Monday, October 18, 2004

keadilan ???? just a matter of being objective...

Baru aja dengerin homili ekaristi yang kemaren nih, temanya c tentang keadilan. But, unfortunately .. didn’t impressed me much. Hmm.. apa karena packagingnya ya? Dikemas dengan gaya kawula muda, i mean really really tenaging stuff d pokoke. Lengkap dengan pentas teatrikal n interaktif talk. Entertaining, ya memang. Gereja penuh sesak seperti biasa, dan banyak tawa. Intine fun lah. Bagus sebenernya karena bisa meningkatkan apresiasi orang muda terutama teenager terhadap kehidupan menggereja. Tapi isinya.. i must say ... big zero! Dialog interaktif yang terjadi hanya berisi tentang keluhan2 ... betapa tidakadilnya dunia ini, Tuhan, dan kondisi yang kita alami bla bla bla. N end up without meaningful suggestion or solution.
Keadilan sangat berkaitan dengan obyektivitas? Yaaaa...!!! itu pemikiranku c. Kenapa? Justice ‘ll never get along together with subjectivity. Kurasa keadilan nggak akan pernah muncul kalo keakuan seseorang masih begitu kental menggantung di udara. Iya ga c? Liat aja, kapan orang merasa diperlakukan tidak adil? Ketika dia tidak mendapatkan sesuatu yang jadi haknya. Itu aja toh masalahe? Di sinilah keakuan dan subyektivitas itu berperan. I’ve read sumtin’ bout this somewhere somehow, bahwa keadilan itu ternyata sifat sekunder ato bahkan tersier yang dimiliki manusia. Eh, bukan ... nnnggggg.... sifat buatan (artificial quality)!! Aku rada forget forget remember gituw c sebenernya sifat alami yang dipunya manusia. Tapi yang jelas, keadilan ini bukan sifat alami manusia. Dia timbul kemudian ketika manusia berhadapan dengan masalah sosial.
See, at the beginning mungkin adalah, ...manusia punya hak. Hak untuk mendapatkan apa yang telah jadi haknya (nahlo bingung ta??). but unfortunately... hak hak setiap kepala itu yang jelas bermacam2 dan mungkin bertentangan satu sama lain, inilah causal dari masalah2 sosial yang ada. That’s why .... jreng jreng jreng ... justice arrived. Demi kesejahteraan umum, manusia menyepakati tuntutan keadilan yang antara lain berbentuk hukum. Kesepakatan tersebut kemudian ... mmm diinternalisasikan melalui pembiasaan dalam masyarakat... dan terutama tersublimasi dalam pikiran masing2 orang dalam bentuk kewajiban. Iya ga c? (*garukgaruk*) _ini menurutku c...._
Jadi merembet ke masalah hak dan kewajiban deh. Tapi erat kaitannya, kalo aku pikir. Toh maksud dari keadilan (baca : hukum) itu pada awalnya adalah perlindungan terhadap hak hak kita masing2. kalo gitu kewajiban lebih inferior dibanding hak dunk? Hmmm ga juga c sebenernya. Aku juga ga setuju kalu orang lebih mengedepankan hak dibanding kewajiban. Tapi justru inilah yang kurasa banyak terjadi di sekitarku (including me... sometimes ^_^) Kenapa orang merasa tidak adil? Karena mereka semua stuck. Berkutat dan stuck pada satu fase, yaitu keadilan itu sendiri. Jelas, pada awalnya mereka menyadari hakNYA (yang mana merupakan contoh ‘keakuan’) dan kemudian sampe juga pada kata KEADILAN. tapi abis itu ... berhenti. Entah itu berhenti karena mengasihani diri sendiri, ato disibukkan dengan kemarahan terhadap dunia, Tuhan dan ketidakadilan itu sendiri. Tapi mereka berhenti, yang pasti. Hanya segelintir yang kemudian melanjutkan ke tahap berikutnya ... yaitu kewajiban. Obligation maybe not the perfect words to describe yah, (lha trus apa dunk?).
Nngg ... yang jelas itu semua harus melewati proses pemikiran dan perenungan yang mungkin cukup panjang. Di belakang setiap ketidakadilan yang kita rasakan pasti ada sesuatu yang lain. Satu, mungkin itu emang akibat dari perbuatan dan tindakan kita di masa lalu. Kedua, pasti ada hikmah yang tersembunyi. Ya, dan hanya kebesaran hatilah yang bisa membantu untuk menemukan keduanya. Dan yang jelas ... dan sama sekali tidak boleh ditinggalkan, kepercayaan terhadap-Nya. That God shall not leave us. Tuhan Maha Adil. Dia tahu 'harga' yang pantas bagi semua yang diciptakan-Nya. Wkakakakaka. Jadi religius juga ya ibu ini .... @_@