Wednesday, November 23, 2005

homeschool

I’ve read about this once upon a time.. in my spare time. This ‘little phenomena’ which is stuck in my head for a long time. It’s about “homeschool’ sebuah system pendidikan yang mulai diadaptasi beberapa kalangan the have Indonesia dari AS sono. Homeschool biasana dijalankan dalam satu keluarga inti, dengan tenaga pengajar yaitu tidak lain dari ibu atau ayah sendiri. Dengan menerapkan system homeschool bagi anak-anak, orangtua secara otomatis mengeluarkan mereka dari system pendidikan Indonesia dan masuk system pendidikan Amerika. Itu berarti system belajar di rumah, dengan ibu/ayah yang menjadi guru harus terlebih dahulu mengambil program Homeschool Education and Classical Education di negeri Paman Sam sono, or at least daftar ke amerika, ke lembaga pendidikan homeschool di sana untuk dapetin bahan kurikulum dan bahan pendidikan sebagai guru serta materi2 pengajaran untuk anak.

Mata pelajaran yang diberikan dalam system ini sama dengan mata pelajaran sekolah lain. Matematika, sejarah, ilmu social dll. Tapi semua materi diberikan dalam bahasa inggris. Hmm…
Gimana kalo ujian? Bahan ujian tetap diperolah dari AS untuk dikerjakan si anak, kemudian dikirim ke AS lagi untuk dinilai dan dapet sertifikat untuk melanjutkan ke jenjang berikut. Sertifikat ini diakui di Indonesia sebagai overseas graduated, dan ada lembaga yang mengakreditasinya kalo2 si anak pengen melanjutkan ke system pendidikan Indonesia lagi (masuk universitas di Indonesia misalna).

Sounds great, huh? Full time English lesson, with overseas sertificate. Xexexe…. Not fur me, ashamedly. Sistem pendidikan di Indonesia kuakui emang payah banget. Lumayan terbelakang kalo dibandingin sama negara2 tetangga se-asia. Tapi apakah homeschool merupakan jawaban yang terbaik untuk mengatasi permasalahan system pendidikan kita? Dengan menarik anak2 dari komunitas, dari satu2nya lahan pembelajaran social bagi anak2?

Ada 3 fakta minus dalam system homeschool, buatku. Satu, ekslusivitas kalangan the have. Homeschool jelas hanya bisa diadaptasi sama kalangan berduit ajah. Dengan segala bentuk pendidikan yang terlebih dulu harus ditempuh orangtuanya, sampai biaya sertifikasi ke AS yang tentu gag sedikit. Emang c, mereka bakal ngirit duit seragam or sumbangan pembangunan sekolah, misalnya.

Fakta minus yang kedua berawal dari pandanganku bahwa system homeschool ini merupakan produk keegoisan orang tua yang overprotektif. Ada salah seorang ibu yang menerapkan praktek homeschool ini beralasan bahwa homeschool merupakan jawaban terbaik setelah ia menghadapi dan melihat masalah2 yang dihadapi anak2 di sekolah. Kesulitan belajar misalnya, ato pergaulan yang gag sehat.. oui.... alasan yang aneh menurutku, karena bukankah manusia memang diharapkan untuk bisa menyelesaikan semua masalah yang dihadapinya? Permasalahan2 adalah hal yang akan selalu ada dalam hidup seseorang, dan satu2nya jalan adalah menghadapinya, dan dari caranya menghadapi masalah itulah kualitas manusia sebenernya diuji, dan bagaimana manusia tersebut bisa bertahan hidup adalah dengan belajar dari permasalahan yang ia hadapi sebelumnya kan? Jadi, kalo menurutku menyelesaikan masalah/melindungi seseorang dari kehidupan yang buruk bukannya dilakukan dengan cara menghindarkan seseorang itu dari masalah, tapi justru harus menghadapkannya dan membiarkan ia belajar dari situ. Ya toh? Xexexexe. Kuncinya adalah pendampingan, i definitely agree with dat. Tapi pendampingan kan gag seharusna dilakukan 24 jam sehari toh? Sumtimes, we just have to let ‘em go, watch ‘em from far away, so that they could have their own life, decision, n freedom, and also our protection n love indeed. Xixixixi.

Anyway, fakta minus yang ketiga adalah.... nngggg apa yah? Kok jadi lupa....
.....................................................
Oui... gag jauh beda c, tapi... kalo yang tadi sebelumnya, berkaitan dengan pola pengasuhan ortu yang mungkin terlalu overprotektif n berawal dari pesimisme terhadap sistem pendidikan Indonesia, (itu kan perspektif yang dilihat dari mata orangtua ato orang dewasa yang merasa bertanggung jawab terhadap masa depan si anak), nha yang ketiga, sepertinya kita gag boleh melupakan pribadi si anak sebagai individu itu sendiri.. kalo kita sedikit aja bisa melihat si anak sebagai subyek, dan bukan hanya sebagai obyek tanah liat yang bisa kita bentuk seenak kita sendiri, betapa kita akan paham bahwa mereka pun sebuah individu utuh yang tentu mempunyai kebutuhan yang sama seperti orang dewasa. Yang sangat berkaitan dengan topik homeschool ini ya... kebutuhan untuk bersosialisasi, tentunya. Dengan homeschool, otomatis orangtua telah merenggut anak2nya dari kehidupan sosialnya, tentu. Dari mana lagi mereka bisa belajar bersosialisasi dan berinteraksi dengan berbagai macam orang jika tidak dari sekolah? Playgroup.. TK... SD... SMP...SMA.. n finally college. Apa itu bukannya mempersempit dunia si anak dari semua sekolah dan beratus2 temennya menjadi sepetak tanah that they called home?

Oh yes, we can learn alot from their curriculum, mungkin belajar sastra, humanity ato math yang jauh lebih maju dari sekolah2 kita. Tapi apa gunanya kalo belajar humanity secara mendalam tapi gag mempraktekkannya? Sama ajah bo’ong gituw. Dan menggunakan bahasa inggris sebagai bahasa baku, aduh.... kecian juga ya bahasa Indonesia, lama2.. (aku dah sebel banget kalo liat presenter TV yang uda sok2an pake bhs inggris... xexexe *oi, ngaca dunk jenx!*)
Aku sendiri merasa mendapatkan pelajaran yang bener2 hidup di lingkungan sekolah. Bukan secara akademis... tapi secara sosial. Gimana aku bisa hidup di tengah2 orang2 yang tidak aku kenal sepenuhnya, belajar toleransi... menghargai sesama, mengalah, ato memberi pelajaran bagi orang2 tertentu, jahil, nakal, ngerjain orang.. naksir kakak kelas... xixixixi. Can u imagine how many fun u’re gonna missed if u’re a homeschool student?

Eniwe, ini bukan provokasi, tentunya. Hanya sebuah opini dan ketidakpahamanku tentang sesuatu. Call me blind, or call me stupid, cause i can’t see the good point yang uda diliat beberapa pelaku homeschool di negara kita tercinta ini.