Tuesday, December 21, 2004

melogiskan dogma, mungkinkah??

“how can u put God into one common flesh ‘n blood???!!! “

pertanyaan itu yang biasanya membuka perdebatan tak berujung antara diriku yang muda usia dan masih dipenuhi emosi dengan seorang kekasih paling berpendirian, paling keras dan paling liar yang pernah kumiliki. dia yang selalu mencibir setiap kali kuberikan jawaban yang sebenernya menurutku cukup memuaskanku. “ karena keberadaan dan bentuk Tuhan gag perlu dipertanyakan eksistensinya. semuanya di luar akal kita sebagai common human being... itulah yang dinamakan iman. sama seperti ketika kita jatuh cinta. cinta baru dibilang cinta jika ia bisa menangkap kualitas2 tertentu yang tidak tertangkap mata...”
n still, he argued.. “ jadi cuma itu, yang kamu dapet sebagai seseorang yang mengaku manusia logic ?? di luar akal manusia? “ ohohoho, dan itu kemudian memicu jiwa mudaku untuk terus mengcounter pernyataan2nya dan membuatku terjebak untuk (sayangnya) balas menyerang kekurangan2 keyakinannya menurutku. xaxaxaxaxa.... gejolak kawula muda gitu loch.
seiring dengan berjalannya waktu... sekian pertanyaan bersidesak menghantam2 kepalaku. tak tertanggungkan, pertanyaan2 itu lalu meledak menjelma percakapan2, sendirian ataupun bersama, yang banyak di antaranya tak mengantarkanku pada apapun selain pertanyaan lain, kegelisahan lain. aku tak tahu persis apa yang memicu pertanyaan2 yang menyerap itu. aku selalu merasa ada yang tengah berubah di sekitarku. ada transisi yang samar arah tujuannya. dengan kerawanan dan kegentingannya yang tajam mengancam. bergeser di bawah permukaan, sesekali, seringkali, meriak menjelma ombak yang keras menampar2 wajah, tapi anehnya, seperti sulit sekali membuat orang2 terjaga. sesekali tamparan2 itu membuka mata, lalu terkejut dan ribut membicarakannya, lalu lupa. begitu seterusnya... amnesia! amnesia! .... (waktu_batu)
what a well-written situation described up there. ^_^ dan semuanya mengantarkanku pada sebuah pencapaian privat yang belom final, kuakui.. tapi kupegang erat2. sampai di natal ke 23 ini.
Sampai detik ini aku cukup menyukai kerangka pikir dan bahkan dogma Kristiani yang sudah disodorkan padaku sejak 23 tahun yang lalu. Ketika ayah ibuku sejak awal sudah memperkenalkan konsep puritan Tuhan sebagai seorang Yang Maha Kuasa. Yang menciptakan adanya diriku dan juga mereka, serta setiap jengkal tanah tempatku berpijak. Tapi sejalan dengan perkembanganku aku juga kemudian dikenalkan dan menyukai sosok Tuhan yang dekat denganku, terjangkau olehku ... tapi sekaligus sebagai The Almighty. Tempat pertama dan terakhir yang takkan pernah pergi meninggalkanku di saat semua kesedihan dan kemarahan menjadi tak tertanggungkan.
memang ... kalo gag percaya trinitas, gag bakal percaya yesus. Gag percaya yesus ... buat apa percaya pada natal? Pada keajaibannya... pada karunia dan berkah natal itu sendiri? Ah ya.. masalah kepercayaan ini menarik juga sebenernya. Aku percaya jika kau atau kita meyakini sesuatu, kita akan mendapatkannya, apapun itu. Jika kita percaya sungguh dalam hati bahwa keajaiban natal benar2 ada, then it shall happened. Jika kita percaya dan yakin bisa mengerjakan soal2 ujian kita, dalam batas kewajaran ... niscaya kita berhasil. Sebaliknya ... jika kita menutup semua panca indera dan hati kita dari sesuatu, yah we’ll won’t find it anyway. Semuanya adalah berkaitan dengan kekuatan pemikiran dan paradigma kita sendiri. Tentang bagaimana kita memilih kacamata yang akan dipakai untuk memandang segala sesuatu. Lihat lagi, betapa menakjubkannya kekuatan sebuah pemikiran ...

keimanan dan logika .. mungkin memang tak bisa berjalan beriringan. Harus ada salah satu yang dikorbankan dalam perjalanannya. That’s why we call it dogmatism. Tapi tetap, tidak ada salahnya kan untuk mempertanyakan semua dogma itu? Setidaknya untuk diri sendiri. Demi mendapat landasan yang lebih kuat daripada sekedar mengikuti apa yang tertulis selama beratus2 abad yang lalu. Paham puritan tentu akan mempersalahkan orang2 yang mempertanyakan kembali dogma2 yang ada. tapi apa salahnya dengan mencari kebenaran? dan kebenaran itu aku yakin.. ada dalam hati masing2 manusia. jauh di dalam sana, jika kita cukup berani untuk sejenak melepaskan diri dari belenggu kekangan dan ketakutan akan dosa .. kemudian melongok ke dalam nurani masing2.
Begitu juga dengan karunia natal. Natal ada dalam hati kita masing2, aku tahu itu. Bukan tentang dengan siapa atau di mana kita menghabiskan natal, bukan tentang baju baru atopun kue dan pohon natal. It’s about ourself. Nu born, hari baru .... pembaruan. Refleksi.
Merry christmas... joy to the world. ^0^