya banyak n sering dialami orang2 di seluruh penjuru dunia... ini wajar bukan?

Alasan yg baru aja kepikiran adalah... human indeed, always destined to seek (n destroy, in the end). Kebutuhan mencari dan terus mencari sesuatu yg baru ini bisa mengancam eksistensi hal2 yg settle. Jadi untuk me-repressed kebutuhan mencari yg baru, bisa dilakukan dengan menginginkan/mencari satu hal, tapi yang susah didapet toh?
halah... logika yang aneh, chicken, gag mutu! Pembenaran diri!

eniwe, tp mungkin bukan ini yg dimaksud ibuku c... mungkin maksud beliau mengeluarkan statement ato judgement itu yaa tujuannya agar aku mau nurunin standard ku sedikiiitt ajah... xexexe, isn't that true, mum?
Sudah saatnya melepaskan jiwa petualang, melepaskan rasa penasaran akan tantangan, n start to build sumtin settle for life..gitukah?
Tapi... kan aku dah bilang, aku bukannya sengaja mengingini sesuatu yang tak bisa kuraih.. it comes up just like that. What can I do except manage it well, then? Karena... kenapa kita harus mengkotak2kan keinginan kita c? plis de ah...

benerbener gag mutu, dah...
lagi gag mutu abizz...

Friday, January 27, 2006

failure, my friend?

"Mungkin emang aku gag qualified, jenx? Ato aku emang orang yg gagal?"...

Wah, wah sahabat... sepertina aku bakalan jadi orang pertama yang memarahi n menceramahimu abis2an if u say those words again. Orang yang gagal.. uh, c'mon... setiap orang pasti pernah mengalami kegagalan pada suatu waktu tertentu, tapi TIDAK pada setiap jengkal hidupmu kan?
'Gagal' dalam konotasi keadaan pada satu waktu tertentu itu wajar, yang patut diluruskan adalah apabila kata 'gagal' sudah dijadikan suatu predikat yang disematkan pada satu individu. No, I definitely won't agree with that.

Failed on fulfilling ur target, failed on reaching ur goal, failed on stepping forward.... is a common thing happened in our life. n IMO, justru kegagalan2 itulah yg membuat kita a step ahead than yesterday. Dengan mengalami kegagalan kita bisa jadi manusia yang lebih baek dari kemaren, tentunya dengan serat emosional yang lebih kuat dan lebih tebal ketika kita berhasil melewati periode gagal tadi.

Anyway.. pernahkah kau mengutik2 what's behind a failure?
gagal berarti ketidakberhasilan dalam mencapai tujuan... (duh, seorang mas bima pasti bakal mencemooh 'definisi-negasi' macam begini nih ^^p). IMO, kegagalan berarti berkaitan dengan 3 elemen yaitu rencana, aktivitas dan target/tujuan. . R.A.T. Penyebab ketidakberhasilan itu bisa terletak di rencana, bisa juga di aktivitas, ato di tujuan.
Di rencana.. mungkin disebabkan ketidakmatangan rencana yg dibuat?

Di aktivitas... bisa disebabkan karena faktor2 x ato faktor eksternal yg gag terduga sebelomna.
Di tujuan? Bisa disebabkan karena kita salah menentukan sasaran tembak target kita? Mungkin terlalu tinggi atokah terlalu jauh misalna?

Sebenernya di sinilah letak kelebihan review. Gag ada salahnya kita berhenti sejenak (baik itu ketika mengalami kegagalan mopun kesuksesan) untuk mencari tahu n menguraikan apa yg uda dilakukan kemaren. Kalo gagal, dengan review ini bisa diketahui di manah sekrup yg lepas.. n kalo sukses, bisa dijadiin patokan mana ajah kelebihan kita selama ini, n optimalkan bagian ituh. Gitu kan?

Yapp... tapi sebenernya ada fenomena laen di balik kata 'gagal' itu. What was that? hiyaa... sadar gag c, bahwa kegagalan itu sangat mungkin dirasakan karena paradigma kita sebagai individu -yang seharusna punya orisinalitas pemikiran- telah terdistorsi oleh paradigma orang lain?
Ketika dalam benak kita telah terplot bahwa suatu kondisi X merupakan kegagalan bagi orang laen dan secara gag sadar terdoktrin ke benak kita bahwa kondisi X adalah juga kegagalan bagi kita?

Contohnya... paradigma yang terplot di masyarakat adalah lelaki 25 taon yg telah lulus kuliah seharusna sudah bekerja, mapan n mungkin berkeluarga. Jadi.. kalo ada seorang lelaki 26 taon yang kerjanya cuma glundang glundung bareng temen2nya tanpa bekerja.. adalah orang yang gagal! xexexexe... (nama dan karakter yang menyertai tulisan ini fiktif belaka, tidak ada kemiripan dengan kisah nyataa xexexe)
Ato ketika orang menjumpai seseorang yang putus cinta berkali2, maka stigma yg melekat di kebanyakan orang adalah bahwa dia orang yg gagal dalam bercinta..

Sebenernya gag ada salahnya dengan stigma2 macam itu c, asuaaalll.... orang2 yg terstigma bisa menyikapinya dan menjadikannya sebagai cambuk/lecutan ringan untuk lebih meningkatkan taraf hidupna sesuai standard yg berlaku di masyarakat.
Tapi.... sayangnya, kebanyakan yg terjadi adalah, justru stigma itu bakalan terus melekat di orang yg bersangkutan, n parahnya bakalan berpengaruh besar terhadap kejiwaan seseorang. Orang yg bersangkutan bisa terancam terus tenggelam dalam stigma bahwa dia sendiri orang yang gagal... dan ini... bisa mengakibatkan depresi yang berlebihan.

Data dari berbagai penelitian epidemiologi psikiatri menunjukkan: sekitar 5 persen penduduk Indonesia pernah mengalami depresi pada suatu masa tertentu (point prevalence). Dan, sekitar 25 persen dari penduduk Indonesia pernah mengalami depresi semasa hidupnya (life-time prevalence). Penyebab utama depresi pada umumnya adalah rasa kecewa dan kehilangan. Kebanyakan orang yang depresi merasakan bahwa kenyataan hidupna gag sesuai dengan keinginan n harapannya di awal. Ini... definisi lain dari 'kegagalan' toh?

Jadi.... kalo kita merasa sebagai orang yg sedang-tidak-gagal dan menyaksikan ada orang yang sedang-gagal, ada baiknya gag buru2 menjudge bahwa beliaunya itu orang yg gagal, palagi menyematkan bahwa dia orang gagal for the rest of his/her life, it was so unfair!!! dan itu bakalan berpengaruh besar buat kejiwaan seseorang (u know lah, out there, there're so many people who consider a lot of what people say about them..)xexexe

Dan... jika kita merasa sedang-gagal, ada baiknya yah.... review ulang itu tadih... rencana_aktivitas_tujuan. Once we get the reason of our failure... apakah itu karena faktor intrinsik dari diri sendiri mopun faktor eksternal, ya bangunlah kembali... mulai dari nule lagi..
Kalo gag ada yang salah dari ketiga elemen R.A.T tadi, tp kita tetep merasa gagal, yah mungkin perlu dipertimbangkan untuk investigasi diri sendiri, apa bener predikat gagal itu berasal dari diri kita sendiri, atokah hanya stigma yg melekat di masyarakat? kalo emang kita merasa bahwa orang lain pasti memandang kita gagal, cuma stigma masyarakat... ya.. kembalikan lagi ke masing2 individu, tidakkah kita ingin jadi diri kita sendiri, yg gag terdikte oleh kemauan n standard orang laen?
If he's comfortable with the condition di mana dia glundangglundung di usia 25 taon n belom bekerja, yah so be it lah yaoww.
If she enjoyed keep breaking up with any of her boyfriends, it's her choice.

Standard orang laen biarlah jadi kepemilikan orang laen. It's about the time, that we have our own standard n way of life. Mine is mine, n yours is yours.... xexexe. Mungkin bisa dijadikan refleksi ato landasan pemikiran yg gag mengikat, tapi jangan biarkan standard orang laen mengemudikan hidup kita sedemikian rupa, palagi kalo itu bahkan menimbulkan ketidaknyamanan pada diri kita..
Just like what Rene Descartes (Prancis, abad XVII) have did. Mungkin ini contoh yang ekstrim yah... ^^p. Dia melepaskan segala keyakinan n opini yg terpatri dalam hidupna (kala itu kaitannya dengan dominasi dogma gereja Prancis) dan secara berani mengembangkan ilmu pengetahuan yg ia sebut kebenaran based on logic n rationally thought. Di mata orang2 di sekitarnya waktu itu, dia jelas orang yg gagal.. anak pengacara dari keluarga sangat terhormat yg menjual seluruh kekayaannya untuk glundang glundung berkelana dari satu tempet ke t4 lain.. meditasi n berusaha mencari kebenaran pengetahuan sejati, yg solid n permanen. Mencari ilmpu pengetahuan yg tunggal dengan jalan penyatuan filsafat n logika ilmu pengetahuan dalam satu totalitas sistematis. Banyak ditentang, didiskreditkan, n dicap gagal.. tp dialah yg menciptkan mode filsafat modern yg banyak dipakai kelak.

This is what he said on his book Meditations yang pernah dilarang penerbitannya:
"Segala sesuatu harus dibuang secara keseluruhan sekali seumur hidupku, jika aku ingin menetapkan segala sesuatu yang solid dan permanen dalam ilmu pengetahuan...."







Saturday, January 21, 2006

narasi lama yang terabaikan...

Kompas Rabu, 18 Januari lalu memuat artikel yang berjudul:
"Pertamina Optimalkan Blok di Luar Negeri"...

*manggut manggut*

Ironis gag c? Somehow, diriku yang awam dan biasa2 sajah ini ngerasa sedikit miris menangkap ironi besar dari berita yang (sebenernya) bernuansa positip n overwhelming ituh. Menurut data yang beredar, produksi minyak mentah kita sangatlah minim, dan demand kita terhadap minyak itu jauh lebih besar dibanding dengan produksi... makanya dalam upaya mencapai target peningkatan produksi minyak mentah, Pertamina (yang diwakili PT Pertamina EP) mengoptimalkan hasil produksi dari blok migas di luar negeri, based on perjanjian tripartit antara Pertamina, Petronas, n Petrovietnam. Therefore, blok minyak yang segera dioptimalkan produksina itu yang di Malaysia n Vietnam.

Dari 3 blok minyak kerjasama (Malaysia, Vietnam n Randugunting di endonesa) itu, kita akan mendapatkan keuntungan berupa tambahan 7.500 barrel minyak mentah per hari (30%) dari sumur Malaysia, dari Vietnam belom terdata, n dari Randugunting bahkan blom ada penandatanganan kontrak kerja sama.

Overwhelming,emang...

Tapi di lain pihak, IMO berita ini terasa sangatlah ironis karena sebelomna aku pernah terima salah satu 'email gelap' dari seorang kawan (hohoho) yang antara lain menyatakan bahwa.. 60 tahun endonesa merdeka, ternyata cuma mampu menggarap minyaknya sendiri sekitar 8 persen. Can u believe it? Aku c percaya2 ajah, soale email itu meski gelap tapi dari sumber2 yang amat sangat reliable ^^p. Kalo cuma tergarap sekitar 8 persen, ke mana yang 92 persen laennya yah? Tidakkah itu berarti bahwa sesungguhna ibu pertiwi kita ini punya kandungan minyak yang jauh lebih besar dibanding demand masyarakatna?

Dan ternyata sepertina memang narasi konvensional yang didengung2kan itu benar adanya, bahwa sesungguhnya endonesa itu kaya akan hasil buminya, terutama minyak. Tapi apa yang terjadi... kekayaan itu justru disalahgunakan oleh orang2 yang mengaku dirinya pembuat keputusan untuk publik, tapi akhirna malah menjerumuskan bangsa ini ke titik krisis... woof xexexe.

92% dari produksi minyak milik kita itu diserahkan kepada eksplorasi dan ekspoitasi perusahaan2 asing, that's the answer. And this is what i called so ironically. Kenapa kita harus mengoptimalkan blok2 minyak di luar negeri, kalo sebenernya kita bisa memaksimalkan sendiri 92% dari hasil bumi kita sendiri?

Lagi-lagi kebijakan pemerintah disoroti di sini. Salah satuna ya keputusan pemerintah untuk memperpanjang kontrak kerja sama dengan perusahaan2 asing macam Exxon Mobil untuk blok Cepu. Kontrak Exxon diperpanjang selama 20 tahun, yang tadinya habis tahun 2010, skrg Exxon berkuasa di Cepu sampai tahun 2030. Padahal, konon katanya ladang minyak di blok Cepu cadangannya berkisar 600 juta barrell... (ini masih angka kisaran yang didapat pada waktu awal Exxon ambil lisensi untuk eksplorasi minyak dari satu sumur Cepu yang kecil), nha, kabarna sekarang cadangan di blok Cepu ini mencapai 2 miliar barrell dan semuanya ituh... diserahkan ke Exxon. xexexe

Hmmm.... bukan main bukan? (halah)
Sebenernya ada apa c di balik keputusan untuk memperpanjang kontrak ituh? Apakah memang sang pengambil keputusan begitu tergiurnya dengan angka2 jangka pendek yang ditawarkan pihak Exxon? Dan melupakan alasan n logika sederhana, bahwasanya sudah semestina bangsa yang 60 taon merdeka mengerjakan sendiri eksplorasi n eksploitasi minyaknya? N jikalo Exxon hengkang 2010, tidakkah semua laba yang tadinya jatuh ke Exxon bakal jatuh ke tangan endonesa sendiri?

Pertanyaan2 bernada suspicious n menyelidik itu simpang siur di benakku, somehow. Ah,, tapi masa c bapak2 ibu2 yang pintar2 di sana gag mikirin logika sederhana jangka panjang ituh? xixixi....Ato ya, ada banyak pertimbangan laen yg gag terpikirkan olehku, mungkin ajah. ^^p

Tapi IMO, kontrak kerja sama itu bener2 sebuah blunder besar dari pihak pemerintah sebagai regulator.... apalagi kalo kontraknya berbentuk kontrak karya yang sering disebut2 di media massa. Metode kontrak karya ini katanya c cuma ada di endonesa ajah. Jujur aku gag tau secara persis kontrak karya ini yang kek gimana, all I know is, dengan adanya kontrak karya ini bargaining posisi endonesa jadi lemah jika berhadapan dengan perusahaan2 multinasional maupun asing yg mengeksploitasi sda-na. Buktina selama ini, kita seakan gag punya mekanisme dan daya tekan dlm mengawasi kegiatan perusahaan pertambangan. Padahal, pertambangan jelas bisa jadi usaha yang destruktif, n yang jelas bisa mengekstrasi SDA sehingga habis pada titik tertentu.

Belom lagi kalo muncul kasus2 pencemaran macam kasus Newton di Minahasa sono ituh (otonomic science, Thursday, May 19, 2005). Ketika muncul kesulitan waktu ada persoalan lingkungan yg melibatkan masyarakat lokal, pengadilan kita gag akan bisa menyelesaikannya, masalah itu kudu dibawa ke arbitrase internasional. N that's kinda... unrecommended dah xixixixi.

Dengan menyerahkan pengelolaan SDA (dalam hal ini tambang) ke perusahaan asing, selain kita gag bisa belajar untuk berdiri sendiri, mencoba jadi perusahaan minyak dunia misalna, ada lagi nilai kurangna, yaitu karena kita menyerahkan (mengekspor) barang dalam bentuk mentah, maka penyerapan tenaga kerja massal di tingkat lokal pun sangat rendah.

hiyaa... Apapun itu, yang jelas semua uda terjadi. N yang bisa dilakukan sekarang ya cuma... nggg optimasi blok2 yang ada (termasuk yg di luar negeri juga bole.. xexexe). Ato kalo masih memungkinkan c, kalo bisa.. pemerintah gag mengeluarkan izin baru ato memperbarui kontrak kerja dgn perusahaan2 multinasional ituh. Uda saatnya lah, kita lepasin mental inlander kita, sedikit memupuk keberanian untuk belajar berdiri sendiri, n membenahi, mengoptimalkan apa yg kita punya, pelan2.... ^^ Bukankah kita adalah negara yang kaya raya, anak-anak?
hohohohoho...

Friday, January 20, 2006

just about motha moose...

Belakangan ini rajin nongkrongin inbox e-mailkuh, tidak laen dan tidak bukan karena... ada yg ditunggu di sana, apa lagi?
xexexe. Milis Mayapadaprana yang uda kuikuti selama kurang lebih 3/4 taon belakangan ini tiba2 jadi rame. Milis yang aslina membahas masalah spiritualitas, such as praktek2 reiki, kundalini, yoga, meditasi, tarot n so'on (dulu acuh tak acuh soale ngikutina xixixi) tiba2 akhir2 ini jadi ruamee, panasss, n debatable, xexe. Gag laen n gag bukan karena munculna 1 member baru, Ny. Muslim Muskitawati, aliyaz the-so-called Mother Moose yang terkenal ituh.

Kalo yang gabung di milis2 agamis, ato spiritualitas macam Mayapadaprana ato milis universal macem Apakabar pastina bakal familiar banget sama Nyonya Muskitawati inih. Bukan maen, hanya dengan 1 posting beliona ini uda bikin jungkir balik seluruh jagad raya. Dan semakin lama postingannya bikin hampir semua anggota bak kebakaran jenggot. xexexe.

Apa pasal? Yah, FYI buat yang belum kenal sosok Nyonya Muskitawati, Nyonya Hajjah Muskitawati binti Muslim, dia selalu mengaku, ato Bu Mus, ato Mother Moose (xexexe), ngaku tinggal di California AS sebagai pengajar. Sepak terjangnya banyak dikenal di milis2 terutama yang berkaitan dengan isu agama. Opininya tentang agama n penerapannya sangatlah kritis, kalo gag mau dibilang pedes buangeedd.

Terlepas dari bener enggaknya apa yg dia tulis, yang jelas pemikirannya tentang agama n pernak-pernik kehidupan emang full kontroversi. Gag sedikit yang buenci padanya, tapi ya ada juga yang cinta.

Karena meski ngaku sebagai muslimah sejati yang berasal dari keluarga pesantren, Bu Mus ini selalu 'menyerang' agama Islam dan Al Quran. Kenapa aku taro kata 'menyerang' dalam tanda kutip, karena Bu Mus sendiri tidak pernah merasa bahwa ia menghina ataupun menyerang. Menurutnya, ia hanya membeberkan FAKTA dan kenyataan yang ia peroleh dari riset resmi selama bertahun2. Apapun itu, jelas setiap tulisannya telah membuat banyak kalangan panas n bergejolak (terutama emang umat muslim).

Tapi meskipun semua jenis sumpah serapah telah dialamatkan padanya, Mother Moose tetap bergeming, n tetep maju mengobarkan bara api emosi dalam benak orang2 yang merasa diserang... xexexe. Dan segala sebutan binatang pun ancaman tetap deras mengalir menuju ke beliaunya pula.

Well, di sini, yang jelas aku gag akan mengkopipes perdebatan demi perdebatan ato cuplikan2 tulisan dari Bu Mus yang kontroversial ituh (salah2 malah aku yg kena sasaran golok tar ^^p). Yang lebih pengen aku ketengahkan di sini adalah fenomena di balik debat kusir ituh. Tentang gimana sebenernya konsep berpikir Bu Mus yang dianggap menyerang dan menghina, n yang penting adalah, gimana ketika orang2 bereaksi tatkala dalam benaknya ia merasa diserang. Apakah akan defensif, balik menyerang, ato netral? Dan jika balik menyerang, metode penyerangan apakah yang bakal dipilihnya?
hmm...

Of course this opinion based on my perspective loh ya, yang tentu aja subyektif dan jelas terdistorsi oleh keyakinanku... xaxaxa.

Oke, kesan pertamaku dalam menikmati debat kusir paling panas yang pernah kualami adalah... bahwa Mother Moose ini bener2 jempolan! Brilian, sistematis, ruar biasa cerdas... dan yang pasti licin bagai belut. Di luar apakah yang dia tulis benar ato salah lo yah, IMO everybody's got their own belief regarding with faith or religion. Nha, kebetulan pendapat Motha Moose ini bertentangan (sangat) dengan dogma yang uda dipercaya berjuta2 orang selama beratus2 abad. Jadi, wajar aja kalo orang2 jadi sangat reaksioner (bahkan cenderung berlebihan) menanggapi tulisannya.

Tapi buatku, sebagai pihak yang netral dalam pokok bahasan yang diangkat Bu Mus, pendapat dan apa yang ditulisna sensible n acceptable. Logis, bisa dibilang... tapi ini pun wajar2 ajah terjadi, kkarena aku selalu percaya bahwa segala sesuatu di dunia ini punya seribu wajah. Tergantung dari sisi mana kita memandangnya.

Dan mungkin karena sebenernya sensible dan acceptable, reaksi penentangnya pun seragam. Hampir sama semuanya... yaitu sangat marah, mengecam dan mengutuk dengan berbagai macam bahasa tapi intina satu... mereka semua berdiri di balik religious prejudice, yang ashamedly tidak terlihat cerdas dan reaksioner semata. Semua berondongan fakta dan pemikiran Bu Mus dijawab hanya dengan kalimat.. "Anda memang jerapah! kutu!kuda! kucing!" (ya.. saya? ^^p) dan deretan penghuni kebon binatang laen. Ato dijawab dengan mengutuk.. menyebut si Motha Moose ini sebagai perempuan yang brutal. Tak tahu diri. Dangkal. Lelaki yang menyamar jadi perempuan. Kafir. Misionaris Kristen yang menyamar sebagai muslimah.Penganut Islam liberal yang keblinger, dan sebagainya.

Mungkin emang, si Motha Moose ini psikopat yang menderita delusi akut untuk masalah religi, ato dia hanya sekedar orang yang terlalu cerdas yang keblinger, dunno. Tapi satu yang harus diakui, dia bener2 membuat hampir semua orang speechless menghadapi berondongan tulisannya. Gag ada satupun yang bisa mengcounter fakta2 yang ia ajukan. Gag ada satupun selama ini yang bisa mengajukan argumentasi yang cukup cerdas untuk mementahkan pendapatnya, selain hanya dengan mengatai2 ato jadi emosi.

Seperti halnya jika suatu saat ada seseorang yang mengataimu sebagai pembohong besar. Yang dikatai pembohong biasanya akan bereaksi marah, dan balas mengata2i seseorang sebagai orang jahat, iblis dsb dsb... seperti yang dilakukan oleh para penentang Bu Mus. Padahal, sebenernya, jika kita bisa menguasai kemarahan, kita bsa mengajukan argumentasi sesuai keyakinan kita toh, bahwa kita bukan pembohong?
check again how emotion should've been controled as far as we can.

Kalo dalam kasus Motha Moose ini, sebenernya aku mengharapkan adanya pihak2 yang cukup berkepala dingin yang bisa mengajukan argumentasi yang cukup cerdas dan acceptable yg bisa menandingi pamer logika dari Motha Moose. Bukan untuk mengetahui argumen siapa yang akan menang nantinya, tapi untuk mendapatkan jawaban bahwa orang2 kita, orang2 endonesa mampu mengekspresikan keyakinannya dalam bentuk kata2 yang bisa membentuk argumentasi kokoh dalam memberi pertanggung jawaban atas tindakan2nya. Jadi... bukan sekedar berdasar religious prejudice yang sering dibawa2 ituh. Lha... kalo tiap orang jawabna "Aku bertindak karena Tuhan" yaa.... selesailah sudah. xixixi. undebatable

Maksudku bukannya mendiskreditkan sebuah religius prejudice yah, tapi.. kebanyakan orang endonesa cuma bisa bertindak tanpa mampu mempertahankan ato mempertanggungjawabkan tindakannya dengan argumentasi yang tepat... dan kalo ada yg meremehkan argumentasi semacam ini, i'm gonna telling y'all.. bahwa itu akan jadi kesalahan yg besar! Dari kemampuan menampilkan argumentasi, bisa dinilai moralitas dalam cara berpikir, mengambil keputusan dan mempertimbangkan dan memilih yang terbaik bagi mereka.

Orang2 yang melakukan bom bunuh diri tentu bisa mengajukan argumentasi yang wahid kenapa mereka melakukan perbuatan semacam itu, tapi yang perlu dicatet adalah bahwa argumen mereka semata religius prejudice, dan ituh... memang sukar dibantah, n therefore... susah dibenarkan pula, karena gag bisa dipertanggungjawabkan secara universal.
Jadi... seseorang yang bisa mempertanggungjawabkan tindakan dengan argumentasi based on logic n rational, itu baru bisa dinamakan baik dan benar secara moril universal.

back to Motha Moose... para penentang yang menanggapi opini Motha Moose memang tidak mengajukan argumen yang memuaskan. Mereka menentang dan mengutuk, tahu dengan pasti bahwa Bu Mus salah besar dan harus diluruskan (menurut versi mereka) tapi gag bisa memaparkan secara sistematis, hanya menghujat dengan emosi. Lah, kalo masalah emosi, Bu Mus melakukannya dengan jauh lebih baik, that's for sure. Tulisannya selalu meledak2 dan menekan... tapi tetap dilakukan dengan cerdas. xexexexe.

Kalo memang kita menganggap orang lain salah dan kita benar... dan kita merasa gatel untuk meluruskan dia... ya, do it.. dengan cerdas. Ajukan argumen yg masuk akal, sistematis. Jika sampai pada akhir argumentasi ternyata opini kita tak berubah..., selamad... berarti keyakinan kita akan semakin terkukuhkan. Tapi kalo pada akhirna kita merasa goyah dengan keyakinan kita... yah, mungkin saatnya kita mereview semuanya... ^^p

Opsi terakhir tadi mungkin yang paling menakutkan kita semua, maka kita berusaha menghindari argumentasi maupun konfrontasi dalam bentuk apapun. Bersembunyi di balik tameng kemarahan dan emosi...lebih untuk meyakinkan diri sendiri bahwa kita benar... tapi, tidakkah itu berarti kita bersembunyi dari diri kita sendiri? tidak jujur terhadap diri sendiri?

Entahlah..... just a small thought with no pretention at all... ^^

Thursday, January 19, 2006

he and she, you and me...

Aku dan seorang Firmansyah pernah berbincang2 suatu siang yang santai. Waktu itu dia memberiku satu task yang akhirna kami praktekkan bersama. Task itu berupa percobaan mengangkat kaki kanan sedikit di atas lantai (sambil duduk). Dalam posisi tersebut putar ujung kaki 180 derajad searah jarum jam. Kemudian, bersamaan dengan perputaran ujung kaki itu tangan kanan menulis angka 8 di udara....

Well, can u make it Jenx? tanyanya kala ituh. Dan kujawab dengan sedikit meringis...
Gag bisa, fir. Xexexe. Faktanya, kami berdua yang kebetulan berbeda jenis kelamin sama2 gag bisa menyelesaikan task sederhana ituh. Padahal, waktu itu kami berdua sedang mencoba membuktikan teori bahwa
"perempuan bisa mengerjakan beberapa hal sekaligus dengan baik, sementara lelaki hanya bisa melakukan satu hal pada satu waktu."

euh, mungkin task yang kulakukan bersama Firman itu gag bisa merepresentasikan teori itu dengan baik yah... Tapi yang jelas teori itu emang ada, n uda banyak dibuktikan lewat penelitian2. Kasus-kasus yang dijadikan sebagai argumen pun banyak. Contohnya, perempuan bisa bisa bicara di telpon, pada saat yang sama masak di dapur dan nonton TV. Atau dia bisa nyetir, dandan, dengerin radio dan bicara lewat hands-free.
Sementara lelaki yang meminggirkan mobil untuk membaca peta jalan biasanya akan mengecilkan radio/tape mobil. Ato ketika lagi baca koran/nonton TV gag bisa dengerin orang lain bicara, misalna.

Belakangan ini aku menyempatkan buat browsing n dari banyak artikel2 yg kutemui menjelaskan bahwa fenomena itu bisa terjadi karena perbedaan struktur otak antara lelaki dan perempuan,n therefore menyebabkan perbedaan dalam memproses informasi yang masuk ke otak masing2. dan lebih jauh lagi, bakalan berimplikasi terhadap bedanya jalan pikiran, pengertian, persepsi, prioritas dan tingkah lakunya.
Struktur otak lelaki diidentifikasi lebih terspesialisasi dan terbagi2, sehingga mereka hanya dapat berkonsentrasi pada satu hal yang spesifik. Dan antara bagian2 otak yang terbagi/terspesialisasi tersebut tidak banyak jaringan yang menghubungkannya. Lain sama perempuan, perempuan mempunyai lebih banyak jaringan yang menghubungkan otak kiri dan kanan hingga memungkinkan perempuan melakukan banyak hal yang sama sekali gag berhubungan pada waktu bersamaan.

Struktur otak lelaki yang terbagi2 dan terkotak2 menyebabkan lelaki lebih bisa memilah informasi yang masuk. Otak lelaki bisa otomatis berperan sebagai arsip. Jadi, di malam hari abis seharian penuh beraktivitas, lelaki bisa menyimpan semua di otak dengan aman. Sementara perempuan gag bisa. Informasi/masalah yang terlalu banyak diterimanya hanya akan terus muter2 dalam otaknya, dan gag akan berhenti sampe dia bisa mengeluarkan semua isi otaknya.... this is what we galz say 'curhat' xexexe. So guyz, plz undaztood if ur gal starting to 'meracau' gag keruan, itu artina dia hanya ingin mengeluarkan uneg2, bukan untuk nyari kesimpulan/solusi.

xexexe... yang jelas hal ini mang gag bisa digeneralisir. cuz.. bakal ada banyak contoh lelaki yang suka meracau ato mengarsip semua pemikirannya di malam hari, sama seperti banyak juga perempuan yang lebih logis dan rasional daripada lelaki yang paling lelaki sekalipun.
Tapi paling gag, umumna kek gitu lah. that man n woman are definitely different creature. Men are from mars, n women r from venus, n the only language to connect them is... undaztanding... xixixixi. basbang!

Monday, January 16, 2006

gag penting!

dulu, biasanya kalo tersiar kabar bakal maen lawan A.S. Roma... akan always selalu terasa nafas ketegangan yang memuncak, deg2an yg sumtimes felt so irrational, n kadang aroma permusuhan dan sedikit kebencian ... dan tak lupa sedikit percikan persaingan yang berat... keh keh keh, apaan c.

Kenapa, eh kenapa... tentuna bukan karena dulu lawan debatku yang paling canggih, udadanial, seorang romanisti yah.. kekeke. tapi karena ada persaingan sengit antara duo romulus n romus (waktu ituh) yaitu nesta - totti. duo pangeran yg masing2 jadi icon 2 klub kota roma: AS Roma n Lazio. Sama2 kapten, sama2 bocah roma, n sama2 ganteng (cih, gantengan nesta dunk ya :p).

nah sekarang, begitu nesta pindah ke milan, (yg kuikuti dengan sepenuh hati bagaikan pengantin baru yang mengikuti ke manapun suaminya pergi :p... ) dengan sendirinya semangad persaingan itu pun pudar.

dan yah, pagi dini hari itu sambil terkantuk2 aku menyaksikan pertandingan roma-milan dengan perasaan biasa2 saja, datar2 saja... (sepertina dah lama banget gag nonton milan, de) nesta masih seperti dulu, seksi dan sangat lelaki.. (sllrrppp), seedorf masih sedikit pemalas gag mau ngejar bola seperti dulu, but he shows 2 magnificent moves that morning.
pirlo masih kalem n low profile.. kaka masih delicious yummy yummy nyam2, imut2 kaya candy tapi gag begitu brilian pagi itu. sheva masi tenang dan bijak n bertambah dewasa dikit.
gattusso masih gradak gruduk tapi gag terlalu grasak grusuk c.. weh, pie toh?

di pihak roma... kiperna lumayan (sapa ya?) ... totti masih manja n full trick kek dulu... (btw, montella ke mana yah?

overall.... gag terlalu menarik...
tapi ya bole juga c, game-na meski datar n gag terlalu banyak bikin aku screaming or deg2an tapi ya lumayan.
hasilnya?
nah ini die...
xixixi, 80 menit pertama c masih 0-0...
abis ituh... xixixi.... i found myself fading successfully outta nowhere
n guess what....
romanisti leads after that! final result: 1-0 buat roma
siyallll!!!!

xxexexe -gag penting banged c-

Saturday, January 14, 2006

ambisius...

Someone i’ve secretly admire once say unparticularly like this:
perempuan ambisius selalu bisa menarik perhatianku, entah kenapa...
Nah lho... bold underlined for the word “ambitious”... xexexe
Honestly, that statement kinda dropped me out a lita bit ^_^, made my name widely red crossed on his list, i suppose...

Hell, “ambitious” and “ajenx” will never ever get along together. Entah dari sononya ato emang sejak get along with one of my prince charming with initial B.A. aku berubah jadi seseorang yang hampir tanpa ambisi, dunno. Xexexe. (kok malah jadi nyalahin orang, c..?^_^). Tapi emang dari dulu sejak kecil aku merasa bukanlah karena ambisi aku bisa masuk di hampir semua sekolah favorit di jokja ini.. smp8, sma3 n finally teknik ugm. Buktinya prestasiku di tahun2 yang aku jalani di masing2 sekolah fave itu ya standard2 ajah, biasa2 ajah, (in fact, sumtimes underachievement c) xixixixi.

Jadi, aku sama sekali tidak pernah merasa sebagai seorang perempuan yang ambisius, meski salah seorang mantan bosku pernah menilaiku sebagai orang yang selalu ingin mencapai puncak, (dan kebetulan aku selalu bisa mencapainya ^^p). hmm... itu sebabnya ia hampir selalu menaruhku di ‘posisi bawah’, karena katanya ia tahu aku akan selalu berusaha crawling ke atas, n made it in the end.

Wah, kalo diliat dari sudut pandang mantan bos itu ya... aku bisa jadi punya bibit2 ambisi dalam diriku, tp benarkah? Mungkin orang luar melihatnya seperti itu, tapi buatku pribadi, I’m just running on my line. Aku melakukan apa yang uda ada dalam skripku, doin’ my best, untuk terus maju n berkembang tanpa terdistorsi adanya ambisi. Itu menurutku c..

Please note, that ambitious is much different with ‘desire’. Well, of course I desire sumtin, karena apalah manusia tanpa hasrat dan keinginan? Ambisi adalah sesuatu yang lain, buatku. Mungkin dalam hal2 tertentu ambisi bisa dianggep sebagai perkembangan dari desire, tapi, kalo desire aja uda cukup, kenapa harus punya ambisi c?

Kata “ambisi’ sounds like a must-do situation, or a must-do task, n who can guarantee that on the way doing it we did everything in proper, dan tidak menghalalkan segala cara? Karena kurasa banyak banget contoh orang2 yang gag bisa mempertahankan fighting spirit untuk mencapai ambisi berada dalam level in proper ato secukupna. This fighting spirit seems to be used for unnecessary purposes. As a result, necessary issues like the ambition itself are not taken care of.

Boleh2 aja c sebenerna berparadigma result oriented, fulfilling our ambition, tapi kalo tanpa diimbangi good in proper process ya sama aja bo’ong. Inget2 pesen mama, jeng, bahwa moral yang baik adalah ketika kita mencapai tujuan yang baik dengan jalan yang baik pula... (kalo mau nanya yang baik itu yang gimana, baca postinganku 6 November 2004 lalu, yg judulna “analitis kata” ^^)

Therefore, I prefer to stand far away from “ambition” and be proud to be part of unambitious people. Xexexe.
Tanpa ambisi, kita masih bisa idup kan? Toh kita masih punya desire, masih punya need, masih punya will yang bisa menjadi lecutan ringan untuk meningkatkan taraf hidup kita kalo kita mau. Ambisi hanya akan memenjarakan kita dalam strict target yang bahkan mungkin beyond our reach. Masih mending kalo kita ber-ambisi dengan melihat kemampuan dan kapabilitas yang kita punya. Lha... kalo asal berambisi? Gawat ituh ^_^.

Xexexe, tapi mungkin emang dasar kucing yang satu ni emang sifatna gini... sudah cukup puas dengan hidup yang bagi sementara orang mungkin belom apa2, menikmati hidup dalam kondisi apapun, as long as organized n flowing, just like water....
Seperti quote Heraklius (pra-socratik filsuf 500SM) yang terkenal itu, yang stuck in my head lately, bahwa segala sesuatu dalam realitas berada dalam proses, berfluktuasi dan berubah. Tidak ada orang yang bisa menginjakkan kakina pada aliran sungai yg sama, karena aliran itu tak berhenti mengalir, berubah dan berpindah oleh air yang baru.
This is why, ambitious could never take part in my life. Karena ketika aku berambisi untuk menginjakkan kakiku di aliran sungai tertentu misalna, itu mungkin akan bisa membawa kematian bagiku... karena aku bisa terseret arus. Fighting spirit yg kugunakan untuk mencapai aliran sungai itu mungkin bisa melemahkan inderaku yang laen, seperti koordinasi dan keseimbangan tubuh. Akan lebih baik jika kita memfokuskan energi untuk mempelajari aliran sungai tersebut, watch our step, calculate where we can safely put our feet on.

Karena bagi si kucing, hidup selalu punya 1001 cara untuk bisa jungkir balik gag keruan kaya badut sirkus, n the best way to deal with it is... yah, flowing, try to adapte in every changes, organize everything below our reach, enjoy as much as we can, and particularly no ambition involved at all... xexexe.

Meskipun dengan menjadi ‘perempuan-tanpa-ambisi” aku harus terima resiko untuk tidak bisa menarik perhatiannya, yah.... peduli apa c? Xexexe. Moga2 di luar sana masih ada good guy yg tertarik pada perempuan yang biasa2 saja dan tanpa ambisi ini... xaxaxa.
Overal, I just want a man who’ll found n accept me exactly the way I am, that’s all... (lho, arahnya kok kesitu :p)

Insipred by: one of prince charming candidate on my list .... waxaxaxa... ssttt

Thursday, January 12, 2006

apa kabar hatimu hari ini?

“Hati” hanyalah sebuah metafora..
Demikianlah kesimpulan yang kudapatkan dari perbincangan dengan seorang teman sore ini. sebuah konklusi yang hampir tidak pernah terpikirkan sebelomna (olehku). Well, mungkin pernah dan sebenernya uda tersimpan jauh di benakku, tapi hanya sepintas lalu dan hampir2 tidak disadari.

Euh, mungkin buatmu... dan buat orang2 romantis di luar sana, perasaan bersumber dari hati. Is it? Kenapa pada suatu sore yang cerah tiba-tiba kamu jadi tidak mood, gloomy, dan muram? Tak lain karena hati.. Kenapa kamu menangis sewaktu kucingmu mati suatu pagi? Karena sedih, yang kaurasakan dalam hati. Blame it to the heart, then, fur all uncontrol emotion u felt inside u... xexexe.

Ya, kalo memang benar hati yang jadi biang keladi semua perasaan dan emosi (baik itu positip maupun negatip) yang kita rasakan, di mana letak kontrolnya? Pertanyaan ini muncul seketika, sehubungan dengan pendirianku bahwa manusia sebenernya seharusna mempunyai kontrol penuh terhadap tubuh dan pikiran nya sendiri, bahkan untuk perasaan/emosi yang paling liar sekalipun. Maka sebenernya kalo ada pengakuan bahwa seseorang tidak mampu mengontrol libido-nya misalna.. itu omong kosong. Ato seseorang yang lepas kontrol gag bisa menahan kemarahannya, itu juga bullshit. Gag bisa ato gag mau, itu aja c pertanyaanya ^_^. Tanpa bisa menjawab di mana letak proses kontrol dalam organ hati kurasa kita harus menerima bahwa rationably, hati tidak bisa diterima jadi sumber dari perasaan itu sendiri.

Way to go... hati ‘hanyalah’ sebuah metafora...
Dan dari manakah sumber perasaan/emosi itu sebenernya? Bagaimana dia bisa keluar dan muncul sewaktu2 tanpa kita minta dan (kadang) tanpa setahu kita? Perasaan/emosi adalah merupakan suatu keadaan dalam diri seseorang, ato organisme, ato individu pada suatu waktu. Senang, sedih, terharu dan sebagainya apabila melihat sesuatu, mendengar sesuatu, mencium bau, dsb.

Therefore, perasaan disifatkan sebagai keadaan jiwa sebagai akibat adanya peristiwa2 yang datang dari luar, yg biasa disebut stimulus, ato impuls. Stimulus ini mengenai saraf sensorik pada masing2 individu, terolah di otak yang akhirna menggerakkan saraf motorik yang menjadi penanda munculna perasaan ituh. Kenapa melibatkan saraf motorik? Karena IMO, setiap perasaan yg muncul dalam diri individu pasti memunculkan tanda2 yang secara jasmani terlihat.
Seorang Ro yg baru putus dengan cewenya pasti akan terlihat berbeda dengan Ro biasanya. Ada langkah gontai, dan terutama terlihat beberapa otot kesedihan yang tertarik di wajahnya. Ato jika seorang Yu Tin memecahkan vas antik majikan dan ketakutan, mukanya akan menjadi pucat, keringat dingin keluar, dan jantungna berdebar2 kencang. Ato jika seorang Lintang yang hari ini berulang tahun dan sedang merasa bahagia, di wajahnya otot zygoma major yg ada di sekitar mulut akan tertarik sehingga menimbulkan senyum setiap saat. Itulah, perubahan2 jasmani sebagai rangkaian dari emosi/perasaan yang dialami individu yang bersangkutan.

That’s why they could created Lie Detector, dengan memasang alat2 elektronis di bagian dada untuk mencatat perubahan pernapasan, di tangan untuk mencatat perubahan peredaran darah/denyut jantung, dan pada jari untuk melihat perubahan pada kulit.

Hippokrates, seorang filsuf Yunani di jaman 400SM menyatakan bahwa dari otak timbul perasaan gembira, bahagia, sedih, sakit hati, dan tertekan. Otak adalah alat yang mengadakan interpretasi terhadap dunia luar bila manusia berada dalam keadaan sadar. Tp IMO, selain mengadakan interpretasi, otak (dalam hal ini pemikiran) juga berkuasa untuk menentukan sejauh mana perasaan/emosi itu muncul. Di otak kita telah ada mekanisme pertahanan diri yang menentukan besar kecil dan muncul tidaknya emosi tersebut. Dan mekanisme ini, selain bergantung pada stimulus dari pihak luar juga bergantung pada 3 hal intrinsik:
1. Keadaan jasmani individu. Seseorang yang gag sehat bisa lebih terpengaruh perasaannya. Jadi lebih perasa, misalna.
2. Sifat dasar individu. Ada yang emang dari sononya pemarah, ada yang biasa aja. Struktur pribadi yang bawaan dari lahir ini akan menentukan mudah tidaknya seseorang mengalami suatu perasaan
3. Keadaan individu suatu waktu (di luar jasmani) Misalna, seorang yang sedang kalut ato dikejar dedlen, biasanya mudah terkena perasaan tertentu dibanding ketika ia berada dalam keadaan normal.

Ketiga keadaan inilah yang menimbulkan kadar perasaan/emosi yang berbeda2 di tiap2 orang. Ada orang yang merasa sangat sedih seakan dunia runtuh ketika kucing kesayangannya mati, ada yang biasa aja, malah ada yang bersorak sorai (lho)... basically karena ketiga elemen inilah. Jadi, even stimulusna sama, tapi perasaan yang ditimbulkan stimulus tsb bisa berlainan.

Tapi gimana bisa membuktikan bahwa otak-lah yang berperan penuh mengolah kemunculan perasaan/emosi ini? Adakah pembuktian empiris yang bisa menjelaskan fenomena munculna perasaan/emosi ini selain dari penjelasan deduktif tentang munculnya tanda2 jasmaniah tadi?

Dunno, yg bisa kupikirkan sekarang adalah pernyataan yang keluar dari pemikiran seorang lelaki kecil bungkuk berambut pasir yang mungkin bisa sedikit banyak menjelaskan. Bahwa tubuh, hanyalah kumpulan bahan kimia, jaringan dan impuls saraf. Pikiran, tak lebih dari gelombang listrik dalam otak. Rangsangan seksual, tak lebih dari aliran kimia pada ujung saraf tertentu. Kesedihan, tak lebih dari asam yang menusuk otak kecil. Dan itulah... fenomena perasaan/emosi menurut versi Albert Einstein. Sensible, huh? ^^p

Obviously, the conclusion is... betapa perasaan sesungguhna bersumber pada otak, n therefore, perasaan/emosi seharusna bisa kita kontrol sepenuhnya, once we figure out the source. Kita semua bisa dan harus mengontrol emosi yang kita keluarkan. Or at least menyalurkannya ke tempat2 yang tepat.

Dan hati... sekali lagi... hanyalah sebuah metafora. So, bagaimana dengan nurani? Di manakah letaknya?

inspired by: conversation with goeh_z

Saturday, January 07, 2006

sing sejenak *intermezzo*

"iya, tar kucariin deh, pesenanmu. tp minggu depan yah? minggu ni notbuk-na mo dipinjem buat pendadaran soale"

"ngg gpp, sante aja lagi mas, sapa yg mo pendadaran?"

------sing sejenak-------

"...adekku.." (sambil gag ngeliat)

"oh.. "

^^p
cuma perasaanku ajah kah? atokah memang ada jeda sebelum ia menjawab? intuisiku kah yg terlalu tajam, sehingga aku menangkap keraguan sekilas dari jawaban ituh...
xexe, ada 2 opsi c sebenernya, telingaku yg terlalu sensitif terhadap perubahan intonasi dan keraguan.. ato telingaku telah menjadi sedemikian parno-nya, menjadi sebuah radar yg terlalu sensitif dan penuh prasangka ketika akhirnya berhadapan dengan-nya setelah 1,5 tahun tak bersua?
dan demi kebaikan bersama, sebaiknya aku memilih opsi kedua sajah untuk menjelaskan peristiwa itu.. ^_^.
dan apapun pilihanku, i figure out that i've got the answer that can explain the whole big frame of this matter.

kala itu, untuk sesaat aku menunggu detik2 gelombang negatif entah itu kesedihan, kekecewaan dan kecemburuan melanda..
tapi, tidak.. sedemikian kerasnya aku mengaduk2 hatiku pun aku tidak menemukan kesemuanya itu..

fiuhh
so there was it guyz.. salah satu momen terpenting yg kulewati awal taun ini, momen yg uda kunantikan selama 1,5 tahun, dan telah menjadi bagian dari resolusiku tahun ini..
membereskan puing2 masa lalu.
(yang kukira telah terbereskan 1,5 tahun ini... ternyata belom ^0^)
one important lesson i've got last year adalah: bahwa ternyata kita harus bisa menghadapi masa lalu, menyimpan semua kenangan yg manis pahit asin asem, supaya kita bisa maju selangkah ke depan dengan hati yang lapang, ringan.. dengan bekal dari pembelajaran di masa lalu.

john locke pernah berkata: that our life is just a bundle of perception written in white blank sheets.

so was it begun, my nu white blank sheets, starting from now ^^

the worst is over now,
and we can breathe again
seether feat. amy lee _ broken




Monday, January 02, 2006

edisi doewa ^^

Postingan terakhirku di taon 2005 berkaitan dgn kasus Komunitas Eden yg menarik n menghebohkan ituh. Di situ terungkap suara pemikiranku based on my first impression of this case. Yang kuakui sedikit tendensius, c.. xixixixi. Maksudna tendensius adalah, bukannya aku mendukung kegiatan2 aliran semacam itu, tp yg lebih kusayangkan adalah perlakuan orang2 terhadak komunitas2 semacam itu, yg kuliat sama sekali gag mencerminkan semangat menghargai hak2 asasi n keyakinan orang lain. Beragama, apapun itu merupakan hak asasi orang2, dan negara wajib menjamin kebebasan beragama ini. Tp apa yg terjadi? Justru sebaliknya. Negara ini jadi terlalu jauh mencampuri kehidupan beragama, menetapkan batasan2 ini itu tanpa memikirkan ke-pluralitas-an yang kita punya.

Sebenernya pluralitas ini sangatlah wajar ada dalam kehidupan bermasyarakat. Karena dari situlah agama2 yg berlainan jenis dan cara bermunculan. Tidak hanya itu, bahkan pluralitas dalam intern agama pun mungkin2 aja terjadi, dan itu merupakan cerminan kebebasan, selama hal itu masih wajar n gag menyimpang. Katolik sendiri dulu merupakan ‘perpecahan’ dari Kristen yang kemudian memunculkan Kristen Protestan dan Kristen Katolik Roma. Memang di dalam Katolik belom pernah terdengar ada aliran2 lain baik itu aliran garis keras ato garis lembut (^^), mungkin ada yg namanya persekutuan Kharismatik, tapi inipun tidak berbeda jauh, lain dengan Children of God dalam Kristen yg bisa dibilang garis keras Kristen itu. Kristen Protestan sendiri merupakan salah satu contoh agama plural, karena banyak terbagi dari beberapa aliran, ada Kristen Jawa, Kristen Batak, dll.

Dalam Budha pun dikenal 7 mazhab yang berbeda2, yg sebenarnya punya ajaran yg sama tetapi cara pendekatannya kepada Budha berbeda. Di Indonesia mazhab yg terbesar adalah mazhab Budhayana, yg paling solid. Tapi mazhab2 lainnya juga masih bergerak wajar dan tidak menunjukkan adanya gejala separatis. Kebanyakan dari mereka masih bisa hidup berdampingan dengan damai.

Sementara dalam Hindu emang sepertina gag ada sempalan ato jenis aliran2 yg lain, setauku.

Dan Islam, agama dengan jumlah umat terbesar Indonesia ini sejauh ini mempunyai beberapa catatan ‘penyimpangan’ menurut versi Islam... nabi Ahmadiyah di sulawesi, alirah sholat dwibahasa di jawatimur, n terakhir.. ‘penjelmaan’ malaikat Jibril di Jl. Mahoni 30 Senen, Jakarta Pusat.

Aliran yang terakhir ini emang menuai kontroversi, karena dia dianggap menyimpang, bertentangan dengan apa yang diyakini selama ini, bahwa tidak akan ada lagi nabi turun setelah Muhammad, dan tentang ajaran untuk tidak melakukan sholat...en so’on. N therefore, dianggap telah menodai kesucian agama dan meresahkan masyarakat, dan menyebabkan pemimpinnya, Lia Aminuddin, aliyaz sang ‘malaikat jibril’ itu sendiri dipenjara akhirna...

Terus terang, aku pribadi tidak menyalahkan ibu Lia dan apa yg telah diyakininya.. karena, yah... bagiku, sah2 aja jika orang lain mempunyai keyakinan sedemikian rupa, bahwa dia malaikat, ato dia utusan ato dia Tuhan sekalipun. Itu hak dia toh... siapa tahu dia memang mendapat pencerahan, sapa tau dia memang percaya mendapatkan keselamatan dan kebahagiaan yg hakiki dengan berlaku demikian. Selama dia tidak menggangguku, there’s nuthin’ to do with me, gag masalah.. Paling2 sebagai manusia yg punya keyakinan pribadi, yg cukup percaya dengan kekuatan pemikirannya sendiri hanya akan membatin, “what are you freak or sumtin, madame?” xexexe... ato mbatin, “ini uwong gendeng po pie yo? Ngaku2 malaikat... mana buktina?” that’s enough, n gag perlu diperpanjang lg.

Xexexe... mungkin ada yang pernah buka situs lia-eden ini kah? Ada 2 situs yang dikelola komunitas ini, satu liaeden.org, dan satu lagi mahoni30.org. (sepertina sekarang yg bakal kita temui di sana hanyalah tulisan under-construction). Tapi.. kemaren aku berhasil buka salah satu situsna yang mahoni30.org... cukup menarik isinya, ada halaman inspirasi, cerita, dan renungan2 yang.... ahem, gimana ya ngomongna? Bukan renungan yang terlalu cerdas, c kalo aku bilang... tapi ya lumayan bagus, n wajar, gag kuliat ajaran yg menyimpang dari sana. Kebanyakan isinya tentang ajakan2 untuk lebih mendekatkan diri secara rohani terhadap Tuhan, anjuran2 tentang mengarungi hidup sehari2 yang dikemas dalam berbagai cerita renungan yang meski gag terlalu cerdas, tp menarik. Untuk segmen pembaca dan jemaat eden kelas menengah ya lumayanlah... ^^

Tapi ada satu segmen lagi dalam situs tersebut yg cukup membuatku tertawa geli ketika membacanya... (maap, niy, buat komunitas Eden) yang menampilkan draft surat2 ato edaran2 yang komunitas tersebut pernah keluarkan selama ini. Ada banyak surat yang rata2 puanjang dan ditujukan kepada berbagai macam elemen, ada yang diperuntukkan kepada Presiden SBY (agar mengakui keberadaan komunitas eden sekaligus mengundang SBY untuk mengunjungi ‘kerajaan’ mereka), kepada MUI (untuk tidak memusuhi mereka), kaum muslim (untuk tidak memusuhi dan mengingatkan tentang macam2 tulah dan ayat2 Quran), Metro TV (mengecam penayangan Uncovered Cases yg mendiskreditkan Komunitas Eden), tetangga di sekitar Mahoni 30 (agar tidak perlu takut terhadap eksistensi Komunitas Eden).... dan masih banyak lagi (banyak yg gag bisa dibuka juga c... ^^p). Ada juga surat maklumat yang menyatakan berdirinya Kerajaan yg mereka sebut Kerajaan Tuhan di Jl. Mahoni 30 Jakarta tersebut, lengkap dengan jalan penobatan Lia Aminuddin sebagai Malaikat jibril, Bunda Maria dan anak Lia sebagai Nabi Isa (^^) plus ilustrasi Lia duduk di tahtanya:


Intina, kalo mo diliat dalam kacamata positip c mereka tidak melakukan hal2 yg merugikan. Mereka jelas menegaskan konsep perdamaian dan mengutuk kekerasan. Mengutuk para pelaku bom bali dan pelaku tindak penggerebekan ato pembantaian baik itu yg mengatasnamakan agama maupun anonim. Pengikut Lia Eden ini juga mencantumkan agar para tetangga di sekitar tidak mencemaskan keberadaan mereka karena mereka tidak akan pernah menyakiti orang lain (meski kebanyakan para tetangga itu pasti takut justru jika ada sekelompok org/lebih yg tidak suka dan menggerebek rumah itu, shg mereka kena imbasna... ^^). Mereka juga menyerukan agar kita semua bertobat dan melakukan refleksi melihat kehancuran yg ada di depan mata kita semua, bahwa sudah saatnya kita semua memperbaiki diri dan bertobat.

Isn’t that good ya? Xexexexe.....

Tapi.... sayangnya di sisi lain, justru bukan ajaran2 kebaikan itu yang mengemuka dalam surat2 dan edaran mereka, melainkan kesombongan, arogansi, serta ancaman2 yg terasa mengintimidasi. Yapp.... hal2 tersebut kental sekali menguar di udara. Mungkin emang itu ciri sebuah keyakinan baru yah? Fatalistik, dan intimidatif, dengan tujuan langsung merasuk ke dalam jiwa psikologis seseorang dan menetap di sana. Banyak sekali kata2 Aku adalah.... berhati2lah terhadapku... aku bisa menimpakan azab terhadap kalian semua.... Aku berkuasa untuk... bla bla bla... Kalian tahu kasus bom bali? Bagaimana ketiga kepala pelaku bisa tetap utuh, itu tak lain karena campur tanganku...

Xexexe... dan banyak contoh kasus lain yang ‘diaku’ sebagai campur tangannya sebagai malaikat.

Aku jadi inget gimana reaksiku tiap kali ngeliat seorang ibu menakut2i anaknya untuk gag melakukan hal2 yang dilarang, misalna. Kebanyakan para ibu tersebut menerapkan pola pengasuhan yg menimbulkan rasa takut, dan banyak mengucapkan ancaman2 seperti,”Awas, jangan main tanah, tar dimarahi papa loh...” ato, “jangan main jauh2, tar kamu ketemu monster loh... lhaik kowe. Lhaikk kuwi pocong... pocong...” dsb.. xaxaxaxa> Pola pengasuhan yang bagiku merupakan pembodohan besar2an ini mungkin cocok ya buat masyarakat kelas bawah yg gag mengenyam pendidikan, tp.. jelas tidak akan efektif kl dihadapkan pada lapisan masyarakat yg cerdas dan berpendidikan tinggi.

Back to eden, euh, bagiku yang selalu skeptis akan kata “Aku adalah Ter...” pengakuan2 yg diucapkan komunitas eden tsb hanya akan jadi salah satu bukti bahwa dia bukanlah orang yg besar, bijaksana dan cerdas xexexe. Karena aku percaya kerendahan hati adalah ciri khas kebijaksanaan.

Maka cukuplah ditanggapi dengan manggut2 dan kata “oh ya? Baguslah kalo gituh... “ xixixi

Gag perlulah pake menghimpun massa menggerebek, bertindak anarkis, ato malah memenjarakan sang pemimpinnya. Tindakan2 itu justru menunjukkan bahwa kita sendiri gag menghargai diri dan keyakinan kita sendiri, dan menunjukkan betapa lemahnya benteng hati kita, bisa dengan mudahnya dibuat emosi oleh tindakan orang lain. Don’t let anybody interrupt you that easily lah... xixixixi.

Kalo memang aliran itu dianggap sesat, harusna pihak2 yg merasa berwenang justru mengadakan dialog, berbicara dari hati ke hati, kalo perlu menegur, ato ya biarkan sajah... bukannya memenjarakan.. Karena aku pribadi berpendapat toh, biarkan aliran ini teruji oleh realitas yang ada. Kalo memang benar dia penjelmaan jibril, so be it. Dan kalo memang cuma omong kosong belaka, mereka akan berlalu dengan sendirinya.

MUI dan lembaga2 keagamaan lainnya justru harus lebih memperhatikan umatnya, mungkin dengan mengadakan dialog bersama dan sharing untuk membangun umat yg lebih cerdas menyikapi hal2 semacam ini, sehingga masyarakat bisa memutuskan sendiri mana yang benar dan salah.

Keh keh keh....