Saturday, September 17, 2005

welcome to da guilty island!

Good things never come to the good people…. They said. Kenapa aku mengutip pemeo itu? Am I a good person? Or is it good things had happened to me recently? Tidak keduanya, shamely.
Xexexexe… I’m not saying that I’m a good person c, (dats why I felt so amused why did good things never come to me instantly xexexe.)
Anyway, selama ini i kinda thought that no matter good or bad person we are, as long as we done it perfectly, straight, honest pada diri sendiri dan yakin sepenuhnya bahwa kita telah melakukan yang terbaik... maka jadilah yang terbaik menghampiri kita. Intina, kudu jujur pada diri sendiri dulu baru jujur pada orang lain.
Dan ternyata aku salah. When things became so messed up, ketika semua pucuk senjata itu tertodong ke arahku, membuatku terkucil dalam ‘pulau rasa bersalah’ YANG TIDAK PADA TEMPATNYA... otomatis aku merasa harus mereview segalanya dan sibuk bertanya2 ... what have i done wrong? Yang kemudian membawaku ke pertanyaan berikut... so what’s wrong with me?
I’ve done everything, the best i can do as a loyal ‘n honest human being. Sacrifice everything i could (but not my dignity) till i’ve got nuthin’ left but my faith, a strong will to get through my rough days. Hanya untuk mendapati bahwa segalanya itu... yah, tidak cukup.
Ah... betapa aku membenci saat2 seperti ini, ketika bawah sadarku mengkalkulasi pengeluaran dan perolehanku...
Beberapa suara positif mengatakan aku harus mengeluarkan diriku dari semua ini, aku harus bisa berdiri memperjuangkan hak atau apalah itu justifikasi diri, pembenaran diri, pembelaan, self defense..
Yang selalu bisa kujawab dengan sebuah pertanyaan sederhana... haruskah?
Or why should i?
Kenapa aku harus berdiri berteriak2 menyuarakan eksistensi dan kebenaranku sendiri? Apakah sebatang lilin akan berteriak2 bahwa ia dapat dan telah membantu menerangi ruangan yang gelap karena listrik mati sementara ia perlahan2 meleleh dan akhirnya mati?
Tidak, tidak...
Manusia sendiri, adalah gudangnya kesalahan. Tempat semua kesalahan bermuara, dan parahnya, manusia selalu punya seribu satu cara untuk berkelit dari kesalahan2 itu, untuk membenarkan diri atas semua tindakan salahnya. Beberapa mengaburkannya dalam tabir dengan balik mencari2 kesalahan orang lain, sementara yang lain menguburnya dalam2, berharap orang lain tidak menemukannya. Hanya sedikit yang berani mengakui dan berdiri dengan gagah di atas kesalahan yang ia perbuat.
Aku bukanlah orang yang berani, tapi aku sama sekali tidak menyukai pembenaran diri. Piss of shit lah, yang dinamakan pembenaran diri!
Kenapa? Kalau memang mindsetna aku yang tetap harus terima semua limpahan kesalahan itu, dan bahwa aku tetap harus jadi the last person yang harus menanggung dan terpaksa mengakui bahwa itu sepenuhnya kesalahanku, then shall it be. Buat apa berusaha mengubah pandangan seseorang? Buang2 waktu n tenaga ajah.
Seorang pemuda yang tertangkap basah di sebuah airport kedapatan membawa marijuana terselip di lipatan dalam ranselnya, apakah akan membantu apabila ia berkata bahwa ia tidak bersalah karena itu sebenarnya ransel yang ia terburu2 pinjam dari teman kostnya?
Seekor kucing menemukan ikan goreng terjatuh dari meja makan, dan ia memakannya... apakah ia akan terbebas dari lemparan sandal pemiliknya yang menuduhnya telah mencuri ikan tersebut dari meja makan?
The answer is no, for both and more likely questions. Dan itulah kenyataan sebenarnya.. itulah bukti nyata bobroknya dunia, bagiku. Melebihi semua penjahat kerah putih yang katanya mengancam eksistensi orang2 naif, melebihi busuknya birokrasi, melebihi cengkeraman kemiskinan dan penderitaan...
Kenapa? Karena tidak ada yang lebih menyakitkan dibanding tuduhan yang hanya didasarkan pada pengamatan sekilas dan di permukaan saja. Apalagi kalo tuduhan itu datangnya dari orang yang dikenal baik. Tapi aku berdiri, teman.. merasa baik2 saja walaupun semuanya terasa begitu menyebalkan, menanggung kesalahan yang tidak sepenuhnya kesalahanku. cuz it's sumtin i must deal with everyday.
Tapi eniwe... bahkan di antara kegelapan aku masih melihat samar2 cahaya, bahwa toh semuanya ini selalu punya sisi positifna: aku akan jadi lebih kuat dari sekarang, kelak. xexexe
I think i need a break...