Wednesday, December 08, 2004

impulse versus well-organized.

Ow ow ow ... petualanganku di negeri metropolitan ini masih berlanjut, sembari nunggu deal job yang tiada berujung .. huhuhuhu kecian d aku niy. (masih di warnet 10.000 cyberia bintaro plaza).
Ternyata, setelah kupikir2 .. satu lagi sifat yang kupunya : IMPULSIF! Oyeah, temuan yang cukup aneh kalo kubilang. Karena di lain pihak i do love everything well-organized sejak dulu. Bentrok antara kedua sifat yang kontradiktif itu? Pernah ga ya? Ga juga c. Keduanya g pernah muncul bersamaan... or... have they? Ahahaha, ya pernah c mungkin in sort of time. Tapi kurasa keduanya muncul dalam bentuk sebab akibat.
See.. at first, i got impulse, yang kemudian melahirkan tindakan impulsif itu tadi. N then, sebagai bentuk kewajiban/akibat/pertanggungjawaban diriku secara otomatis mengorganisir segala sesuatunya hingga menjadi well-organized menurut versiku.
Contohnya hari ini : bangun pagi jam 05.30 ga mikir apa2. pagi ini bener2 bakal kuhabisin buat santai. Nelpon temen, baca koran, n then baru mikir urusan kerjaan, beberpa keputusan yang musti diambil (cieehh... macam direktur ajah ko jenx) o yeah, aktivitas pagi liburan di rumah sodara : minum cappucino, baca kompas, nonton berita metrotv.
En sudden ... tttrrrrriiinngg!! Tiba2 sesuatu menyala dalam benakku : aku pengen nonton JIFFEST!! Ohohoho, mumpung lagi di jakarta gituw. Ini neh impulse-na. Sumtin’ really really unsuspected tapi mendesak. Dasar ajenx! Kalo dah punya kemauan... xixixi. Dan akhirna kurasakan roda2 di otakku mulai berputar kuenceng; planning sumtin’ well-organized itu tadi.
Pertama2 : temen. Sapa? Di jkt ni kayana ga da tmn2 yang kukenal yang gandrung ma hal2 begituan. (huaaa kaciaaannn). No problemo! I could go by myself. Bisa lebih mobile gituw.
Kedua : how??? FYI : aku terakhir ke jkt setaon yang lalu n ga pernah pergi sendirian. Domisiliku di kawasan bintaro jaksel, sementara JIFFEST yang mo kutonton di kawasan Taman Ismail Marzuki di Jakpus.
Iya enggak iya enggak... mo tinggal di rumah nonton ceriwiz sama spongebob, ngadem di kamar AC n mungkin ol bentar nantinya, ato berpanas2 ria naik angkot ga jelas dengan t4 tujuan yang blom pernah kuliat seumur idupku.. buat nonton film yang bukan mainstream hollywood.
Well, if u know who ajenx really is, u’ll figure out the answer precisely. Xixixixi. Berbekal optimisme tinggi (meski ga tau apa2) aku melancong ke ‘benua lain’ ituw. Wew, di jogja aja ga pernah naik bis, jadi bisa dibayangin dunk o’on-nya diriku nanya sana sini, ganti bis 3x plus naik bajaj dan baru 3 jam berikutnya sampe di halaman TIM yang luas n sejuk ituw. Mo nonton yang jam 11.00 ; short movie from singapore gagal! Soalnya sampe sana uda jam 12.45 dan langsung nerobos masuk kampus IKJ (kampuse keren bow) ; dan kemudian tenggelam dalam suasana taun 80an di filmna Sjuman Djaja (retrospective) yang judulnya Kerikil Kerikil Tajam. Film ini pernah menang Citra Award for Best Story. Ceritanya ... standard c kalo untuk ukurang sekarang. Kisah tentang remaja desa dari Cilacap yang always kalah oleh nasib. Christine Hakim, Ray Sahetapy (uiih, tjakeb!!), Dedy Mizwar, Roy Marten, Meriam Bellina, Astri Ivo.. sapa lagi ya?
Main frame-nya adalah ketika Ganjar (Ray Sahetapy) mencari tunangannya, Retno (Christine Hakim) dan adiknya Inten yang terdampar di Jakarta dan mengalami perlakuan yang always ga menyenangkan. Khas yang melukiskan jkt sebagai monster yang siap menelan siapapun.
Lumayan c, dengan durasi 2 jam, alurnya cepet ga bertele2, semua problem dibabat habis tanpa banyak cincong. Dan endingnya ... interesting. Sebuah ending yang sangat menggugah ketika Ganjar akhirnya menemukan Inten sang adik. Kenapa hanya sang adik? Tunangannya? Di sinilah cerdiknya skenario ini. Digambarkan inten dan retno terpisah sementara, sehingga Ganjar hanya menemukan Inten. Tapi sebelomnya digambarkan pula Retno sedang menuju ke t4 inten berada.
What i meant is... skenarionya cerdik, dengan membuat ending tak terlupakan yang membuat prnonton terduduk sejenak di kursinya ketika credit title muncul, dan berfantasi mengenai pertemuan 2 orang kekasih : retno-ganjar..
Abis itu, pengen nonton ‘Atheis”, another Sjumandjaja retrospective yang diputer di Teater Kecil. Oiya, teater kecil gedungnya baru ya? Belom jadi malah kayana. Di sana sini masih keliat pekerja bangunan bekerja menyelesaikan interiorna. Tapi eksterior dah lumayan jadi. Keren juga. Bergaya post-mo dan hitech.. (tapi kurang membumi ya kayanya? Internasional banget gayanya) banyak pake elemen steel n kaca biru ijo. Kalo sekilas ngintip interiornya c dah 60% jadi. Lift uda dipasang. Cuma emang, finishing sana sini belom. Masih polos. Tapi, induk bangunan aliyaz TIM itu sendiri jadi tenggelam di sampingnya.
Pengen ngeliat gedung erasmus huis juga.. tapi tyt katanya ada di cilandak. (wew, dah males nanya2 lagi) mending lanjut nonton film itali : Io Non Hora. Kereenn... natural gituw.
Seblom pulang s4 mampir ke toko buku TIM. Lengkap juga meski kecil n ga teratur. N pulang akhirna sambil nenteng buklet JIFFEST plus 2 buku : Epistemologi Obyektif karangan Ayn Rand.
What was it? IMPULSIF?? Yeah, but it’s fun! xaxaxaxa