Friday, December 30, 2005

lia_eden

Ribut2 lagi deh... setelah nabi Mahdi, kali ini sebuah komunitas multi-religi yg jadi sorotan... Komunitas Eden. Whew... mo sampe kapan c kek gini?

Gag tau de sebenerna letak “sekrup” yg longgar ituh di manah... Di pihak Komunitas Eden-Mahdi itu kah, ato masyarakat sekitarna (incl.government kitah jugak ^^)?

Loh... pake nanya lagi! ya jelas to Jeng, sekrup yang longgar itu letaknya di Komunitas2 gag bener itu dunk. Berani2nya mengklaim jadi nabi, Tuhan, ato at least aliran kepercayaan baru!! (gitu mesti kata orang2 yang normal dan beriman...^^)

Oh, c’mon... seorang ajenx pasti ndak akan semudah itu tunduk pada opini publik yg buru2 men-judge bahwa aliran2 kepercayaan ituh sesat! Kafir! Harus dibasmi secepatnyah! But don’t get any mistaken dulu, seorang ajenx juga ndak akan repot2 membela aliran2 baru ituh sampe titik darah penghabisan juga...

Karena seorang ajenx, kata teman2nya adalah seorang selalu yg berusaha logis, dan katanya sendiri, ajenx hanyalah seorang yg suka mengintip fenomena2 terpendam dalam harta manusia yg paling berharga, yaitu pemikiran dan kejiwaan.

Jadi, seorang ajenx biasanya akan duduk sejenak untuk mencoba menguraikan benang merahnya, melatih empati, keluar dari cangkang pemikirannya sendiri dan melongok ke dalam masing2 empunya sekrup (masing2 pihak yg bertikai). Semoga tidak ada yg menganggap opini apapun yg keluar dari aktivitasnya ini sebagai agresi yah... xixixixi

Apa sebenernya yg telah dilakukan para terdakwa, aliyaz komunitas/aliran2 baru ituh? Merekrut kurang dari 100 jemaat untuk mengikuti apa yg mereka sebut dogma baru, pencerahan, dan jalan baru menuju spiritualitas, am i wrait?

Apa lagi? terlepas dari akar keyakinan mereka, apa yg sebenernya mereka perbuat? Apakah mereka membunuhi orang2 yg tidak mengikuti keyakinan mereka? Tidak? Apakah mereka mempengaruhi orang2 lain untuk mengikuti keyakinan mereka? Mungkin... apakah mereka dianggap memberi bad influence terhadap sekitar? Mungkin.... Apakah mereka mengasingkan diri dari lingkungan? Mungkin.... Apakah mereka berbuat demikian karena mereka mempercayai adanya keselamatan dari itu? Mungkin...

Loh, jadi.... apa yg salah c? Bad influence? Kl lingkungannya keukeuh dan gag membiarkan dirinya terinfluence kan ya ndak masalah toh? Mempengaruhi orang2 untuk mengikuti? Kalo orang2na gag terpengaruh, ya... so what?

Xexexexe. Ternyata sampe di sini aku jadi tendensius sepertina ^^. Eniwe, tidakkah kalian berpikir bahwa tindakan menyeret orang2 itu untuk ditanyai dan diperlakukan layakna penjahat, sebagai tindakan yang tidak menghargai hak asasi manusia? Atas dasar apa c kita, sesama manusia berhak menjudge bahwa tindakan dan keyakinan orang lain adalah sesat? Hanya karena berbeda dengan ajaran keyakinannya... catet ini, hanya karena komunitas2 itu dianggap melenceng jauh dari apa yg sudah tersurat dan tersirat. Nah, atas dasar apa c? Lebih jauh lagi, gimana kita bisa yakin bener bahwa apa yg telah kita jalani sekarang adalah yg terbaik dan terbenar?

Oh, tentu bisa jeng... karena itulah yg dinamakan iman, ketika kamu yakin bener bahwa inilah jalan yg terbaik. Tapi itukan urusan kita masing2, dengan apa yg kita percayai sebagai Yang Maha. Kita sama sekali tidak berhak untuk menentukan jalan hidup dan pemikiran orang lain, itu yang selalu aku pegang. Jadi sebenernya, kegiatan penggerebekan dengan alasan bahwa mereka komunitas sesat itu tidak bisa dibenarkan, menurutku. Karena gag ada dasarnya. Kecuali kalo komunitas itu uda merugikan kepentingan orang banyak. Kalo hanya ‘sekedar’ meresahkan karena masyarakat takut terpengaruh, ato karena dianggap menodai citra agama yg uda pakem, ato lebih jauh lagi, dianggap menjelekkan nama Tuhan, yaa....bagiku krg bisa diterima. Do you think Tuhan sedemikian rapuh dan lemahnya kah, sehingga harus dibela sedemikian rupa?

Jadi keinget sama uraiannya seorang dosen filsafat Univ Paramadina tentang macam2 argumen keagamaan, ato argumen pembuktian keberadaan Tuhan. Bahwa di dunia ini wajarnya ada 3 aliran yg dianut orang2 di dunia, yaitu argumen kosmologi, ontologi n teleologi. Argumen kosmologi menyatakan bahwa segala sesuatu di dunia ini mesti ada sebabnya. Alam raya pasti memiliki sebab akan keberadaannya, dan sebab itu adalah Tuhan. Argumen ontologi berangkat dari pandangan bahwa Tuhan adalah zat yang sempurna, dan salah satu sifat kesempurnaan adalah ada, dengan demikian Tuhan ada. Argumen teleologi berangkat dari penelusuran manusia terhadap keteraturan di dunia. Jika ditelusuri terus, keteraturan mestilah bersumber pada sesuatu (zat) yang membuatnya menjadi demikian, sesuatu (zat) itu adalah Tuhan. Argumen2 ini didasari dari ajaran2 agama yg ada di dunia, dan sering disebut sebagai argumen yg rasional, berdasarkan analisa logis. Dan inilah yg kita semua yakini n percayai, kan?

Tapi kemudian muncul sebuah argumen baru yg hampir ditolak oleh semua filsuf agamis, yaitu argumen yg berkaitan dengan pengalaman keagamaan. Argumen ini bersifat empirism karena ia berdasarkan pengalaman kognitif seseorang. Kenapa banyak ditolak n dikritik, karena argumen ini berasal dari pengalaman subyektif yg gag bisa diverifikasi, dan karenanya gag bisa dijadikan landasan untuk membangun sebuah pengetahuan yg obyektif toh?

Jadi, kebanyakan orang gag bisa terima alasan seperti,”saya percaya Tuhan ada karena Dia datang pada saya semalam”... untuk mengimani Tuhan. Karena itu adalah alasan empirik, subyektif, n gag bisa dipertanggungjawabkan secara logis n rasional. Lain seperti... “saya percaya Tuhan ada karena bumi ini begitu indah dan sempurna” misalnya.

Seorang pencetus argumen pengalaman keagamaan ini pernah berpendapat bahwa apa yg penting sebenernya adalah bukannya pertanyaan “Apakah Tuhan ada?” melainkan “Apakah saya beriman pada Tuhan?” N I found him right in the end, karena toh, kita meyakini Tuhan bukan karena secara rasional atau empiris Ia bisa dibuktikan, tapi karena kita merasakan keberadaanNya, karena kita membutuhkan-Nya. Sama seperti analisa Freud tentang ini, bahwa agama dan kepercayaan thd Tuhan sebenernya adalah respons manusia terhadap situasi ketakberdayaan mereka dalam menghadapi dunia yang tak dapat mereka kontrol. Problem manusia untuk berhadapan dengan Tuhan bukanlah sebuah problem ontologis, tapi problem epistemologis.

Kalo ada yg pernah baca karya2 Immanuel Kant akan terlihat di situ bahwa sebenernya akal manusia itu gag mungkin sampe pada pengetahuan fundamental tentang struktur realitas (pengetahuan metafisika). Karena manusia gag bisa mengetahui sesuatu di luar pengalaman sensorisnya. Therefore, IMO, sesungguhna kemampuan akal kita terbatas untuk merasionalkan yang namanya fenomena Tuhan itu sendiri... Dan ketika akal menjadi ‘lumpuh’ di situlah iman berperan. Iman yang berasal dari pengalaman kognitif, pengalaman keagamaan masing2 orang. Iman seharusnya memiliki kepastian absolut yg berdiri sendiri, mungkin bahkan ekstrimna gag perlu aturan yang bener2 baku n strict... Manusia punya jalannya sendiri2 untuk beriman dan mencapai Tuhan, dan mungkin itulah yg sedang dijalani komunitas2 ‘aneh’ ituh, dan aku mulai berpikir... tidakkah itu wajar, selama mereka tidak merugikan yg lain, selama masing2 dari kita tetap ada di jalan masing2 n berinteraksi seperti biasa...???

Filsuf Wittgenstein sepertina pernah menulis kek gini kira2: “Karenanya, seorang yang beriman tak memerlukan penjelasan rasional mengapa dia memilih jalan itu”

Euh, kapan ya kita semua bisa berpikir sedalam ituh? Jangankan memberi penjelasan rasional... bahkan memikirkannya ajah uda jadi sebuah kejahatan besar ^^p