Sunday, May 01, 2005

kinanti

“Hari ini gag sepanas kemaren..”
Re mengucapkan kata-kata itu dengan santai, acuh tak acuh seperti biasa. Kinan memejamkan sedikit matanya, mengalihkan pandangannya dari cangkir kopi di depannya, hingga ia hanya bisa sedikit melihar wajah teman bicaranya, pertama rahang, lalu hidung, lalu alis, dahi, seolah-olah wajah temannya rusak/cacat. Tetapi tidak, di sana temannya duduk, tampak sangat alami, dengan secangkir kopi hitam di sikunya, membaca koran pagi, dengan bibir mengerut serius, dengan kemapanan yang terpancar kuat dari sosok berbalutkan kesederhanaan alami.

Tidak ada yang mengerikan dari wajah temannya, Kinan meyakinkan dirinya sendiri, satu detik memandang temannya lagi, ketiga kali pada wajahnya, tangannya, mencari-cari apa yang mengerikan/menjijikkan dari temannya yang tengah membaca koran di pagi hari.
Hari ini gag sepanas kemaren. Cukup sejuk. Lalu kenapa harus menggerakkan kakinya, berlari lagi? Kenapa menjauhkan diri dan mengucilkan diri? Kenapa harus terguncang dan menangis sedu sedan hanya karena awan? Kenapa mencari kebenaran dan mematok pagar idealisme? Kenapa menutup pintu, menyimpan sendiri kuncinya dan berteriak2 minta dikeluarkan, sementara seorang Re duduk di depannya membaca koran pagi, dan hari tak sepanas kemaren?

Keajaiban, penceraham, kesedihan, kesepian, tenggelam ditelan samudra, tenggelam, tenggelam, dimakan api, terbakar habis, karena Kinan sudah menjadi waras, ketika ia melihat Re menyeruput kopi hitamnya, acuh terhadap keadaan sekelilingnya.

“Memang gag panas, tapi... berarti gag bakal ujan dong ya... hmm sayang sekali..” Kinan menyeletuk
Re melipat korannya, memandang ke arah luar sebentar sambil berujar, “ Kemaren2 juga gag ujan kan, meski panasnya minta ampun??”
Kinan tersenyum, “ memang selalu ada perkecualian. Tapi buatku, panas berarti harapan baru. Harapan akan turunnya ujan. Kalo dingin gini? Berarti tak ada harapan dunk? “
“ Hmm... selalu ada perkecualian katamu? Dan kalau seandainya setelah ini ujan .. bukankah itu merupakan kejutan buatmu? Dan tidakkah kejutan lebih menyenangkan daripada harapan yang terealisasi? “ kata Re, memandang Kinan dari atas cangkir kopinya.
Keduanya tertawa, lepas dan penuh rahasia, karena tak seorangpun selain mereka berdua yang mengerti apa yang mereka tertawakan.
Re meraih korannya lagi. Sambil sesekali menyebutkan headline-news dan kalimat2 yang ia anggap lucu. Well, ia tahu benar bagaimana memanfaatkan waktu santainya, pikir Kinan.

Matahari keluar dan masuk, menyinari meja, sofa, bunga2 kertas warna warni, dan dinding2 pucat. Dan Kinan menunggu saat2 kecemasan menyeruak serta dinding2 membentengi rongga hatinya. Ia menunggu detik2 kakinya berlari menjauhi tempat itu, pikir Kinan, meluruskan kakinya di bawah meja, bersandar di sofa empuk. Ia akan menunggu di tempat yang hangat ini, yang tenang, seperti yang ia rasakan saat ada di tepi hutan suatu senja, ketika, karena bayangan2 di tanah atau letak pepohonan, kehangatan menjalar ... dan angin membelai pipi seperti sayap burung.

Ia menunggu, hangat dan mengantuk. Suara kemeresek kertas koran, suara kopi diseruput, cangkir kopi beradu dengan tatakan. Re yang menertawakan salah satu peristiwa yang ia baca di koran ; Re yang santai ; Re yang sederhana ; Re yang tidak tampan ; Re yang di depannya, dan ... Ardhi? Ardhi ntah di mana sekarang.

Kinan sangat lelah. Kinan sangat bahagia. Lengkap. Ia akan tidur sekarang. Ia memejamkan matanya. Seketika ia tidak melihat apa2 lagi, suara2 Re makin menghilang dan makin aneh dan terdengar seperti seruan orang2... oh, itu suaranya sendiri... memanggil2, mencari, tidak menemukan, dan mengalir makin jauh dan jauh ... ia kehilangan Re!

Kinan terbangun ketakutan. Apa yang ia lihat? Kopinya tinggal separuh cangkir. Coklat dan masih harum. Tidak ada orang lain di ruang itu. Itulah akhirnya, sendirian.
Berdiri sendiri di kemegahan yang sepi, tubuhnya meregang ... tetapi tidak di puncak bukit, tidak di jurang terjal, tetapi di sofa ruang duduk rumahnya sendiri.
Sendirian, Kinan tersenyum. Kesendirian kali inilah ‘panas’ baginya. Karena selalu ada harapan di situ. Dan jika dingin tiba, akan ada Re (siapa dia??) ato Re-Re lain yang jadi kejutan manis dan tidak lagi membuat kaki2 kecil Kinan berlari menjauh. Lihat... gerimis turun