Wednesday, December 21, 2005

once again bout "momon-gate"

Masih tentang ‘momon-gate’ yang menghebohkan ituw... xexexe heboh? Sebenernya c biasa ajah ya, kalo gag ada yang sok usil aneh2 mem-blow up ‘kasus’ ini jadi sebuah kasus nasional.
Eniwe, memang peristiwana masih tergolong fresh dan kebetulan di satu pihak menyangkut nama orang nomor 1 di indonesia, serta di lain pihak, orang yang kebetulan kukenal c yah, jadina... kadang masih kepikiran. ^^p
Mungkin memang tidak ada hubungannya, tetapi... adalah seorang Budiarto Shambazy, seorang kolumnis yang amat sangat kukagumi tulisan2nya -[Wis, ndak pernah absen deh... baca tulisan beliona ini.] – yang mengulas tentang “kritik dan presiden”, dan yang membuatku lagi2 teringat pada momon-gate...

Dari kolom politika medio sabtu, 17 desember ituh aku dapet satu keyword lagi yang menggambarkan kondisi mental orang2 kita (including me, i guess ^0^) yaitu, mental antikritik.
Dikritik sedikit, marah... bahkan, jika orang lain hanya menyampaikan opininya dianggap sebagai sikap yang mengagresi, menyerang, dan kita ... jadi defensif karenanya. I felt that, many times... dengan jujur kuakui. Bahwa aku sendiri masih terlalu sering bersikap defensif yang berlebihan...

Defensif... perlukah?
Perlu... dalam dosis yang tepat dan tidak over (sepertinya segala sesuatu pun begituh..). dalam momon-gate, lelaki berusia 23 tahun itu dianggap telah meng-agresi.. dan kemudian ada pihak2 tertentu yang melakukan tindakan defensif berlebihan... ato setidaknya menyarankan agar pihak yang ter-agresi melakukan defense... xexexexe.

Dunno, IMO... sejak dulu, bahwa defense adalah sebuah tindakan yang tidak banyak membawa keuntungan (buatku loh ya). Karena dalam sebuah tindakan defensif kita akan terkondisikan untuk mencari menang... bukan untuk mencari benar. Bukan begitu benar? Yah... mungkin lain2 kali ye. Bahkan sebuah tindakan yang apatis, diam dan netral kadang bisa diinterpretasikan sebagai sikap pertahanan diri juga c, jadi mungkin juga beda2.

Eniwe, salah satu peyulut sikap defensif ini adalah... kritik itu tadi. N u’ve got to face it, di luar sana masih begitu buanyak orang2 yang gag bisa nerima kritik, ato opini sekalipun.
Ada yang marah waktu daerah kekuasaannya dibilang kondisi siaga 1 (kasus bupati poso yang marah2 gara2 pers dianggapnya terlalu melebih2kan berita ‘mutilasi’ di daerahnya... katanya waktu itu, yang sedikit marmos juga.. “jangan beritakan yang tidak2 tentang daerah kami dong, nanti jadi buruk citra kami.... ckckckck... citra, once again, citrah...)
Ada lagi yang marah waktu dibilang daerahnya dibilang daerah paling tertinggal, ‘hanya’ karena pers dianggap salah memberitakan 55 orang meninggal kelaparan (padahal katanya yang meninggal ‘hanya’ 15 orang... yahukimo.... hanya, yah... hanya, ketika nyawa manusia pun direduksi menjadi hitungan angka dan persentase)
Ada lagi yang balik mengkritik, gara2 puisi indah Nasib Guru yang terkenal itu mengulas sekolah yang seperti kandang ayam dan gaji guru yang cuma cukup untuk hidup sehari_ winarno surachmad
Tapi banyak juga c, yang kebal kritik, gag peduli dan tetap berangkat studi banding ke Mesir meski dah didemo abis2an, sementara 55 orang yahukimo meninggal karena kelaparan, di makassar muncul busung lapar, dan daya beli masyarakat menurun drastis...

Sebenernya di mana letak salahnya yah? Nurani kita kah... yang telah dibutakan sedemikian rupa? Kulturkah, budayakah, yang membuat kita bereaksi negatif terhadap sebuah attitude kritik, dan bukannya menjadikannya sebagai titik tolak refleksi terhadap diri sendiri? Kalo banyak kalangan menyebut bahwa korupsi bukan lagi sebuah habit, kebiasaan tapi sebuah budaya... apakah sikap antikritik pun demikian adanya? Telah menjadi budaya yang mendarah daging dalam hidup bermasyarakat?

Budiarto shambazy sendiri menyebut kritik, guyonan dan apapun namanya sebagai sesuatu yang sangat lumrah, bahkan yang berhubungan dengan seorang presiden sekalipun. Toh, kita adalah negara demokrasi (katanya). Di AS, yang notabene negara demokrasi terbesar di dunia, kritik terhadap presiden adalah hal yang lumrah. Contohnya, cerita tentang 6 presiden AS yang terjebak di kapal yang sedang karam.. anybody ever heard bout this? Waktu kapal mulai kemasukan air, presiden Gerald Ford (69-74) yang dikenal peragu bertanya, “apa yang harus kita lakukan?”
George W Bush junior (01-...) yang tegas seperti koboi segera memberikan komando agar sekoci2 diturunkan.
Ronald Reagan (77-81) yang pelupa dan suka tertidur waktu rapat kabinet bingung dan malah bertanya, “Sekoci itu apa?”
Jimmy Carter (74-77) yang seorang demokrat sejati mengingatkan agar perempuan didahulukan masuk sekoci, tapi Nixon (69-74) yang dikenal kasar tak setuju, “Ah, perempuan tak usah diistimewakan!”..
Dan Bill Clinton (81-89) yang hampir dipecat gara2 Monica-gate langsung bereaksi gara2 soal perempuan ini. “menurut kalian, memangnya kita masih punya waktu untuk merayu mereka?” tanya clinton yang setrumna langsung naik.. ^0^

Itu satu contoh sederhana tentang bagaimana lumrahnya presiden menjadi bulan2an kritik dan humor di negara demokrasi terbesar di dunia tersebut... sepertinya mereka di sana jelas tidak akan terlalu menganggap serius perkara ituh. Just a common joke, n hey... we’ve got no time at all to chase n punish every joke creator, atau orang2 dengan kreativitas berlebih ini, toh..? xexexe. Mending ngurusin yang lain.
Cerita 6 presiden di atas langsung menancap ke kebenaran dari masing2 individu presiden ituh... menguak sisi buruk mereka secara terang2an. Meanwhile, bandingkan dengan momon-gate. temanku ituh.. apa c yang dilakukannya? Retouching foto SBY dengan foto mayangsari-bambang yang ‘tidak-berarti-apapun’ gitu loh... I mean.... semua orang juga tau dengan jelas bahwa itu gag mungkin benar... so, di mana sisi penghinaannya?
Xexexexe.
Lagian aku percaya, pak sby sendiri adalah orang yang cukup arif untuk melihat bahwa itu.. joke semata... Ntah ya... yang lain.. yang mungkin punya niat2 terselubung... kehkehkehkeh
Salam, pak SBY ^^p

::enoughboutmomon-gate::