Thursday, May 19, 2005

otonomic science..

Kasus buyat kembali mencuat seiring dengan munculnya perkembangan baru yang ntah.. menggembirakan sungguh, atau sekedar demi tutup mulut pihak2 tertentu.. aku tak tau. Yang jelas SK Menneg Lingkungan Hidup uda turun, tentang bagaimana PT Newmont harus lebih selektif dan mengurangi pembuangan tailing-nya ke laut. Selain dibatasi volume pembuangannya, newmont kudu harus melakukan kajian secara intensif terhadap pengelolaan tailing secara keseluruhan, utamanya untuk mengurangi kandungan logam berat yang bisa membahayakan jiwa masyarakat di sekitarnya. Tidak cukup dengan itu, Menneg LH mempersingkat izin newmont dari 3 tahun menjadi 2 tahun. Pun masih ditambah dengan menempatkan tim pengawas independen untuk mengawasi kinerja pengelolaan tailing yang bermasalah itu.
Kurang jenx? Puwas?? Xixixi. Dunno lah... somehow, sisi ketidakpernahpuasanku berteriak... “will it help those people outhere directly?!” hmm ...coz it sounds like legitimate 4 me, formalitas belaka, tentang kewajiban mengurangi, review bla bla bla.
Penduduk Dusun Pante Buyat di Minahasa sana uda positif dideteksi tercemar logam berat, bapak.... Gag tanggung2. tim terpadu koordinasi dari Kementerian Lingkungan Hidup-lah yang mendeteksinya. Bahwa salah satu sampel air sumur bor milik newmont mengandung logam arsen melampaui baku mutu. Sumur bor inilah satu2nya sumber air bagi penduduk pante buyat. Belum lagi konsumsi ikan yang diduga terkontaminasi arsen dan merkuri.
Itu hasil penelitian setahun lalu, tapi sayangnya, anehnya... gag berhasil membuktikan hubungan antara hasil penelitian tersebut dengan fakta bahwa hampir seluruh penduduk pante buyat mengalami masalah kesehatan serius, dari benjol2, penyakit kulit parah, kram dan sakit kepala serius. Ntah kenapa, aku ndiri juga gag gitu ngerti tentang gimana mekanisme penelitian dan semua audit yang para pakar2 kita lakukan itu, tapi bagiku yang bodoh dan awam ini jadi terkesan gag tuntas gitu, bapak...? xexexexe.
Yah, setelah selama setaon diwarnai demo2 lsm n masyarakat dan pemberitaan media massa akhirna... kedua pion utama bergerak dalam waktu bersamaan, hanya seling beberapa hari. Pemerintah lewat sk menneg lh itu tadi, sedikit meredam kontroversi.
Sementara itu newmont gag mau kalah, dan (ini yang bikin seorang ajenx tersenyum kecut) menggandeng unsrat dalam kerangka justifikasi-nya sendiri. Pakar2 dari universitas sam ratulangi menyatakan bahwasanya tidak ada pencemaran di teluk buyat. Dan tidak ada bukti hubungan antara penyakit yang diderita penduduk pante buyat dengan pencemaran.
Xaxaxaxa..... it happened again, yes? Deja vu gituw... Kontroversi or gontok2an antara sesama ilmu pengetahuan. Buyat vs newmont. Protokol kyoto vs bush dengan ratifikasi insinerasinya, ato yang paling klasik sekalipun, evolusi-na darwin vs adam hawa-na bijbel.. memang, banyak orang yang bertahan di balik keyakinannya masing-masing, mengakui adanya perbedaan dengan berlindung di bawah pengertian bahwa perbedaan itu mungkin aja terjadi pada satu elemen, tergantung bagaimana kita memandangnya.
Tapi gimana jika suatu elemen, ato peristiwa, ato kenyataan hanya berisi hitam dan putih? Ya ato tidak? Contohna, pertentangan antara teori heliosentris yang dibawa ptolomeus sama geosentris-na copernicus, misalna. Salah satu musti kalah, jawabannya hanyalah satu... apakah tata surya mengelilingi matahari... ato bumi. Itu aja. Gag mungkin tata surya mengelilingi keduanya, toh?
Di indonesia tercinta ini sendiri banyak banget contoh gontok2an pengetahuan itu tadi. Penemuan homo floresiensis dulu itu contohnya. Masih ingat betapa ilmuwan kita dengan yakin menyatakan bahwa dia bukanlah spesies baru, tapi semata manusia biasa dari ras austramelansia yang menderita microchepali?
Ato kasus di mana ketika ilmuwan asing mendeteksi bahaya dari gunung toba yang bisa muncul sewaktu2 dengan akibat yang sangat besar. Apa kata ilmuwan kita? Tidak ada. Tidak ada sama sekali itu bahaya gunung toba meletus. Tenang sajalah... xexexexe
Budaya tenang sajalah, ntah menyepelekan, ntah gag bisa menerima pendapat orang lain, ntah defensif... yang jelas, uda memunculkan banyak kontroversi. Dan budaya pihak luar yang ntah memang berniat baik ato memang hendak menjerumuskan, gag ada yang bisa tau. Masyarakat bingung, tentu saja.
Kita semua musti belajar memahami bahwa pengetahuan sifatnya otonom. Kalo uda diintervensi sama kepentingan pihak2 tertentu, jadi gag murni lagi. Semua peneliti ato apalah ilmuwan harus menjunjung tinggi obyektivitas, mutlak.. maka, keberadaan ilmu pengetahuan sebagai fasilitator untuk terpenuhinya kebutuhan kita bisa lah dipertanggungjawabkan kesahih-annya.. weits.