Saturday, November 06, 2004

analitis kata

siang ini, ngeliat sesuatu yang lumayan bikin shock juga c.. xaxaxa. jadi gini, siang tadi aku ngeliat cewek cowo boncengan pake motor jalan di depanku. si cewe ni rupanya atraktif kali, meluk2 cowonya n si cowo pun yaa dengan tampang cengengesan seneng2 aja gituw, nha, ketika benakku sedang sibuk menghakimi perbuatan mereka berdua yang kunilai kurang 'patut' itu (weh, katanya bulan puasa gitu loch ^_^)... eh, tiba2 kejadianlah.. cup! mereka kissing on the lips di atas motor, ga pake repot2 mikirin keadaan sekitar. buset dah, dalam hatiku. udah siang hari bolong, pwasa2, naik motor pula.. mending kalo naik mobil, ga keliatan. nha ini??? xaxaxaxa dalam hati aku cuma bisa ketawa, senyum kecut gituw. salut juga c sama kecuekan mereka. apa yang ada di benak mereka ya? xaxaxa. aku pribadi c, sulit untuk menjudge perbuatan mereka patut ato tidak patut. baik ato enggak...i know how's it feel gituw. dimabuk cinta, ga peduli sekitar. mungkin bahkan menurut dia tindakan itu sah2 aja, patut2 aja..
Xixixixi, tapi kejadian itu kembali membangkitkan sesuatu dalam diriku... membuatku kembali mempertanyakan hal yang dulu pernah terbersit juga. Sebenernya, definisi baik itu apa? Ato gimana c? Dulu aku pernah nulis kaya gini juga kayanya... hmm metode analitik macam Wittgenstein nee, mengutak atik arti/meaning dari suatu kata/bahasa.
Yah, tapi referensiku bukan dari si filsuf austria (wittgenstein) ini neh. Aku cenderung tertarik sama analisis George Moore tentang definisi ‘baik’ ini. George moore ini orang inggris asli, yang sedikit banyak menumbangkan tuduhanku terhadap pemikiran orang2 inggris yang selama ini kuanggap orthodoks dan dogmatis. Pada kenyataannya, si moore ini dalam hidupnya pernah beralih haluan dari aliran Kristen ultra-evangelikal menjadi seorang agnotisisme. Xixixixixi. Tendensius euy! Mungkin karena itulah aku jadi bisa ngikutin alur pemikiran dia.
ada beberapa definisi ‘baik’ dari beberapa versi. Kaum hedonis, misalnya.. berpendapat bahwa yang ‘baik’ adalah yang menyenangkan. Sementara aristoteles mendefinisikan sebagai apa yang bisa mengembangkan manusia. Lain lagi sama spencer, beliaunya ni berpendapat yang ‘baik’ adalah yang searah dengan hukum evolusi. Sementara kaum emotivis mendefinisikannya sebagai apa yang diinginkan, dan sedikit banyak bertentangan dengan paham metafisika yang menyatakan bahwa yang ‘baik’ adalah yang diperintahkan Tuhan ; apa yang membawa manusia ke surga. Dan kemudian thomas aquinas .. si teolog itali ini berpendapat bahwa yang ‘baik’ adalah apa yang searah dengan hukum kodrat. Soo... which one is closely yours anyway?
Xixixixi, kalo dikategorikan, definisi2 dari masing2 paham itu adalah ... bahwa paham kaum hedonis, aristoteles, dan spencer mengidentifikasi ‘baik’ dengan realitas dunia. And then paham metafisika dan aquinas menyamakannya dengan realitas non-duniawi. Sementara paham emotivis menjawab secara psikologistik. Tapiiiii ... semuanya punya satu kesamaan, kurasa. Yaitu mengacu pada : keadaan, pada sebuah kenyataan yang deskriptif. Padahal, sebuah ‘baik’ itu harusna kan mengacu pada sesuatu yang normatif, am i right? Karena sesuatu yang baik itu mengandung suatu keharusan yang harus dilakukan.
definisi yang dibabarkan paham2 itu won’t solve our problem, i tell ya... coba aja ditest dengan rumus tautologis (A=A) hanya kan menghasilkan putaran tak henti, just like sick cycle carousel. Spinnin’ round and round. Ambil aja contoh, mmmm paham metafisika : yang ‘baik’ adalah yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Sesuai dengan rumus tautologis maka perintah “berbuatlah sesuai kehendak Tuhan karena itu baik” jika diterjemahkan menjadi : “berbuatlah sesuai kehendak Tuhan karena itu sesuai kehendak Tuhan” . yatoh? Definisi itu ternyata ga menghasilkan solusi bagaimana baik itu sebenernya.
Trus, kalo semua paham yang menitikberatkan pada ‘keadaan’ itu tadi salah, apa dunk yang bener? Hhmmmm... yaa, i guess identification wasn’t the proper treatment for the word ‘baik’ yah. Mungkin karena dia adalah unsur atomik, yang ga bisa diurai lagi. Sesuatu yang primer ... ndak bisa dibagi2 lagi, untuk dirunut apalagi untuk dicari esensinya. (ini dari segi analitis kata lo ya)
Yang menarik adalah ketika moore menganalogikan kata ‘baik’ itu dengan kata ‘kuning’. Don’t u guyz realize that we can never explain what yellow is anyway. ‘kuning’ bisa melekat di mana2. di dinding, pakaian, bolpen, hewan, dll. Dan ga ada ‘kuning’ yang mengambang di udara kosong. Ia selalu melekat di wadahnya. Tapi ‘kuning’ sendiri ga identik dengan wahana ato wadahnya. Kita bisa menyebut ... bunga itu kuning, but we can’t do the contrary ... kuning itu bunga. Go on ... try to explain what yellow is ke orang buta warna kuning. Analisis / penjelasan apapun ga bisa buat dia ngerti bagaimana kuning itu. Lha meskio mbok jelasno tharik2 tentang berapa panjang gelombang elektromagnet yang menimbulkan rasa ‘kuning’ itu, they’d still won’t figure it out.
Kuning itu ‘warna’ .. dan baik itu ‘sifat’. Tapi warna yang gimana? Sifat yang gimana? Sama seperti kita yang dengan sendirinya tahu bahwa itu ‘kuning’, mungkin kita juga tau dengan sendirinya bahwa itu ‘baik’. Berarti ... termasuk sifat alami manusia yah? Nggak terdefinisi karena tak teranalisa. Tak teranalisa karena tak terbagi. Tak terbagi karena merupakan kualitas primer unsur atomik. Lain dengan kata ‘mobil’ misalnya. Mobil adalah jenis kendaraan beroda empat, berjalan dengan mesin, ada tempat duduk, stir dll. Bisa terdefinisi karena terdiri atas bagian2 yang sendiri tidak sama dengan mobil, tetapi dalam jika dikombinasikan menghasilkan ‘mobil’.
Mungkin yang masih bisa dilakukan hanyalah menarik garis ... mencari batasan2nya. It’s up to you now, ... mo sesuai patron sosial? Silakan! Toh, ntu juga yang dianut 99,9% orang di dunia ini. Meskipun seandainya boleh milih c, aku ga pengen terjebak di situ.
O iya... ada lagi. Sebenernya pernah juga diadakan penelitian tentang ini. Aku lupa2 inget juga c. Generally, ada 2 hal baik dan 3 hal buruk yang secara intrinsik kita punya. Generally lo niiy. 2 hal baik itu antara lain : pleasure of human intercourse sama enjoyment of beautiful objects. Sementara yang buruk : admiring contemplation on things which are themselves either evil or ugly, kebencian terhadap hal indah daannnn .... pain. Xaxaxaxaxa. Hhmm.. kok pain masuk hal buruk ya? Pain kan bagus gitu loch, untuk pendewasaan.... xixixixi, masochist niy jangan2! Ih amit2 deeeyyyy....