Wednesday, October 12, 2005

yours... is yours, h'ni..

‘ting tong!’ dengan sedikit terhempas lift 2x2m2 itu sampai juga di lantai dasar. Kinan melangkah keluar bagai melayang, meninggalkan aroma wangi di belakangnya. Suasana lobi lengang dan gelap, tapi Kinan hampir2 tidak menyadarinya. Ia tak merasakan apapun, sampai ketika melewati pintu kaca setebal 3 cm dan merasakan angin malam dingin menyergap, membuat Kinan buru2 merapatkan kancing blazer kerjanya.
Sembari mengangguk menyapa satpam yang terkantuk2 di belakang meja resepsionis, benak Kinan mencari2... Avanza berwarna gelap di antara puluhan mobil mewah yang terpakir rapi di parking lot kantornya.
Ah, itu dia! Matanya menangkap sosok gelap, kurus dan bertopi yang bersandar di pintu mobil, hanya terlihat ujung merah rokok menyala bergerak2 dinamis di sekitarnya. Re! Kinan mendekat dan tersenyum simpul melihat lokasi yang dipilih sahabatnya.
“Eselon I, pak? gag di t4 parkir menteri sekalian euy?”
yang disapa balas tersenyum... “yah, gag ada yang protes kan? Hehe”
“Mau langsung jalan kah? Makan dulu yuk... keroncongan niy”
“hmm iya, nasgor aladin blok s.. mau?”
Kinan menimbang.. “mmm ke belakang situ aja yuk, ke Edi. Lagi pengen jalan kaki...”
Keduanya pun berjalan menembus malam. Hening menyelimuti, hangat dan damai. Inilah yang Kinan sukai dari seorang Re. Re tak pernah menuntut, tak pernah mengorek2, tidak menanyakan hal2 yang tak perlu. Ia selalu membiarkan Kinan bergulat dengan pikirannya sendiri, sampai pada akhirnya Kinan siap untuk berdiskusi dengannya.
Kadang, Kinan merasa sedikit egois karenanya. Re selalu ada setiap ia membutuhkan. Diam, tenang tapi selalu ada, sementara Kinan selalu sibuk hidup dalam lingkaran waktu yang seakan mengejar dan mengikat, bekerja 28 jam sehari, berpikir 8 hari seminggu, work hard.. party less!! Xexexexe...
Roti bakar Edi ramai, seperti biasa, meski malam telah larut. Kinan dan Re duduk di sebuah sudut yang tak terlalu ramai, dengan mangkuk bakso atom dan sate padang di hadapan masing2.
“So....?” Re memecah keheningan setelah beberapa saat mengamati roman muka sahabatnya yang seakan menyimpan sesuatu, dan memutuskan untuk membantu Kinan mengeluarkan semuanya.
Kinan tergugah, “Hah? Oh.... yaaa.... (tersenyum sekilas) “Well, i did it... finally”
Re tertawa seketika, “Waahhh... Selamaadd. Dunia bakal bangga menerima satu anggota pengangguran baru di dalamnya... ups, bukan penganggguran ya? Jobseeker lah... hehehe”
Kinan ikut tertawa, lepas. Untuk pertama kalinya ia bisa merasakan kelegaan sejak saat ia keluar dari pintu kantor bosnya malam tadi.
Resign! Kata2 itu jadi sentral hidupnya akhir2 ini, ketika berhari2 ia berbaring dengan mata nyalang, sibuk menimbang, mengingat, menghitung, mencari2.. dan akhirnya memutuskan. Dalam pikirannya yang sedikit simpang siur ia telah merebus semuanya dalam satu kuali.. perolehan, pengeluaran, idealisme, harga diri, penghargaan, pengorbanan, achievement, orang2 yang ia sayangi, apa akibatnya bagi mereka, tanggung jawab dan sekali lagi.. penghargaan dan idealisme, ketakutan.. dan kembali lagi.. tanggung jawab..
“kamu tega? Tega ninggalin semuanya?” begitu kata seorang senior di kantornya ketika Kinan berpamitan malam tadi. Si bos pun tanpa ampun menghujaninya dengan seribu satu nasehat dan alasan kenapa Kinan seharusnya mempertimbangkan lagi keputusan resignnya... tentang pengorbanan hidup, tentang tanggung jawab...
oh tidak! Apa yang telah kulakukan? Batin Kinan berteriak, sementara perutnya serasa kembali dijejali batu bata yang memenuhi hingga kerongkongan...
Kinan meneguk teh botolnya banyak2, merasa kalut. hingga suara Re yang tajam menariknya kembali ke alam sadar... “So.. what bothers u up now?? “
“Gag ada! Gag ada yang menggangguku! Kecuali mungkin... kenyataan bahwa aku uda jadi orang yang gag bertanggung jawab, ninggalin semuanya di tengah2! Kecuali bahwa aku tega biarin orang2 baik itu jalan tanpa aku bisa bantuin, hanya karena aku gag nyaman, aku gag tahan dengan semuanya. Oh, n did i mention that i just wanna grab my conscience back, but all people see is just, i’m a selfish unresponsible childish girl? Salahkah jika aku menghitung positif negatif yang kudapat ‘n find out that i got negative for all this matters?”
kinan terengah, dan sedikit menyesal, menumpahkan semua kekecewaan yang tidak seharusnya diterima Re.
Tapi Re, seperti biasa... tenang, dingin menatap Kinan dengan pandangan yang bahkan tak bisa Kinan deskripsikan, tetapi hampir selalu bisa menjadi air yang menyejukkan api yang membara dalam mata Kinan.
“Sorry, aku kelewatan ya?" sesal Kinan.
“It’s OK.. reaksimu wajar kok, selama mangkok n botol di depanmu belom beterbangan ke sini...” Re tersenyum lucu.
Kinan tertawa, merasa jauh lebih santai dan berkata, “It’s just.. aku dah gag tau lagi mana yang bener or salah. Aku kah? Keputusanku kah? Ato kondisi yang kualami kah? Salahkah jika aku menuruti kata hatiku Re? Ato mereka yang salah, gag mau memahamiku dan kondisiku?”
“Tunggu dulu, sapa bilang mereka nyalahin kamu Kin? Mungkin hanya perasaanmu aja. Aku yakin banyak juga yang mendukung keputusanmu untuk resign. Jangan biarkan prasangka negatif terlalu jauh menggerogotimu sayang...”
Kinan diam tepekur...”Ya, tapi.. faktanya nobody ever tell me since then, that i’ve did sumtin right. Ah, Re... pliz, katakan padaku bahwa keputusanku ini bener adanya, biar aku tenang.. pliiis.. will ya?”
Re diam.. malam semakin larut. Orang2 muda ramai berlalu lalang di sekitar mereka berdua. Tertawa, tergelak, seakan tak ada beban. Re mengambil sebatang rokok, mengisapnya dalam dalam dan menghembuskan perlahan dan kembali menatap wajah sahabatnya penuh harap menanti..
“Kamu tau apa yang Einstein bilang tentang waktu?”
Kinan terkejut, tidak mengharapkan kata2 itu yang keluar dari bibir Re, tapi kemudian tersenyum maklum.. “Ah, ya.. another Einstein things! Xexexe”
“Yapp.. Einstein.. dengan kejenakaan intelektualnya, bekerja lebih seperti seniman, menggunakan imajinasi dan intuisi, di balik tabir profesina sebagai seorang ilmuwan.. gw banget gag c? Hehehehe. Ehm, eniwe.. kamu tau? Di dunia ini ada 2 jenis waktu. ‘Waktu mekanis’, dan ‘waktu tubuh’. Waktu yang pertama kaku, bak orang tua di sudut jalan yang kejam menggerakkan pendulum besi tua maju dan mundur, undeniable. Waktu yang kedua bergerak tak tentu, menggeliat seperti ikan di tepi laut, memutuskan sekehendak hatinya.
Kau liat orang2 itu? Berapa di antara mereka memakai arloji di tangannya. Untuk apa? Asesoris, banyak dari mereka gag menyadari artina. Orang2 di sini termasuk orang yang tidak yakin bahwa waktu mekanis itu ada. Mereka merasakan dan mengandalkan suasana hati dan keinginan. Look, now it’s 10 o’clock PM, bukan jam makan malam toh? But they’re here. Makan saat lapar, pergi kerja/sekolah kapan aja ketika bangun dari tidur, pacaran sepanjang hari.. yang mereka tau adalah bahwa waktu bergerak tak beraturan. Kadang waktu terus maju dengan beban di punggungnya ketika mereka buru2 membawa temennya yang kecelakaan ke rumah sakit. Mereka juga tau, waktu kadang melaju cepat melintasi padang visi ketika seperti sekarang ini, makan enak bareng temen2, ato ketika menerima pujian.. waktu adalah sesuatu yang berakselerasi."
“Hmm.. OK.. itu waktu tubuh, aku masih setuju. Meski gag mungkin satu orang di sepanjang hidupna tinggal dalam waktu tubuhna kan?” Kinan menyeletuk.
“Belum tentu.. ada juga yang seperti itu. Trus kemudian ada juga yang hidup dengan waktu mekanis. Bangun jam 6 pagi. Lunch tepat tengah hari, makan malam jam 7 malem. On time, persis sama seperti yang ditunjukkin jam. Pacaran tiap malem minggu antara jam 7-10 malem. Kerja 40 jam seminggu. Ketika perut terasa laper mereka liat jam tangan untuk melihat apakah uda waktunya makan. Ketika nonton konser mereka ngeliat jam untuk memutuskan kapan waktunya pulang.
Tubuh, buat mereka hanyalah kumpulan bahan kimia, jaringan dan impuls saraf. Pikiran, tak lebih dari gelombang listrik dalam otak. Rangsangan seksual, tak lebih dari aliran kimia pada ujung saraf tertentu. Kesedihan, tak lebih dari asam yang menusuk otak kecil. Pokokna, tubuh adalah mesin, tunduk pada hukum listrik dan mekanika seperti elektron/jam. Tubuh dalah sesuatu yang untuk diperintah, bukan untuk dipatuhi...”
Re menarik napas panjang. Sedikit terengah oleh antusiasmenya memaparkan sesuatu yang benar2 menarik hatinya.
Kinan menggunakan kesempatan itu untuk memotong,”Wow wow wow, wait a second, mr.scientist... mau dibawa ke mana teori ini c? I understand it, tapi.. i just didn’t get it..”
Re memencet hidung sahabatnya, “Use ur imagination, h’ni! Ayolah... jangan kebawa doktrin kalo anak teknik cuma tau mekanisme dan metode.. hehe.
See, pada suatu waktu, seorang akan menghadapi kenyataan ketika dua dunia itu bertemu jadi satu. Mekanis dan tubuh. Sepasang kekasih duduk di bangku taman, sementara di seberang jalan lonceng gereja berdentang pertanda malam semakin larut.. In ur case, proyekmu masih jalan sekitar 3 bulan lagi, tanpa ampun. Tak ada yang bisa kau lakukan untuk mempercepat prosesna, sementara tubuh dan jiwamu berkata kau harus berhenti....
Re sengaja menggantung kalimatnya, memperhatikan reaksi Kinan dan terlihat olehnya, secarik pemahaman mulai menyebar di wajah Kinan.
“Hehe, can u see it, Kin? Ketika 2 waktu, 2 dunia bertemu, yang terjadi adalah keputusasaan. Dan ketika 2 waktu menuju arah yang berbeda, hasilnya.. kebahagiaan, kenyamanan. Itulah kenapa, kita selalu menghendaki hanya satu dunia, tidak keduanya. Kita memang harus memilih, Kin.. itulah hidup.
Kinan dan Re kembali terdiam, berjalan menyusuri gedung2 bertingkat yang tampak begitu gelap. Kinan diam, berusaha mencerna semuanya. Re diam, menyaksikan pergolakan di hati sahabatnya hingga keduanya kembali sampai di halaman kantor Kinan, ke Avanza hitam Re yang setia menunggu. Sebelum masuk mobil Kinan menengadah, sekali lagi memandang gedung bertingkat 8 yang telah ia kenal baik selama 4 bulan terakhir, gedung itu gelap dan lengang.. kecuali satu lantai di lantai 4 yang masih terang benderang, tempat di mana biasanya di waktu ini ia masih mengerutkan alis di depan laptop axioonya, ato tenggelam di tumpukan surat2..
Kinan tersenyum, yah.. dia memang harus memilih. Ia telah melewati masa2 keputusasaan ketika 2 waktu dunia bertemu, dan memilih waktu dunia yang ia kehendaki, ‘n now.. saatnya untuk menjalani, menerima segala konsekuensi atas dimensi waktu yang ia pilih.
“bukan begitu Re?”
“Precisely! Don’t blame urself Kin.. ‘n don’t blame anybody, nor the decision u made. Tiap waktu adalah benar... tapi kebenaran itu tidak selalu sama...
Sekarang.. ayolah, kita manfaatin malem2 terakhirmu di Jakarta! Keh keh keh..."