Monday, March 28, 2005

life is ... love is....

i used to believe that life's not possession...
lucu ya? biasanya yang sering didenger adalah love's not possession
tapi yang kutahu.. dan yang kupercaya bahwa, life is not a possession either, at all!!
oui, mas. denganmu aku belajar sungguh untuk tidak memiliki apapun selain diri sendiri, pikiran sendiri, badan sendiri... meskipun itupun tidaklah kekal.
denganmu aku belajar menaruh hidupku di telapak tangan yang terbuka, hanya untuk membiarkan sang hidup itu tetap di situ, damai tanpa tekanan sehingga ia tidak mengalir ke keluar dari sela2 jariku tanpa arah, ketika aku menggenggamnya terlalu erat.
membiarkan hidupku tetap di situ, sehingga aku bisa membawanya ke arah dan tujuan yang lebih pasti.
yapppp.... dan itulah kamu, mas
sekali lagi... itulah kamu, yang ternyata (masih) menyisakan jejak yang dalam di sini.. tanpa kusadari. xexexe
forgive me lah. ya?

Sunday, March 27, 2005

kok... beda??

"rameee!!!"
pikirku ketika mulai menjejakkan kakiku lagi ke tempat itu. after all rush 2-3 years since the last time i got there..
tapi beneran beda. bukan hanya karena populasi tempat itu yang tiba2 membengkak, tapi secara fisik suasana di sekitarnya pun beda jauh.
gua cerme, imogiri.
hampir tidak bisa kukenali lagi.. di sana sini telah banyak keliatan usaha renovasi dan polesan. perkerasan baru, tangga baru, kamar mandi baru, dan yang paling penting... suasana! uda berubah total, dari suasana natural alam yang menenangkan dengan suasana wisata yang ribut dan komersial.
"sial...."
niatku (kami) ke sini untuk cari ketenangan dan sedikit petualangan kecil (bagi mereka, yang belom pernah sekalipun ke sini). buatku... yah, kembali ke alam selalu membuatku excited n freshened up. thats why.. gag perlu mikir dua kali waktu segelintir temen2 kantor ngajakin caving kecil2an. sekalian nostalgia.. dulu pertama kalinya susur gua cerme ini tanpa persiapan sama sekali. no senter, tanpa baju ganti... tanpa sepatu/sandal gunung, dan di dalam... perang lumpur! wadaaaa!!! walhasil pulang ke rumah dengan baju penuh lumpur kayak manusia rawa.
itu dulu, sekarang c, lengkap ransumna. tapi ya itu.... suasananya gag dapet. masuk gua aja pake antri, di dalem gua pun... antri lagi!
xexexe... but it was fun. di dalam gua masih blom banyak berubah. stalaktit dan stalakmit yang menggantung di udara. aroma kotoran kelelawar yang menyengat, aroma fosfor, batu-batu bawang yang mirip kura2, manusia, air terjun kecil yang menyejukkan, riak2 kecil... dan perjalanan sepanjang 1,2 km yang sama sekali gag bosenin. berjalan dalam gua yang digenangi air yang terkadang sampe setinggi perut (tanpa berusaha memikirkan apa aja yang lewat di sela2 kakimu ketika berjalan.. xexexe)
it was fun. di luar kesumpekan dan suasana riuh rendah itu, aku merasa... lengkap. abis itu... tongseng kepala kambing depan depsos... wuahhhh.. thx bang ucok!!! sering2 ajah nraktirna! xexexexe

Thursday, March 17, 2005

i ... don't.... know!

i don't know what's worth fighting for
or why i have to scream

i don't have to scream... right?
or should i?
i should've ignore bout what they say...
but sometimes i just can't
when evrybody points at u, what would u do??
ta... let me ask u personally, what would u do if u were in my position?
semuanya memang akan jadi lebih mudah, jika saja semua seperti kalian bilang

gosh, i wish i could erase 'ol this matters. from the beginning.

bah! aku harus kembali pada my old habits... don't care for what people say.
harusnya.
aarrrrrrrrrrrggghhhhhhhhhh

Tuesday, March 15, 2005

no-stalgia

“tumben...” gituw pikirku, ketika mobil kami meluncur tenang menembus hujan rintik2 malem itu. duduk di pojok belakang bersama ketiga adekku, merasa sedikit kedinginan, tapi sekaligus hangat, mendengarkan percakapan ayah ibu yang terasa mendominasi, sejenak mengalihkan pikiranku dari berlembar2 petunjuk teknis kompensasi bbm yang masih teronggok di kantor, belom selesai! damn!
“mama lagi pengen bakso.. dan kamu musti coba bakso yang satu ini jeng.”
Dan sekali lagi, kata2 itu terbersit di benakku ketika kami berenam menunduk memasuki warung tenda sederhana di depan pasar lempuyangan. Tumben, jelas bukan makan malam yang biasa... makan bakso malem2?? Dan di sebuah warung tenda yang meski terkesan sederhana tapi teteb penuh sesak??
Sebagai penggemar bakso yang lumayan fanatik, terus terang aku belom pernah denger tentang warung bakso yang satu ini c, aneh juga.. bakso iso sardjono. sepintas pun gag ada yang terlalu istimewa. Bersebelahan dengan warung tenda susu segar, keduanya berkolaborasi sehingga selain bakso, pengunjung bisa menikmati menu yang lain, seperti roti bakar, susu segar madu, dll.
sembari menunggu pesanan datang, aku tetap menerka2 ... apa sebenernya daya tarik tempat itu khususnya buat ayah ibuku, yang keliatan begitu berseri2 dan puas.. bisa mendapatkan tempat duduk di sudut warung.
Ternyata bukan karena rasanya, ato karena ciri khas iso yang ada di dalam bakso, ato karena susu segarnya... tapi semata karena nostalgia.
“ bisa dibilang kamu itu ‘terbuat’ dari bakso yang ini lho jeng..”
haaa? (bengong)
“iya, waktu mama lagi hamil kamu... mama ngidamnya bakso yang satu ini. wah, tiap sore dah mama papamu jajan di sini.. kami masih muda banget waktu itu. Pasangan muda yang baru mau dapet anak pertama..” xexexexexe. Bisa dibayangin.. Pantes yak, aku demen banget sama bakso.
Dan yaa.. i really have a good time that night, meskipun dengan kualitas daging bakso yang biasa aja, kuah yang rada keasinan... dan daging iso yang rada hambar... semuanya tertutup dengan perasaan bahagia bisa melihat wajah berseri2 ayah ibuku yang bercerita dengan hangat tentang kejadian2 nostalgia jaman dulu. Si abang penjual bakso pun menimpali dengan bercerita bahwa usahanya itu uda bertaon2 turun temurun. Dan duapuluhempat tahun yang lalu ayah ibuku dilayani oleh kakek si abang. Karena penjual yang sekarang adalah generasi ketiga yang diserahi warung tersebut. Xexexexe.
Untuk sesaat, penatku karena dua minggu terjaga.. hilang sudah.

Friday, March 11, 2005

pendek!

" lagi patah hati, ya?" (nanya!)
" pasti abis putus!" (tuduh!)
" ada apa dengan rambutmu??" (shocked!)
" r u allright?" (prihatin!)
dan seabrek pertanyaan sejenis lain yang hampir selalu terlontar setiap kali ketemu temen2.
tapi ya hampir selalu diikuti dengan pertanyaan lain :
" euy, tapi lutu kok"
" jadi tambah cute.."
" keliatan lebih enerjik.."
" waa.. pengen de, potong kaya kamu.."
dan seabrek compliment lain yang menyertai keterkejutan mereka.

dan terus terang... di luar perhitunganku. bisa dibilang reaksi mereka semua unpredictable, dan.. yah, salah perhitungan itu tadi. aku gag ngarepin compliment sebenernya xexexe (sombong kali kau jenx?)
yah, i'm just... tryin sumtin nu. dan mumpung aku masih memiliki diriku yang seutuhnya, tanpa perlu memikirkan apa akibat tindakanku buat orang lain, tanpa perlu mikirin pendapat orang lain...
sebebas2nya akuu... yeah.
baru kali ini.
n i like it, i enjoy it. dunia jadi terlihat lebih ringan.. dan luas.
look at me, look at my smile, i'm happy with my life.. one free single happy girl! xixixixi.

Monday, March 07, 2005

judge a book by it's cover

Well, obviously not because its cover, i picked that book. Gandhi on Christianity emang bersampul warna dominan item dengan secuil gambar mohandas gandhi berwarna putih dan sepenggal tulisan : Gandhi on Christianity.
Not because of the color, nor the picture, nor even the word ‘Christianity’, but simply because the name : GANDHI.
Sarat dengan pemikiran2 dari tokoh yang paling kuidolakan sepanjang masa, buku ini segera, dalam waktu singkat jadi buku favoritku, selain 7 habits of highly effective-nya stephen covey.
Mohandas gandhi adalah seorang dengan pemikiran yang sangat mengagumkan, buatku. Spirit gagasan tentang ahimsa dan satyagraha seharusnya jadi ajaran komunal yang merasuki hati semua orang di dunia ini, dengan begitu bisa mengeliminir tindakan kekerasan dan destruktif yang terjadi di dunia. Ahimsa :arti kekerasan, saytyagraha: berpegang teguh pada kebenaran. Emang, filosofi yang dia tawarkan gag bisa dipahami sesederhana membalik telapak tangan. Kekuatan kebenaran yang dia pahami sebagai sebuah kekuatan perlawanan tanpa senjata, perang atopun jeruji penjara mungkin masih terasa sedikit kabur bagi orang2 yang telanjur skeptis dengan kekuatan cintakasih dan yang terutama akan menimbulkan skeptisisme bagi orang2 yang telah mengenyam pahitnya realitas dunia. Memang ...
Dan mungkin memang harus mengubah beberapa pondasi pemikiran yang telah mengakar kuat di benak dunia untuk memahami tujuan dari konsep anti kekerasan dari gandhi ini... bahwa, perjuangan anti kekerasan bukanlah kemenangan satu pihak terhadap pihak yang lain ... melainkan sebuah... transformasi radikal terhadap bentuk hubungan dari kedua belah pihak yang bertikai. Yang terjadi bukanlah penaklukan kekuatan, melainkan menemukan kebenaran.
Xexexe... dunno lah, u can never imagine how i feel, reading line between line in this book, n found out that ... yah, ada seseorang di belahan dunia ini yang sejalan dengan pemikiranku.. tokoh besar pula! Xixixixi.
Aku dibesarkan dalam ajaran katolik yang taat, tanpa keterpaksaan. Dan membaca buku yang secara khusus memuat kritikan terhadap kristen should’ve made me pissed off, right? Xexe, not for me. Karena aku sendiri secara pribadi menentang usaha konversi yang dilakukan oleh orang2 yang mengaku beragama, baik itu kristen maupun agama orang lain.
Gandhi sendiri tumbuh besar dalam ajaran hindu yang kuat sekaligus tumbuh dalam paradigma ‘membenci’ agama kristen. Karena dalam otak kecilnya waktu itu, banyak praktek2 agama kristen masuk ke negaranya, dan berusaha keras mengkonversi orang2 hindu menjadi orang kristen. Inilah yang mengagumkan.. dia berangkat dari trauma mengenai sesuatu, tetapi lihatlah pencapaiannya!
Gandhi menemukan, sama seperti yang telah kutemukan.. (ehem) bahwa untuk mencapai kedamaian dan kehidupan yang lebih baik adalah bukan tentang penaklukan. Bukan sebuah konversi, tetapi sebuah kesejajaran, atau mungkin akulturasi. Bukan dominan-resesif, dan bukan mayoritas-minoritas. (perlu diingat, bahwa yang dibicarakan di sini adalah kualitas, bukan kuantitas) Khususnya dalam agama.
Semua agama adalah sama dan benar. Gandhi (dan aku) meyakini bahwa aku harus memperlakukan agama lain seperti aku memperlakukan agamaku sendiri. Maka kita hanya bisa berdoa, jika kita seorang kristen.. bukan supaya seorang muslim menjadi seorang kristen, atau jika kita seorang hindu, bukan supaya orang kristen menjadi hindu, bahkan juga tidak seharusnya kita berdoa dengan sembunyi2 supaya seseorang merubah keyakinannya, tetapi doa tulus kita seharusnya adalah bahwa supaya seorang muslim menjadi muslim yang lebih baik, seorang kristen, hindu, budha jadi seorang kristen, hindu dan budha yang lebih baik pula.
Satu lagi yang menarik dari pemikiran gandhi (damn... it’ll need hours or months to review his mind .. :D). Yaitu..bahwa kita perlu melakukan kajian bersahabat terhadap agama2 dunia, dan gag perlu takut atas pengaruh kitab2 suci lain dari kitab suci yang kita yakini terhadap anak2 yang uda dewasa. Paradigma untuk membebaskan pandangan orang2 tentang kehidupan dengan mendorong mereka mempelajari sebebas2nya semua yang benar mutlak diperlukan. Gandhi sendiri melewatkan hidupnya dengan mempelajari kitab suci agama2 lain dengan bersahabat. Tanpa didukung oleh pemikiran untuk mengkritik agama lain, tapi mempelajari semuanya secara tulus. Bukan untuk mendapati bahwa salah satu agama adalah merupakan yang terbenar dan terbaik.. tapi untuk menemukan bahwa mereka meluaskan pandangannya tentang hidup, dan memungkinkan gandhi untuk mengerti lebih jelas banyak pesan yang samar2 dalam kitab sucinya. Dan dia tetap meyakini untuk menjadi seorang Hindu Sanatani yang taat. So do i, sampe detik ini akupun tetap ada pada jalanku... menjadi seorang katolik tanpa merasa perlu dibebani untuk terus menjadi seorang katolik, ato tanpa perlu merasa ketakutan mempelajari ajaran agama lain, dan menemukan banyak kebaikan di sana. Justru itulah yang kuharapkan. Xaxaxa.
Dan kenapa harus ada konversi? Kenapa banyak orang2 berdiri atas nama agamanya, berkoar2 dan mengklaim bahwa agamanya adalah satu2nya jalan menuju Tuhan? Untuk menarik sebanyak2nya orang meyakini ajaran agamanya, mungkin. Untuk melegitimasi dirinya sendiri, bahwa keyakinannya merupakan yang terbaik. Dan kebanyakan orang2 seperti itu hanya membanggakan dogma yang ia percayai. Aku pribadi sebenarnya gag menentang usaha konversi, dengan satu syarat penting.... harus ada pergulatan intelektual di sana. Jadi orang gag sepenuhnya langsung mempercayai dogmatisme yang ditawarkan. Tapi sayangnya itulah yang banyak terjadi pada masyarakat kelas bawah. Well, aku selalu percaya, jika seseorang memang harus berubah.. biarkan dia berubah karena suara hatinya. Dan tidak perlu ada orang lain yang terus menerus membisikkan dan meneriakkan kebenaran itu. Sama seperti analogi mawar. Apakah setangkai mawar terus berteriak2 akan keharuman dirinya sendiri? Mawar selalu diam seribu bahasa, tapi seluruh penjuru dunia tahu, bahwa ia harum, bahwa dia indah. Sama seperti kita, manusia. Gag perlulah kita berkoar2 mengenai kelebihan yang kita punya. Biarkan orang melihat, dan menilaiea . Ortopraksis... tindakan langsung. Gimana caranya agar setiap lambaian tangan, ato setiap gerakan tubuh kita dan setiap langkah hidup kita merefleksikan kesederhanaan berpikir. Bukan chauvinisme, apalagi fanatisme. Bahwa kita telah mengeluarkan segala yang terbaik yang bisa kita lakukan tanpa perlu terdistorsi harapan2 tersembunyi untuk menjadi yang terbaik dan terbenar. Dan kalo memang benar kita yang terbaik dan terbenar, ingat aja bahwa masih ada yang maha baik dan maha benar di atas sana, yang mungkin di luar pemahaman kita.
Well, it’s mohandas gandhi... yang banyak mengajarkanku mengenai kesederhanaan. N my soulmate... in sort of things... xixixixixi.
All Religions Are True... buku lain dari gandhi.. yang hanya bisa kubaca sepenggal2. tapi gilee... wait till my next post.. xexexexe.

Friday, March 04, 2005

mumed

teror~
uda 3 minggu terakhir ini aku menghabiskan waktu senggangku untuk menelaah kata yang satu ini...
n... i just don't figure it out yet..
till now

teror itu, yah... itu cuma masalah rasa aja c kalo dipikir2. jadi, kalo seseorang merasa diteror, padahal mungkin sebenernya tak ada seorangpun yang menerornya, apa jadinya?
we can du notin toh?
tapi harusna kan ada guidelinenya. apa teror itu, dan sebenernya apa aja yang bisa diklasifikasikan sebagai perbuatan teror itu sendiri?

mbuh lah, mumed aku!

Tuesday, March 01, 2005

side story in da mornin'

3 hari 3 malem sudah, aku gag menyentuh bantal guling kasur dan 'piko'ku tersayang
3 hari 3 malem, berkutat dengan ruangan demi ruangan nyaman yang dipenuhi 9 komputer.
3 hari 3 malem, tidak memincingkan sebelah matapun, membiarkan otakku terus bekerja dan bekerja, berputar dan berputar bagai mesin yang tak kenal lelah
n well... can u imagine how's it feel dat mornin 7 o clock, when i finally go back to da place i called hoom.
uda kebayang gimana rasanya makan masakan bikinan sendiri (cuma indomie c, paling.. xexexe) di dapur ijo-item kami dengan tenang,
apalagi waktu akhirnya menenggelamkan diri dalam balutan bedcover hitamku, dikelilingi suasana adem kamar itemputihku...waxaxa

n yahhh.... i can du nothin' this mornin' when i found myself bengong di depan teras rumah, menatap sepotong pintu yang bergeming menyimpan kekosongan dan kesunyian rumah di belakangnya ... (xaxaxaxa).
damn!
how can i forgot to bring my key...??
dan bagaimana aku bisa melupakan tabiat keluargaku yang super sibuk?
xaxaxa....
n here i was, 'trapped' in da nearest internet cafe, 7 o'clock in da mornin' nyeruput capucini chocolate 'n top rasa strawberry, writin' sum silly postin... just tryin' too hard to keep these eyes really wide open, until the next... dunno lah, 1 hour maybe? or 2 hours?
xexexexe.... zzzzzzz..