Monday, March 07, 2005

judge a book by it's cover

Well, obviously not because its cover, i picked that book. Gandhi on Christianity emang bersampul warna dominan item dengan secuil gambar mohandas gandhi berwarna putih dan sepenggal tulisan : Gandhi on Christianity.
Not because of the color, nor the picture, nor even the word ‘Christianity’, but simply because the name : GANDHI.
Sarat dengan pemikiran2 dari tokoh yang paling kuidolakan sepanjang masa, buku ini segera, dalam waktu singkat jadi buku favoritku, selain 7 habits of highly effective-nya stephen covey.
Mohandas gandhi adalah seorang dengan pemikiran yang sangat mengagumkan, buatku. Spirit gagasan tentang ahimsa dan satyagraha seharusnya jadi ajaran komunal yang merasuki hati semua orang di dunia ini, dengan begitu bisa mengeliminir tindakan kekerasan dan destruktif yang terjadi di dunia. Ahimsa :arti kekerasan, saytyagraha: berpegang teguh pada kebenaran. Emang, filosofi yang dia tawarkan gag bisa dipahami sesederhana membalik telapak tangan. Kekuatan kebenaran yang dia pahami sebagai sebuah kekuatan perlawanan tanpa senjata, perang atopun jeruji penjara mungkin masih terasa sedikit kabur bagi orang2 yang telanjur skeptis dengan kekuatan cintakasih dan yang terutama akan menimbulkan skeptisisme bagi orang2 yang telah mengenyam pahitnya realitas dunia. Memang ...
Dan mungkin memang harus mengubah beberapa pondasi pemikiran yang telah mengakar kuat di benak dunia untuk memahami tujuan dari konsep anti kekerasan dari gandhi ini... bahwa, perjuangan anti kekerasan bukanlah kemenangan satu pihak terhadap pihak yang lain ... melainkan sebuah... transformasi radikal terhadap bentuk hubungan dari kedua belah pihak yang bertikai. Yang terjadi bukanlah penaklukan kekuatan, melainkan menemukan kebenaran.
Xexexe... dunno lah, u can never imagine how i feel, reading line between line in this book, n found out that ... yah, ada seseorang di belahan dunia ini yang sejalan dengan pemikiranku.. tokoh besar pula! Xixixixi.
Aku dibesarkan dalam ajaran katolik yang taat, tanpa keterpaksaan. Dan membaca buku yang secara khusus memuat kritikan terhadap kristen should’ve made me pissed off, right? Xexe, not for me. Karena aku sendiri secara pribadi menentang usaha konversi yang dilakukan oleh orang2 yang mengaku beragama, baik itu kristen maupun agama orang lain.
Gandhi sendiri tumbuh besar dalam ajaran hindu yang kuat sekaligus tumbuh dalam paradigma ‘membenci’ agama kristen. Karena dalam otak kecilnya waktu itu, banyak praktek2 agama kristen masuk ke negaranya, dan berusaha keras mengkonversi orang2 hindu menjadi orang kristen. Inilah yang mengagumkan.. dia berangkat dari trauma mengenai sesuatu, tetapi lihatlah pencapaiannya!
Gandhi menemukan, sama seperti yang telah kutemukan.. (ehem) bahwa untuk mencapai kedamaian dan kehidupan yang lebih baik adalah bukan tentang penaklukan. Bukan sebuah konversi, tetapi sebuah kesejajaran, atau mungkin akulturasi. Bukan dominan-resesif, dan bukan mayoritas-minoritas. (perlu diingat, bahwa yang dibicarakan di sini adalah kualitas, bukan kuantitas) Khususnya dalam agama.
Semua agama adalah sama dan benar. Gandhi (dan aku) meyakini bahwa aku harus memperlakukan agama lain seperti aku memperlakukan agamaku sendiri. Maka kita hanya bisa berdoa, jika kita seorang kristen.. bukan supaya seorang muslim menjadi seorang kristen, atau jika kita seorang hindu, bukan supaya orang kristen menjadi hindu, bahkan juga tidak seharusnya kita berdoa dengan sembunyi2 supaya seseorang merubah keyakinannya, tetapi doa tulus kita seharusnya adalah bahwa supaya seorang muslim menjadi muslim yang lebih baik, seorang kristen, hindu, budha jadi seorang kristen, hindu dan budha yang lebih baik pula.
Satu lagi yang menarik dari pemikiran gandhi (damn... it’ll need hours or months to review his mind .. :D). Yaitu..bahwa kita perlu melakukan kajian bersahabat terhadap agama2 dunia, dan gag perlu takut atas pengaruh kitab2 suci lain dari kitab suci yang kita yakini terhadap anak2 yang uda dewasa. Paradigma untuk membebaskan pandangan orang2 tentang kehidupan dengan mendorong mereka mempelajari sebebas2nya semua yang benar mutlak diperlukan. Gandhi sendiri melewatkan hidupnya dengan mempelajari kitab suci agama2 lain dengan bersahabat. Tanpa didukung oleh pemikiran untuk mengkritik agama lain, tapi mempelajari semuanya secara tulus. Bukan untuk mendapati bahwa salah satu agama adalah merupakan yang terbenar dan terbaik.. tapi untuk menemukan bahwa mereka meluaskan pandangannya tentang hidup, dan memungkinkan gandhi untuk mengerti lebih jelas banyak pesan yang samar2 dalam kitab sucinya. Dan dia tetap meyakini untuk menjadi seorang Hindu Sanatani yang taat. So do i, sampe detik ini akupun tetap ada pada jalanku... menjadi seorang katolik tanpa merasa perlu dibebani untuk terus menjadi seorang katolik, ato tanpa perlu merasa ketakutan mempelajari ajaran agama lain, dan menemukan banyak kebaikan di sana. Justru itulah yang kuharapkan. Xaxaxa.
Dan kenapa harus ada konversi? Kenapa banyak orang2 berdiri atas nama agamanya, berkoar2 dan mengklaim bahwa agamanya adalah satu2nya jalan menuju Tuhan? Untuk menarik sebanyak2nya orang meyakini ajaran agamanya, mungkin. Untuk melegitimasi dirinya sendiri, bahwa keyakinannya merupakan yang terbaik. Dan kebanyakan orang2 seperti itu hanya membanggakan dogma yang ia percayai. Aku pribadi sebenarnya gag menentang usaha konversi, dengan satu syarat penting.... harus ada pergulatan intelektual di sana. Jadi orang gag sepenuhnya langsung mempercayai dogmatisme yang ditawarkan. Tapi sayangnya itulah yang banyak terjadi pada masyarakat kelas bawah. Well, aku selalu percaya, jika seseorang memang harus berubah.. biarkan dia berubah karena suara hatinya. Dan tidak perlu ada orang lain yang terus menerus membisikkan dan meneriakkan kebenaran itu. Sama seperti analogi mawar. Apakah setangkai mawar terus berteriak2 akan keharuman dirinya sendiri? Mawar selalu diam seribu bahasa, tapi seluruh penjuru dunia tahu, bahwa ia harum, bahwa dia indah. Sama seperti kita, manusia. Gag perlulah kita berkoar2 mengenai kelebihan yang kita punya. Biarkan orang melihat, dan menilaiea . Ortopraksis... tindakan langsung. Gimana caranya agar setiap lambaian tangan, ato setiap gerakan tubuh kita dan setiap langkah hidup kita merefleksikan kesederhanaan berpikir. Bukan chauvinisme, apalagi fanatisme. Bahwa kita telah mengeluarkan segala yang terbaik yang bisa kita lakukan tanpa perlu terdistorsi harapan2 tersembunyi untuk menjadi yang terbaik dan terbenar. Dan kalo memang benar kita yang terbaik dan terbenar, ingat aja bahwa masih ada yang maha baik dan maha benar di atas sana, yang mungkin di luar pemahaman kita.
Well, it’s mohandas gandhi... yang banyak mengajarkanku mengenai kesederhanaan. N my soulmate... in sort of things... xixixixixi.
All Religions Are True... buku lain dari gandhi.. yang hanya bisa kubaca sepenggal2. tapi gilee... wait till my next post.. xexexexe.