Monday, November 28, 2005

kucing lagi marah!

Perselisihan.... adalah hal biasa, bukan begitu benar? It’s all about mizundastood, kalo aku bole bilang, kesalahpahaman, dan ke-salah-memahami yang bisa terjadi pada siapapun, kapanpun di manapun. Dan kesalahpahaman itu sendiri berakar dari perbedaan interpretasi dan perspektif masing2 orang dalam memandang sesuatu.

Perselisihan yang ‘menyenangkan’ dan konstruktif bagi perkembangan jiwa seseorang adalah perselisihan yang terjadi pada individu2 yang bebas. Bebas bersikap, bebas berpendapat, bebas beradu, dan dengan catatan masing2 pihak tidak memiliki ganjalan untuk berusaha menang atas yang lain ... gituw? Meski sebenrnya get real ajah, semua orang jauh di lubuk hatinya pasti menginginkan kemenangan dalam pertarungan. Ato paling tidak, sekedar menginginkan sebuah pengakuan dari lingkungannya bahwa dia eksis dengan segala yang dipunyainya. Kalo dipelihara lebih dalem, kebutuhan pengakuan ini bisa berkembang menjadi winning-need yang bisa berlebihan. Yang pelu dicatat adalah bahwa winning-need ini hanya berhak dipunyai dan diperjuangkan oleh petarung yang sehat dan bersih, who seek winning not only in da surface, apalagi untuk bertujuan mengintimidasi orang lain, dalam hal ini sang loser.
Itu yang susah diterapkan, bukan?

Perselisihan yang tidak menyenangkan dan yang gag sehat terjadi bila 2 pihak/lebih yang berselisih sudah ‘tidak-bebas-lagi’; ato memang ‘tidak-pernah-bebas’. Individu2 yang tidak-bebas-lagi biasanya menyebabkan perselisihan yang tadinya sehat menjadi tidak sehat, karena individu2nya akhirna diperbudak oleh nafsu kemenangan yang berlebih, nafsu menjatuhkan, nafsu kesombongan, dan nafsu perasaan lebih baik dari orang lain. Seperti layaknya para OKB dadakan, individu2 ini dimungkinkan telah mengalami kemenangan di periode sebelumnya dan belum mampu memanage adrenaline akibat kemenangan tersebut. Tidak masalah sebenernya, memiliki nafsu, yang menjadi masalah adalah jika kita membiarkan nafsu memperbudak logika dan akal sehat. Check again how self control really really important for all of us.

Individu2 yang ‘tidak-pernah-bebas’ yang menyebabkan perselisihan tidak sehat berikutna adalah individu2 yang mempunyai hubungan hirarki/struktural. Struktural vertikal, seperti ortu-anak, senior-junior, bos-staff, beberapa hubungan percintaan yang dominan-resesif, dsb. Ato bisa juga struktural horizontal, berlapis seperti lapisan bawang, misalna teman – teman biasa – teman deket – sahabat.

Perselisihan yang terjadi pada relasi2 seperti ini akan menimbulkan kemarahan dan frustrasi yang besar, terutama di pihak resesif, bahkan bisa jadi bom waktu. Karena ada sesuatu yang tertahan dan terpendam di sana, jika suatu saat seorang ayah memarahi putrinya yang terlalu aktif berkegiatan di luar rumah, misalnya. Ato ketika seorang bos menegur stafna yang tidak mencapai target kerja yang diharapkan, ato seorang pemuda marah pada kekasihnya yang mengambil keputusan bekerja di luar kota misalna... xixixi.

Mau tidak mau, sadar ato tidak, ada aroma otoritas, intimidatif, intolerable dan unrevealness di dalam perselisihan yang terjadi pada hubungan yang hirarkis. Meskipun masing2 bisa mengklaim bahwa dirinya yang benar, pada akhirna... otorita juga yang berbicara. Kekuasaan, legibility – lah yang akan menang.
Padahal, apa c sebenernya yang harus dicari dari sebuah perselisihan? Bukankah kita semua mencari kesatuan pendapat? Yang hanya bisa didapat dengan jalan kompromi? Mencari solusi yang menyamankan dan menyenangkan semua pihak, dan itu tidak bisa didapat ketika kita masing2 bersikukuh dengan pendirian masing2 dan terpaku pada perasaan bahwa kita harus mendapatkan apa yang kita mau, ato melakukan sesuatu dengan cara kita. I tell ya, you won’t get anythin’ from that kind attitude. Tidak mau memandang lewat mata kacamata orang lain adalah kesalahan besar yang banyak dianut publik. Empati yang kecil ini banyak menjangkiti para penggede2 di negara kita, misalna.

Ayah yang berang tidak mau melihat ke dalam kebutuhan putrinya, sementara putri yang menentang tidak bisa melihat kekhawatiran dan kerinduan ayahnya. Bos yang otoriter tidak melihat kesulitan non teknis yang dihadapi staffnya, staff yang dibayar juga tidak bisa menerapkan sense of belonging terhadap bos dan pekerjaannya... pemuda yang dimabuk cinta tidak melihat kesungguhan kekasihnya yang hendak mencari kehidupan dan pengalaman yang lain sebagai bekal hidupnya, dan sang kekasih kurang bisa mengerti kebutuhan pacarnya, mungkin.

Tanpa kompromi dan kerendahan hati memandang permasalahan dari sisi yang lain, dan dengan tetap bertahan pada kemarahan dan frustrasi.. situasi hanya bakal menjadi lebih buruk. Memang, bahkan dengan kompromi pun kita tidak bisa mengakomodir semua kebutuhan dalam satu wadah, but at least we try, we opened the door, menyamakan kedudukan, biar damai... world peace.. cheese... ^_^

Lagian, akar permasalahanna adalah kesalahpahaman. Jika 2 orang dewasa yang tahu benar dan salah tiba2 berselisih, itu pasti karena perbedaan cara pandang. Kebetulan aku memandang sisi kotak yang satu, sementara dia memandang sisi kotak yang lain.
Well then... why don’t we try to unite our vision, menyatukan visi dengan aku mencoba memandang sisi kotaknya, dan dia memandang sisi kotakku, dan kemudian biarlah hati nurani yang bersih, bebas, terjaga dari nafsu superior memutuskan, mana yang terbaik...
Ato biarlah kami memandang sisi kotak kami masing2, sampai tiba pada suatu titik waktu di mana kami berdua harus memandang satu sisi kotak yang sama... begitu?

Back then I didn't know why,
why you were misunderstood,
So now I see through your eyes,
all that you did was love,
____-mama (spicegirls)-

Toex: sb-ers (bimz,emz,joz,wiz,purz,agz,isz,iaz)
...gosh, i really wanna go with u guyz!
Deddy+nyonya
... selamadh menempoeh hidoep baroe ^_^

Wednesday, November 23, 2005

homeschool

I’ve read about this once upon a time.. in my spare time. This ‘little phenomena’ which is stuck in my head for a long time. It’s about “homeschool’ sebuah system pendidikan yang mulai diadaptasi beberapa kalangan the have Indonesia dari AS sono. Homeschool biasana dijalankan dalam satu keluarga inti, dengan tenaga pengajar yaitu tidak lain dari ibu atau ayah sendiri. Dengan menerapkan system homeschool bagi anak-anak, orangtua secara otomatis mengeluarkan mereka dari system pendidikan Indonesia dan masuk system pendidikan Amerika. Itu berarti system belajar di rumah, dengan ibu/ayah yang menjadi guru harus terlebih dahulu mengambil program Homeschool Education and Classical Education di negeri Paman Sam sono, or at least daftar ke amerika, ke lembaga pendidikan homeschool di sana untuk dapetin bahan kurikulum dan bahan pendidikan sebagai guru serta materi2 pengajaran untuk anak.

Mata pelajaran yang diberikan dalam system ini sama dengan mata pelajaran sekolah lain. Matematika, sejarah, ilmu social dll. Tapi semua materi diberikan dalam bahasa inggris. Hmm…
Gimana kalo ujian? Bahan ujian tetap diperolah dari AS untuk dikerjakan si anak, kemudian dikirim ke AS lagi untuk dinilai dan dapet sertifikat untuk melanjutkan ke jenjang berikut. Sertifikat ini diakui di Indonesia sebagai overseas graduated, dan ada lembaga yang mengakreditasinya kalo2 si anak pengen melanjutkan ke system pendidikan Indonesia lagi (masuk universitas di Indonesia misalna).

Sounds great, huh? Full time English lesson, with overseas sertificate. Xexexe…. Not fur me, ashamedly. Sistem pendidikan di Indonesia kuakui emang payah banget. Lumayan terbelakang kalo dibandingin sama negara2 tetangga se-asia. Tapi apakah homeschool merupakan jawaban yang terbaik untuk mengatasi permasalahan system pendidikan kita? Dengan menarik anak2 dari komunitas, dari satu2nya lahan pembelajaran social bagi anak2?

Ada 3 fakta minus dalam system homeschool, buatku. Satu, ekslusivitas kalangan the have. Homeschool jelas hanya bisa diadaptasi sama kalangan berduit ajah. Dengan segala bentuk pendidikan yang terlebih dulu harus ditempuh orangtuanya, sampai biaya sertifikasi ke AS yang tentu gag sedikit. Emang c, mereka bakal ngirit duit seragam or sumbangan pembangunan sekolah, misalnya.

Fakta minus yang kedua berawal dari pandanganku bahwa system homeschool ini merupakan produk keegoisan orang tua yang overprotektif. Ada salah seorang ibu yang menerapkan praktek homeschool ini beralasan bahwa homeschool merupakan jawaban terbaik setelah ia menghadapi dan melihat masalah2 yang dihadapi anak2 di sekolah. Kesulitan belajar misalnya, ato pergaulan yang gag sehat.. oui.... alasan yang aneh menurutku, karena bukankah manusia memang diharapkan untuk bisa menyelesaikan semua masalah yang dihadapinya? Permasalahan2 adalah hal yang akan selalu ada dalam hidup seseorang, dan satu2nya jalan adalah menghadapinya, dan dari caranya menghadapi masalah itulah kualitas manusia sebenernya diuji, dan bagaimana manusia tersebut bisa bertahan hidup adalah dengan belajar dari permasalahan yang ia hadapi sebelumnya kan? Jadi, kalo menurutku menyelesaikan masalah/melindungi seseorang dari kehidupan yang buruk bukannya dilakukan dengan cara menghindarkan seseorang itu dari masalah, tapi justru harus menghadapkannya dan membiarkan ia belajar dari situ. Ya toh? Xexexexe. Kuncinya adalah pendampingan, i definitely agree with dat. Tapi pendampingan kan gag seharusna dilakukan 24 jam sehari toh? Sumtimes, we just have to let ‘em go, watch ‘em from far away, so that they could have their own life, decision, n freedom, and also our protection n love indeed. Xixixixi.

Anyway, fakta minus yang ketiga adalah.... nngggg apa yah? Kok jadi lupa....
.....................................................
Oui... gag jauh beda c, tapi... kalo yang tadi sebelumnya, berkaitan dengan pola pengasuhan ortu yang mungkin terlalu overprotektif n berawal dari pesimisme terhadap sistem pendidikan Indonesia, (itu kan perspektif yang dilihat dari mata orangtua ato orang dewasa yang merasa bertanggung jawab terhadap masa depan si anak), nha yang ketiga, sepertinya kita gag boleh melupakan pribadi si anak sebagai individu itu sendiri.. kalo kita sedikit aja bisa melihat si anak sebagai subyek, dan bukan hanya sebagai obyek tanah liat yang bisa kita bentuk seenak kita sendiri, betapa kita akan paham bahwa mereka pun sebuah individu utuh yang tentu mempunyai kebutuhan yang sama seperti orang dewasa. Yang sangat berkaitan dengan topik homeschool ini ya... kebutuhan untuk bersosialisasi, tentunya. Dengan homeschool, otomatis orangtua telah merenggut anak2nya dari kehidupan sosialnya, tentu. Dari mana lagi mereka bisa belajar bersosialisasi dan berinteraksi dengan berbagai macam orang jika tidak dari sekolah? Playgroup.. TK... SD... SMP...SMA.. n finally college. Apa itu bukannya mempersempit dunia si anak dari semua sekolah dan beratus2 temennya menjadi sepetak tanah that they called home?

Oh yes, we can learn alot from their curriculum, mungkin belajar sastra, humanity ato math yang jauh lebih maju dari sekolah2 kita. Tapi apa gunanya kalo belajar humanity secara mendalam tapi gag mempraktekkannya? Sama ajah bo’ong gituw. Dan menggunakan bahasa inggris sebagai bahasa baku, aduh.... kecian juga ya bahasa Indonesia, lama2.. (aku dah sebel banget kalo liat presenter TV yang uda sok2an pake bhs inggris... xexexe *oi, ngaca dunk jenx!*)
Aku sendiri merasa mendapatkan pelajaran yang bener2 hidup di lingkungan sekolah. Bukan secara akademis... tapi secara sosial. Gimana aku bisa hidup di tengah2 orang2 yang tidak aku kenal sepenuhnya, belajar toleransi... menghargai sesama, mengalah, ato memberi pelajaran bagi orang2 tertentu, jahil, nakal, ngerjain orang.. naksir kakak kelas... xixixixi. Can u imagine how many fun u’re gonna missed if u’re a homeschool student?

Eniwe, ini bukan provokasi, tentunya. Hanya sebuah opini dan ketidakpahamanku tentang sesuatu. Call me blind, or call me stupid, cause i can’t see the good point yang uda diliat beberapa pelaku homeschool di negara kita tercinta ini.

Sunday, November 13, 2005

robert ludlum's

Obviously bukan karena ngefans sama penulisnya, waktu aku marathon baca 2 novel-na Robert Ludlum. The Sigma Protocol sama The Bourne Identity. Berangkat dari tanpa pretensi apapun, tapi di tengah-tengah, akhirna aku terpaksa membandingkan keduanya sama 2 novel Dan Brown, Da Vinci Code n Malaikat dan Iblis. Dan Brown jelas masih lebih piawai dalam bertutur, dari segi apapun. Meski ludlum termasuk lebih senior dan lebih dulu menelorkan novel2 konspirasi, tapi masih kalah runtut dan menarik dibanding Brown.

The Bourne Identity c masih lumayan. Mungkin itu masterpiece-na ludlum ya, terbukti sampe dibikin pilem segala, meski antara filem sama novel beda jauh kualitasna. Di bourne identity (versi novel), ludlum berhasil menyajikan sebuah alur cerita yang compact, padat dan logis. Meski rada disayangkan c, kenapa jawaban dari permasalahan uda bisa pembaca ketahui di tengah2 cerita.. kenapa identitas jason bourne yang kena amnesia uda di-reveal di tengah2 novel? Tapi mungkin itu juga ya tantangannya. Buktina, sisa ceritanya masih cukup seru kok, meski misterina dah banyak berkurang.
Kalo yang The Sigma Protocol... wah... ancur dah! Xixixi. Novel yang aneh, gag berujung pangkal. Gag jelas, baik alur cerita, tema, sama penokohannya. Terlalu banyak background n tokoh2 yang lewat simpang siur di buanyak lokasi. Adegan2-na lari2 terus, dari Nova Scotia, London, Zurich, Swiss, Paraguay, Wina, Paris.. New York n whole lot more.., dengan tokoh yang berbeda2 n cuma mampir sebentar, bikin bingung! Yaa... mungkin Ludlum cuma pengen menegaskan ceritanya biar bener2 berkesan konspirasi tingkat tinggi, kontroversial, spektakuler n gag cuma kaliber regional ajah.

Tapi dengan berat hati kubilang... he failed. Dia gagal nyusun issue konspirasi dari awal. Bibitnya c lumayan menarik.. dia memanfaatkan kemisteriusan peristiwa Holocaust di Dachau sama Auschwite n kepopuleran sadisme Nazi.. n mengkaitkannya sama korporasi ekonomi yang berbelit2. tapi membingungkan.. (ato aku yang gag konsen yah.. ^_^). Banyak logika2 yang gag masuk akal n terkesan dipaksain. Ceritanya kan dimulai dengan tragedi pembunuhan orang2 tua yang kelihatan gag berdaya dan tidak berhubungan satu sama lain. Dan ternyata orang2 tua itu sebenernya anggota sebuah korporasi ekonomi yang berumur setengah abad lalu. Yang bersembunyi di balik pasukan terkenal Schutzstaffel (SS) pimpinan Hitler. Ternyata di dalam pasukan itu juga dikenali ada anggota2 yang dikenal sebagai musuh SS, ato bahkan orang Yahudi sekalipun. Intina.. ludlum pengen membalikkan fakta n sejarah bahwa pembunuhan holocaust n sadisme Nazi sebenernya merupakan kamuflase konspirasi tingkat tinggi antar benua yang bertujuan ingin memperkaya individu2 tertentu.

Yang gag masuk akal adalah... kenapa anggota2nya yang tersisa sekarang harus dibunuhi, padahal mereka gag pernah dan gag akan buka mulut selama lebih dari setengah abad? Dan kenapa tiba2 seorang lelaki muda tampan, kaya, n sukses kaya Benjamin Hartman yag jadi tokoh sentral buku ini tiba2 dikejar2 dan diburu semua pihak, dari kepolisian antar negara sampe pembunuh bayaran yang paling sadis? Dan tiba2 ketemu sama petugas FBI cantik n seksi yang akhirna juga sama2 diburu. Xexexe bener2, patron novel konspirasi!

Dan tiba2... lelaki muda kaya yang gag tau apa2 itu bisa punya berbagai macam keahlian... selamat dari sekian puluh pertempuran dan adu tembak one on one... sementara petugas FBI yang berpengalaman sekian puluh tahun langsung mati seketika. Tiba2 Benjamin Hartman bisa mahir mengendarai pesawat terbang, helikopter, menyamar, mendaki tebing 90 derajat, adu ski sama pelatih ski terbaik di dunia, caving, melakukan dulfersitz (turun gua tanpa alat), n masih bisa belanja-belanji keperluan perburuan dengan mudah (padahal menurutku kudune kalo orang yang bener2 diburu pihak kepolisian seluruh dunia pasti distop or at least diblokir kartu kreditna toh? Xexexe), trus tiba2 jadi ahli ekonomi yang berwawasan amat sangat luas... padahal aslina ‘cuma’ anak orang kaya yang jadi guru elementary school!

Terus terang, aku hampir gag bisa menikmati, sampe pada adegan di mana Benjamin Hartman melakukan petualangan terakhirna yang kebetulan melibatkan aktivitas rapelling... n caving. Ini bagian yang paling sukses dari novel ini. xexe. Ludlum bisa menggambarkan dengan akurat dan bagus gimana perjuangan Ben menuruni gua vertikal tanpa ujung di pedalaman Swiss, dan akhirna harus menyusuri gua horizontal yang lebarnya cuma 45 cm!! (wah, itu mah lubang tikus...).

Stalaktit yang seperti sedotan rapuh, ramping dan cantik melancip hingga setajam jarum, bongkahan2 stalakmit, tiang2 yang terbentuk dari pertemuan... air mengalir turun di dinding dan stalaktit, menetes2 dengan stabil di lantai gua, menjadi satu2na suara dalam kesunyian. Bebatuan mengeras membentuk teras2, lembaran batu kapur tembus pandang tergantung dari langit2, bau amonia tajam dari kotoran kelelawar... (jadi kangen... ^_^). Gimana Ben ber’dulfersitz dengan mengikatkan simpul 8 ganda di satu ujung tali, menggunakan tubuh untuk mengontrol turun dan tangan kanan sebagai rem... (jadi inget... luwing jaran.. haiyaaaa hosh hosh hoshh... susye sekali!)

Ludlum bisa menggambarkan dengan baik gimana sebuah penyusuran bawah tanah memungkinkan mereka menghadapi dan mengatasi teror2 yang paling mendasar bagi manusia.. ketakutan akan kegelapan, kejatuhan dalam kehampaan, terjebak dalam labirin, terkubur hidup2, dan rasa panik.

Yupp... tapi akhirna, untuk apa semua itu? jawabannya... sungguh2 amat dangkal! Semua isu konspirasi yang Ludlum bangun dari awal, yang melibatkan semua elemen masyarakat di seluruh di dunia cuma dipusatkan di sebuah perusahaan yang mengusahakan obat umur panjang bagi individu2 tertentu. Aduh, sayang sekali gitu menurutku... isu kontroversial yang melibatkan holocaust n ss nazi cuma dijatuhkan ke isu tukang obat!

Friday, November 11, 2005

hep heppp.... ^_^

One way out, is all you're ever gonna get from
Those who'll hand it out
Don't ever let it upset ya
'Cos they'll put words into your mouths

Cos they're making you feel so ashamed,
They're making you take all the blame,
They're making you cold in the night,
They're making you question your heart and your soul
And I think that it's not quite right

Hey! Stay young and invincible
'Cos we know just what we are, and
Come what may were unstopable
'Cos we know just what we are
Yeah we know just what we are
Yeah we know just what we are

Feed your head with all the things
You need when you're hungry
And stay in bed and sleep all day
As long as it's sunny
'Cos they'll put words into my mouth

OASIS_STAY YOUNG

uhuiii...
kade tobing ; ibnu galih ... 1
jo ; welda ... 4
veni ... 6
anton yudhanto ; ronald jp aruan ... 8
BIMA ARDHITYA ; novita ... 9
wulan yudiyanti ; muhammad firdhaus ... 10
/me... ^0^ 7

hepi birthday tu ol, (above)
n tu ol... thx 4 the congrats, for the gifts, for the party, untuk semua kebersamaan yang telah dibagi.
trima kasih..

three cheers for sweet revenge

Satu album yang patut diberi kredit khusus.. dari old skool band asal New Jersey, My Chemical Romance. Band yg kabarna c uda 4 taon malang melintang di panggung2 lokal New Jersey, us sono, tapi.. baru ngetobna sekarang. gara2? Single ‘helena’ yang emang top abis.. xexexe. Helena itu juga c sebenernya yang pertama kali bikin aku tertarik banget sama MCR. Emo bangget, pure tanpa terdistorsi punk melodic style. I love it.. abis itu, trus jatuh cinta mati2an sama sosok basisna MCR, Mikey Way... ayayayayyy so damned cool! xixixi

Pertama denger, susah bedain sama the used. Abis mirip banget vokal n warna musikna. meski kalo didengerin lebih dalem, the used jauh lebih melodik. That’s why, aku penasaran... masa’ c beneran mirip?
N then, once upon a night.. iseng2 bandingin, album In Love and Death – nya The Used, album What It Is To Burn – na Finch, album With Teeth – na Nine Inch Nails plus Three Cheers for Sweet Revenge-na MCR. dan ya, kesimpulanna... NIN tetep gag tergeser di puncak, c. (terang aja lah... genrena juga beda). NIN yang industrial abis tampil ciamik di album With Teeth ini. terutama untuk lagu ‘Everyday is Exactly The Same’ sama “With Teeth’.
Yang lebih kubandingin Finch, The used sama MCR. Finch mengecewakan! Yang ok cuma Letters To You thok. Laenna gag nyanthol di kuping, padahal aku berharap banyak, begitu denger Letters To You.
The Used... seems like Hoobastank dalam kemasan yang lebih emo. Tapi apa ya yang kurang? Too poppy, kalo aku bilang... terlalu melodik. Well, hoobastank sendiri emang ngepop n melodik, tapi mereka kan basicna emang pop alternatip. The Used membuat dramatisasi yang seharusna ada di musik emo jadi tenggelam karena usaha menampilkan melodi yang catchy. I dunno, mungkin emang dasarna mereka emang altern band biasa ya? Kalo didengerin lebih jaoh lagi c, musik the used lebih beraroma punk melodik kaya new found glory, good charlotte ato box car racer gitu de... (gosh, enough! Enough! No more, please :p)

Nhaa kalo My Chemical Romance... keren euy! Musik mereka yang paling pure. Sebenernya kalo dipikir bahkan vokal Gerard way tu biasa2 aja, just common vocalist dengan timbre suara yang tipis, tapi dia justru mempertahankannya dan gag terjebak dalam usaha menebalkan ato men’serak-serakkan’ suaranya. Anggota band yang laen juga standard skillna, tapi mereka create good music. Dari Helena, Gice ‘em Hell Kid sampe To The End sampe you ngalir gitu aja, keras, ribut, rame.. penuh semangat, cepet, dinamis... trus disambung sama You Know What They Do To Guys yang nge-punk, khas dengan ritme drum 1-2,1-2.. ,I’m Not Okay sama The Ghost Of You yang jadi faveku... rada gloomy plus suram-suram gimanaa gitu ^0^, sambung ke The Jetset Life is Gonna Kill yang ber-basic bass, n tiba2 turun drastis di interlude yang suram.. uuuuhhh i love it! Abis interlude yang slow n pendek, langsung dihantam sama 2 lagu Thank You For The Venom dan Hang ‘em High yang rada mengingatkan sama band2 speed metal jaman dulu. Lanjut ke It’s Not A Fashion Statement It’s a Deathwish yang di tengah2 aransemen-na terselip permainan distorsi melodik gitar ala Megadeth, trus melunak lagi di Cemetery Drive, n ditutup sama I Never Told U What I Do For Living yang cakep juga.

I love them. Aku gag biasa suka sama band2 baru yang khas old skool gini c, tapi My Chemical Romance punya ‘sesuatu’ yang patut diperhitungkan dan bisa jadi band segmented yang yah.... pure, murni, multi-talented (bisa nyampuradukkin semua genre musik) ... Gag bakal sebesar LinkinPark or Limp Bizkit c.. (duh, semoga tidak), tapi bagus! Mereka bisa berkembang dan kudu dikasih kesempatan buat berkembang, pastina. At least bisa lah disandingkan sama Dashboard Confessional dan Muse.
dan Mikey Way... uuuu seksi bangget gitu loch! Xexexexe. Ups.