Sunday, October 30, 2005

again

Hari-hari terakhir ini ia memang sedang sentimentil. Siapa yang bisa mengira? Perempuan keras kepala itu akhirna menyerah juga pada kodratnya.. sebagai seorang perempuan yang tidak selamanya bisa berdiri pada lingkaran logika dan akal sehat, dan terjebak (akhirnya) dalam genangan sentimentil yang dinamakan cinta.. (??)
Bagaimana tidak... kamu orang2 pun tidak perlu berpandangan tajam dan teliti untuk melihat tanda2 itu, si perempuan pun menyadarinya... dan sedikit tidak merasa nyaman karenanya. Dari waktu ke waktu kau bisa melihatnya duduk tepekur, dengan wajah bertumpu pada punggung tangannya, menyaksikan hujan turun rintik2 di seberang jendela rumahnya. Ato menyaksikan pandangannya menjadi kosong dan tidak terfokus pada cangkir kopi di genggamannya? Ato di lain waktu melihatnya asik menekuri novel konspirasi setebal bata di pangkuannya, tapi sebentar2 menaruhnya kembali... kemudian membukanya ... asik menerawang. Ato jika kau sempat mengintip dalam kamarnya, melihat dia berbaring dengan mata menerawang ke langit2, menyaksikan hiasan imlek dari tembaga pemberian seseorang sambil sesekali tersenyum? Ato sebentar2 bermain dengan ponselnya, dan menjadi terlonjak dan penuh harap jika ponsel itu berbunyi?
Ah...
Tapi seperti biasanya... perempuan itu mengingkari segalanya. Bahwa selalu ada penjelasan intelek dan logis yang bisa mendasari tindaktanduk anehnya. Dulu dia menyebutnya post-graduate syndrome.. ketika pada suatu waktu ia merasakannya, sambil memandang fotonya memakai toga hitam dan jubah kebesaran dalam rangkulan seorang lelaki dengan senyuman paling manis di dunia.
Sekarang? Perempuan itu menyebutnya dengan post... nnggg ..post.... ah... entahlah.

“i’m doin’ fine. skripsi? Uda bab 3, gag jadi garap yang pjj itu, aku coba ngangkat tentang web ssinfo. Km gag mudik kah?”
“sekarang lagi donlod smallville.. lumayan lah buat nunggu sahur”
“kamu di jokja toh? Aku baru tau... kok gag pernah nongol sih??”

sms2 itu lancar keluar masuk dari ponsel si perempuan pada suatu ketika.. n so was it begun.. periode post-whatever syndrome itu.
Kenapa? Iya .. kenapa? Kenapa tak juga ia mendatangi tempat itu? Tempat segala memori indah tentang seorang lelaki dengan senyum malas yang hampir selalu membuatnya frustrasi sekaligus tenang. Perempuan itu tahu, ia akan kembali dapatkan suasana yang selalu ia rindukan di sana. Suasana yang penuh tawa canda dan akrab bersama teman2nya yang lain. Segerombolan penjahat kelamin yang ia tahu telah banyak membantu membentuk pribadinya yang sekarang, yang takkan pernah ia lupakan dan selalu akan ia rindukan. dan lebih dari itu, perempuan itu tahu, ia akan bisa mendapati sang lelaki, dengan senyum lebar.. menyambut kehadirannya, with arms wide open... as an old friend.
Yah, ia tahu.
Tapi ia takut. Entah, mungkin takut mendapati bahwa si lelaki telah berubah, tidak seperti yang dulu lagi. Atau ia takut mendapati seorang gadis cantik berkulit putih mulus dan hidung mancung menggelayut manja di lengan sang lelaki? Ah.. yang itu masih bisa dihadapinya.
Tapi ada ketakutan yang lain. Yang lebih besar, dan mengganggu bawah sadarnya. Perempuan yang biasanya keras kepala itu takut, ia akan tenggelam lagi di kenikmatan yang tak berujung itu, berkubang dalam kenangan pelukan hangat sang lelaki, merasa teduh dalam tatapan matanya dan tak kuasa lepas lagi. Karena ia tahu, ia akan menyerah sepenuhnya.. begitu sepasang mata itu tajam memandangnya, merobek2 manajemen jiwa yang ia bangun lagi setelah hancur berkeping2 2 tahun yang lalu.
Tidak... tidak...
Ia tak bisa muncul di sana lagi, tidak selama ia merasa semua lagu2 cinta itu diciptakan untuknya, tidak selama ia masih merasakan gemuruh kupu2 yang beterbangan dalam perutnya. Tidak selama perasaan rindu terkutuk itu masih bagaikan racun yang menusuk otak dan jantungnya. Ia akan menunggu.. sampai semuanya reda. Oh ya, ia tahu.. semua kupu2 itu akan bersembunyi lagi pada akhirnya, sampai kemunculan berikutnya.

I heard from a friend today and she said u were in town
Suddenly the memories came back to me in my mind
How can i be strong i’ve lost my self time and time and said
that i’ll never fall in love with u again
All of the wounded heart u give, my soul u took away
Good intention u have made me, i know u did
It comes from the place that hurt, and god knows how i try
And i never want to return, never fall again....
Janet jackson_again


Bagaimana mungkin kau bisa ‘jatuh’ lagi, jika kau telah ‘di bawah’ sepanjang waktu?

Thursday, October 27, 2005

Hmm... sebenernya aku sempet ragu juga mo posting review (eh, bukan review ding...) opini, tentang film ini. dats why, draft tulisan yang atu ni lumayan lama juga ngendon di hymax 128mb-ku yang ramping nan cantik. Xexexe. (karena flashdisk-na s4 ilang juga c sebenerna ^0^) kenapa ragu.. yaa... ragu ajah, karena ketika aku baca ulang ada kekhawatiran aneh bahwa tulisanku dah beranjak gag obyektif lagi, n lebih jauh lagi.. sedikit khawatir juga kalo banyak pemikiranku uda disubversi (hwaduh not that far, i hope) sama yang namana subyektivitas, dikaburkan sama hal2 yang banyak mempengaruhi obyektivitasku sebagai individu/personal yang (harusna) punya orisinalitas n selera sendiri.. wehehe

Tapi lama kelamaan... yah... apa mau dikata c? Tiap orang adalah subyek, dan kalo emang hatiku bilang aku menyukai sesuatu.. ato seseorang, ya so be it lah. Gag usah dikorek2 lagi kenapa aku menyukainya, n gag perlu merasa tersiksa kalo ternyata aku uda berubah (eh, berkembang ding) jadi pengikut mainstream publik.. menyukai hal2 populer .. ato gag menilai sesuatu dari segi intelektual. Waxaxaxa. (which is to be a big crime fur me in the past)

Anyway, janji joni.. xexexe. Gag berhasil nonton di bioskop, akhirna aku melakukan ‘kejahatan-yang-menyenangkan’ itu.. pirating! Dari rental, dibakar di rumah, biar bisa nonton berkalikali. Beli dvdna? Ogah.. drpd beli dvd ori 29.000, kan mending beli cdblank banyak2 n bakar pilem banyak2 pula.. xexexe.(ups)
Kupikir awalnya, duluu banget, film ni crispy banget. Salah satu film2 loser yang diangkat dari novel2 teenlit, chicklit, beeflit whatever.. (aku blom pernah sekalipun baca novel jenis ini, ni). dari cuplikan2 yang kuintib dari beberapa majalah, ya.. aku liat c ceritana emang beda, unik.. tapi pertama kali kubayangin pasti datar banget filmna, soo predictable gitu lah.

Pertama kali denger, aku kasih rating 1 .. tanda gag perlu repot2 luangin waktu buat nonton (kecuali kalo ditraktir ^0^). Lama2 liat poster n iklan2na.. ratingna naik jadi 3.. soalna yang main, (ahem) nicholas saputra... (again? Kenapa film2na dia always menarik hatiku c? Heran de) sama mariana renata. Ah.. they’re my favorite!! Gabungan antara seksi angkuh si nico sama kucing anggun mariana, menarik juga kekna. En then... a month later, ratingna naik drastis, begitu aku dapetin mp3 OST janji joni secara gag sengaja. Hwaa keren abiz!! Seingatku irfani emang pernah ‘warning’ tentang album janji joni ini waktu kita berdua nongkrong di red-door cafe yang jadi tongkronganna anak2 indies.. kalo album ni awesome! N u goddamned right, bro! Aku yang waktu itu emang lg tergila2 sama apple on the roof jadi kaya nemu durian runtuh dengerin zeke and the popo, apple on the roof, the adams, sajama cut, sampe white shoes, dan bahkan media distorsi!! dalam 1 album. Ratingna naik drastis jadi.... 7! Xexexexe. Dan dimulailah perburuan itu..

Dan yaa... gag mengecewakan. Bener! I mean.. dari segi cerita aja ni film dah dapet satu poin lebih. Beda, seger, ringan, crispy, sederhana.. tapi lumayan cerdas. Keliatan dari dialog2 yang ada. Pendek2 tapi kena. Lucu, menohok realita, tapi gag berlebihan. Aku gag akan bahas film ini dari segi teknis (karena di luar kapabilitasku) aku gag tau mereka pake angel yang gimana, ato pake teknik kamera stand in di scene yang mana, ato pake sistem shooting n editing yang kek gimana. Yang aku tau.. aku terhibur. Bahkan kata2 yang diucapin datar sama mariana serta akting yang minim pun gag terlalu mengganggu, gag kaya kedataran rizky hanggono di ungu violet.. (hwaduh, tolong ya). Aku bisa menikmati film ini tanpa mengerutkan kening, tapi dapet ‘sesuatu’ di sana. Bahkan skenario ketika joni dapet kesialan beruntun pun gag bisa dianggap berlebihan, dibanding sama skenario sinetron tentang hantu2 dan mata2 membeliak, ato skenario film teenlit yang mengedepankan cerita2 bak cinderella ato putri salju.

Janji joni adalah kisah tentang cinta.. yang tidak terkotak pada cinta 2 kekasih, tapi juga cinta dan dedikasi terhadap pekerjaan.. n most of all tanggung jawab. Joni begitu mencintai pekerjaan yang bagi semua orang adalah.. nothing! *gaya vincent-desta* . ada nafas kejujuran yang terpancar dari pribadi sederhana si joni yang patut ditiru. Seseorang yang hampir ‘nobody’ tapi tetep punya vitalitas, keriangan dan kepercayaan diri tinggi (nicholas gitu loh... ^_^). Dan mariana... terlihat begitu cocok dengan perannya sebagai cewe cantik, bersahaja, anggun tapi smart.
Lucu yang pasti... gag ada adegan yang kebuang percuma, para pemain figuran yang hampir semua famous pun tampil kuat, bukan sekedar tempelan. Meski aming cuma nongol beberapa detik di film ini, tapi dia berhasil membawakan pesan tentang gimana konsep antrian itu sebenernya (jangan dibandingin sama antri BLT ya pak jeka.. ^0^) adegan2 ngalir gitu aja tanpa dipaksakan. Cerdas tapi ringan. Gag gampang lho nampilin kesan gitu, dan gag lupa.. soundtrack2 yang ciamik n energizing! Cocok sama filmna yang juga encouraging n energizing. film2na nico emang kayanya selalu terkesan film dengan harga diri tinggi, meskipun kemasannya populis.

Dan satu lagi yang bikin film ni ratingna jadi 9 (well, nothin’s perfect, mann!) yaitu munculna seorang fedi nuril di tengah2 film, yang terus terang ... bikin terkesiap plus kaku beberapa saat lamanya,,, kenapa? Guanteng cekaleeeee.... waxaxaxaxa. Ada tu satu scene waktu dia senyum sinis ke nico n bilang, “gue yakin.. abis ini.. elo pasti bakalan apatis n synical kaya gue..” kyaaaa.. ato waktu dia main melodi gitar? Ah, He’s so damned georgeous!!! I believe that god must be in a very good mood when created him. His face.. baru bisa disebut perfetto..xixixi
Kan? Cilaka kan? Sekarang salah gag kalo aku mempertanyakan obyektivitas hatiku sendiri dengan memberi penilaian terhadap film ini? jangan2 aku terkena stigma bahwa aku begitu menyukai film ini karena nico n fedi? Ato karena aku mang lagi gag romantiz abiz, jadi sedikit muak sama film2 yang terlalu lembek n mengedepankan cinta2an mulu. Mungkin juga, tapi... kalo diliat trackrecord pilem2 komersil indonesia di mataku, n ketika aku diem2 mencatat dalam hati daftar film2 indonesia populer yang paling top menurutku... (di luar film2 indi loh) ya.. Gie... Mengejar Matahari... Janji Joni..........
Lha...xixixixixi

I don’t want to know... i don’t want to know...
I don’t want to know what u’re think of me
Kill a star in me... kill a star in me
When i sold my soul on tv.....

(I novel_zeke and the popo)

Sunday, October 23, 2005

boiled snail.. n .. more.. glups

Serangkaian sama jatiningsih n ganjuran minggu lalu, minggu ini jadual kunjungan ke gua maria mojosongo plus sriningsih. Demi menggenapi ‘program prestisius’ ibuku tertjinta untuk ngisi bulan oktober dengan ziarah ke 7 sendang gua maria. So far, sejak kepulanganku ke jokja aku dah partisipasi di 3 gua, jatiningsih, ganjuran... trus sekarang mojosongo. Berangkat siang banget, gara2 musti kaliren nunggu papa yang didaulat ceramah jurnalistik dulu di depan jajaran redaksi majalah sangkakala.

Gua Mojosongo.. letaknya di pedalaman di solo sono, yg katanya c uda berdiri sejak tahu 70-an gituw... t4nya, sumpee nylempit2 banget. Kalo disuruh balik sana sendiri pasti nyasar dah. Xexe. Tapi berhubung papa teh kampung halamanna di sono, ya gag heran, bisa nemuin t4 yang meski nylempit tapi damai, sejuk n indah. Sbelom melaju ke solo, s4 mampir ke sate kambing di klaten, berhubung sayanya teh rada ngedrop gara2 low-blood-pressure.. (xixixi, padune pengen sate kambing ajah).
Sampe di mojosongo ujan duereeess banget. Langsung ambil t4 di depan hati kudus yesus, masang lilin.. doa sambil menggigil kedinginan... keujanan dikit, gigina sampe gemeletukan..mana lilinna mati2 terus lagi... tapi berusaha tetep khusyuk... (susah juga... gag bakat jadi pertapa nih kekna ^0^). Abis satu putaran doa rosario pindah ke depan maria... yang ternyata jauh lebih uenakk.. gag keujanan, alasnya karpet pula. S4 baring2 bentar (ketiduran ding... xexexe).

En then... masih dengan ujan rintik2 keluar ke t4 parkir, aku liat papa mama uda saling lirik2 sambil senyum2 ngeliatin ibu2 jual makanan angkringan di depan. Lha... batinku, mulai dee... dua orang ni kalo dah ‘dilepas’ di solo pasti gag terkontrol... jajannya.. abis ni aku dah hapal kebiasaan mereka berdua.. toko roti orion, trus selat gelantin solo, trus sambung sama wedang kacang di keprabon, n kalo masih laper ke soto solo. xexexe. Ya, terbukti sedetik kemudian kami bertiga dah kompak segambreng duduk di depan si ibuk gendut yang sibuk nawarin dagangannya. Jadilah... pecel gendar gag pedes buatku, pecel gendar buat mama, n pecel bakmi puedes banget buat papa lengkap sama teh anget plus kopi item yang puanas.. sementara kami membelakangi angin ujan yang dingin. Hmmm.... nikmat, dibarengi obrolan yang bener2 menarik antara kami bertiga, si ibuk, anak lelakinya, n 2 tamu angkringannya.

Well, dan ternyata mang terbukti kalo udara dingin tu pasti meningkatkan nafsu makan. Kenyang makan te-mbing di klaten gag menyurutkan niat kami bertiga buat menyantap masing2 pecel, tambah krupuk, telor puyuh, tahu bacem, setusuk sate nguiknguik (hehe maap..), sesendok rica2 gukguk... (hehe maap lagi...). trus ada makanan yang aneh di situ. Namanya balung kethek (tulang monyet).. kirain apaan gituw, ternyata ‘cuma’ sebangsa balado kripik singkong yang diplastik. Xexexe.
“ni ketan ya bu?” kataku sambil lalu sembari buka bungkusan kecil daun pisang.
“iya tuu ketan, mama juga mau satu dong jeng”
aku ngintip ke dalam bungkusan n liat sesuatu yang item2 lembek gede. Buset, ketan bangkok ya ni? Xexexe. Tapi si ibu yang daritadi senyum2 aja akhirna jawab.. “bukan ketan itu mbak, itu bekicot.”
Ah... gag percaya ah. Jangan2 kaya balung kethek tadi, cuma namanya aja yang ngeri, tapi ternyata cuma apaan gitu..?
“yeee itu bekicot beneran, mbak... siput, siput... wong sya sendiri yang bikin. Itu digodhog, trus dibumbui... satu bungkus gitu dapet kira2 10 bekicot. Harganya lumayan c, kecil gitu 500 lho..”
mukaku jadi ungu ngeliat ‘benda’ di tanganku yang mulai keliatan kaya 10 bekicot bertumpukan warna item. Bisa kubayangin mereka menggeliat2 dengan sungut mereka yang panjang.... glups.
Tapi kok... kanan kiriku cuek aja ya melahap tumpukan lembek item2 itu? Hii...
“cuek aja lagi jeng... ni kan sama aja escargot.. kalo di prancis muahal banget lhoo..” mamaku geli ngeliat muka unguku..
“iyooo... lagian bekicot tu berkhasiat lho nyembuhin penyakit macem2.” Kali papa yang nyahut sambil ngremus2 benda item dan lembek ituuu.
“lha, bener mbak.. jangan dibayangin idupna deh. Kalo tega, bekicot bisa nyembuhin jantung juga lho.. itu lendir bekicot dicampur madu trus diminum.. sembuh nanti. Trus kalo luka juga bisa sembuh cepet kalo makan bekicot..”
glups.... yah... menarik juga c sebenernya. Akhirna, sambil tutup mata... jadilah, bekicot pertamaku masuk ke perut.. xexexe. Rasanya.. wah, lucu.. tapi not bad juga c. Xixixixi.

Sebenernya banyak makanan aneh berbasis reptilia yang kalo tega makannya, bisa berkhasiat banyak. Tokek misalnya.. bisa nyembuhin gudik, panu, kurap, penyakit2 kulit gituw, sama asma. Tokek ni bahkan banyak diekspor juga, kata si ibuk. Disembelih, dibelah jadi 2, dibersihin, trus dipan, ditusuk, dipanggang n disatuin lagi dan dikirimlah ke negara2 pengimpor tokek. Cuma syaratnya... ekornya gag boleh putus. Kalo dah putus gag laku lagi gituw.. gag tau juga kenapa.. Ikan arwana juga... dipercaya bisa nyembuhin banyak penyakit, tapi biasanya orang2 sayang kalo mau makan arwananya.. mahal soalnya. Xexexe. (tapi untungnya di warungna si ibu itu gag ada... set dah, aku dah mulai bayangin si ibuk pake topi kerucut warna item.. n idungna dah mulai bengkok memanjang... xixixi)
“iya tuh bu, kami dulu pernah punya arwana tu silver, panjangnya ada lah sekitar 80 centi. Eh... mati, lompat dari akuarium. Itu ceritanya aneh juga, mungkin gugon tuhon yang dibilang orang2 bener ya, kalo punya hewan peliharaan, ditaksir orang, ditawar orang... mending dikasihin aja, kalo gag pasti mati ato ilang. Lha arwana tu malem sebelumnya ditawar temen saya... 500ribu waktu itu, gag saya kasih... eh lha kok besoknya lompat dari akuarium... mati.. “ mama semangat cerita panjang lebar.
Trus ada mas2 yang jagongan di situ nimpali sambil ketawa2..“ oh, gitu ya tante? Saya juga tuh, dlu punya burung bagus banget... ditawar sama temen saya juga... gag saya kasih juga, besoknya mati... eh.. gag taunya.. 2 bulan kemudian.. mamiku ikut mati, ikut meninggal... lha pie toh... hehehehe”
Siiiiingggg sejenak...

tapi akhirna kami semua ketawa, gara2 si mas2 tu ceritanya enteng banget, sama sekali gag ada beban. Boleh juga..
“ngomong2 soal asma... kalo setau saya tu cicak je, yang bisa nyembuhin asma... tokek bisa juga toh?” papa nanya sambil nyomot balungan kethek itu tadi. “saya kan asma juga, dulu obatnya sering disuruh makan cecak bakar di rumah..”
glups... papaa??? Cicak bakar???? Oh goddd... aku bergidik sambil membeliak.
“eh, kenapa jeng? Jangan salah... kamu dulu juga pernah lho makan cicak panggang, waktu rumah kita masih di baciro..” papa berkata sambil senyum2..
“oh, iya jeng.. mama inget. kamu kecil tu kan masih suka ngompol. Kata orang obatnya dikasih makan cicak aja.. papamu tuh yang manggangin, dibumbuin.. mama c gag berani. Tapi bener kok, kamu langsung berkurang ngompolnya...”

oh goddd, cicak panggang... (&^$#@#!).... mukaku dah gag s4 ungu lagi deh... headline di koran2 solo besoknya... seorang kucing ditemukan pingsan di sebuah warung angkringan, gara2 denger dia uda makan hmm bekicot.. n cicak pertamanya!!
glups. xexexexe

Friday, October 21, 2005

repertoar hujan..

Di musim hujan, seseorang bercerita kepadamu, suaranya seperti hujan dari seberang jendelamu.
Seorang Perempuan tengah menyiram pot bunga di teras rumahnya, seperti tengah memadamkan api yang sebentar lagi membakar rumahnya, seorang Gadis Kecil melintas sendirian dalam hujan.
Seorang Lelaki terjebak sendirian dalam hujan, tak bisa pergi ke mana-mana selain berlari masuk ke dalam dirinya sendiri. Pulang ke masa lalu yang telah mengusirnya.
Seorang Perempuan melemparkan tubuhnya sendiri ke dalam telaga. Berusaha lari dari masa kini dan bertemu dengan masa lalunya. Bertemu dengan mimpi-mimpi buruk yang menghantuinya.
Seorang Perempuan mencari kekasihnya, Ia menemukannya di kebun belakang. Seorang Lelaki yang perlahan menjelma hujan.
Sebuah Ruang Makan yang dingin. Sebuah keluarga berkumpul tidak untuk saling menghangatkan. Beberapa piring berisi masa lalu. Beberapa gelas penuh air mata.
Pembunuhan di halaman rumah. Seorang anak membunuh bapaknya.
Seorang Perempuan tengah menyiram pot bunga di teras rumahnya, seperti tengah memadamkan api yang sebentar lagi membakar rumahnya.


Repertoar Hujan, Teater Garasi
Auditorium LIP Jokja, 20-21 Oktober

Sederhana, pendek, tapi lumayan memikat.
i'm home... itu yang pertama2 kupikir waktu lesehan di tengah2 auditorium LIP yang gag seberapa besar, nonton sebuah repertoar yang ditampilkan teater garasi malem itu, ketemu banyak muka2 familiar. yah, after berbulan2 'larut' dalam perut kota yang (hampir) tanpa religi dan tanpa budaya, aku bisa menghembuskan nafas lega n says... i'm home..
not bad, meski aku rada kesulitan nangkep sarina.. (tuh kan, sepertinya djakarta uda bikin aku tumpul di urusan ginian). kenapa banyak banget gambaran 'kesakitan' yang dibawakan aktor di sepanjang pertunjukkan, aku gag ngerti. apakah ujan selalu kesakitan dalam 'bercerita'? bukannya kesedihan? ato malah keriangan.. ketika tanah2 dan bunga, ato jiwa yang gersang disirami air dari awan?
singkat sekali.. (mungkin karena emang diperuntukkan buat festival ya?) tapi overall.. bagus. cuma ada 4 aktor, serta 4 tim pendukung di balik layar, dan background yang sederhana. but they did well.
ada satu yang kurang... kemana MelancholicBitch???????? i really miss 'em.. hiks.

Wednesday, October 12, 2005

yours... is yours, h'ni..

‘ting tong!’ dengan sedikit terhempas lift 2x2m2 itu sampai juga di lantai dasar. Kinan melangkah keluar bagai melayang, meninggalkan aroma wangi di belakangnya. Suasana lobi lengang dan gelap, tapi Kinan hampir2 tidak menyadarinya. Ia tak merasakan apapun, sampai ketika melewati pintu kaca setebal 3 cm dan merasakan angin malam dingin menyergap, membuat Kinan buru2 merapatkan kancing blazer kerjanya.
Sembari mengangguk menyapa satpam yang terkantuk2 di belakang meja resepsionis, benak Kinan mencari2... Avanza berwarna gelap di antara puluhan mobil mewah yang terpakir rapi di parking lot kantornya.
Ah, itu dia! Matanya menangkap sosok gelap, kurus dan bertopi yang bersandar di pintu mobil, hanya terlihat ujung merah rokok menyala bergerak2 dinamis di sekitarnya. Re! Kinan mendekat dan tersenyum simpul melihat lokasi yang dipilih sahabatnya.
“Eselon I, pak? gag di t4 parkir menteri sekalian euy?”
yang disapa balas tersenyum... “yah, gag ada yang protes kan? Hehe”
“Mau langsung jalan kah? Makan dulu yuk... keroncongan niy”
“hmm iya, nasgor aladin blok s.. mau?”
Kinan menimbang.. “mmm ke belakang situ aja yuk, ke Edi. Lagi pengen jalan kaki...”
Keduanya pun berjalan menembus malam. Hening menyelimuti, hangat dan damai. Inilah yang Kinan sukai dari seorang Re. Re tak pernah menuntut, tak pernah mengorek2, tidak menanyakan hal2 yang tak perlu. Ia selalu membiarkan Kinan bergulat dengan pikirannya sendiri, sampai pada akhirnya Kinan siap untuk berdiskusi dengannya.
Kadang, Kinan merasa sedikit egois karenanya. Re selalu ada setiap ia membutuhkan. Diam, tenang tapi selalu ada, sementara Kinan selalu sibuk hidup dalam lingkaran waktu yang seakan mengejar dan mengikat, bekerja 28 jam sehari, berpikir 8 hari seminggu, work hard.. party less!! Xexexexe...
Roti bakar Edi ramai, seperti biasa, meski malam telah larut. Kinan dan Re duduk di sebuah sudut yang tak terlalu ramai, dengan mangkuk bakso atom dan sate padang di hadapan masing2.
“So....?” Re memecah keheningan setelah beberapa saat mengamati roman muka sahabatnya yang seakan menyimpan sesuatu, dan memutuskan untuk membantu Kinan mengeluarkan semuanya.
Kinan tergugah, “Hah? Oh.... yaaa.... (tersenyum sekilas) “Well, i did it... finally”
Re tertawa seketika, “Waahhh... Selamaadd. Dunia bakal bangga menerima satu anggota pengangguran baru di dalamnya... ups, bukan penganggguran ya? Jobseeker lah... hehehe”
Kinan ikut tertawa, lepas. Untuk pertama kalinya ia bisa merasakan kelegaan sejak saat ia keluar dari pintu kantor bosnya malam tadi.
Resign! Kata2 itu jadi sentral hidupnya akhir2 ini, ketika berhari2 ia berbaring dengan mata nyalang, sibuk menimbang, mengingat, menghitung, mencari2.. dan akhirnya memutuskan. Dalam pikirannya yang sedikit simpang siur ia telah merebus semuanya dalam satu kuali.. perolehan, pengeluaran, idealisme, harga diri, penghargaan, pengorbanan, achievement, orang2 yang ia sayangi, apa akibatnya bagi mereka, tanggung jawab dan sekali lagi.. penghargaan dan idealisme, ketakutan.. dan kembali lagi.. tanggung jawab..
“kamu tega? Tega ninggalin semuanya?” begitu kata seorang senior di kantornya ketika Kinan berpamitan malam tadi. Si bos pun tanpa ampun menghujaninya dengan seribu satu nasehat dan alasan kenapa Kinan seharusnya mempertimbangkan lagi keputusan resignnya... tentang pengorbanan hidup, tentang tanggung jawab...
oh tidak! Apa yang telah kulakukan? Batin Kinan berteriak, sementara perutnya serasa kembali dijejali batu bata yang memenuhi hingga kerongkongan...
Kinan meneguk teh botolnya banyak2, merasa kalut. hingga suara Re yang tajam menariknya kembali ke alam sadar... “So.. what bothers u up now?? “
“Gag ada! Gag ada yang menggangguku! Kecuali mungkin... kenyataan bahwa aku uda jadi orang yang gag bertanggung jawab, ninggalin semuanya di tengah2! Kecuali bahwa aku tega biarin orang2 baik itu jalan tanpa aku bisa bantuin, hanya karena aku gag nyaman, aku gag tahan dengan semuanya. Oh, n did i mention that i just wanna grab my conscience back, but all people see is just, i’m a selfish unresponsible childish girl? Salahkah jika aku menghitung positif negatif yang kudapat ‘n find out that i got negative for all this matters?”
kinan terengah, dan sedikit menyesal, menumpahkan semua kekecewaan yang tidak seharusnya diterima Re.
Tapi Re, seperti biasa... tenang, dingin menatap Kinan dengan pandangan yang bahkan tak bisa Kinan deskripsikan, tetapi hampir selalu bisa menjadi air yang menyejukkan api yang membara dalam mata Kinan.
“Sorry, aku kelewatan ya?" sesal Kinan.
“It’s OK.. reaksimu wajar kok, selama mangkok n botol di depanmu belom beterbangan ke sini...” Re tersenyum lucu.
Kinan tertawa, merasa jauh lebih santai dan berkata, “It’s just.. aku dah gag tau lagi mana yang bener or salah. Aku kah? Keputusanku kah? Ato kondisi yang kualami kah? Salahkah jika aku menuruti kata hatiku Re? Ato mereka yang salah, gag mau memahamiku dan kondisiku?”
“Tunggu dulu, sapa bilang mereka nyalahin kamu Kin? Mungkin hanya perasaanmu aja. Aku yakin banyak juga yang mendukung keputusanmu untuk resign. Jangan biarkan prasangka negatif terlalu jauh menggerogotimu sayang...”
Kinan diam tepekur...”Ya, tapi.. faktanya nobody ever tell me since then, that i’ve did sumtin right. Ah, Re... pliz, katakan padaku bahwa keputusanku ini bener adanya, biar aku tenang.. pliiis.. will ya?”
Re diam.. malam semakin larut. Orang2 muda ramai berlalu lalang di sekitar mereka berdua. Tertawa, tergelak, seakan tak ada beban. Re mengambil sebatang rokok, mengisapnya dalam dalam dan menghembuskan perlahan dan kembali menatap wajah sahabatnya penuh harap menanti..
“Kamu tau apa yang Einstein bilang tentang waktu?”
Kinan terkejut, tidak mengharapkan kata2 itu yang keluar dari bibir Re, tapi kemudian tersenyum maklum.. “Ah, ya.. another Einstein things! Xexexe”
“Yapp.. Einstein.. dengan kejenakaan intelektualnya, bekerja lebih seperti seniman, menggunakan imajinasi dan intuisi, di balik tabir profesina sebagai seorang ilmuwan.. gw banget gag c? Hehehehe. Ehm, eniwe.. kamu tau? Di dunia ini ada 2 jenis waktu. ‘Waktu mekanis’, dan ‘waktu tubuh’. Waktu yang pertama kaku, bak orang tua di sudut jalan yang kejam menggerakkan pendulum besi tua maju dan mundur, undeniable. Waktu yang kedua bergerak tak tentu, menggeliat seperti ikan di tepi laut, memutuskan sekehendak hatinya.
Kau liat orang2 itu? Berapa di antara mereka memakai arloji di tangannya. Untuk apa? Asesoris, banyak dari mereka gag menyadari artina. Orang2 di sini termasuk orang yang tidak yakin bahwa waktu mekanis itu ada. Mereka merasakan dan mengandalkan suasana hati dan keinginan. Look, now it’s 10 o’clock PM, bukan jam makan malam toh? But they’re here. Makan saat lapar, pergi kerja/sekolah kapan aja ketika bangun dari tidur, pacaran sepanjang hari.. yang mereka tau adalah bahwa waktu bergerak tak beraturan. Kadang waktu terus maju dengan beban di punggungnya ketika mereka buru2 membawa temennya yang kecelakaan ke rumah sakit. Mereka juga tau, waktu kadang melaju cepat melintasi padang visi ketika seperti sekarang ini, makan enak bareng temen2, ato ketika menerima pujian.. waktu adalah sesuatu yang berakselerasi."
“Hmm.. OK.. itu waktu tubuh, aku masih setuju. Meski gag mungkin satu orang di sepanjang hidupna tinggal dalam waktu tubuhna kan?” Kinan menyeletuk.
“Belum tentu.. ada juga yang seperti itu. Trus kemudian ada juga yang hidup dengan waktu mekanis. Bangun jam 6 pagi. Lunch tepat tengah hari, makan malam jam 7 malem. On time, persis sama seperti yang ditunjukkin jam. Pacaran tiap malem minggu antara jam 7-10 malem. Kerja 40 jam seminggu. Ketika perut terasa laper mereka liat jam tangan untuk melihat apakah uda waktunya makan. Ketika nonton konser mereka ngeliat jam untuk memutuskan kapan waktunya pulang.
Tubuh, buat mereka hanyalah kumpulan bahan kimia, jaringan dan impuls saraf. Pikiran, tak lebih dari gelombang listrik dalam otak. Rangsangan seksual, tak lebih dari aliran kimia pada ujung saraf tertentu. Kesedihan, tak lebih dari asam yang menusuk otak kecil. Pokokna, tubuh adalah mesin, tunduk pada hukum listrik dan mekanika seperti elektron/jam. Tubuh dalah sesuatu yang untuk diperintah, bukan untuk dipatuhi...”
Re menarik napas panjang. Sedikit terengah oleh antusiasmenya memaparkan sesuatu yang benar2 menarik hatinya.
Kinan menggunakan kesempatan itu untuk memotong,”Wow wow wow, wait a second, mr.scientist... mau dibawa ke mana teori ini c? I understand it, tapi.. i just didn’t get it..”
Re memencet hidung sahabatnya, “Use ur imagination, h’ni! Ayolah... jangan kebawa doktrin kalo anak teknik cuma tau mekanisme dan metode.. hehe.
See, pada suatu waktu, seorang akan menghadapi kenyataan ketika dua dunia itu bertemu jadi satu. Mekanis dan tubuh. Sepasang kekasih duduk di bangku taman, sementara di seberang jalan lonceng gereja berdentang pertanda malam semakin larut.. In ur case, proyekmu masih jalan sekitar 3 bulan lagi, tanpa ampun. Tak ada yang bisa kau lakukan untuk mempercepat prosesna, sementara tubuh dan jiwamu berkata kau harus berhenti....
Re sengaja menggantung kalimatnya, memperhatikan reaksi Kinan dan terlihat olehnya, secarik pemahaman mulai menyebar di wajah Kinan.
“Hehe, can u see it, Kin? Ketika 2 waktu, 2 dunia bertemu, yang terjadi adalah keputusasaan. Dan ketika 2 waktu menuju arah yang berbeda, hasilnya.. kebahagiaan, kenyamanan. Itulah kenapa, kita selalu menghendaki hanya satu dunia, tidak keduanya. Kita memang harus memilih, Kin.. itulah hidup.
Kinan dan Re kembali terdiam, berjalan menyusuri gedung2 bertingkat yang tampak begitu gelap. Kinan diam, berusaha mencerna semuanya. Re diam, menyaksikan pergolakan di hati sahabatnya hingga keduanya kembali sampai di halaman kantor Kinan, ke Avanza hitam Re yang setia menunggu. Sebelum masuk mobil Kinan menengadah, sekali lagi memandang gedung bertingkat 8 yang telah ia kenal baik selama 4 bulan terakhir, gedung itu gelap dan lengang.. kecuali satu lantai di lantai 4 yang masih terang benderang, tempat di mana biasanya di waktu ini ia masih mengerutkan alis di depan laptop axioonya, ato tenggelam di tumpukan surat2..
Kinan tersenyum, yah.. dia memang harus memilih. Ia telah melewati masa2 keputusasaan ketika 2 waktu dunia bertemu, dan memilih waktu dunia yang ia kehendaki, ‘n now.. saatnya untuk menjalani, menerima segala konsekuensi atas dimensi waktu yang ia pilih.
“bukan begitu Re?”
“Precisely! Don’t blame urself Kin.. ‘n don’t blame anybody, nor the decision u made. Tiap waktu adalah benar... tapi kebenaran itu tidak selalu sama...
Sekarang.. ayolah, kita manfaatin malem2 terakhirmu di Jakarta! Keh keh keh..."

Sunday, October 02, 2005

salah!

Ada baiknya sejenak melepaskan kesombongan dan kebanggaan diri dan mengakui bahwa kita manusia tak lepas dari kekurangan dan kesalahan.tapi entahlah… yang namanya manusia toh, biasanya dan akan selalu subyektif. Kalo merasa dirinya bener… maka orang lain di luar garisnya, salah!!! Ada lagi yang separo2. merasa dirinya bener, but once he or she been wronged.. they just wondering… is it? Am I wrong? Then… frustrasi… haa’ laahh…
Ada lagi yang merasa dirinya selalu aja salah dan orang lain yang always bener. Ada gag ya orang se-miserable itu? Xexexexe
Aku… dengan besar hati harus mengakui bahwa aku masuk kategori separo2. bertanya2 apa salahku, sementara aku merasa benar dan jadi frustrasi karenanya.. dikiitt. Xixixixi.
Perfeksionis yang lebih merasa terganggu dengan kesalahan yang dibuatnya sendiri dibandingkan dengan kesalahan orang lain.
See, dalam hidupku aku selalu dihadapkan pada situasi di mana orang selalu menuduh apa yang sebenarnya wasn’t me, or I didn’t do. Dan aku selalu bisa menertawakan semuanya itu. With no self defense, dan separuh membiarkan mereka semua dengan pemikirannya sendiri2.
Tapi tetep… ada rasa penasaran yang menyeruak ketika semua pistol ‘tuduhan’ itu tertodong ke arahku. Kok bisa ya… mereka, ato dia berpendapat seperti itu..

Aku kekanak2an… aku gag dewasa… no responsibility…. Gag konsentrasi… I’m the one who always made mistake… aku gag mampu… gag bisa manage, tidak berpikiran jauh ke depan, reluctant, dan seribu satu bla bla bla yang kalo kudaftar bakal membuatku jadi orang paling gagal di dunia ini, jadi manusia yang paling rendah dan paling tidak berkemampuan di dunia ini. Xixixixixi.
Am i? may I humbly ask u in person, mister… am I that awful? What on earth kind of human I am if all u said 2 me n them is true?
Tidak tidak tidak…. Aku tidak akan membiarkan kalimat2 panjang dari satu orang di dunia ini menjerumuskanku ke tingkat paling rendah dalam skala manusia. Tidak. Aku harus mengambil harga diriku kembali, dan semua kemampuan dan kredibilitasku yang sudah ‘dia’ injak2 di hadapanku.

orgasm at budokan...

Man, ini baru musik!!! Gituw tiap kali aku denger or nonton dvd band yang satu ni.

Dream theatre..
Rapi, cerdas, skillfull. Skillful.. karena masing2 dari labrie, myung, ruddess dan terutama portnoy n petrucci bener2 seorang maestro dalam bidangna masing2. gag berlebihan dah kalo mereka dikasi gelar profesor musik, a thousand billion times worthwile dibanding sama gelar profesor dangdutna roma irama.. xexexe

Cerdas, karena dari tangan2 dingin masing2 personelnya lahir sebuah musik yang cerdas dan mencerdaskan. Komposisi musik yang lahir tidak dalam sekejap mata. Kaya, rumit, tapi mengandung alur yang jelas, tapi anehnya…. gag tertebak. Parahnya, uda beratus kali aku nonton dvd2 mereka, tapi teteb always bikin aku ternganga dibuatna. Gile, they never failed to amazed me anyway. Sampe sekarang aku masih heran, gimana mereka bisa inget semua komposisi itu ya? Dan bukan sekedar chord lho, seperti band progressive rock lainna, musik mereka jangan disamain sama musik pop ato rock melodik yang cukup inget urutan chord-na aja uda bisa dimainin musikna. Ato cukup denger laguna sekali dah bisa ngikutin musikna. Musik dream theatre jauh dari itu. Mereka gag main chord, sepertina..tapi apa ya? Rhythm? Itupun juga absurd gituw. Sumtimes kita bisa ngikutin rhythm dan ikut ngetuk2 jempol, tapi detik berikutna mereka dah ganti haluan, ganti komposisi.... arrrgggghhhh ggrreeaattt!!!

Rapi… kaitannya sama alur di masing2 komposisi lagu itu tadi. Sumtimes they improvised themselves, each. Jadi, masing2 berimprovisasi yang kadang terdengar absurd… tapi anehnya, kok teteb menyatu? Gimana bisa ya? Kalo myung di bass sama petrucci di gitar berkolaborasi, berduet bareng tentu gag aneh lagi, many bands did that perfectly, even better. Tapi kalo ruddess di kibor, sama petrucci di gitar? Ketika mereka berduet yang terdengar adalah kolaborasi 2 melodi gitar yang super duper indah, stunnin, n kompak!.
Tapi yang paling penting, they enjoy it. Band yang bener2 enjoi dan bermusik dari hati pastina bakal menghasilkan musik yang bagus pula. Dan itu jelas terlihat. Karena kadang, bermusik hampir tidak bisa dibedakan dengan bercinta. Ada kesamaan ekspresi yang menyatukan kedua aktivitas itu kalo kupikir. U can find heat, passion, patience, sweat, n klimaks on both activities. Dalam bermusik dibutuhkan kesabaran dalam memanage lautan gairah yang timbul. Sumtimes u hold ur breath… close ur eyes, sumtimes u stare widely.. pelan2 mendaki not demi not, berusaha untuk tidak melepaskan alur yang telah kau bangun… berusaha untuk terlihat dan terdengar sempurna, menyesuaikan diri satu sama lain. Kadang mengerutkan kening, kadang berteriak sepuasnya…. Keep holding ur breath… terus naik, naik dan naik… n finally… berdiri di sana dengan senyum penuh kepuasan, lepas dan bangga, menikmati tepukan tangan membahana dari audience…
Xixixixi. hail hail 2 dream theatre... the god of musik.. (*berlebihanmodeON*)
And john petrucci is so godamned georgeous! Macho dan ganteng...
Waxaxaxaxaxaxa