Sunday, September 25, 2005

laugh the last

The last samurai, anotha kolosal film yang cukup mengagumkan.. xixixi. Sekali lagi, bukan karena si tom cruise yang ganteng-ganteng sweet itu c, tapi karena ken watanabe aliyaz lord katsumoto…itu tuh (lho??) xexexexe.
Oui, I like it. It teach me what’s life has to be, or what’s life actually be. Bahwa perang itu, seperti hidup. Dan hidup adalah perang. Yang membutuhkan strategi, kemampuan membaca pikiran (taktik) orang lain, adaptasi terhadap segala macam situasi, sacrifice, kemenangan, dan juga kekalahan.
Bahwa tidak ada kemenangan yang mutlak, sama seperti juga tidak ada kekalahan yang absolut. Dalam perang, dan dalam hidup.. kita mendapatkan keduanya sekaligus, satu paket berbungkuskan adrenaline, tekad dan usaha yang keras. It depends on how we seeing it. Secara kasat mata mungkin bisa c, dikategorikan on which side we stand. Di pihak yang menang, ato di pihak yang kalah. But once u look at deep inside u, u’ll see that nobody’s win or loose.
kemenangan dan kekalahan toh, hanyalah cara manusia untuk melegitimasi dan memposisikan dirinya sendiri di khalayak. i defeat u, so u must kneel on me!... untuk menunjukkan kuasa, berada di atas orang lain.. xixixixxi. well, is it really important? to be the one who laugh the last? why don't we laugh together, then?
dunno, some might found satisfied from showing up their power. well, i don't. palagi abis nonton the last samurai itu tuh. menang ato kalah, gag ada bedanya. as long as u did the best for your life, tidak akan jadi masalah apakah kamu akan menang ato tidak.
so does in war. u'll never know what will happened. karena ketika kita merasa semuanya begitu terorganisir, strategic, dan yakin.. akan selalu ada hal lain yang bisa menjadi sandungan. begitupun jika kita merasa segalanya telah gelap gulita, hopeless.. u could found the light sumtimes. it's all about how to deal with unpredictable situation. kalo sudah begitu, menang dan kalah... apa bedanya?
toh itu juga cuma status, image.
the last samurai juga mengajarkan satu hal lagi, kerendahan hati... di atas pride yang begitu tinggi. tau kapan harus mundur, dan kapan harus berdiri gagah menghadapi kematian. xixixixixi.
overall, i like it.

Saturday, September 17, 2005

welcome to da guilty island!

Good things never come to the good people…. They said. Kenapa aku mengutip pemeo itu? Am I a good person? Or is it good things had happened to me recently? Tidak keduanya, shamely.
Xexexexe… I’m not saying that I’m a good person c, (dats why I felt so amused why did good things never come to me instantly xexexe.)
Anyway, selama ini i kinda thought that no matter good or bad person we are, as long as we done it perfectly, straight, honest pada diri sendiri dan yakin sepenuhnya bahwa kita telah melakukan yang terbaik... maka jadilah yang terbaik menghampiri kita. Intina, kudu jujur pada diri sendiri dulu baru jujur pada orang lain.
Dan ternyata aku salah. When things became so messed up, ketika semua pucuk senjata itu tertodong ke arahku, membuatku terkucil dalam ‘pulau rasa bersalah’ YANG TIDAK PADA TEMPATNYA... otomatis aku merasa harus mereview segalanya dan sibuk bertanya2 ... what have i done wrong? Yang kemudian membawaku ke pertanyaan berikut... so what’s wrong with me?
I’ve done everything, the best i can do as a loyal ‘n honest human being. Sacrifice everything i could (but not my dignity) till i’ve got nuthin’ left but my faith, a strong will to get through my rough days. Hanya untuk mendapati bahwa segalanya itu... yah, tidak cukup.
Ah... betapa aku membenci saat2 seperti ini, ketika bawah sadarku mengkalkulasi pengeluaran dan perolehanku...
Beberapa suara positif mengatakan aku harus mengeluarkan diriku dari semua ini, aku harus bisa berdiri memperjuangkan hak atau apalah itu justifikasi diri, pembenaran diri, pembelaan, self defense..
Yang selalu bisa kujawab dengan sebuah pertanyaan sederhana... haruskah?
Or why should i?
Kenapa aku harus berdiri berteriak2 menyuarakan eksistensi dan kebenaranku sendiri? Apakah sebatang lilin akan berteriak2 bahwa ia dapat dan telah membantu menerangi ruangan yang gelap karena listrik mati sementara ia perlahan2 meleleh dan akhirnya mati?
Tidak, tidak...
Manusia sendiri, adalah gudangnya kesalahan. Tempat semua kesalahan bermuara, dan parahnya, manusia selalu punya seribu satu cara untuk berkelit dari kesalahan2 itu, untuk membenarkan diri atas semua tindakan salahnya. Beberapa mengaburkannya dalam tabir dengan balik mencari2 kesalahan orang lain, sementara yang lain menguburnya dalam2, berharap orang lain tidak menemukannya. Hanya sedikit yang berani mengakui dan berdiri dengan gagah di atas kesalahan yang ia perbuat.
Aku bukanlah orang yang berani, tapi aku sama sekali tidak menyukai pembenaran diri. Piss of shit lah, yang dinamakan pembenaran diri!
Kenapa? Kalau memang mindsetna aku yang tetap harus terima semua limpahan kesalahan itu, dan bahwa aku tetap harus jadi the last person yang harus menanggung dan terpaksa mengakui bahwa itu sepenuhnya kesalahanku, then shall it be. Buat apa berusaha mengubah pandangan seseorang? Buang2 waktu n tenaga ajah.
Seorang pemuda yang tertangkap basah di sebuah airport kedapatan membawa marijuana terselip di lipatan dalam ranselnya, apakah akan membantu apabila ia berkata bahwa ia tidak bersalah karena itu sebenarnya ransel yang ia terburu2 pinjam dari teman kostnya?
Seekor kucing menemukan ikan goreng terjatuh dari meja makan, dan ia memakannya... apakah ia akan terbebas dari lemparan sandal pemiliknya yang menuduhnya telah mencuri ikan tersebut dari meja makan?
The answer is no, for both and more likely questions. Dan itulah kenyataan sebenarnya.. itulah bukti nyata bobroknya dunia, bagiku. Melebihi semua penjahat kerah putih yang katanya mengancam eksistensi orang2 naif, melebihi busuknya birokrasi, melebihi cengkeraman kemiskinan dan penderitaan...
Kenapa? Karena tidak ada yang lebih menyakitkan dibanding tuduhan yang hanya didasarkan pada pengamatan sekilas dan di permukaan saja. Apalagi kalo tuduhan itu datangnya dari orang yang dikenal baik. Tapi aku berdiri, teman.. merasa baik2 saja walaupun semuanya terasa begitu menyebalkan, menanggung kesalahan yang tidak sepenuhnya kesalahanku. cuz it's sumtin i must deal with everyday.
Tapi eniwe... bahkan di antara kegelapan aku masih melihat samar2 cahaya, bahwa toh semuanya ini selalu punya sisi positifna: aku akan jadi lebih kuat dari sekarang, kelak. xexexe
I think i need a break...

Sunday, September 11, 2005

writing down

menulis itu...
sebuah hobi. buat seorang ajenx. which sumtimes, turned out menjadi suatu kewajiban dan keharusan. kewajiban yang dilakukan dengan hati senang, tentunya.. xexexe
aku menulis.. untuk diriku sendiri, most of all. karena dengan menulis, banyak hal yang bisa aku dapat. pelampiasan, penyaluran, sistematika, dan penguraian. cuma memang kadang, ketika menulis di sebuah media untuk umum, kebanyakan idealisme dan apa yang tertulis sering berbenturan. seperti ada sebuah kabut norma dan perasaan yang mengaburkan ketulusan dan kejujuran penaku.
aku masih ingin menulis
lebih lama lagi
lebih banyak lagi
lebih jujur lagi...

damn... i want my life back!