Friday, December 30, 2005

lia_eden

Ribut2 lagi deh... setelah nabi Mahdi, kali ini sebuah komunitas multi-religi yg jadi sorotan... Komunitas Eden. Whew... mo sampe kapan c kek gini?

Gag tau de sebenerna letak “sekrup” yg longgar ituh di manah... Di pihak Komunitas Eden-Mahdi itu kah, ato masyarakat sekitarna (incl.government kitah jugak ^^)?

Loh... pake nanya lagi! ya jelas to Jeng, sekrup yang longgar itu letaknya di Komunitas2 gag bener itu dunk. Berani2nya mengklaim jadi nabi, Tuhan, ato at least aliran kepercayaan baru!! (gitu mesti kata orang2 yang normal dan beriman...^^)

Oh, c’mon... seorang ajenx pasti ndak akan semudah itu tunduk pada opini publik yg buru2 men-judge bahwa aliran2 kepercayaan ituh sesat! Kafir! Harus dibasmi secepatnyah! But don’t get any mistaken dulu, seorang ajenx juga ndak akan repot2 membela aliran2 baru ituh sampe titik darah penghabisan juga...

Karena seorang ajenx, kata teman2nya adalah seorang selalu yg berusaha logis, dan katanya sendiri, ajenx hanyalah seorang yg suka mengintip fenomena2 terpendam dalam harta manusia yg paling berharga, yaitu pemikiran dan kejiwaan.

Jadi, seorang ajenx biasanya akan duduk sejenak untuk mencoba menguraikan benang merahnya, melatih empati, keluar dari cangkang pemikirannya sendiri dan melongok ke dalam masing2 empunya sekrup (masing2 pihak yg bertikai). Semoga tidak ada yg menganggap opini apapun yg keluar dari aktivitasnya ini sebagai agresi yah... xixixixi

Apa sebenernya yg telah dilakukan para terdakwa, aliyaz komunitas/aliran2 baru ituh? Merekrut kurang dari 100 jemaat untuk mengikuti apa yg mereka sebut dogma baru, pencerahan, dan jalan baru menuju spiritualitas, am i wrait?

Apa lagi? terlepas dari akar keyakinan mereka, apa yg sebenernya mereka perbuat? Apakah mereka membunuhi orang2 yg tidak mengikuti keyakinan mereka? Tidak? Apakah mereka mempengaruhi orang2 lain untuk mengikuti keyakinan mereka? Mungkin... apakah mereka dianggap memberi bad influence terhadap sekitar? Mungkin.... Apakah mereka mengasingkan diri dari lingkungan? Mungkin.... Apakah mereka berbuat demikian karena mereka mempercayai adanya keselamatan dari itu? Mungkin...

Loh, jadi.... apa yg salah c? Bad influence? Kl lingkungannya keukeuh dan gag membiarkan dirinya terinfluence kan ya ndak masalah toh? Mempengaruhi orang2 untuk mengikuti? Kalo orang2na gag terpengaruh, ya... so what?

Xexexexe. Ternyata sampe di sini aku jadi tendensius sepertina ^^. Eniwe, tidakkah kalian berpikir bahwa tindakan menyeret orang2 itu untuk ditanyai dan diperlakukan layakna penjahat, sebagai tindakan yang tidak menghargai hak asasi manusia? Atas dasar apa c kita, sesama manusia berhak menjudge bahwa tindakan dan keyakinan orang lain adalah sesat? Hanya karena berbeda dengan ajaran keyakinannya... catet ini, hanya karena komunitas2 itu dianggap melenceng jauh dari apa yg sudah tersurat dan tersirat. Nah, atas dasar apa c? Lebih jauh lagi, gimana kita bisa yakin bener bahwa apa yg telah kita jalani sekarang adalah yg terbaik dan terbenar?

Oh, tentu bisa jeng... karena itulah yg dinamakan iman, ketika kamu yakin bener bahwa inilah jalan yg terbaik. Tapi itukan urusan kita masing2, dengan apa yg kita percayai sebagai Yang Maha. Kita sama sekali tidak berhak untuk menentukan jalan hidup dan pemikiran orang lain, itu yang selalu aku pegang. Jadi sebenernya, kegiatan penggerebekan dengan alasan bahwa mereka komunitas sesat itu tidak bisa dibenarkan, menurutku. Karena gag ada dasarnya. Kecuali kalo komunitas itu uda merugikan kepentingan orang banyak. Kalo hanya ‘sekedar’ meresahkan karena masyarakat takut terpengaruh, ato karena dianggap menodai citra agama yg uda pakem, ato lebih jauh lagi, dianggap menjelekkan nama Tuhan, yaa....bagiku krg bisa diterima. Do you think Tuhan sedemikian rapuh dan lemahnya kah, sehingga harus dibela sedemikian rupa?

Jadi keinget sama uraiannya seorang dosen filsafat Univ Paramadina tentang macam2 argumen keagamaan, ato argumen pembuktian keberadaan Tuhan. Bahwa di dunia ini wajarnya ada 3 aliran yg dianut orang2 di dunia, yaitu argumen kosmologi, ontologi n teleologi. Argumen kosmologi menyatakan bahwa segala sesuatu di dunia ini mesti ada sebabnya. Alam raya pasti memiliki sebab akan keberadaannya, dan sebab itu adalah Tuhan. Argumen ontologi berangkat dari pandangan bahwa Tuhan adalah zat yang sempurna, dan salah satu sifat kesempurnaan adalah ada, dengan demikian Tuhan ada. Argumen teleologi berangkat dari penelusuran manusia terhadap keteraturan di dunia. Jika ditelusuri terus, keteraturan mestilah bersumber pada sesuatu (zat) yang membuatnya menjadi demikian, sesuatu (zat) itu adalah Tuhan. Argumen2 ini didasari dari ajaran2 agama yg ada di dunia, dan sering disebut sebagai argumen yg rasional, berdasarkan analisa logis. Dan inilah yg kita semua yakini n percayai, kan?

Tapi kemudian muncul sebuah argumen baru yg hampir ditolak oleh semua filsuf agamis, yaitu argumen yg berkaitan dengan pengalaman keagamaan. Argumen ini bersifat empirism karena ia berdasarkan pengalaman kognitif seseorang. Kenapa banyak ditolak n dikritik, karena argumen ini berasal dari pengalaman subyektif yg gag bisa diverifikasi, dan karenanya gag bisa dijadikan landasan untuk membangun sebuah pengetahuan yg obyektif toh?

Jadi, kebanyakan orang gag bisa terima alasan seperti,”saya percaya Tuhan ada karena Dia datang pada saya semalam”... untuk mengimani Tuhan. Karena itu adalah alasan empirik, subyektif, n gag bisa dipertanggungjawabkan secara logis n rasional. Lain seperti... “saya percaya Tuhan ada karena bumi ini begitu indah dan sempurna” misalnya.

Seorang pencetus argumen pengalaman keagamaan ini pernah berpendapat bahwa apa yg penting sebenernya adalah bukannya pertanyaan “Apakah Tuhan ada?” melainkan “Apakah saya beriman pada Tuhan?” N I found him right in the end, karena toh, kita meyakini Tuhan bukan karena secara rasional atau empiris Ia bisa dibuktikan, tapi karena kita merasakan keberadaanNya, karena kita membutuhkan-Nya. Sama seperti analisa Freud tentang ini, bahwa agama dan kepercayaan thd Tuhan sebenernya adalah respons manusia terhadap situasi ketakberdayaan mereka dalam menghadapi dunia yang tak dapat mereka kontrol. Problem manusia untuk berhadapan dengan Tuhan bukanlah sebuah problem ontologis, tapi problem epistemologis.

Kalo ada yg pernah baca karya2 Immanuel Kant akan terlihat di situ bahwa sebenernya akal manusia itu gag mungkin sampe pada pengetahuan fundamental tentang struktur realitas (pengetahuan metafisika). Karena manusia gag bisa mengetahui sesuatu di luar pengalaman sensorisnya. Therefore, IMO, sesungguhna kemampuan akal kita terbatas untuk merasionalkan yang namanya fenomena Tuhan itu sendiri... Dan ketika akal menjadi ‘lumpuh’ di situlah iman berperan. Iman yang berasal dari pengalaman kognitif, pengalaman keagamaan masing2 orang. Iman seharusnya memiliki kepastian absolut yg berdiri sendiri, mungkin bahkan ekstrimna gag perlu aturan yang bener2 baku n strict... Manusia punya jalannya sendiri2 untuk beriman dan mencapai Tuhan, dan mungkin itulah yg sedang dijalani komunitas2 ‘aneh’ ituh, dan aku mulai berpikir... tidakkah itu wajar, selama mereka tidak merugikan yg lain, selama masing2 dari kita tetap ada di jalan masing2 n berinteraksi seperti biasa...???

Filsuf Wittgenstein sepertina pernah menulis kek gini kira2: “Karenanya, seorang yang beriman tak memerlukan penjelasan rasional mengapa dia memilih jalan itu”

Euh, kapan ya kita semua bisa berpikir sedalam ituh? Jangankan memberi penjelasan rasional... bahkan memikirkannya ajah uda jadi sebuah kejahatan besar ^^p

Thursday, December 29, 2005

difference is a crime!

Ada satu iklan (yang bahkan gag kuinget iklan apa) yang cukup menarik, iklan rokok sepertina.... Itu tuh, iklan yg menampilkan telor2 bergambarkan wajah bermacam2 orang yang kemudian pecah n orang2 yg di dalemna pun keluar. Yg menarik adalah jargon yg mengikuti pecahna telor2 ituh, kira2 gini: “Kita semua diciptakan (ato dilahirkan,ya?) beda... kenapa harus sama??”

Xixixi.... Iyah... kenapa harus sama c? Pertanyaan ini muncul setiap kali terjadi fenomena yg memperlihatkan picikna manusia2 yg gag bisa nerima perbedaan. Buanyak banget yg masih berlaku kaya ABG, anak2 bau kencur yg ciri khas utamana adalah menganggap perbedaan sebagai kejahatan. Difference is a crime... did u honestly ever think bout that? Well, shame on u if u do.

Kenapa kita harus takut pada perbedaan c? Kenapa kita harus mendiskreditkan seseorang ato sesuatu yg berbeda dgn kita? Tidakkah menurutmu perbedaan itu indah, teman..? Tidak bisakah kau merasakan bahwa dengan perbedaan itu kita semua bisa menjadi manusia yg lengkap dan saling melengkapi? Mur bepasangan dengan baut, baru bisa berfungsi, sementara baut dan baut takkan menghasilkan apapun..

Entah ya, mungkin memang sifat dasar kita semua, yg selalu mencari kesamaan, dan yg hanya bisa mendapatkan kenyamanan dan kebahagiaan dari persamaan. Tapi aku sendiri selalu bertanya2... tidakkah nantinya kita merasa bosan jika menghadapi cermin yg sama setiap hari? Cause i think I’ll really get bored with that. Apa yg bakalan kita dapet c nantina kalo senantiasa idup dan dilingkari oleh orang2 dengan pemikiran sama, dengan bentuk fisik yg sama, dengan iman yang sama, dgn kelompok yg itu itu ajah?

IMO c... gag ada... selain rutinitas n hidup yg tersistem kaya mesin. Well, maybe there’re sort of people who satisfied with this kind of life, yah itupun sebuah perbedaan visi hidup yg tentuna hrs kuhormati yah... xexexe

Tapi.. trus di mana tantangannya? Di mana seni hidupna kalo gituw?

::mewterlalubanyakbertanya::

Wednesday, December 28, 2005

may i suggest u get the best...

u're just too good to be true...

my beautiful luna...

how u swoon me like no other...

*sigh*

Wednesday, December 21, 2005

once again bout "momon-gate"

Masih tentang ‘momon-gate’ yang menghebohkan ituw... xexexe heboh? Sebenernya c biasa ajah ya, kalo gag ada yang sok usil aneh2 mem-blow up ‘kasus’ ini jadi sebuah kasus nasional.
Eniwe, memang peristiwana masih tergolong fresh dan kebetulan di satu pihak menyangkut nama orang nomor 1 di indonesia, serta di lain pihak, orang yang kebetulan kukenal c yah, jadina... kadang masih kepikiran. ^^p
Mungkin memang tidak ada hubungannya, tetapi... adalah seorang Budiarto Shambazy, seorang kolumnis yang amat sangat kukagumi tulisan2nya -[Wis, ndak pernah absen deh... baca tulisan beliona ini.] – yang mengulas tentang “kritik dan presiden”, dan yang membuatku lagi2 teringat pada momon-gate...

Dari kolom politika medio sabtu, 17 desember ituh aku dapet satu keyword lagi yang menggambarkan kondisi mental orang2 kita (including me, i guess ^0^) yaitu, mental antikritik.
Dikritik sedikit, marah... bahkan, jika orang lain hanya menyampaikan opininya dianggap sebagai sikap yang mengagresi, menyerang, dan kita ... jadi defensif karenanya. I felt that, many times... dengan jujur kuakui. Bahwa aku sendiri masih terlalu sering bersikap defensif yang berlebihan...

Defensif... perlukah?
Perlu... dalam dosis yang tepat dan tidak over (sepertinya segala sesuatu pun begituh..). dalam momon-gate, lelaki berusia 23 tahun itu dianggap telah meng-agresi.. dan kemudian ada pihak2 tertentu yang melakukan tindakan defensif berlebihan... ato setidaknya menyarankan agar pihak yang ter-agresi melakukan defense... xexexexe.

Dunno, IMO... sejak dulu, bahwa defense adalah sebuah tindakan yang tidak banyak membawa keuntungan (buatku loh ya). Karena dalam sebuah tindakan defensif kita akan terkondisikan untuk mencari menang... bukan untuk mencari benar. Bukan begitu benar? Yah... mungkin lain2 kali ye. Bahkan sebuah tindakan yang apatis, diam dan netral kadang bisa diinterpretasikan sebagai sikap pertahanan diri juga c, jadi mungkin juga beda2.

Eniwe, salah satu peyulut sikap defensif ini adalah... kritik itu tadi. N u’ve got to face it, di luar sana masih begitu buanyak orang2 yang gag bisa nerima kritik, ato opini sekalipun.
Ada yang marah waktu daerah kekuasaannya dibilang kondisi siaga 1 (kasus bupati poso yang marah2 gara2 pers dianggapnya terlalu melebih2kan berita ‘mutilasi’ di daerahnya... katanya waktu itu, yang sedikit marmos juga.. “jangan beritakan yang tidak2 tentang daerah kami dong, nanti jadi buruk citra kami.... ckckckck... citra, once again, citrah...)
Ada lagi yang marah waktu dibilang daerahnya dibilang daerah paling tertinggal, ‘hanya’ karena pers dianggap salah memberitakan 55 orang meninggal kelaparan (padahal katanya yang meninggal ‘hanya’ 15 orang... yahukimo.... hanya, yah... hanya, ketika nyawa manusia pun direduksi menjadi hitungan angka dan persentase)
Ada lagi yang balik mengkritik, gara2 puisi indah Nasib Guru yang terkenal itu mengulas sekolah yang seperti kandang ayam dan gaji guru yang cuma cukup untuk hidup sehari_ winarno surachmad
Tapi banyak juga c, yang kebal kritik, gag peduli dan tetap berangkat studi banding ke Mesir meski dah didemo abis2an, sementara 55 orang yahukimo meninggal karena kelaparan, di makassar muncul busung lapar, dan daya beli masyarakat menurun drastis...

Sebenernya di mana letak salahnya yah? Nurani kita kah... yang telah dibutakan sedemikian rupa? Kulturkah, budayakah, yang membuat kita bereaksi negatif terhadap sebuah attitude kritik, dan bukannya menjadikannya sebagai titik tolak refleksi terhadap diri sendiri? Kalo banyak kalangan menyebut bahwa korupsi bukan lagi sebuah habit, kebiasaan tapi sebuah budaya... apakah sikap antikritik pun demikian adanya? Telah menjadi budaya yang mendarah daging dalam hidup bermasyarakat?

Budiarto shambazy sendiri menyebut kritik, guyonan dan apapun namanya sebagai sesuatu yang sangat lumrah, bahkan yang berhubungan dengan seorang presiden sekalipun. Toh, kita adalah negara demokrasi (katanya). Di AS, yang notabene negara demokrasi terbesar di dunia, kritik terhadap presiden adalah hal yang lumrah. Contohnya, cerita tentang 6 presiden AS yang terjebak di kapal yang sedang karam.. anybody ever heard bout this? Waktu kapal mulai kemasukan air, presiden Gerald Ford (69-74) yang dikenal peragu bertanya, “apa yang harus kita lakukan?”
George W Bush junior (01-...) yang tegas seperti koboi segera memberikan komando agar sekoci2 diturunkan.
Ronald Reagan (77-81) yang pelupa dan suka tertidur waktu rapat kabinet bingung dan malah bertanya, “Sekoci itu apa?”
Jimmy Carter (74-77) yang seorang demokrat sejati mengingatkan agar perempuan didahulukan masuk sekoci, tapi Nixon (69-74) yang dikenal kasar tak setuju, “Ah, perempuan tak usah diistimewakan!”..
Dan Bill Clinton (81-89) yang hampir dipecat gara2 Monica-gate langsung bereaksi gara2 soal perempuan ini. “menurut kalian, memangnya kita masih punya waktu untuk merayu mereka?” tanya clinton yang setrumna langsung naik.. ^0^

Itu satu contoh sederhana tentang bagaimana lumrahnya presiden menjadi bulan2an kritik dan humor di negara demokrasi terbesar di dunia tersebut... sepertinya mereka di sana jelas tidak akan terlalu menganggap serius perkara ituh. Just a common joke, n hey... we’ve got no time at all to chase n punish every joke creator, atau orang2 dengan kreativitas berlebih ini, toh..? xexexe. Mending ngurusin yang lain.
Cerita 6 presiden di atas langsung menancap ke kebenaran dari masing2 individu presiden ituh... menguak sisi buruk mereka secara terang2an. Meanwhile, bandingkan dengan momon-gate. temanku ituh.. apa c yang dilakukannya? Retouching foto SBY dengan foto mayangsari-bambang yang ‘tidak-berarti-apapun’ gitu loh... I mean.... semua orang juga tau dengan jelas bahwa itu gag mungkin benar... so, di mana sisi penghinaannya?
Xexexexe.
Lagian aku percaya, pak sby sendiri adalah orang yang cukup arif untuk melihat bahwa itu.. joke semata... Ntah ya... yang lain.. yang mungkin punya niat2 terselubung... kehkehkehkeh
Salam, pak SBY ^^p

::enoughboutmomon-gate::

Friday, December 16, 2005

peraturan bersama

Satu artikel yang dimuat di harian kompas hari ini menarik perhatianku. Berita tentang perumusan Peraturan Bersama tentang pendirian rumah ibadat di daerah, oleh Kementrian Dagri dan Kementrian Agama. Mann, benakku langsung melayang2 ke kasus ‘operasi izin’ tempat beribadah yang dilakukan oleh kelompok tertentu di berbagai daerah yang s4 menimbulkan ketegangan massal.

N u know what, ternyata setali tiga uang, aku dan para pemerintah yang merumuskan peraturan bersama ituh. Kami sama2 berangkat dari acuan yang sama, yaitu kasus operasi izin tersebut, tapi yah... berbelok di persimpangan yang berbeda. xexexe.

Pemerintah lewat tim yang dibentuk Menag dan Mendagri tersebut melihat kasus2 yang ada tersebut sebagai akibat dari tidak adanya peraturan yang lebih detail mengenai izin tempat beribadah. Dulunya memang ada Surat keputusan Bersama (SKB) tentang pendirian rumah ibadah, tetapi SKB ini belum mengatur secara rinci prosedur pendiriannya. whedew... dan beliau2nya ini kemudian ber’niat baik’ untuk menyempurnakan SKB menjadi sebuah Peraturan Bersama. Sounds great, huh? Menunjukkan eksistensi pemerintah sebagai penguasa dan pengatur, perumus kebijakan untuk lebih menyejahterakan masyarakatnya.

Yeah... mengatur? Bukannya menunjukkan arogansi? ^^p...

Menyejahterakan? Memperhatikan?

Di mataku, peraturan bersama itu justru menunjukkan sisi penguasa yang tidak empati, tidak memahami, dan tidak mendewasakan masyarakatnya. Semua sikap negasi terhadap 3 sikap inti dalam relationship antar manusia ini seharusnya tidak dipunyai oleh pihak2 yang merasa berhak mengatur hidup dan hak orang lain.

Xexexe....

Tapi mungkin niatnya memang baik, who knows juga c... cuma dalam kerangka pikiranku yang sedikit simpang siur, ada kejanggalan dari peraturan bersama ituh. Kalo memang benar kasus operasi izin itu yang jadi pemicu utama kebijakan, alangkah lebih bijaksananya kalo kita semua terlebih dahulu memikirkan kenapa bisa terjadi peristiwa sedemikian rupa? Dan apakah peraturan bersama yang lebih rinci dan ketat merupakan solusi terbaik?

Buatku pribadi c, ada beberapa pertanyaan yang terbersit yang berkaitan dengan kasus2 operasi izin t4 ibadah, yaitu pertama adalah... berhakkah seseorang atau lebih melarang orang lain untuk beribadah? Padahal katanya kita adalah negara yang menjunjung tinggi kebebasan beragama menurut keyakinan masing2...

Kemudian... lebih jauh lagi, seberapa pentingnya c melakukan operasi izin semacam itu? Apa untungnya, dan apa ruginya bagi kita semua jikalau kita berada berdampingan dengan sebuah tempat ibadah, meskipun itu bukan tempat ibadah keyakinan kita? Apa untungnya coba? Tidak ada? Dan ruginya? Takut terpengaruh? Takut dipengaruhi? ....

well, naif sekali kalu begituh... sseharusna kita tanya pada diri kita sendiri, bagaimana mungkin kita menjadi begitu tidak percaya diri, padahal kita berurusan dengan keyakinan kita sendiri, sesuatu yang sepenuhnya milik kita sendiri, dan benar2 hanya urusan kita dengan Yang Di Atas.. no?

Kecuali mungkin...calon t4 ibadah yang akan didirikan dibangun di tanah bersengketa misalna, itu baru merugikan.

Tell me bout this, cuz i really don’t know why they committed such an act like that...

Mungkin memang sudah menjadi sifat manusia, tidak begitu mudah menerima perbedaan.. tidak bisa memandang perbedaan sebagai sesuatu yang menguntungkan... dan satu lagi bukti nyata bahwa kebebasan (dari segala segi) memang masih jadi barang mahal di indonesia

Dan kemudian, muncul... peraturan bersama ituh, yang dimaktubkan sebagai sebuah solusi... yang ... janggal... You know, IMO, solusi ato niat baik ini justru malah semakin mengerucutkan perbedaan yang ada. Pemerintah justru melegalkan tindakan operasi izin t4 ibadah dalam bentuk yang lain, dan semakin menyuburkan sentimen mayoritas dan minoritas, that’s for sure.

Check the main frame of this law. I quote that this law consists of 2 main frames. Satu, tentang pembentukan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), dan yang kedua adalah prosedur pendirian t4 ibadah. FKUB dibentuk di tiap2 tingkatan (propinsi, kab/kot, kecamatan sampek desa) dengan pengurus yang terdiri dari masing2 pucuk pimpinan tingkatan. Wakil gubernur, kakanwil depag, tni, anggota kepolisian dan kejaksaan... birokrat gitu looohhhh ^^ FKUB ini disebut2 sangat sakti. Berdiri ato tidaknya t4 ibadat mutlak tergantung dari rekomendasi FKUB inih...

Kemudian prosedur pendirian t4 ibadat antara lain harus menyertakan berbagai surat izin yang diterbitkan Bupati/Walikota. Sebelum sampe bupati/walikota harus melalui rekomendasi FKUB tingkat kab/kot, kecamatan dan desa dengan disahkan masing2 perangkat pemerintahan dan kepala kantor depag kab/kota. Dan kalo ada yang belom tau betapa rumitnya dan menyusahkannya perjalanan surat izin dari birokrat, i’m gonna guarantee it.... that it’s really really difficult mann! Apalagi kalo jalannya lengkap dari desa sampe kabupaten...

Udah? Belomm.... masih harus menyerahkan daftar nama alamat KK sesuai KTP setempat yang akan jadi jemaat, minimalnya 50 KK.... ^^

See that?

Coba bayangkan seandainya kita berniat mendirikan t4 ibadah.... dipersulit, makan waktu bertaon2 maybe, belom lagi kalo nyerah, kendala waktu, dana blablabla. N meanwhile, di mana kita bisa beribadah... tar salah2 kena operasi izin, lagi... xexexexe.

Yang paling jelas terlihat adalah betapa kelompok minoritas akan selalu berada dalam kontrol kelompok mayoritas. Dan itu jelas bukan gudnewz buat usaha pengkondusifan kehidupan beragama di Indonesia. Kapan kita bisa belajar untuk jadi dewasa dengan tidak menerapkan manajemen reaktif semacam ini setiap kali terjadi kasus tak mengenakkan? Reaksi yang aneh pula, c menurutku.

Kalo memang tindakan operasi izin tempat ibadah itu meresahkan pemerintah, negatif buat pemerintah, kenapa tidak permudah sajah izin pendirian t4 ibadah, bukannya memperpanjang birokrasi yang rawan penyelewengan...

Toh harusnya kita semua sudah cukup dewasa untuk tahu mana yang benar dan salah... harusnya....


::confusedmew::

....i'm not telling right is wrong
it's up to us to make..
-oasis-

Wednesday, December 14, 2005

Senin 12 desember 2005

11.00 siang, kantorku digeruduk pria2 berseragam coklat ituh... they took my friend away with em... just because his creativity. Kreativitas yang berlebihan, kata mereka... waxaxaxa.
Dan segera... tiap monitor komputer di kantor terpampang url blog momonh yang bermasalah ituw (hidup momonhh!! ^^p) dan juga halaman detikcom plus detikinet yang membuatku terkagum2 juga c... gile, cepet banget yah mereka mengendus berita? xexexe.

what's so wrong with blogging anyway? what's so wrong with retouching photos? what could be worse with attaching one photo to another? dan lebih jauh lagi, apa salahnya dengan berekspresi? *that's the first questions runnning my mind, that time*
aku heran de.. kenapa banyak yang ngurusin hal kek beginian sementara orang2 di yahukimo kelaparan, sementara bencana impor beras semakin mengancam, sementara inflasi uda sampe 2 digit... sementara koruptor kelas kakap cuma dipenjara 1 taon? ...
gag tau lah

my father said... "bukannya emang harus ada batasan2 yang harus diterapkan para blogger itu kan jeng? i mean.. blog kan juga termasuk media, yang bahkan jangkauannya lebih jauh dibanding media lain...? sama seperti papah, kami punya kode etik di mana kami punya batasan2, sekaligus hukum yang bisa memayungi kami, melindungi kami... trus blog itu... di mana batasannya??"
well, tentang ini emang aku pernah denger isu komunitas 'pelindung' blogger itu sendiri... tapi... is that really matter yah? blog is blog, just the same as internet.. u could access it, get anythin' from it, nobody can stop u from doin' anytin' kan? jadi kalo emang ada batasan, some rules for blogging, i think u should made em for internet too. harus ada peraturan untuk berinternet juga, yang aku yakin pasti ada, tapi... apakah efektif?

again my father strikes: trus itu... bukannya blog itu justru jadi lahan empuk untuk nyebarin pornografi misalna..? what did u say bout that dear? itu kan uda namanya merugikan masyarakat toh
n i laugh.. tapi papa gag bisa mengabaikan bahwa dalam blogging tetep ada sisi positifna, bahkan banyak. dan itulah kenapa blog diciptakan bukan, untuk sesuatu yang positif seperti gathering, long distance communicate, sharing knowledges n thoughts. yang papa bilang tadi adalah sisi negatif yang kebetulan dilakukan oleh tangan yang salah. bahwa blog itu sendiri telah disalahgunakan untuk kepentingan yang merugikan orang. ya kalo ingin mendiskreditkan blog, kenapa kita gag mendiskreditkan kamera handphone ajah misalna, biar gag digunakan untuk bikin film porno misalnya, ato diskreditkan ajah vcd dvd cassette, biar ndak ada pornografi...?!

papa lagi: nha, kalo kasus temenmu ni gimana, mungkin dia emang gag niat jelek, oke papa setuju, but obviously ada seseorang yang merasa dirugikan toh?"
hmm... yah... what can i say? sebuah tuduhan penghinaan terhadap seseorang itu seharusna diserukan oleh orang yang merasa terhina, bukan? bukan oleh orang lain kan? kalo orang yang katanya dihina itu diam saja, kenapa orang lain harus melaporkan orang yang menghina? xexexe...

bebas berekspresi adalah kesadaran... dan kesadaran itulah yang harus dipunyai setiap orang di negara ini. bagaimanapun harus diakui bahwa indonesia masih sangat jauh dari iklim kondusif kebebasan berekspresi. bagi kita semua, citra adalah master... tak ada yang lebih penting dari citra, jadi siapapun yang berani menodai citra... adalah penjahat terbesar.
yeah... gimana bisa berkembang kalo gitu caranya c?
kita semua harus belajar untuk jadi dewasa, tumbuh, dan berkembang... tidak lagi menjadi seorang anak kecil yang apa2 selalu dikaitkan dengan penghinaan dan tidak bisa menerima apalagi menghormati opini orang lain. dan memahami, bahwa tidak semuanya sesuai dengan kerangka pikir kita. who knows, he's not trying to insult u anyway, but u're the one who felt it...?

dan bahwa orang yang berekspresi pun seharusnya sadar bahwa ekspresi pun membutuhkan visi ke depan untuk menerima segala resiko bahwa ekspresinya tidak berkenan di hati orang lain...
yeah.. salud bwat momonhh!! ^^

Tuesday, December 13, 2005

sunday heritage


Minggu, 10 desember 2005

07.30 janjian sama anak2 mo lari2 di bulevard..
hah? get real ajah, when u slept late the night before, n u have only sunday for getting up late, dya think u're gonna get up early this mornin' n have some silly run? xexexexe. gag c, sebenernya semangat banget pengen olahraga, tapi begitu tau kalo pagi itu 07.00 seluruh jokja ujan dueres banget, yah... apa mau dikata.. :D ndak ada yang lebih nikmad dibanding meringkuk di balik selimut waktu ujan... toh?

then one sms strike out: kita mo diklat caving ke jomblang sekarang... ikutlah....
arrggghhhhhh.... mauuuuuuuuuuu..... hiks, tapi.... jomblang means vertikal, n means rapelling... aww aww aww, i dont think this old bones could handle that kind of stretch deh, xexexe, lagian 09.00 o clock harus siap siaga meluncur ke venue biennale di jsc... so... bye bye jomblang... hiks...

kebagian jatah jaga di JSC, jogja study center yang ada di kotabaru, sebuah gedung yang mengagumkan. magnificent just because its originality. tiba di sana setengah jam sebelumna, suasana benar2 lengang, sepi. celingak... celinguk... pun tidak ada tanda2 kehidupan, sampe ketemu dengan 'caretaker' t4 itu, bapak sapa ya namanya? xexexe... obrol punya obrol sambil lirik2 nyari sosok chippy n koko yang gag nongol2 juga... n akhirna... nongol juga. xexexe... 2 manusia yang menyenangkan, rame n bersemangat.

kenapa jsc dipilih jadi salah satu venue biennale 2005? karena gedung ini, selain punya shape n penampilan yang mengagumkan, masih kolonial banget, dengan denah berbentuk anak panah, gedung ini juga punya banyak sejarah tersendiri. dulunya rumah tinggal, tapi ketika jokja jadi ibukota RI (1946-1949), gedung ini difungsikan sebagai Kantor Kementerian Luar Negeri serta Kantor Kementerian Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan. tapi setelah ibukota pindah ke jakarta, gedung ini beralih fungsi jadi gedung perwakilan instansi pendidikan dan kebudayaan pusat, dan akhirna jadi milik Biro Umum Pemda DIY.

sekarang, gedung ini dikelola badan perpustakaan daerah DIY, dan jadi pusat studi berbagai macam kegiatan terutama untuk anak usia sekolah. Setiap hari ada kegiatan di tempat ini yang meliputi berbagai bidang dan dibina oleh berbagai komunitas, seperti kegiatan melukis, membuat kerajinan, bermain musik, belajar bahasa asing, sampe praktik yoga [wah, mau tuh.. ^^]. kemaren pun ada beberapa gadis kecil yang latihan vokal, ditungguin orangtuanya... lucu deh.

kaitannya sama biennale, JSC ini dijadikan venue untuk salah satu pameran seni instalasi ato lebih tepatnya site specific installation, karya seniman gondrong Farhansiki. beliau menamakan karyanya ini dengan "No White Flag". dan seperti namanya, karya seni ini merepresentasikan sebuah sikap 'never surrendered attitude'. muncul karena respon situs gedung JSC sendiri yang bergaya kolonial, maka representasinya juga mengambil setting masa kolonial Belanda.

cukup sederhana emang... digambarkan di situ, di balkon depan gedung JSC sekelompok pribumi (berbentuk potongan kain biru yang menggambarkan orang bercakap2) yang menyatakan keyakinannya bahwa mereka akan selalu bersama2 menghadapi berbagai ancaman dan bahaya. di bawah gambaran pribumi tersebut ada sehelai pita putih yang kira2 tulisanna gini, "Heeft het bericht, dat Gij ons niet verliet, Ons grote steun verleend in onze noden" yang artina, Berita bahwa Anda tidak meninggalkan kami, Memberi kekuatan dalam derita ini. katanya c sebenernya kata2 ini ada terusannya.. [kata2 ini pernah diucapkan oleh seorang gadis muda pada tahun 1943 kepada Gubernur jenderal Jhr. Van Starkenborgh yang bunyinya " Di hari2 gelap, ketika banyak yang lari, Berita bahwa Anda tidak meninggalkan kami, Memberi kami kekuatan dalam derita ini: Bukankah setengah kesedihan adalah kesedihan yang berbagi"



nice n lovely... meskipun sebenernya maintenance dari karya seni ini kurang diperhatikan, melihat bahwa banyak yang udah tergeser dari posisi semula (karena keujanan c), bendera2nya juga banyak yang layu dan miring... sayang, sebenernya..
sederhana... kalo dibandingin sama karya instalasi serupa di vredeburg.. yang di jsc terasa kurang... menggigit, dan tertinggalkan..

lesson for the day: never surrender.. no matter what, just because we hold hope in our heart. n what else but hope that build all of us?
only hope..
and knowing that we're not alone, thats really strengthened us up
.

rumpii... ^^

Sabtu, 9 Desember 2005



15.00 ibu2 arisan uda pada kumpul di t4 yang dijanjikan... cuma 4 orang tersisa c akhirna, meta sibuk sama suami di batam, idhez berkarir di bali, irma bercinta di depok jakarta [^^p], aan n pipit yang berhalangan hadir... n cuma tinggal mami, aku, sita, ana. niat awal pengen ke jalapeno, kafe-na koko yang baru, tapi akhirna.... mentokna juga di t4 favorit kami, peppermint.
this place really have great beverage n food. aku yang biasanya always selalu mesen corn soup, burger sama double chocolate shake plus sampler plate patungan kali ini banting stir, nyobain curly french fries sama mocacino ice... ternyata, wadaoowww sedap euyyy.
mami pesen green tea ice cream, icip punya icip... ternyata wuenak jugak...
xexexe. dan dasar ibu2... kalo dah ketemu pasti lupa waktu, gosip ngerumpi cekikikan... gag terasa euy, dari jam 3 sore sampe 10 malem ngoceh terus, dower kali ye bibirna.. xexexe.

lesson for that day: peppermint emang gag tergantikan!!! n gathering with the galz could be the most perfect thing to do to freshened up ur day

Monday, December 12, 2005

telak!!

“complicated” really isn’t your middle name... as i remembered.
But if u say so, i have no doubt bout it,
and that’s.. undeniable, have suck me into a deep tiring hole..
Aku tersedot dalam kelelahan yang amat sangat.

Isn’t it amazing?
Bahwa kata2 itu bagaikan bom waktu yang mengubah seluruh landscape dunia di mataku.
Ia meledakkan tanggul pengendalian diriku yang paling efektif,
menjebol lumbung kekuatanku (yang tak pernah kukira akan hancur dan mengalir keluar setelah aku menambalnya 2 tahun yang lalu)
dan terutama, ia menarikku dari alam kesombonganku
mendudukkanku ke dalam sebuah realita sederhana yang tak terelakkan
.... that i’m vulnerable, without you...
.... that it hurts me so, to see u standing next to other...

tanpamu, dan tanpa kenangan akanmu,
aku hanya seonggok tulang belulang yang digerakkan oleh mekanisme hidup
tanpamu, aku hanya sebongkah hati yang menangis sedih
tanpamu, aku hanya segumpal sel abu2 tanpa nutrisi

aku bisa hidup tanpamu
tapi aku tak bisa ‘hidup’ tanpamu
dan aku harus hidup dan ‘hidup’ tanpamu..

bagaimanapun, terimakasih
telah menarikku dari dunia soliterku
dari awang2 kesombongan dan arogansi yang tidak pada tempatnya
untuk kembali membutuhkanmu...

needing someone, is it a beautiful feeling, no?

Monday, December 05, 2005

mello...

"is it word 'complicated' enough for you?"

n suddenly i realized... i do love him, thy say those words.
i do love him in irony, forgive me... :((
hiks