Sunday, April 24, 2005

skeptic me... :(

Yah... akuilah.. aku salah. Salah memilih.
Menyesal? Mungkin juga.. tanpa kumau, penyesalan itu menyeruak ke permukaan, dan tangan2nya yang tak terlihat seakan membentur2kan kepalaku ke dinding sebelah ... menyisakan sebuah pening yang hampir tak terasa, karena begitu seringnya.
Oi, separah itukah resiko sebuah tindakan memilih? Ntah lah, aku bahkan tak tau, ato belom melihat keuntungan dan kelebihan dari pilihan ini. Bahwa sebuah idealisme... dan sebuah niat luhur dan tulus belom tentu dihargai oleh ‘sang hidup’ dengan semestinya.

I used 2 believe that life’s about choice. All about making choice. Selalu ada 2,3 ato 10 pilihan dalam hidup. dalam tataran sekecil apapun. Mau makan apa hari ini??? ... itu pilihan. Bahkan lebih di atasnya.... mau makan ato tidak??? ...pilihan lagi... Dan lebih di atas lagi ... kamu memilih untuk memilih ato memilih untuk tidak memilih... (nahlhooo, mbulet ta..)

pokokna, semua tentang pilihan. Kamu percaya itu? Aku percaya... dulu, kemaren dan sekarang, karena dengan pilihan kita berkembang. Karena dengan pilihan kedewasaan seseorang diuji. Karena dengan berada di tengah pilihan adalah berada di tengah kawah candradimuka..
Tapi selain pilihan.. ada juga konsekuensi dari memilih itu sendiri... karena kita yang sekarang adalah akibat dari pilihan yang kita buat kemarin dan dulu.

Selalu ada 2 pilihan, dua jalan untuk ditempuh. Yang satu mungkin mudah, landai... yang lain terjal dan berliku. Tapi bagiku, ganjaran ketika memilih yang mudah adalah ... bahwa jalan itu mudah, itu saja. Tidak seperti jalan yang susah, terjal dan berliku. Ada sebuah... kepuasan, dan aktualisasi diri... kebanggaan ... ketika berhasil melewatinya. Menjadikan sebuah puncak dan tujuan sebagai sebuah orgasme yang memuaskan...

Dat’s the final answer why i pick that choice, i know... i stand against all odds. Pilihan yang kuambil meruntuhkan semua pertanyaan yang diajukan padaku.. why didn’t i pick that offer, that opportunity, that golden chance (they say).. kenapa??
Dunno lah, since de first time i heard bout that offer, my heart strongly doubt it, tanpa bisa kucegah. Tak peduli betapa overwhelming-na fakta yang menyertai ‘tawaran’ itu. Dan aku sempat mengira bahwa aku abnormal, karenanya...

There’s sumtin’ bout workin’ 8 to 4 per day behind the desk, no overtime guaranteed, with high salary...... that afraids me. Xexexe. Bukan takut c, sebenerna... tapi, ya... it’s just... bukan aku banget gitu loo. Dan memang... mungkin aku emang abnormal, ato uda beranjak gila tanpa kusadari, karena banyak orang di luar sana yang tidak memahami dan menyayangkan ‘paradigma’ yang kupunya. Face it, narsis ato bukan... aku sama sekali bukan seseorang yang materi oriented. Bagiku, uang dan materi adalah nomer sekian... above it, there’s still many things to consider, such as... experience. Betapa pengalaman, dan sebuah kesempatan untuk mengeksplor segalanya, termasuk mengeksplor diriku sendiri itu jauh lebih penting bagiku. Apalagi dengan kondisiku sekarang... ketika aku sedang memiliki aku yang milikku sendiri, ketika aku belum perlu memikirkan langkah dan perasaan orang lain secara khusus.

Dan ada sebuah idealisme sederhana yang mungkin bisa menunjukkan sisi lain dari pilihan yang telah kubuat.. sisi yang luhur, my dad said.. yang membuat beliau yakin... bahwa bukan semata temporary passion ato gejolak kawula muda yang meletup2 yang mendasari pilihanku.., Yaitu aku selalu melatih diriku tuntas dalam mengerjakan sesuatu. Itu yang selalu kupegang dalam hidup ini, bahwa aku tidak bisa begitu saja meninggalkan pilihan yang telah kubuat kemaren. Itulah konsekuensi. Bukan mengenai keterikatan terhadap pekerjaan... tapi lebih kepada keterikatan pada diriku sendiri... bukan karena aku tak ingin berkhianat terhadap dia, kamu ato apapun... tapi karena aku tak ingin mengkhianati diriku sendiri....

See that? Di mana salahnya logika itu? Tell me, ntah aku buta ato terbutakan, aku hanya tak mengerti ketika sekarang aku merasa ... tidak nyaman... menyesal. Haruskah aku mengalah dan menginginkan jalan lain yang ber-iming2kan kemapanan, materi dan kenyamanan? Dan haruskah aku menyerah di jalanku sendiri, ketika berjumpa gundukan berupa perasaan tidak dihargai dan tak berarti serta suasana yang tak kondusif?

I'm not saying right is wrong
It's up to us to make the best of all things that come our way
...the answer's in the looking glass
There's four and twenty million doors down life's endless corridor
___oasis