Saturday, February 19, 2005

untuk aceh...

masa bertangis2 uda lewat ... it's time for sufficient effort to rebuild everything, right? bukan maksutnya untuk menyingkirkan rasa humanitas, iba dan simpati. tapi alangkah lebih baiknya jika semua simpati diwujudkan dalam bentuk pemikiran dan usaha nyata untuk memikirkan jangka panjang ke depannya.
lebih baik memberi pancing dan kail daripada memberi ikan, ya kan?
meulaboh, calang, lhok nga, banda, lhokseumawe, sigli, bireuen ... dan kota2kecil yang terkena dampak langsung tsunami lainnya ... apa yang bisa kita perbuat untuk meringankan beban mereka?
pada awalnya tentu yang harus dipikirkan adalah bagaimana membangun tempat penghidupan yang layak bagi penduduk yang tersisa. kalo ngeliat dari foto udara gimana meulaboh dan calang rata dengan tanah, tak tersisa satu bangunan pun ... tentunya saat ini tempat penghidupan yang layak menjadi barang mewah. itulah kenapa sekarang, konsultan2 baik besar maupun kecil, baik perencanaan maupun perancangan, dan khususnya para ahli tata ruang kota berlomba2 menganalisa, mengajukan ide ... dan pada akhirnya ikut tender dalam proyek pembangunan kota. profitable, itu pasti... tapi aku yakin, banyak di antara mereka juga mengusung niat tulus untuk membantu kondisi aceh saat ini.
mulai dari nol ... mulai dari mana kita? ada sementara orang bilang ... bangunlah infrastruktur terlebih dahulu! ada yang bilang ... bikin zonasi dulu! ada juga yang bilang ... ahh kok repot, ikut aja tata ruang yang dulu, toh masing2 penduduk punya hak milik atas tanah sendiri2, dan mana mau mereka direlokasi ke tempat baru??
haiya, soal kepemilikan tanah ini cukup bikin pusing kepala juga. kaitannya dengan jumlah penduduk yang masih ada, dan kemudian baru bisa dihitung semua2nya. dari peruntukan lahan, sistem infrastruktur kaya' berapa pipa air yang harus terpasang, berapa kapasitas debit IPA yang dibutuhkan, alat2 pengolahan sampah, pipa sanitasi, blablalba. dan betapa data2 tentang jumlah penduduk yang hilang ato meninggal aja suuuangaaat syusyyaaaahhhh didapett. suer! aku dah ngalamin ndiri, ketika 3 hari 3 malam gag tidur berkutat dengan lembaran2 peta, foto udara, kliping koran, serta data2 tentang infrastruktur kota yang amat sangat minim. akhirna keluar de, senjata pamungkas ... ASUMSI!!! xexexexe. bukan manipulasi loh yaa... a s u m s i..^0^
ada yang menarik dari diskusi terakhirku dengan pak boz ... suatu sore setelah jam kantor, abis ngeliat presentasi rencana rehabilitasi aceh dari beberapa konsultan dari jakarta. mayoritas dari ide2 yang diajukan adalah menerapkan sistem buffer zone di sepanjang pesisir pantai. oh yes, sepintas lalu hal ini emang merupakan solusi ideal untuk mencegah dampak yang begitu besar jika suatu saat terjadi tsunami lagi. tapi benarkah buffer zone menyelesaikan masalah yang ada? si boz langsung menampik tegas ... NGGAK! buffer zone bukanlah jawabannya. dan kenapa c orang indonesia selalu menerapkan manajemen reaktif terhadap segala sesuatunya??
aku sendiri berpendapat bahwa segala tindakan preventif yang bisa dilakukan harus dilakukan secepatnya. memang bukan dengan buffer zone ... yah, bisakah kau membayangkan betapa sepanjang kawasan pesisir pantai harus ditanami hutan bakau selebar 500 m dari garis pantai ?? (seorang pecinta pantai yang kukagumi di 'sana' pasti menolak ide ini...xxexexexe, ) tegakah kita mengilangkan keindahan sebuah pantai demi membayar keamanan dan kenyamanan?? dan apa yang harus dilakukan dengan pemukiman para nelayan yang berada di situ? mereka tentu gag mau direlokasi jauh dari tempat mata pencahariannya ... mau disuruh dagang di pasar semua apa? xexexexe...
ada juga ide meniru kota pesisir di sanfransisco, yang menerapkan adanya asuransi kerusakan dan bencana yang besar bagi bangunan2 di pesisir pantai. tapi ya ... ntah kenapa aku pribadi cenderung tidak menyukai ide ini, karena masih ada faktor 'kehilangan' di sana ... dan aku cenderung beranggapan bahwa terlalu banyak hal2 di dunia ini yang gag bisa digantikan oleh segepok uang. gag hanya jiwa manusia.
mungkin konsep itu bisa diadaptasi di aceh dengan satu syarat, early warning system musti jalan. mutlak. setidaknya meminimalisir jumlah korban jiwa.
berbagai pihak bersikukuh dengan ide pemikiran masing2, sesuai dengan idealisme dan background masing2. perlukah kita semua duduk satu meja, mencari jalan keluar bagi rekonstruksi aceh? ato biarlah semua berjalan sendiri2 dalam koridor masing2, dengan satu framework pasti ... sama2 berjuang demi yang terbaik untuk saudara2 kita di aceh sana. dan sama2 menjaga agar tidak terlalu jauh menjadi reaktif itu tadi.
hyuk hyukk...