Thursday, October 28, 2004

tuhan tiri .... ???@#!

akhirna ... hehehe. aku membalik halaman terakhir buku itu dengan 2 perasaan yang kontradiktif. pertama2 sambil menghembuskan nafas panjang, dan kedua dengan mengerutkan keningku. Tuhan Tiri, written by Aris Wahyudi. who's Aris Wahyudi? hell, i dunno. aku beli buku itu karena ... hmmm, ya somehow tertarik sama judulna c, trus sama resensi yang ada. tapi kenapa menghembuskan nafas panjang? yaa ... lega. karena akhirna buku yang tergolong tipiz itu selese juga kubaca setelah hampir 1 bulan yang lalu kubeli (luama banget bacana). trus kenapa mengerutkan kening? yaa karena ... unsatisfaction, i must say. n sdikit nyese juga c belina.. uhuhuhuhuhu...
alasan pertama beli karena dari resensina sedikit banyak nyentil rasa ingin tahuku. waktu itu kupikir si aris whoever ini cukup revolusioner juga dengan mempertanyakan eksistensi 'Tuhan', dengan memandang Tuhan dari paradigma lain ... itu yang kutangkap dari resensi dia.
but what i've found next adalah ... ya, kekecewaan itu tadi. dari lembar pertama, kedua, ketiga uda menyurutkan semangatku untuk nyelesai'in baca buku itu. ternyata ga jauh beda sama novel2 kacangan lain. wakaka. itu murni penilaianku c, that's why, it took me too long to read the whole book. bayangin ajah, 1 bulan buat baca 1 buku yang isinya 260 lembar dengan font times new roman 14!!!!
terus terang aja, aku bilang buku ini ga punya power. yang bisa bikin pembaca (terutama aku) untuk terhanyut di dalamnya. bukan pertanyaan yang muncul di benakku, bukan nafsu untuk melahap lembar demi lembar demi mengetahui akhir ceritana. i wonder what kind of writing system that he use to finish this book. duduk di depan meja menulis berlembar2 kertas sekaligus secara sistematis atokah novel itu 'cuma' sekedar hasil pemikiran dia selama bertaon-taon yang ia kumpulkan, jilid jadi satu dan diterbitkan jadi novel? mungkin. karena aku ngeliat alur ceritanya sama sekali ga jelas. meaningless, gituw. seakan setiap bab, ato bahkan setiap paragraf masing2 terlepas dan berdiri sendiri tanpa ada kesatuan.
dan semua, adalah merupakan pertanyaan yang tanpa jawaban. aku ga ngerti ... sebuah buku, serevolusioner apapun dia, pasti punya satu jawaban yang mendasari tulisannya. itulah, yang dinamakan tema, jadi meskipun akhirna nggantung, ia tetap punya maksud yang bisa disampaikan ke pembaca, dan yang penting ... dimengerti pembaca. bukannya membiarkan masing2 bab, karakter dan bahkan kalimat itu berlarian ke sana kemari tanpa tujuan.
buku ini tidak lain dan tidak bukan adalah merupakan ... daftar argumentasi, mungkin. tanpa sedikitpun terlihat usaha untuk mencari kebenarannya. daftar argumentasi yang ada pun terasa amat sangat subyektif. kelihatan berasal dari pemikiran satu kepala saja yang berusaha terlihat seperti 2 ato 3 kepala.
kesan childish dan immature bener2 kuat. entah si author ini bener2 cerdas dan dengan sengaja masuk ke masing2 benak orang2 yang immature dalam memandang hidup, ato dia emang (yah) immature dan skeptis dalam memandang hidup ini, i dunno. yang disebut berkali2 adalah keluhan. keluhan tentang ketidakadilan, dan tentang mengasihani diri sendiri, mengasihani kondisi yang terjadi padanya, blame it on other people, dan terutama blame God, yang ia sebut Tuhan tiri itu tadi (analogi ibu tiri dalam dongeng)
karakter yang diciptakan ga kuat. author terkesan hanya nempelin pemikiran2 dia sendiri ke masing2 karakter, tanpa berusaha menghidupkan karakter itu sendiri. jadi ... semua terlihat serupa. seorang pelacur, punya karakter yang sama dengan pengusaha? seorang sosialis punya gaya bicara yang sama dengan kapitalis? oi, n can u imagine a 7 years old little girl sayin' sumtin' like this .... "aku sering terkurung dalam dilema ketika menghadapi kaum miskin. di satu sisi aku kasihan. di sisi lain memang kaum miskin sering melakukan tindakan yang tidak benar ... strategi yang harus kita jalankan adalah stick and carrot...." (cckk ck ck... anak kecil jaman sekarang, ya?? ...) tapi rasanya ... diskusi tentang teori Macchiavelli dan dikotomi sosialis kapitalis ketoke ga terlalu pas jika 'ditempelkan' pada karakter gadis kecil berusia 7 tahun. ya ga c?
ya, kuakui beliaunya ni lumayanlah dalam memikirkan dialog2 yang lumayan cerdas, meskipun aku ga setuju dan bakalan bisa berdebat panjang dengan arah pikir dia. tapi mau ga mau made me think of sumtin else ... jangan2 ni buku salah satu imbas euforia Supernova-nya Dee? mirip banget soalnya. persoalan yang diangkat ... penokohan, dan gaya bercerita. berlindung di balik selimut 'sensasi' menulis sesuatu yang sebelomnya ditabukan oleh norma masyarakat : seks, prostitution, smart hooker dan ... agnotisme (kalo ga mo disebut atheis, c hehehe). tapi yang jelas buatku Supernova jauh lebih berhasil. bukan karena dalam karya Dee tetep terasa 'nafas Ketuhanan'. tapi supernova berhasil membuatku percaya bahwa tokoh Diva yang notabene pelacur adalah seseorang yang pantas dikagumi, dan membuatku memaafkan 'sisi kepelacurannya'. padahal aku yakin, bukan itulah sebenernya yang diharapkan Dee.
dan di tuhan tiri? aku hampir2 ga bersimpati sama karakter Darsih dan Wati yang ditampilkan sebagai tokoh protagonis. keduanya juga pelacur, dan kurasa author bermaksud menampilkan mereka untuk mendukung argumentasi dia sendiri, bahwa pelacuran itu baik. but they failed ... gagal total. karena di mataku, mereka adalah manusia2 gagal yang berkedok sikap mandiri dan kritis. karena apa? they done nothing... hanya mengeluh ini itu. hehehehe.
hihihihi, maap beribu maap. saya teh kalo mo dilanjutin berdebat tentang beberapa pokok pikiran bang aris ini mungkin bisa berbusa2 dan berjam2 yah... tapi itu kan ketidakpuasan saya pribadi. orang berhak berpendapat toh? sama seperti kamu semua berhak menulis apapun yang kamu inginkan... ini negara demokratis kok (katanya, c)
wehehe... sekarang malah lagi tertarik banget sama buku lain... bukunya Norman Vincent Peale : Sex, Sin and Self Control. another overwhelming inspirational book c kayanya. baru baca 1-2 lembar, tapi terus terang ... interesting. reviewnya?? ntar yaa... hehehe