Monday, November 28, 2005

kucing lagi marah!

Perselisihan.... adalah hal biasa, bukan begitu benar? It’s all about mizundastood, kalo aku bole bilang, kesalahpahaman, dan ke-salah-memahami yang bisa terjadi pada siapapun, kapanpun di manapun. Dan kesalahpahaman itu sendiri berakar dari perbedaan interpretasi dan perspektif masing2 orang dalam memandang sesuatu.

Perselisihan yang ‘menyenangkan’ dan konstruktif bagi perkembangan jiwa seseorang adalah perselisihan yang terjadi pada individu2 yang bebas. Bebas bersikap, bebas berpendapat, bebas beradu, dan dengan catatan masing2 pihak tidak memiliki ganjalan untuk berusaha menang atas yang lain ... gituw? Meski sebenrnya get real ajah, semua orang jauh di lubuk hatinya pasti menginginkan kemenangan dalam pertarungan. Ato paling tidak, sekedar menginginkan sebuah pengakuan dari lingkungannya bahwa dia eksis dengan segala yang dipunyainya. Kalo dipelihara lebih dalem, kebutuhan pengakuan ini bisa berkembang menjadi winning-need yang bisa berlebihan. Yang pelu dicatat adalah bahwa winning-need ini hanya berhak dipunyai dan diperjuangkan oleh petarung yang sehat dan bersih, who seek winning not only in da surface, apalagi untuk bertujuan mengintimidasi orang lain, dalam hal ini sang loser.
Itu yang susah diterapkan, bukan?

Perselisihan yang tidak menyenangkan dan yang gag sehat terjadi bila 2 pihak/lebih yang berselisih sudah ‘tidak-bebas-lagi’; ato memang ‘tidak-pernah-bebas’. Individu2 yang tidak-bebas-lagi biasanya menyebabkan perselisihan yang tadinya sehat menjadi tidak sehat, karena individu2nya akhirna diperbudak oleh nafsu kemenangan yang berlebih, nafsu menjatuhkan, nafsu kesombongan, dan nafsu perasaan lebih baik dari orang lain. Seperti layaknya para OKB dadakan, individu2 ini dimungkinkan telah mengalami kemenangan di periode sebelumnya dan belum mampu memanage adrenaline akibat kemenangan tersebut. Tidak masalah sebenernya, memiliki nafsu, yang menjadi masalah adalah jika kita membiarkan nafsu memperbudak logika dan akal sehat. Check again how self control really really important for all of us.

Individu2 yang ‘tidak-pernah-bebas’ yang menyebabkan perselisihan tidak sehat berikutna adalah individu2 yang mempunyai hubungan hirarki/struktural. Struktural vertikal, seperti ortu-anak, senior-junior, bos-staff, beberapa hubungan percintaan yang dominan-resesif, dsb. Ato bisa juga struktural horizontal, berlapis seperti lapisan bawang, misalna teman – teman biasa – teman deket – sahabat.

Perselisihan yang terjadi pada relasi2 seperti ini akan menimbulkan kemarahan dan frustrasi yang besar, terutama di pihak resesif, bahkan bisa jadi bom waktu. Karena ada sesuatu yang tertahan dan terpendam di sana, jika suatu saat seorang ayah memarahi putrinya yang terlalu aktif berkegiatan di luar rumah, misalnya. Ato ketika seorang bos menegur stafna yang tidak mencapai target kerja yang diharapkan, ato seorang pemuda marah pada kekasihnya yang mengambil keputusan bekerja di luar kota misalna... xixixi.

Mau tidak mau, sadar ato tidak, ada aroma otoritas, intimidatif, intolerable dan unrevealness di dalam perselisihan yang terjadi pada hubungan yang hirarkis. Meskipun masing2 bisa mengklaim bahwa dirinya yang benar, pada akhirna... otorita juga yang berbicara. Kekuasaan, legibility – lah yang akan menang.
Padahal, apa c sebenernya yang harus dicari dari sebuah perselisihan? Bukankah kita semua mencari kesatuan pendapat? Yang hanya bisa didapat dengan jalan kompromi? Mencari solusi yang menyamankan dan menyenangkan semua pihak, dan itu tidak bisa didapat ketika kita masing2 bersikukuh dengan pendirian masing2 dan terpaku pada perasaan bahwa kita harus mendapatkan apa yang kita mau, ato melakukan sesuatu dengan cara kita. I tell ya, you won’t get anythin’ from that kind attitude. Tidak mau memandang lewat mata kacamata orang lain adalah kesalahan besar yang banyak dianut publik. Empati yang kecil ini banyak menjangkiti para penggede2 di negara kita, misalna.

Ayah yang berang tidak mau melihat ke dalam kebutuhan putrinya, sementara putri yang menentang tidak bisa melihat kekhawatiran dan kerinduan ayahnya. Bos yang otoriter tidak melihat kesulitan non teknis yang dihadapi staffnya, staff yang dibayar juga tidak bisa menerapkan sense of belonging terhadap bos dan pekerjaannya... pemuda yang dimabuk cinta tidak melihat kesungguhan kekasihnya yang hendak mencari kehidupan dan pengalaman yang lain sebagai bekal hidupnya, dan sang kekasih kurang bisa mengerti kebutuhan pacarnya, mungkin.

Tanpa kompromi dan kerendahan hati memandang permasalahan dari sisi yang lain, dan dengan tetap bertahan pada kemarahan dan frustrasi.. situasi hanya bakal menjadi lebih buruk. Memang, bahkan dengan kompromi pun kita tidak bisa mengakomodir semua kebutuhan dalam satu wadah, but at least we try, we opened the door, menyamakan kedudukan, biar damai... world peace.. cheese... ^_^

Lagian, akar permasalahanna adalah kesalahpahaman. Jika 2 orang dewasa yang tahu benar dan salah tiba2 berselisih, itu pasti karena perbedaan cara pandang. Kebetulan aku memandang sisi kotak yang satu, sementara dia memandang sisi kotak yang lain.
Well then... why don’t we try to unite our vision, menyatukan visi dengan aku mencoba memandang sisi kotaknya, dan dia memandang sisi kotakku, dan kemudian biarlah hati nurani yang bersih, bebas, terjaga dari nafsu superior memutuskan, mana yang terbaik...
Ato biarlah kami memandang sisi kotak kami masing2, sampai tiba pada suatu titik waktu di mana kami berdua harus memandang satu sisi kotak yang sama... begitu?

Back then I didn't know why,
why you were misunderstood,
So now I see through your eyes,
all that you did was love,
____-mama (spicegirls)-

Toex: sb-ers (bimz,emz,joz,wiz,purz,agz,isz,iaz)
...gosh, i really wanna go with u guyz!
Deddy+nyonya
... selamadh menempoeh hidoep baroe ^_^