Tuesday, March 15, 2005

no-stalgia

“tumben...” gituw pikirku, ketika mobil kami meluncur tenang menembus hujan rintik2 malem itu. duduk di pojok belakang bersama ketiga adekku, merasa sedikit kedinginan, tapi sekaligus hangat, mendengarkan percakapan ayah ibu yang terasa mendominasi, sejenak mengalihkan pikiranku dari berlembar2 petunjuk teknis kompensasi bbm yang masih teronggok di kantor, belom selesai! damn!
“mama lagi pengen bakso.. dan kamu musti coba bakso yang satu ini jeng.”
Dan sekali lagi, kata2 itu terbersit di benakku ketika kami berenam menunduk memasuki warung tenda sederhana di depan pasar lempuyangan. Tumben, jelas bukan makan malam yang biasa... makan bakso malem2?? Dan di sebuah warung tenda yang meski terkesan sederhana tapi teteb penuh sesak??
Sebagai penggemar bakso yang lumayan fanatik, terus terang aku belom pernah denger tentang warung bakso yang satu ini c, aneh juga.. bakso iso sardjono. sepintas pun gag ada yang terlalu istimewa. Bersebelahan dengan warung tenda susu segar, keduanya berkolaborasi sehingga selain bakso, pengunjung bisa menikmati menu yang lain, seperti roti bakar, susu segar madu, dll.
sembari menunggu pesanan datang, aku tetap menerka2 ... apa sebenernya daya tarik tempat itu khususnya buat ayah ibuku, yang keliatan begitu berseri2 dan puas.. bisa mendapatkan tempat duduk di sudut warung.
Ternyata bukan karena rasanya, ato karena ciri khas iso yang ada di dalam bakso, ato karena susu segarnya... tapi semata karena nostalgia.
“ bisa dibilang kamu itu ‘terbuat’ dari bakso yang ini lho jeng..”
haaa? (bengong)
“iya, waktu mama lagi hamil kamu... mama ngidamnya bakso yang satu ini. wah, tiap sore dah mama papamu jajan di sini.. kami masih muda banget waktu itu. Pasangan muda yang baru mau dapet anak pertama..” xexexexexe. Bisa dibayangin.. Pantes yak, aku demen banget sama bakso.
Dan yaa.. i really have a good time that night, meskipun dengan kualitas daging bakso yang biasa aja, kuah yang rada keasinan... dan daging iso yang rada hambar... semuanya tertutup dengan perasaan bahagia bisa melihat wajah berseri2 ayah ibuku yang bercerita dengan hangat tentang kejadian2 nostalgia jaman dulu. Si abang penjual bakso pun menimpali dengan bercerita bahwa usahanya itu uda bertaon2 turun temurun. Dan duapuluhempat tahun yang lalu ayah ibuku dilayani oleh kakek si abang. Karena penjual yang sekarang adalah generasi ketiga yang diserahi warung tersebut. Xexexexe.
Untuk sesaat, penatku karena dua minggu terjaga.. hilang sudah.