Thursday, November 18, 2004

bertanya dan bertanya....

dalam beberapa minggu ini ada 2 pertanyaan senada yang terlontar dari 2 forum yang berbeda. yang pertama ketika seorang teman bertanya padaku .. "terus aku ini apa? manusia ... anjing .. ato tuhan?" dan yang kedua tercantum dalam comment di forum ini, yang menyatakan bahwa kategorisasi, ato apalah penggolongan dan identifikasi seseorang itu penting.
begitukah? aku sendiri dulunya berpendapat bahwa kita ini sedang berada dalam proses evolusi. bukankah ada teori evolusi yang menyatakan dulu kita berkembang dari monyet menuju ke kita yang sekarang ini? i'm not saying that i do believe those evolution theory. tidak secara morfologis, melainkan kita sedang berkembang secara psikis.
tentunya pertanyaan who am i, ato what am i.. adalah sebuah pertanyaan definitif, tapi aku yakin si penanya tidak mengharapkan jawaban yang naif dan denotatif tanpa tedeng aling2 bahwa "kamu itu manusia. titik." karena selalu akan bisa terkejar oleh pertanyaan lain.. "trus manusia itu apa?" demikian terus menerus sampai ditemukan jawaban yang bener2 empirik.
sekian definisi, sekian epistem telah diajukan dengan penekanan yang berbeda2 mengenai pengertian 'manusia'. ada pengertian metafisika, yang begitu saja menyerahkan epistemologi kepada hal2 yang tidak tertembus rasio dan sedikit berakar dalam takhayul masyarakat. yah, kalo itu yang dijadikan tolok ukur yaa.. ga bisa diutik2 lagi. bahwa manusia adalah salah satu ciptaan tuhan yang derajatnya paling tinggi, bahwa perempuan tercipta dari rusuk lelaki.. yah, itu semata kepercayaan. dan ga salah juga c, bagi sementara orang yang cukup puas dengan dogma dan kepercayaan metafisika.
kalo menurutku ada tiga aliran epistemologi yang bisa merangkum semua definisi tentang 'keakuan'. yang pertama metafisika itu tadi, yang antara lain dianut oleh plato cs. yang kedua adalah paham yang menitikberatkan pada rasionalisme, yang mengutamakan akal sebagai sumber pengetahuan. logis dan nalar yang dijadikan pijakan. hakikat manusia dijawab secara deduktif. dan di sinilah lahir proses judgement yang biasa dianut masyarakat. jadi kalo sesuatu terlihat mempunyai ciri seperti manusia dia dikatakan manusia. iya, semata pengamatan kan?
ada kelemahannya niy. dalam kenyataan kita hanya melihat pelbagai segi yang melekat pada sesuatu sebagai a bundle of perceptions, tapi tidak pernah 'sesuatu' itu sendiri. bahwa kita menganggap semua segi seseorang - gerakgeriknya, bentuknya, warnanya, tertawanya, dan sebagainya - sebagai ciri orang tersebut. sebagai ciri manusia. ini sedikit kritik bagi paham rasionalisme. menurut mereka definisi manusia hanyalah merupakan ciri manusia tersebut.
yang mungkin tidak jauh beda adalah aliran ketiga : aliran empirisme. manusia, ato 'keakuan' dimengerti sebagai "deretan kontinu kesan-kesan" . jadi dipercaya bahwa pikiran manusia ketika lahir hanyalah berupa suatu lembaran bersih, yang padanya pengetahuan dapat ditulis melalui pengalaman-pengalaman inderawi. ini menurut john locke kayanya. xixixixi, ya maap... lupa gitu loch.
so, berarti menurut paham empirisme... definisi bisa berkembang toh, sesuai dengan pengertian masing2 individu, dan sesuai dengan pengalaman kognitif masing2. bagi seseorang yang dilahirkan dalam keluarga miskin misalnya, manusia bisa berarti seseorang yang bisa sangat kebal terhadap penderitaan. bagi seseorang yang dididiki secara normatif tentunya berpendapat bahwa manusia adalah bias norma lingkungannya, media representatif mengenai norma, dst dst.
jadi beda dengan paham rasionalisme yang menitikberatkan pada proses deduktif, empirisme memecahkan persoalan melalui metode induktif.
xixixi... jadi menjawab pertanyaankah semua uraian itu tadi? ndak lah. aku cuma pengen menunjukkan betapa beragam dan menakjubkannya pemikiran yang bisa dihasilkan masing2 individu. ga ada yang salah ato benar. karena itu kebenaran itu sendiri merupakan sesuatu yang relatif.. dan kadang terasa abstrak. definisi tentang manusia pun demikian. aku adalah aku. i could be what i want it to be. definisi mengenai manusia hanya akan memberi batasan pada manusia itu sendiri. kita ga akan bisa bebas mengeksplor apa yang kita punya, ato apa yang pingin kita lakukan. padahal definisi umum itu sama sekali ga mutlak. sama seperti pendapat david hume yang kebetulan seorang atheis (hey, ndak relevan ya).. bahwa kebenaran, dalam bentuk apapun ... itu sama sekali tidak mutlak! xixixixi.
setuju? terserah....