Tuesday, May 17, 2005

senja-mu

hari di jokja baru saja usai. seperti seorang perempuan yang menanggalkan baju rumah dan celemek putihnya dan diganti dengan gaun biru dan kalung mutiara, hari sudah berubah, sudah berkemas, mengambil selendang, ganti pakaian untuk senja hari.
dan dengan hembusan kegembiraan yang sama perempuan itu bernafas, melemparkan mantel panjang ke lantai, melepaskan juga debu, panas dan kotoran; lalu lintas meningkat, dan di sana sini di tengah remang-remangnya bayangan pohon tergantung cahaya terang.

aku menyerah, sepertinya senja berkata begitu, dengan wajah memucat dan memudar di atas gedung2 dan tempat tinggi. meleleh, menajam, puncak2 rumah, dan sederetan toko2.
aku memudar, senja berkata.
aku menghilang.
tetapi jokja tidak terima begitu saja, dan serta merta menghunuskan pedangnya ke langit, mengunci sang senja, mengajaknya ikut serta dalam pesta poranya.

senja yang panjang adalah sesuatu yang baru baginya. kenapa panjang, kinan tak mengerti. apakah karena baru kali ini waktu seakan berhenti di semburat merah di ujung sana, yang serta merta menghentikan langkah perinya... kinan tak tau.
kinan menyukainya.
agak membakar semangat, sekaligus memunculkan sebuah melankolia yang indah dan membius.
orang2 muda, tua, lalu lalang dengan segala beban dan bahagia mereka. cahaya senja yang merah biru makin mempertajam sekaligus menghaluskan bentuk mereka; dan daun2 yang menggantung di pohon itu, mengkilap.. tampak seperti dibasahi oleh air laut...
daun2 di kota yang tenggelam.
kinan begitu terkesima oleh keindahannya.
jadi... inikah senja-mu?? bisiknya, senyumnya...