Monday, December 20, 2004

lelaki dengan sebungkus marlboro merah di tangan

" dingin ya... ga bawa jas hujan ?"
sedikit terlonjak mendengar perkataan yang tiba2 itu, seorang gadis menghentikan sejenak kegiatannya memandangi titik2 hujan yang turun dan sekilas melirik seorang lelaki yang entah sejak kapan ada di situ.
hanya tersenyum simpul sambil kembali memandangi hujan si gadis berkata pelan, " iya... lumayan deres juga.."
hening sejenak di antara keduanya. hanya terdengar suara hujan yang memukul2 sepotong atap di atas mereka serta suara lalulalang kendaraan yang menembus hujan. hari semakin gelap, hujan tak juga memperlihatkan tanda2 akan mereda. tapi si gadis hampir tak peduli. somehow, ia menikmati keadaan itu. berteduh di tempat tak dikenal, sejenak menyepi dalam keramaian, terisolir oleh titik2 hujan yang seakan menciptakan teralis air yang menggoda untuk ditembus. ya, ia menyukainya. kesempatan langka untuk memiliki waktu yang hanya untuk dirinya sendiri.
" rokok mbak? ...."
lagi2 si gadis terlonjak mendengar perkataan yang lagi2 tak terduga itu... hanya saja kali ini berhasil membuatnya mengalihkan perhatian dari titik2 hujan di luar sana dan mengangkat mata untuk memperhatikan makhluk ajaib macam apa yang berani menawarinya 'benda' itu... sepintas, si gadis cukup menyukai apa yang dilihatnya. lelaki tak dikenal itu menyodorkan sebungkus marlboro merah yang masih tersisa separuhnya, sementara di bibirnya yang menyunggingkan senyum malas (!) juga sudah tersampir sebatang rokok. si gadis bimbang sejenak, kemudian sambil tersenyum simpul ia mengulurkan tangannya menyambut penawaran itu. tentunya sambil memperhatikan reaksi si lelaki...
well, hampir tak ada perubahan berarti di roman muka lelaki itu. dengan tenang ia membantu menyulutkan rokok di bibir si gadis dengan korek apinya.
keduanya kembali diselimuti hening yang menyejukkan dan menyatukan keduanya. "ngerokok juga toh mbak?" lagi2 si lelaki memecah kesunyian.
" ah, enggak juga.. gag tiap hari.."
" hmm ... nggak kaya saya dong.. itungannya dah pengen berenti, tapi nggak bisa ..."
" hm, gag bisa ato gag mau mas? semuanya kan tergantung kemauan, kalo aku c..."
(lagi2 senyum malas itu terkembang dengan kurang ajarnya di bibir si lelaki) "tau aja..."
" bole nanya mas, gag heran ya ngeliat ce ngerokok? "
(heran) " lho, mang knapa? aku aja kalo sama ce-ku malah aku sodorin itu rokok, nggak pernah ngelarang dia.. uda sama2 dewasa kan? uda tau mana yang jelek mana yang bagus. semua orang berhak nentuin hidupnya sendiri, ntah itu ce ato co.."
si gadis terpana... wah.
" hey... malem minggu gini kejebak ujan, lagi mo berangkat ngapel ya mas? "
" ah, enggak. lagi mo ngumpul tempat temen. ngapelnya absen dulu lah. friend first buatku.. hehehe "
friend first? lagi2 si gadis terpana... so alike! dan tanpa disadarinya sesuatu menyeruak dalam benak si gadis. apa itu? kecemasan? kekhawatiran? ah, ya... sesuatu yang mulai akrab dengan dirinya belakangan ini.
" mau ke mana mbak? ato baru pulang nih? kok malem2 gini sendirian, malem minggu lagi." sambil tanya gitu si lelaki mengambil sebatang marlboro merah lagi dan menyodorkan lagi ke si gadis. si gadis kali ini menggeleng sambil berkata,
" xixixixi, baru mau pulang, tadi mampir2 dulu c jadi kemaleman n kena ujan de. ya terpaksa nunggu gituw. kalo ujan deres gini c, pake jas ujan juga sama aja.. ketampar2...lagian aku gag suka pake jas hujan "
" iya bener, dan nggak ada salahnya kan nunggu? kalo aku lebih suka nunggu mbak. nunggu itu menyenangkan lo, apalagi kalo nunggu seseorang. bayangin aja kalo uda ketemu sama orangnya... "
wah... buseeetttt. ini c uda keterlaluan, pikir si gadis sambil terus menatap si lelaki dengan pandangan bertanya2 ...
" eh, kenapa mbak? ada yang salah? "
" nggg... enggak c, kamu bener2 mirip seseorang yang kukenal."
" masa? tapi cakep aku kan...? " si lelaki berujar sambil tersenyum. ah, arogansi lelaki!
" bukan... bukan wajahnya kok...." sengaja menggantung, si gadis kembali menatap hujan yang kelihatannya sedikit mereda. segera, tanpa pikir panjang, menuruti kata hatinya si gadis bangkit berdiri dan mulai menyalakan motornya.. " ah, uda ya mas. keknya uda mulai reda nih. aku cabut dulu, kemaleman ntar... "
" lho, masih deres gini lo mbak... ntar sakit lho. tunggu bentar aja lah, aku nggak gigit kok" si lelaki terlihat terkejut melihat perubahan sikap si gadis.
" ehm, iya c. tapi aku dah pengen keburu bobok nih di rumah. mumpung malem minggu gituw..."
" eh... eh ... eh .. tunggu dong, kenalan dulu.. sapa namamu?"
tapi si gadis keburu menjalankan motornya menembus hujan yang memang belom reda, setelah sempat menyunggingkan senyumnya yang paling manis dan berteriak.. "makasih ya.. rokoknya..."
ah, bahkan dalam hujan si gadis masih bisa tersenyum mengingat percakapan barusan. hatinya berbisik, 'maap.. lelaki dengan sebungkus marlboro merah di tangan. bukannya aku sombong, tak ingin berkenalan denganmu. tapi aku takut. aku takut jatuh cinta padamu.. terutama aku tahu.. bahwa kemungkinan besar aku hanya akan jatuh cinta pada 'bayangan di belakangmu'. silly isn't it? memang hanya percakapan singkat. tapi entahlah ... aku hanya tau bahwa aku gag ingin melanjutkannya. still, aku masih tidak berminat untuk disakiti lagi...' mungkin nanti, ya. but not now.
story about 'parno' girl who freaked out with sumtin unnecessary to be freaked out. stupid!