Sunday, November 13, 2005

robert ludlum's

Obviously bukan karena ngefans sama penulisnya, waktu aku marathon baca 2 novel-na Robert Ludlum. The Sigma Protocol sama The Bourne Identity. Berangkat dari tanpa pretensi apapun, tapi di tengah-tengah, akhirna aku terpaksa membandingkan keduanya sama 2 novel Dan Brown, Da Vinci Code n Malaikat dan Iblis. Dan Brown jelas masih lebih piawai dalam bertutur, dari segi apapun. Meski ludlum termasuk lebih senior dan lebih dulu menelorkan novel2 konspirasi, tapi masih kalah runtut dan menarik dibanding Brown.

The Bourne Identity c masih lumayan. Mungkin itu masterpiece-na ludlum ya, terbukti sampe dibikin pilem segala, meski antara filem sama novel beda jauh kualitasna. Di bourne identity (versi novel), ludlum berhasil menyajikan sebuah alur cerita yang compact, padat dan logis. Meski rada disayangkan c, kenapa jawaban dari permasalahan uda bisa pembaca ketahui di tengah2 cerita.. kenapa identitas jason bourne yang kena amnesia uda di-reveal di tengah2 novel? Tapi mungkin itu juga ya tantangannya. Buktina, sisa ceritanya masih cukup seru kok, meski misterina dah banyak berkurang.
Kalo yang The Sigma Protocol... wah... ancur dah! Xixixi. Novel yang aneh, gag berujung pangkal. Gag jelas, baik alur cerita, tema, sama penokohannya. Terlalu banyak background n tokoh2 yang lewat simpang siur di buanyak lokasi. Adegan2-na lari2 terus, dari Nova Scotia, London, Zurich, Swiss, Paraguay, Wina, Paris.. New York n whole lot more.., dengan tokoh yang berbeda2 n cuma mampir sebentar, bikin bingung! Yaa... mungkin Ludlum cuma pengen menegaskan ceritanya biar bener2 berkesan konspirasi tingkat tinggi, kontroversial, spektakuler n gag cuma kaliber regional ajah.

Tapi dengan berat hati kubilang... he failed. Dia gagal nyusun issue konspirasi dari awal. Bibitnya c lumayan menarik.. dia memanfaatkan kemisteriusan peristiwa Holocaust di Dachau sama Auschwite n kepopuleran sadisme Nazi.. n mengkaitkannya sama korporasi ekonomi yang berbelit2. tapi membingungkan.. (ato aku yang gag konsen yah.. ^_^). Banyak logika2 yang gag masuk akal n terkesan dipaksain. Ceritanya kan dimulai dengan tragedi pembunuhan orang2 tua yang kelihatan gag berdaya dan tidak berhubungan satu sama lain. Dan ternyata orang2 tua itu sebenernya anggota sebuah korporasi ekonomi yang berumur setengah abad lalu. Yang bersembunyi di balik pasukan terkenal Schutzstaffel (SS) pimpinan Hitler. Ternyata di dalam pasukan itu juga dikenali ada anggota2 yang dikenal sebagai musuh SS, ato bahkan orang Yahudi sekalipun. Intina.. ludlum pengen membalikkan fakta n sejarah bahwa pembunuhan holocaust n sadisme Nazi sebenernya merupakan kamuflase konspirasi tingkat tinggi antar benua yang bertujuan ingin memperkaya individu2 tertentu.

Yang gag masuk akal adalah... kenapa anggota2nya yang tersisa sekarang harus dibunuhi, padahal mereka gag pernah dan gag akan buka mulut selama lebih dari setengah abad? Dan kenapa tiba2 seorang lelaki muda tampan, kaya, n sukses kaya Benjamin Hartman yag jadi tokoh sentral buku ini tiba2 dikejar2 dan diburu semua pihak, dari kepolisian antar negara sampe pembunuh bayaran yang paling sadis? Dan tiba2 ketemu sama petugas FBI cantik n seksi yang akhirna juga sama2 diburu. Xexexe bener2, patron novel konspirasi!

Dan tiba2... lelaki muda kaya yang gag tau apa2 itu bisa punya berbagai macam keahlian... selamat dari sekian puluh pertempuran dan adu tembak one on one... sementara petugas FBI yang berpengalaman sekian puluh tahun langsung mati seketika. Tiba2 Benjamin Hartman bisa mahir mengendarai pesawat terbang, helikopter, menyamar, mendaki tebing 90 derajat, adu ski sama pelatih ski terbaik di dunia, caving, melakukan dulfersitz (turun gua tanpa alat), n masih bisa belanja-belanji keperluan perburuan dengan mudah (padahal menurutku kudune kalo orang yang bener2 diburu pihak kepolisian seluruh dunia pasti distop or at least diblokir kartu kreditna toh? Xexexe), trus tiba2 jadi ahli ekonomi yang berwawasan amat sangat luas... padahal aslina ‘cuma’ anak orang kaya yang jadi guru elementary school!

Terus terang, aku hampir gag bisa menikmati, sampe pada adegan di mana Benjamin Hartman melakukan petualangan terakhirna yang kebetulan melibatkan aktivitas rapelling... n caving. Ini bagian yang paling sukses dari novel ini. xexe. Ludlum bisa menggambarkan dengan akurat dan bagus gimana perjuangan Ben menuruni gua vertikal tanpa ujung di pedalaman Swiss, dan akhirna harus menyusuri gua horizontal yang lebarnya cuma 45 cm!! (wah, itu mah lubang tikus...).

Stalaktit yang seperti sedotan rapuh, ramping dan cantik melancip hingga setajam jarum, bongkahan2 stalakmit, tiang2 yang terbentuk dari pertemuan... air mengalir turun di dinding dan stalaktit, menetes2 dengan stabil di lantai gua, menjadi satu2na suara dalam kesunyian. Bebatuan mengeras membentuk teras2, lembaran batu kapur tembus pandang tergantung dari langit2, bau amonia tajam dari kotoran kelelawar... (jadi kangen... ^_^). Gimana Ben ber’dulfersitz dengan mengikatkan simpul 8 ganda di satu ujung tali, menggunakan tubuh untuk mengontrol turun dan tangan kanan sebagai rem... (jadi inget... luwing jaran.. haiyaaaa hosh hosh hoshh... susye sekali!)

Ludlum bisa menggambarkan dengan baik gimana sebuah penyusuran bawah tanah memungkinkan mereka menghadapi dan mengatasi teror2 yang paling mendasar bagi manusia.. ketakutan akan kegelapan, kejatuhan dalam kehampaan, terjebak dalam labirin, terkubur hidup2, dan rasa panik.

Yupp... tapi akhirna, untuk apa semua itu? jawabannya... sungguh2 amat dangkal! Semua isu konspirasi yang Ludlum bangun dari awal, yang melibatkan semua elemen masyarakat di seluruh di dunia cuma dipusatkan di sebuah perusahaan yang mengusahakan obat umur panjang bagi individu2 tertentu. Aduh, sayang sekali gitu menurutku... isu kontroversial yang melibatkan holocaust n ss nazi cuma dijatuhkan ke isu tukang obat!